Artikel · Potret Online

NTT Berduka, Jakarta Berpesta

Penulis  Rosadi Jamani
Agustus 19, 2026
3 menit baca 18
d6a14c8a-83cc-4429-8996-d9520c41e4a6
Foto / IlustrasiNTT Berduka, Jakarta Berpesta

Oleh Rosadi Jamani

Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Saat sebagian besar Indonesia masih terlelap, bumi Nusa Tenggara Timur mengaum. Magnitudo 7,7. Kedalaman hanya 15 kilometer.

Terlalu dangkal untuk sebuah luka yang begitu dalam. Tanah merekah. Rumah runtuh. Pagi berubah menjadi jeritan.

Hingga Selasa, 18 Agustus 2026 pukul 18.40 WITA, tercatat 608 korban: 70 meninggal, 230 luka berat, dan 308 luka ringan. Mereka tersebar di Manggarai Timur, Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.

Manggarai kehilangan 27 nyawa. Manggarai Timur 25. Nagekeo 8. Sikka 4. Ende dan Ngada masing-masing 2.

Tujuh puluh orang. Bagi negara, statistik. Bagi keluarga, kiamat kecil yang tak akan pernah selesai.

Sebanyak 40.040 orang mengungsi. Di Manggarai Timur saja, 15.465 orang kehilangan tempat tinggal. 11.925 rumah rusak, 5.516 di antaranya rata dengan tanah.

Mereka tidur di tenda, berpelukan dengan ketakutan. Setiap getaran membuat anak-anak menangis. Setiap malam menjadi pertanyaan, besok masihkah ada rumah?

Namun pada malam yang sama, Jakarta sedang berpesta.

“Karnaval Bersatu Harmoni Nusantara” dalam rangka HUT ke-81 RI dipadati lebih dari 300 ribu warga. Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming hadir, menyapa rakyat dari kendaraan taktis Maung.

Sebanyak 32 kendaraan hias bergerak dari Monas menuju Bundaran HI.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berjoget di atas mobil hias. Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menabuh drum. Presiden tersenyum.

Drumben Universitas Pertahanan menyanyikan “Maju Tak Gentar”. Ada Pagelaran Sabang Merauke. Video mapping menerangi Monas pukul 18.00–23.00 WIB. Sebanyak 1.500 drone menari di langit Bundaran HI.

Kemudian kembang api meledak. Langit Jakarta bercahaya.

Langit Flores hanya ditembus senter darurat.

Ketika pesta bubar sekitar pukul 22.00–23.00 WIB, jalan sekitar Monas macet. Lebih dari 300 ribu orang pulang membawa cerita kegembiraan.

Pemerintah kemudian membersihkan Monas sejak dini hari.

Di NTT, puluhan ribu orang belum pulang. Bukan karena macet. Mereka memang tak punya rumah untuk dituju.

Jangan salah. Bantuan bergerak. 101.494 kilogram logistik, 50.000 paket sembako, tenda keluarga, obat-obatan, genset. Hercules bolak-balik Halim–Labuan Bajo–Maumere.

Ada santunan Rp14,65 miliar: Rp15 juta per ahli waris dan Rp5 juta bagi korban luka berat. BNPB menyiapkan Rp500 miliar, dengan sekitar Rp5 triliun untuk penanganan bencana.

China dan Iran menawarkan bantuan. Pemerintah mengatakan belum diperlukan. Semua masih bisa ditangani. Semoga benar. Sebab bumi belum berhenti marah.

Gempa susulan mencapai 2.119 kali. Tsunami 0,94 meter tercatat di Maurole, Ende.

Di Labuan Bajo, wisatawan dievakuasi. Sementara warga lokal tak punya tiket pesawat masih menggali puing rumah sendiri.

Di Jakarta, menteri berjoget. Di Flores, ibu-ibu menangis.

Di Jakarta, drone menari. Di Flores, tanah menari tanpa belas kasihan.

Di Jakarta, kembang api pecah di langit. Di NTT, keluarga memecah sunyi dengan doa.

Selamat Hari Kemerdekaan, Indonesia. Lebih dari 300 ribu orang berpesta di ibu kota, sementara 40.040 saudara sebangsa tidur di pengungsian.

Di sana, seorang anak mungkin bertanya, “Papa kapan pulang?”

Tak ada kembang api yang mampu menjawab. Denting karang di timur terus terdengar. Sayangnya, pesta di barat jauh lebih nyaring.

Duh, sedih. Seruput Koptagul ajalah, wak!

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...