Mengenal Jason Gunawan, Darah Indonesia di Mahkota Asing

Oleh Rosadi Jamani
Saya tak ingin akun ini lebih sering menampilkan wajah koruptor, penjilat, dan tukang cebok. Tetap diimbangi wajah-wajah yang membanggakan negeri. Kali ini sosok membanggakan itu, juara China Master 2026.
Dia adalah Jason Gunawan. Pemuda berdarah Indonesia ini mengangkat trofi untuk Hong Kong. Nah, di sinilah sejarah mulai tertawa sambil tepuk tangan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, koh!
Indonesia terkenal sebagai raksasa bulu tangkis malah tersungkur. Sementara darah Indonesia mengamuk di kubu sebelah.
Jason bukan datang sebagai pemain utama. Ia berstatus first alternate, alias pemain pengganti. Dalam bahasa warkop, tak ada rotan, akar pun jadi. Tapi begitu masuk gelanggang, anak ini malah berubah menjadi terminator.
Babak pertama, Koki Watanabe dari Jepang dihajar 21-12, 21-17. Babak kedua, datanglah Jonatan Christie, peringkat satu dunia, kebanggaan Merah Putih, manusia yang diharapkan mengangkat trofi.
Jason, “Maaf, Bang.”
Jojo pun dibungkus 21-16, 21-16. Di sinilah kita boleh tertawa. Bukan karena Jojo kalah. Jangan begitu. Kita tertawa karena takdir sedang membuat lelucon mahal sekali. Orang berdarah Indonesia justru menjadi algojo pemain nomor satu dunia dari Indonesia.
Belum selesai. Perempat final, Jason bertemu Weng Hong Yang, juara bertahan China Master dan peringkat 18 dunia. Dihajar lagi. 21-18, 21-13. Penonton China mungkin mulai berpikir, “Ini turnamen China Master atau Jason Gunawan Master?”
Semifinal melawan Anders Antonsen, peringkat lima dunia. Antonsen menang gim pertama 21-15. Normal. Harapan Jason tamat. Ternyata tidak. Gim kedua Jason menang 22-20, lalu mengunci gim ketiga 21-16.
Final menghadapi rekan senegaranya, Lee Cheuk Yiu. Jason tidak mengenal istilah sungkan. 21-9, 21-16. Selesai. Jason Gunawan menjadi pemain Hong Kong pertama memenangkan gelar Super 750 atau lebih tinggi.
Sejarah Hong Kong tercipta. Indonesia? Masih mencari trofi di bawah sofa cinta. Yang membuat cerita ini semakin “camanewak” adalah darah Jason memang punya aroma Indonesia.
Ayahnya berasal dari Jakarta, mantan pemain bulu tangkis tim provinsi DKI Jakarta. Sang ayah pula melatih Jason sejak kecil, mengajarinya membaca permainan, menganalisis lawan, serta mendampinginya dalam berbagai turnamen.
Ibunya sudah rajin menonton pertandingan sejak Jason masih berada dalam kandungan. Kalau ada bayi lahir sambil menangis, Jason mungkin lahir sambil bertanya, “Skor berapa?”
Jason tumbuh di Hong Kong. Ia menyebut Indonesia sebagai rumah keduanya, menyukai makanan Indonesia dan merasa hangat ketika bermain di Istora Senayan.
Ia juga tetap mempertahankan nama Gunawan, sebagai penghormatan terhadap akar Tionghoa-Indonesianya. Tetapi benderanya Hong Kong.
Kita tidak boleh menyalahkan Jason. Justru angkat topi! Sebab anak ini baru saja menghajar peringkat satu dunia, juara bertahan, peringkat lima dunia, lalu rekan senegaranya sendiri dalam satu turnamen. Itu bukan keberuntungan. Itu kelas.
Namun kisah Jason menyodorkan pertanyaan lebih pedas dari sambal. Bagaimana mungkin darah Indonesia bisa menghasilkan juara di tanah orang, sementara negeri asal darah itu sendiri pulang tanpa gelar?
Apakah pembinaan kita bermasalah? Apakah sistemnya perlu bercermin? Atau selama ini kita terlalu sibuk mencetak program, laporan, rapat, seremoni, spanduk, dan foto berjabat tangan sampai lupa mencetak juara? Waduh. Itu sudah bukan smash. Itu smash 300 km/jam tepat ke jidat sistem.
Jason membuktikan satu hal, bakat tidak mengenal paspor. Ia hanya membutuhkan tempat tepat untuk tumbuh. Maka selamat, Jason Gunawan. Bawa terus nama Gunawan itu. Kita bangga, meskipun trofinya berdiri di rumah tetangga.
Sebab hari ini kita kalah dalam turnamen. Tetapi darah Indonesia menang di sana. Ironi paling brutalnya sederhana. Indonesia gagal membawa pulang mahkota. Sementara anak berdarah Indonesia justru membuat Hong Kong punya sejarah baru.
Kadang sejarah memang tidak menampar. Kadang sejarah smash lurus ke muka. Pletak..!
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM












