Pembinaan Karakter Warga Binaan Berbasis Keteladanan Rasulullah SAW

Oleh : Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
KUA Tapaktuan, Aceh Selatan
Rumah Tahanan Negara (Rutan) tidak semestinya hanya dipahami sebagai tempat menjalani masa hukuman. Lebih dari itu, Rutan adalah ruang pembinaan, tempat seseorang diberi kesempatan untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki kesalahan, membangun kembali karakter, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat. Di balik pintu besi dan tembok yang kokoh, selalu ada manusia yang memiliki hati, harapan, keluarga, serta keinginan untuk berubah.
Atas semangat tersebut, Ikatan Penyuluh Agama Islam (IPARI) Aceh Selatan secara rutin melaksanakan pembinaan keagamaan bagi warga binaan di Rumah Tahanan Negara Kelas II B Tapaktuan, setiap hari Senin sampai Kamis. Selama ini pembinaan banyak diarahkan pada membaca Al-Qur’an dan penguatan pemahaman keagamaan. Namun, pembinaan tentu perlu dikembangkan agar warga binaan tidak merasa jenuh dengan pola pembelajaran yang sama dari waktu ke waktu.
Karena itulah Penyuluh Agama Islam KUA Tapaktuan bersama para penyuluh dari beberapa kecamatan di Aceh Selatan berinisiatif menghadirkan pendekatan pembinaan yang lebih variatif. Salah satunya melalui kegiatan “Pembinaan Karakter Warga Binaan Berbasis Keteladanan Rasulullah SAW”, dengan menghadirkan Ketua IPARI Aceh Selatan, Ustadz Kaifal Muddin, S.H.I., sebagai penceramah. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Rutan Kelas II B Tapaktuan Muhammad Sukron, Amd.IP., S.Sos., M.H., beserta staf, serta perwakilan Kementerian Agama Aceh Selatan, Jaili Farman, S.H.I., yang juga merupakan Sekretaris IPARI Aceh Selatan.
Tema ini terasa penting karena perubahan karakter tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat. Manusia membutuhkan contoh, membutuhkan cerita, membutuhkan ruang untuk didengar, dan yang paling penting membutuhkan keyakinan bahwa dirinya masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam hal tersebut. Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini memberikan pesan bahwa Rasulullah SAW bukan sekadar sosok yang dikagumi, tetapi pribadi yang harus dijadikan teladan dalam kehidupan. Keteladanan beliau mencakup kejujuran, kesabaran, kasih sayang, pemaafan, tanggung jawab, dan kemampuan melihat manusia bukan hanya dari kesalahannya, tetapi juga dari potensi kebaikan yang masih ada dalam dirinya.
Di Balik Jeruji, Masih Ada Harapan untuk Berubah
Tidak ada manusia yang ingin hidupnya dipenuhi kesalahan. Ada orang yang jatuh karena pilihan yang salah, ada yang terseret lingkungan, ada yang kurang mendapatkan pendidikan, ada pula yang mengambil keputusan dalam keadaan emosi dan akhirnya harus mempertanggungjawabkannya. Kesalahan memang harus dipertanggungjawabkan, tetapi kesalahan tidak boleh dijadikan alasan untuk menghapus seluruh harapan seseorang.
Islam memberikan ruang yang sangat luas bagi manusia untuk kembali. Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53). Ayat ini bukan berarti manusia boleh meremehkan dosa, tetapi menjadi pengingat bahwa pintu taubat tidak boleh ditutup selama seseorang benar-benar ingin kembali kepada Allah.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini sangat relevan dalam pembinaan warga binaan. Rasulullah SAW tidak mengatakan bahwa orang yang pernah salah harus selamanya dicap sebagai orang buruk. Justru orang yang mau mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah mendapatkan tempat yang mulia.
Di sinilah pembinaan agama menemukan maknanya. Warga binaan tidak hanya perlu diberitahu tentang apa yang salah, tetapi juga perlu diyakinkan bahwa mereka masih mempunyai masa depan. Mereka perlu dibantu untuk mengatakan kepada dirinya sendiri: “Saya pernah salah, tetapi saya tidak harus terus menjadi orang yang sama.”
Ada sebuah cerita unik yang bisa menjadi ilustrasi. Seorang warga binaan pernah ditanya, “Kalau nanti keluar dari Rutan, apa yang ingin Anda lakukan?” Ia menjawab, “Saya ingin menjadi orang baik, Pak.” Ketika ditanya lagi, “Kenapa tidak dari sekarang?” Ia tersenyum sambil menjawab, “Oh iya juga, Pak. Berarti saya tidak perlu menunggu pintu Rutan dibuka untuk membuka pintu hati.” Semua tertawa, tetapi di balik tawa itu ada pesan yang dalam: perubahan tidak menunggu tempat dan waktu; perubahan dimulai dari hati.
Rasulullah SAW: Teladan dalam Membentuk Manusia
Rasulullah SAW membangun manusia bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan keteladanan. Beliau menunjukkan bagaimana bersikap ketika menghadapi orang yang berbeda pendapat, bagaimana memaafkan orang yang melakukan kesalahan, bagaimana memperlakukan orang yang lemah, dan bagaimana memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperbaiki dirinya.
