Jangan Salahkan Lingkungan dan Keadaan, Tapi Perbaiki Lisan Sikapmu

Oleh Saiful Bahri
Ada 2 orang kena PHK dari perusahaan yang sama, di hari yang sama.
Orang pertama:
Tiap hari posting di FB.
“Negara tidak becus. Perusahaan pilih kasih. Orang bawaan Bos dipertahankan, padahal kinerja jelek. Ekonomi hancur. Bos dzalim.”
Satu tahun berlalu. Ia masih di tempat yang sama: menyalahkan.
Orang kedua:
Diam.
3 bulan kemudian ia sudah jadi supervisor di tempat baru.
Ia tidak pernah menjelekkan perusahaan lama. Ia hanya melamar, bekerja, dan membuktikan.
Prinsipnya sederhana: “Pintu yang satu tertutup, masih ada pintu lain yang terbuka.”
Saudaraku…
Yang kedua ini menjadikan PHK sebagai pengalaman berharga.
Ia bertanya pada dirinya sendiri: “Kenapa saya tidak diangkat jadi karyawan tetap?”
Bukan untuk menyalahkan. Tapi untuk memperbaiki.
Ia sadar, bisa jadi bukan karena dirinya buruk.
Mungkin karena kuota pengangkatan memang terbatas. Mungkin karena kondisi keuangan perusahaan lagi turun. Mungkin order lagi sepi.
Perusahaan yang stabil juga rugi kalau terus mempekerjakan karyawan kontrak. Harus terus merekrut orang baru yang skill-nya belum tentu sebaik karyawan lama.
Sayangnya, tidak semua orang berpikir seperti itu.
Mungkin karena tidak tahu. Mungkin karena tidak mau berpikir positif.
Padahal bisa saja berpikir: “Mungkin rezeki saya bukan di perusahaan ini. Mungkin rezeki saya di tempat lain. Atau… kenapa tidak saya jadi pengusaha saja?”
Sekali lagi: Orang bermental sukses tidak suka menyalahkan keadaan atau lingkungan.
Orang sukses mencari cara bagaimana ia bisa move on.
Bagaimana ia bisa melakukan sesuatu yang mungkin tidak bisa dilakukan orang lain.
Sementara orang bermental gagal… sibuk mencari alasan dan alasan untuk pembenaran diri.
Saudaraku,
Allah memberikan waktu yang sama untuk semua orang: 24 jam.
Allah memberikan kita akal untuk berpikir dan mencari cara.
Jangan sampai kita kalah dari seekor semut.
Semut tidak pernah mundur. Semut tidak pernah mencari alasan.
Bahkan ia sanggup mengangkat beban yang lebih besar dari tubuhnya.
Ayo mulai sekarang. Jangan berkeluh kesah. Cari celah. Cari cara agar kamu bisa.
Dalam sebuah ceramah, Almarhum KH. Zainuddin MZ pernah berkata:
“Dalam urusan dunia, lihatlah ke bawah. Dalam urusan akhirat, lihatlah ke atas.”
Maksudnya:
Urusan dunia, kalau target belum tercapai, lihatlah orang yang hidupnya di bawah kita.
Dengan begitu kita tidak mudah putus asa atau frustasi.
Usaha dan doa tetap wajib. Itu sunnatullah. Kita harus berusaha, agar tidak hanya berpangku tangan dan membebani orang lain.
Ingat: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
Sementara urusan akhirat, lihatlah ke atas.
Kalau orang lain bisa rajin tahajud, kenapa saya tidak?
Kalau orang lain bisa dermawan, kenapa saya tidak?
Tiru kebaikannya. Jangan iri.
Prinsip hidupnya:
Jangan suka menyalahkan orang lain, termasuk pasangan Anda.
Coba bayangkan kalau kita yang disalahkan terus-menerus, bagaimana perasaan kita?
Pada umumnya setiap orang tidak ingin disalahkan.
Orang bijak memberi contoh yang baik. Agar orang lain, agar pasangan kita, bisa langsung melihat dan meniru kebiasaan kita sehari-hari.
“Orang bermental sukses selalu mencari cara agar bisa melakukan sesuatu.
Orang gagal selalu mencari alasan kenapa dia tidak bisa melakukan sesuatu.”












