Dalam Pemaknaan Skripsi, Tesis, dan Disertasi

Oleh M. Azril Ihksan
Pemikir Muda
Saya adalah seorang reader dan thinker, semenjak bangku SMA kelas II. Karakter pemikiran saya dibentuk melalui pembelajaran (Deep Learning) melalui pembelajaran dari salah satu Ulama Aceh yang modernis di wilayah saya.
Empat Tahun hampir berlalu, saya sudah menyentuh kajian Islamic Study, Filsafat Ilmu Timur dan Barat, Ilmu sosial dan humaniora dan beberapa kajian Metodologi Penelitian. Belakangan ini, saya sering berdiskusi Filsafat Ilmu dengan Prof. Fuad Mardhatillah.
Istilah skripsi, tesis, dan disertasi sudah tidak asing lagi di telinga warga akademis. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, pemaknaan karya tulis ilmiah ini sering kali terjebak formalitas yang amat sempit.
Akademisi dan mahasiswa hari ini kerap memandang ketiganya sebatas prasyarat administratif penentu kelulusan, bukan sebagai wadah pergulatan intelektual yang sejati. Karya yang seharusnya menjadi monumen pemikiran justru bergeser kuat menjadi sekadar beban birokrasi kampus.
Akar Historis Pola Ilmiah Universitas
Secara historis, pola mengajar (Teaching) dan Riset (Researching) ilmiah ini berakar dari model universitas riset abad ke-19 yang dipelopori oleh Wilhelm von Humboldt di Jerman. Humboldt menggagas kuat, bahwa perguruan tinggi harus menyatukan riset dan pengajaran di bawah payung Bildung (proses pembentukan karakter manusia seutuhnya melalui pencarian kebenaran yang bebas dan mandiri).
“Gagasan ini berakar kuat pada semangat humaniora dari Plutarch yang menempatkan kebebasan berpikir, kesadaran kritis, dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan sebagai pusat dari setiap pencarian ilmu pengetahuan, bukan sekadar penumpukan data empiris.”
Skripsi, sebagai metodologi awal untuk pemikir tahap awal.
Secara umum di sisi bahasa Belanda, Scriptie artinya esai atau karangan ilmiah yang menjadi bagian dari sebuah program studi. Dalam arti yang paling sederhana, tulisan yang dibuat berdasarkan aturan sains, data yang benar, dan metode yang jelas.
Namun anehnya, skripsi kerap dipandang sebatas latihan menulis karya ilmiah untuk meraih gelar sarjana pertama. Makna yang dangkal ini membuat penulisan skripsi kerap tercabut dari sifat berpikir ilmiah yang radiks dan bernilai dasar humaniora.
Skripsi sering kali disempitkan menjadi metodologi belaka tanpa keberanian untuk menanyakan secara jelas dari rumusan masalah & pertanyaan yang diteliti. Mahasiswa sebagai pemikir awal tidak lagi diajak menggali nilai-nilai riset pengetahuannya ke arah kemanusiaan dan esensi fenomena. Melainkan sekadar mengulang formula riset terdahulu demi mengejar kelulusan tepat waktu.
Tesis, Sebagai Tahap Middle Bagi Pemikir
Tesis, dikategorikan sebagai kerangka berpikir bagi penjelajah ilmu tingkat menengah. Secara etimologi, kata thesis berasal dari bahasa Yunani yang berarti “pendirian”, “pernyataan”, atau “posisi yang dipertahankan”. Dalam arti yang paling sederhana, tesis adalah karya pemikiran yang diajukan untuk dibuktikan kebenarannya secara logis, ilmiah, dan mendalam.
Namun anehnya, tesis kerap disempitkan hanya sebatas syarat formalitas untuk meraih gelar magister belaka.
“Pemaknaan yang dangkal ini membuat prinsip berpikir thesis secara rasional (Rational) dan analisa mendalam (Deep Analyze), Acapkali tergeser kuat oleh budaya kekakuan birokrasi akademik.”
Disertasi, Sebagai Tahap Puncak Bagi Sang Pemikir
Secara etimologi, kata dissertatio berasal dari bahasa Latin yang berarti “perdebatan”, “pembahasan”, atau “diskusi ilmiah”. Dalam arti yang paling sederhana, disertasi adalah argumen ilmiah komprehensif yang disusun untuk menyumbangkan kebaruan pemikiran (novelty) bagi era peradaban.
Namun anehnya, disertasi sering kali direduksi maknanya hanya sebatas formalitas tertinggi, demi meraih gelar doktor dan status sosial belaka. Pemaknaan yang remeh ini membuat disertasi kehilangan ruh utamanya untuk melahirkan kebenaran yang universal dan tetap berlanjut.
Tugas utama seorang doktor, sebagai pemikir tingkat lanjut, seharusnya adalah menenun gagasan-gagasan yang segar, baru, dan tetap relevan dengan dinamika kemanusiaan.
“Jikalau disertasi hanya dibuat untuk menggugurkan kewajiban birokrasi doktoral, lalu mengendap di rak perpustakaan tanpa menyentuh realitas sosial, karya tersebut telah tercabut perih dari akar humanioranya dan kehilangan daya tawar intelektual untuk memandu mata angin bagi zamannya.”
Merebut Kembali Marwah Keilmuan.
Mengembalikan makna marwah skripsi, tesis, dan disertasi berarti merebut kembali semangat Humboldtian dan tradisi humaniora Renaissance di lembaga perguruan tinggi dari jebakan makna sempit tersebut.
Karya tulis ilmiah harus kembali diposisikan sebagai arena penjelajahan rasa ingin tahu yang murni, berani, dan bijak. Ketika seorang mahasiswa mampu menerapkan tata pikir yang radiks, rasional, sistematis, dan universal dalam risetnya, karya ilmiah tak lagi terasa sebagai beban yang mencekik, melainkan jalan melahirkan pemikiran jernih yang lestari bagi peradaban.
Referensi Pendukung
Humboldt, W. Von. (1903). Theorie der Bildung des Menschen. Dalam A. Leitzmann (Ed.), Wilhelm von Humboldts Gesammelte Schriften: Band I. Werke (1785–1795). B. Behr.
Monfasani, J. (2016). Renaissance humanism, from the Middle Ages to Modern Times. Routledge.