Allah SWT menggambarkan akhlak Rasulullah SAW dengan sangat indah: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(QS. Al-Qalam: 4). Akhlak menjadi salah satu kekuatan utama dakwah Rasulullah SAW. Beliau tidak menjadikan manusia merasa semakin jauh dari Allah, tetapi mengajak mereka untuk mendekat dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.
Rasulullah SAW juga bersabda: Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”(HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak semata-mata dilihat dari status sosial, kekayaan, jabatan, ataupun masa lalunya. Akhlak menjadi cermin penting dari kualitas seorang Muslim.
Dalam konteks warga binaan, keteladanan Rasulullah SAW dapat diterjemahkan menjadi pembinaan yang menyentuh aspek hati dan perilaku. Warga binaan diajak belajar jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghormati orang lain, menjaga lisan, mengendalikan emosi, serta belajar memaafkan. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru menjadi fondasi penting ketika mereka kembali ke masyarakat.
Keteladanan Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh terus-menerus dikunci oleh masa lalunya. Jika Allah membuka pintu taubat, maka manusia pun seharusnya membuka pintu kesempatan bagi saudaranya untuk memperbaiki diri. Hukuman menyadarkan, tetapi pembinaan menguatkan; aturan menjaga, tetapi keteladanan mengubah.
Alumni Warga Binaan Bisa Menjadi Hafizh dan Penceramah
Salah satu pesan menarik yang disampaikan Ustadz Kaifal Muddin, S.H.I. dalam kegiatan pembinaan tersebut adalah bahwa masa depan warga binaan tidak harus berhenti pada masa lalu. Beliau memberikan gambaran bahwa ada alumni warga binaan yang setelah menjalani pembinaan mampu menjadi hafizh Al-Qur’an, ada yang menjadi penceramah, bahkan ada yang mampu membangun rumah tangga yang baik dan menjadi suami yang dibanggakan oleh istrinya.
Kisah seperti ini penting untuk disampaikan karena terkadang seseorang membutuhkan contoh nyata sebelum percaya bahwa perubahan itu mungkin. Ketika seorang warga binaan mendengar bahwa ada orang yang pernah berada dalam kondisi serupa tetapi kemudian mampu menjadi pribadi yang baik, maka tumbuh keyakinan: “Kalau dia bisa, mungkin saya juga bisa.”
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Perubahan tentu membutuhkan proses. Tidak cukup hanya dengan menangis ketika mendengar ceramah, kemudian kembali kepada kebiasaan lama. Taubat harus diikuti dengan usaha, lingkungan yang baik, ilmu, disiplin, dan komitmen.
Ada pula sisi jenaka dalam kehidupan pembinaan. Bayangkan seorang warga binaan berkata, “Ustadz, saya ingin jadi penceramah.” Ustadz menjawab, “Bagus, berarti harus banyak belajar.” Ia menjawab, “Kalau begitu saya mulai dari ceramah lima menit saja, Ustadz.” Ustadz tersenyum, “Boleh, tetapi jangan lima menit ceramah, lalu lima jam mengantuk.” Namun pesan sederhananya jelas: perubahan membutuhkan latihan, bukan hanya keinginan.
Karena itu, jangan pernah mengatakan kepada seseorang, “Kamu sudah terlanjur begini.” Kalimat seperti itu bisa membunuh harapan. Sebaliknya, katakanlah, “Kamu masih bisa berubah.” Sebab boleh jadi orang yang hari ini duduk sebagai warga binaan, suatu hari nanti justru menjadi orang yang memberikan nasihat kepada orang lain, menjadi imam, menjadi guru bagi anak-anaknya, menjadi suami atau istri yang baik, dan menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat.
Pembinaan Tidak Hanya Membaca Al-Qur’an, tetapi Menghidupkan Nilainya
Membaca Al-Qur’an merupakan amal yang sangat mulia. Namun, pembinaan keagamaan akan semakin kuat apabila ayat-ayat yang dibaca kemudian diterjemahkan menjadi perilaku. Jangan sampai seseorang lancar membaca ayat tentang kesabaran, tetapi mudah marah; membaca ayat tentang kejujuran, tetapi masih suka berbohong; membaca ayat tentang kasih sayang, tetapi sulit memaafkan.
Karena itu, kegiatan pembinaan yang dikembangkan IPARI Aceh Selatan menjadi sangat penting. Pembinaan tidak hanya dilakukan dalam bentuk membaca Al-Qur’an, tetapi juga menghadirkan tema-tema yang dekat dengan kehidupan warga binaan. Keteladanan Rasulullah SAW dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan kesabaran, taubat, pengendalian diri, keluarga, persaudaraan, tanggung jawab, dan kehidupan setelah kembali ke masyarakat.
Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai sosok yang sangat memperhatikan manusia. Beliau mendidik dengan cara yang sesuai dengan keadaan orang yang dihadapi. Ada yang dinasihati dengan tegas, ada yang diberi kelembutan, ada yang diajarkan melalui dialog, dan ada yang diarahkan melalui contoh nyata. Ini menjadi pelajaran bagi para penyuluh agama bahwa pembinaan membutuhkan pendekatan yang manusiawi.
