Ayah: Pundak yang Tak Pernah Mengeluh

Oleh : Drs. Saiful Bahri, CHRM_
Kita gampang menangis karena ibu.
Tapi kita jarang menangis karena ayah.
Bukan karena ayah tidak berjasa.
Tapi karena ayah terlalu sibuk berjuang… sampai lupa menunjukkan lelahnya di depan kita.
*1. AYAH BAHASANYA “KERAS” TAPI DOANYA “LEMBUT”*
Ibu: _”Nak, makan ya”_
Ayah: _”Kerja yang benar. Jangan pulang kalau belum berhasil.”_
Alkisah, suatu ketika saya mau merantau ke Jakarta. Saya minta izin kepada paman saya yang merupakan pengganti ayah juga. Beliau bilang: _”Pergilah. Dan jangan pulang sebelum berhasil.”_ Begitu kata paman saya.
Dulu saya kira itu kata kasar.
Ternyata 20 tahun kemudian saya baru ngerti…
Itu doa. Itu cambuk. Itu bentuk cinta seorang ayah/paman kepada anaknya.
*2. AYAH ADALAH “ATM BERJALAN” YANG TAK PERNAH PROTES*
Bajunya bisa dijahit 3 kali. Sandalnya bisa ditambal.
Tapi untuk sekolah anak, untuk uang jajan anak… tidak pernah telat.
Tahukah kita setiap hari beliau banting tulang untuk siapa? Untuk keluarga dan anak-anaknya. Agar anak-anak bukan hanya sekedar makan, tapi juga bisa sekolah.
Tahukah kita setiap pulang kerja, ayah selalu bertanya pada ibu: _”Bagaimana si adik? Sudah dikirim uang bulanannya? Kalau belum segera kirim, jangan sampai telat.”_
Ayah tidak pernah mengeluh lelah karena kerja. Tidak pernah menyerah, karena bila ia menyerah karena tekanan pekerjaan… bagaimana nasib anak-anaknya?
Ayah akan puas dan bahagia bila anak-anaknya bisa sekolah dengan tenang.
Saya ingat, setiap hari Jumat pukul 17.00 kami pulang kerja dari Cikarang Bekasi ke Bandung. Perjalanan 1,5 jam untuk menjenguk si bungsu yang masih kuliah di sana. Saya tidak pernah menolak ketika istri mengajak menjenguk si bungsu setiap akhir pekan. Saya selalu bilang: _”Ayo.”_
Suatu hari pulang dari sana, Tol Cipularang macet parah. Kami sampai rumah agak telat dari biasanya. Saat sampai rumah kami info ke si bungsu bahwa kami sudah sampai rumah, Alhamdulillah. Tapi hari itu kami tidak kasih info lebih dulu.
Lalu si bungsu penasaran dan menelpon ibunya karena saya sedang menyetir. Dia bertanya: _”Mama sedang di mana, kok tidak ada kabar?”_
Si ibu jawab: _”Kami masih di tol, mau sampai kok.”_
_”Masak sih Ma, macet ya?”_ tanya dia lagi penuh kecurigaan.
Sebenarnya memang macet di jalan tol. Lalu lintas akhir pekan memang sering begitu. Tapi kami jawab: _”Tidak kok Nak, tadi kami istirahat sebentar di rest area. Sekarang sudah mau sampai rumah.”_
Begitulah. Kadang orang tua tidak ingin terlihat lelah di depan anak-anaknya. Agar anak-anak tidak patah semangatnya dan terus belajar tanpa harus memikirkan ini dan itu.
Ayah juga bekerja dengan benar dan jujur agar tidak terkena kasus yang mengharuskan dia dikeluarkan dari kantor karena skandal tertentu. Tidak. Sekali lagi tidak. Sampai ke situ pikiran seorang ayah. Sementara anaknya tidak tahu, dan jangan sampai anak-anaknya tahu.
Dia rela lapar, asal anaknya kenyang.
Dia rela kehujanan, asal anaknya ada tempat berteduh di rumah.
*3. AYAH TAKUT JATUH*
Karena kalau ayah jatuh, atap rumah ikut runtuh.
Makanya dia tahan sakit. Tahan capek. Tahan dihina demi mendapatkan nafkah yang halal.
Pernah lihat ayah menangis? Jarang.
Karena air matanya sudah ditelan jadi keringat.
*4. 3 PELAJARAN HIDUP DARI AYAH*
*1. Tanggung Jawab*: Sekali bilang _”aku kepala keluarga”_ maka dia akan menggendong sampai akhir. Seorang ayah selalu mengajari anaknya untuk bertanggung jawab dan disiplin. Karena anak nanti suatu saat akan menjadi orang dewasa yang harus mandiri, bertanggung jawab untuk diri sendiri dan keluarganya kelak. Begitu jauh visi seorang ayah. Dia bukan tidak sayang sama anaknya, cuma wujud kasih sayangnya beda dengan wujud kasih sayang seorang ibu.
2. Pantang Menyerah*: Gagal 100x tetap bangkit. Demi anak.
*3. Cinta Tanpa Pamrih*: Tidak pernah minta dibalas. Cukup lihat anaknya sukses dan akur sesamanya.
*CLOSING*
Mumpung ayah masih ada: Telepon dia. Kunjungi dia. Dengerin nasihat-nasihatnya. Minta maaf.
Bila salah satu dari mereka telah tiada: Kirimkan doa setiap saat.
Suatu hari nanti kita akan sadar…
*Ternyata orang yang paling diam… adalah orang yang paling banyak berkorban.*
_Al-Fatihah untuk semua ayah yang sudah mendahului kita._
_Wallahu a’lam bishawab._
_Bekasi, 30 August 2026_












