Esai · Potret Online

Gula Merah Kekuasaan

Penulis  Yani Andoko
Agustus 31, 2026
5 menit baca 6
IMG_2747
Foto / IlustrasiGula Merah Kekuasaan

Oleh Yani Andoko

Ketika Pesta Tak Pernah Berakhir
Bayangkan sebuah pesta besar. Lampu gemerlap, musik keras, gelas-gelas bersulang, dan tawa memekakkan telinga. Di tengah pesta, ada orang-orang yang berdiri di atas meja, berteriak-teriak memerintah, sambil menuangkan gula ke mulut mereka sendiri dan ke mulut siapa saja yang mau tunduk. Mereka mabuk. Bukan karena alkohol, tapi karena sesuatu yang lebih memabukkan: kekuasaan.


Di sudut ruangan, ada yang terinjak. Ada yang kelaparan. Ada yang menangis. Tapi suara mereka tenggelam oleh dentuman musik dan tepuk tangan para pengikut setia sang pemabuk kekuasaan.
Inilah potret yang saya lihat dan mungkin juga kamu lihat setiap hari. Dari layar televisi, linimasa media sosial, hingga obrolan warung kopi. Kita hidup di tengah pesta mabuk besar yang tak kunjung usai. Dan pertanyaannya: bagaimana kita tetap sadar di tengah keracunan kolektif ini?

Membongkar Anatomi “Gula Merah” Kekuasaan
Kekuasaan Itu Manis, Tapi Menyebabkan Lupa Diri


Saya suka mengibaratkan kekuasaan seperti gula. Rasanya manis, membuat ketagihan, dan dalam dosis berlebihan beracun. Para sosiolog seperti Max Weber mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan seseorang untuk memaksakan kehendaknya meskipun ada perlawanan. Tapi definisi itu terlalu dingin. Dalam kehidupan nyata, kekuasaan adalah perasaan hangat yang membuat seseorang merasa superman.


Sejarah mencatat banyak orang baik yang berubah setelah duduk di kursi kekuasaan. Para aktivis yang dulu turun ke jalan membela rakyat kecil, setelah jadi pejabat, justru lupa jalan pulang ke kampung halamannya. Ulama yang dulu mengajarkan kesederhanaan, setelah dekat dengan penguasa, mulai mengenakan jam tangan mewah dan mobil dinas.


Mengapa ini terjadi?
Penelitian psikolog sosial Dacher Keltner dari UC Berkeley menemukan bahwa orang yang merasa berkuasa cenderung kehilangan empati. Mereka menjadi lebih impulsif, kurang mampu membaca ekspresi orang lain, dan lebih mudah bertindak kasar. Dalam bahasa sederhana: kekuasaan membuat otak kita “mati rasa” terhadap penderitaan orang lain. Ini bukan sekadar moral, ini biologis.

Ketika “Kita” Luntur, Lahirlah “Kami vs Mereka”


Salah satu dampak paling merusak dari mabuk kekuasaan adalah pecahnya ikatan kebersamaan. Filsuf politik Carl Schmitt pernah mengatakan bahwa inti politik adalah membedakan “kawan” dan “lawan”. Dalam pesta mabuk kekuasaan, pembedaan ini menjadi senjata.
Saya mengamati fenomena ini di tingkat desa hingga tingkat nasional. Di sebuah desa di Jawa, seorang kepala desa yang dulu akrab dengan semua warganya, setelah dua periode menjabat, mulai membagi-bagi bantuan hanya untuk “golongannya”. Di tingkat nasional, kita saksikan bagaimana identitas agama, suku, dan ras dipolitisasi untuk membakar emosi massa.
Yang dipertaruhkan sebenarnya bukan nilai atau keyakinan. Tapi kekuasaan dan keuntungan segelintir orang. Identitas hanya dipinjam untuk membakar semangat juang orang banyak, sementara para elite duduk nyaman menikmati “gula” hasil perpecahan.

Tidak Ada Rasa Malu: Tanda Mabuk Total


Fase paling berbahaya dari keracunan kekuasaan adalah hilangnya rasa malu. Dalam budaya timur, isin atau era adalah fondasi moral tertinggi. Orang yang punya rasa malu akan berhenti sebelum berbuat jahat, meski tidak ada yang melihat.
Tapi ketika kekuasaan sudah hilang akal, rasa malu itu sirna. Korupsi dilakukan di siang bolong. Kebijakan merugikan rakyat diumumkan dengan bangga. Mereka yang menentang dibungkam dengan senyuman. Bahkan, kekayaan hasil curian dipamerkan di media sosial.
Ini bukan sekadar masalah individu. Ini adalah kegagalan sistem. Ketika hukum tidak berfungsi, ketika pengawasan tidak berjalan, ketika pers dibungkam, maka rasa malu menjadi tidak berguna. Lingkungan justru memberi hadiah bagi mereka yang berani “tak bermalu”.

Pesan Dan Gagasan: Menemukan Rem Di Tengah Kemabukan


Kekuasaan Harus Dibatasi, Bukan Dihindari
Kita tidak bisa menghindari kekuasaan. Ia ada di mana-mana: dalam rumah tangga, kantor, organisasi, dan negara. Tapi kita bisa memasang rem. Lord Acton, sejarawan Inggris, mengingatkan: “Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut korup secara absolut.”
Maka jawabannya bukan menghilangkan kekuasaan, tapi membaginya (checks and balances), membatasi masa jabatan, dan memperkuat pengawasan. Ini pesan klasik yang terus relevan.

Perlawanan Diam-Diam: Menjaga “Api Kecil” Kemanusiaan


Di tengah pesta mabuk, ada orang-orang sadar yang tidak ikut minum gelas yang sama. Mereka mungkin tidak terdengar, tapi mereka ada. Guru yang mengajar dengan hati di tengah gaji pas-pasan. Pegawai negeri yang menolak suap. Pemuda desa yang mengawasi anggaran desa.
Inilah yang saya sebut “perlawanan diam-diam” menjaga integritas kecil di tengah kerusakan besar. Mungkin tidak mengubah sistem dalam semalam, tapi ia menjaga jati diri kita tetap utuh.

Ingatlah Kematian
Ini nasihat klasik dari banyak tradisi spiritual. Orang yang sering mengingat kematian akan sadar bahwa semua kekuasaan dan harta akan ditinggalkan. Tidak ada yang bisa dibawa mati kecuali amal dan catatan perbuatan. Ini benteng terakhir melawan mabuk kekuasaan.

Kritik Sosial: Menyiksa Fakta Dengan Data


Mari kita lihat data sederhana. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2024 masih berkisar di angka 34 (skala 0-100, semakin tinggi semakin bersih). Posisi ini masih tertahan di peringkat bawah Asia Tenggara. Artinya, secara struktural, kita memang sedang dalam “pesta korupsi”.
Data lain: berdasarkan laporan Transparansi Internasional, kerugian negara akibat korupsi mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun. Angka ini cukup untuk membangun jutaan sekolah, rumah sakit, dan jalan desa. Tapi uang itu mengalir ke kantong segelintir orang, sementara rakyat tetap bertahan dalam keterbatasan.
Ini bukan sekadar angka. Ini adalah cerita: anak-anak putus sekolah, ibu hamil tanpa akses kesehatan, petani yang harga hasil panennya jatuh karena kebijakan yang salah. Mereka adalah korban pesta mabuk yang tak pernah diundang ke meja.

Mengakhiri Pesta, Memulai Kesadaran


Esai ini tidak dimulai dengan optimisme palsu. Saya tahu situasi berat. Tapi saya juga percaya bahwa pesta mabuk selalu berakhir entah karena runtuh dari dalam, atau karena orang-orang sadar bangkit.
Kita mungkin tidak bisa menghentikan pesta hari ini. Tapi kita bisa:
Tidak ikut mabuk. Jaga integritas dan kejujuran kecil.
Mencatat dan menyaksikan. Sejarah akan membutuhkan kesaksian kita.
Membangun ruang aman dengan orang-orang yang masih sadar.
Terus belajar dan mengingat bahwa kekuasaan adalah titipan, bukan kepemilikan.

Akhir kata, saya ingin mengutip penyair Indonesia, W.S. Rendra:
“Perjuangan bagaikan api. Ia menghangatkan siapa yang mendekat. Tetapi ia juga membakar siapa yang menganggapnya mainan.”
Kekuasaan adalah api. Bisa menjadi penerang, bisa menjadi penghangus. Pilihan ada di tangan kita. Mari kita memilih untuk tetap sadar, di tengah pesta yang sesungguhnya telah usai meski para pemabuk masih enggan berhenti.

                Batu, 6 Juni 2026
                     Yani Andoko
Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...