Bagi warga binaan, ceramah yang menarik bukan sekadar ceramah yang membuat mereka tertawa. Ceramah yang baik adalah ceramah yang membuat seseorang pulang dengan pertanyaan kepada dirinya sendiri: “Apa yang harus saya ubah?” Bahkan lebih baik lagi apabila setelah itu ia berkata, *“Saya ingin menjadi orang yang lebih baik mulai hari ini.”
Maka, pembinaan agama hendaknya menjadi ruang yang hidup. Ada Al-Qur’an, ada hadis, ada kisah Rasulullah SAW, ada dialog, ada humor yang mendidik, ada pengalaman kehidupan, dan ada motivasi. Dengan demikian, pembinaan tidak terasa sebagai rutinitas, tetapi menjadi perjalanan bersama menuju pribadi yang lebih baik.
Dari Balik Jeruji Menuju Masyarakat yang Lebih Baik
Tujuan akhir pembinaan bukan hanya agar warga binaan mampu menjalani kehidupan selama berada di Rutan dengan tertib. Lebih jauh dari itu, mereka dipersiapkan agar ketika kembali ke masyarakat mampu membawa perubahan positif. Mereka akan kembali menjadi bagian dari keluarga, lingkungan, dan masyarakat yang memiliki harapan terhadap mereka.
Di sinilah peran Rutan, Kementerian Agama, IPARI, penyuluh agama, keluarga, dan masyarakat menjadi sangat penting. Pembinaan tidak mungkin berjalan sendiri. Kepala Rutan menyediakan ruang pembinaan, penyuluh memberikan pendampingan keagamaan, keluarga memberikan dukungan, dan masyarakat harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk kembali berintegrasi secara positif.
Dalam kesempatan tersebut, inti sambutan Kepala Rutan Kelas II B Tapaktuan, Muhammad Sukron, Amd.IP., S.Sos., M.H., pembinaan warga binaan harus terus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak agar mereka memperoleh bekal keagamaan dan karakter yang baik. Sinergi Rutan, Kementerian Agama, IPARI, penyuluh agama, serta seluruh unsur terkait diharapkan mampu menghadirkan pembinaan yang bermanfaat bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat.
Harapan itu sejalan dengan semangat Islam yang tidak pernah mematikan optimisme manusia. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120). Setiap langkah kecil menuju kebaikan memiliki nilai di sisi Allah. Satu ayat yang dipelajari, satu kebiasaan buruk yang ditinggalkan, satu emosi yang berhasil dikendalikan, dan satu dosa yang ditinggalkan dapat menjadi awal perubahan besar dalam kehidupan seseorang.
Pada akhirnya, pintu Rutan mungkin terbuat dari besi, tetapi pintu taubat tidak demikian. Pintu Rutan dapat dikunci oleh manusia, tetapi pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Karena itu, jangan hanya melihat warga binaan dari kesalahan yang pernah mereka lakukan; lihat pula potensi kebaikan yang sedang mereka perjuangkan.
Keteladanan yang Menghidupkan Harapan
Pembinaan karakter berbasis keteladanan Rasulullah SAW bukan sekadar program keagamaan, tetapi sebuah ikhtiar untuk menanamkan keyakinan bahwa manusia dapat berubah. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa akhlak, kasih sayang, kesabaran, pemaafan, dan harapan merupakan kekuatan besar dalam membangun manusia.
Kisah tentang alumni warga binaan yang kemudian menjadi hafizh Al-Qur’an, penceramah, suami yang baik, maupun istri yang shalehah adalah pengingat bahwa masa lalu bukanlah akhir dari cerita. Selama seseorang mau bertaubat, belajar, berusaha, dan memperbaiki diri, selalu ada jalan yang Allah bukakan.
IPARI Aceh Selatan melalui para Penyuluh Agama Islam KUA Tapaktuan dan penyuluh dari berbagai kecamatan telah menunjukkan bahwa pembinaan agama dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih kreatif, humanis, dan menyentuh hati. Semoga kegiatan ini bukan hanya menjadi agenda rutin, tetapi menjadi jalan lahirnya perubahan nyata dalam kehidupan warga binaan.
Sebab pada akhirnya, tujuan pembinaan bukan sekadar membuat seseorang menjadi lebih baik selama berada di balik jeruji, tetapi menyiapkannya agar ketika kembali ke masyarakat mampu menjadi manusia yang lebih baik, keluarga yang lebih baik, dan hamba Allah yang lebih dekat kepada-Nya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, orang yang hari ini kita panggil “warga binaan” akan berdiri di hadapan kita sebagai “orang yang telah berubah”—bukan karena masa lalunya dilupakan, tetapi karena ia telah menjadikannya sebagai pelajaran untuk menulis masa depan yang lebih baik.
Rasulullah SAW telah memberikan teladan. Tugas kita adalah menghadirkan keteladanan itu dalam pembinaan, agar cahaya perubahan tetap menyala, bahkan di balik jeruji.












