Satu Stiker, Seribu Asumsi: Ketika Akademisi Aceh Lebih Cepat Menghakimi daripada Meneliti

BAGIAN 1
Oleh: @Frida.Pigny
Illustrator: @Axelle.Pigny
Saya yang mengirim stiker itu.
Sebuah stiker bergaya Titanic. Kalau biasanya kita mengenal adegan Jack dan Rose berdiri di ujung kapal, stiker yang saya kirim menampilkan dua laki-laki dengan pose yang kurang lebih sama. Maksud saya sederhana: melunturkan asumsi awal dari teman-teman ‘newb’ bahwa grup alumni ini sangat kaku dan penuh senioritas.
Tidak ada manifesto. Tidak ada kampanye. Tidak ada ajakan untuk menjadi apa pun. Tetapi stiker itu kemudian dihapus oleh admin grup alumni.
Saya bisa saja tersinggung. Bisa saja bertanya, “Mengapa humor sederhana dianggap sedemikian serius?” Bisa juga saya membalas dengan perdebatan panjang tentang kebebasan berekspresi.
Tapi justru respons yang muncul setelahnya membuat saya jauh lebih tergelitik.
Ada yang mengatakan bahwa stiker semacam itu harus memperhatikan norma kesopanan. Ada yang menyebut fenomena “kaum pelangi” sudah sangat marak, bahkan di lingkungan kampus. Ada yang mengatakan pernah melihat mahasiswa yang mengalami trauma. Lalu percakapan bergerak lebih jauh: LGBT disebut sudah “merajalela”, kemudian dikaitkan dengan meningkatnya HIV di Aceh, bahkan muncul dugaan bahwa mereka sengaja mendonorkan darah melalui PMI.
Saya membaca percakapan itu sambil berpikir:
Menarik. Bagaimana kita bisa bergerak dari sebuah stiker menjadi kesimpulan sosial yang begitu besar?
Bukan stikernya yang membuat saya penasaran.
Lompatan berpikir setelah stikernya yang menarik.
Sebab di sanalah sebenarnya kita sedang melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada persoalan LGBT. Kita sedang melihat bagaimana manusia membentuk keyakinan.
Sebuah stimulus kecil masuk. Kita memberikan interpretasi. Interpretasi melahirkan asumsi. Asumsi diulang. Setelah cukup sering diulang, ia mulai terdengar seperti fakta.
Dan ketika orang-orang yang mengucapkannya adalah orang terdidik, proses itu menjadi semakin menarik untuk dipertanyakan.
Karena bukankah pendidikan seharusnya membuat kita lebih hati-hati terhadap apa yang kita klaim sebagai pengetahuan, bukan justru lebih percaya diri dalam menyimpulkan sesuatu yang belum kita teliti?
Ketika Pengamatan Berubah Menjadi “Fakta”
Mari kita lihat satu contoh sederhana. Seseorang berkata, “Saya melihat mahasiswa yang trauma.” Itu adalah sebuah pengamatan pribadi. Valid sebagai pengalaman orang tersebut.
Tetapi kalimat berikutnya mungkin berbunyi, “Berarti fenomena ini banyak terjadi di kampus.” Di sini kita sudah melakukan generalisasi.
Lalu berkembang menjadi, “Berarti LGBT sudah merajalela.” Kita telah membuat klaim yang lebih besar lagi.
Kemudian, “Itulah sebabnya HIV meningkat.” Sekarang kita sudah membuat klaim sebab-akibat.
Dan akhirnya, “Mereka bahkan sengaja donor darah melalui PMI.” Ini sudah menjadi tuduhan yang sangat spesifik dan membutuhkan bukti yang sangat spesifik pula.
Perhatikan betapa cepat perjalanan sebuah informasi.
Saya melihat sesuatu.
Menjadi:
Saya menduga sesuatu.
Kemudian:
Saya percaya sesuatu.
Lalu:
Saya yakin sesuatu.
Dan akhirnya:
Saya menganggap semua orang harus menerima sesuatu itu sebagai fakta.
Padahal empat tahap tersebut bukan hal yang sama. Inilah yang seharusnya menjadi perhatian dunia akademik. Bukan hanya apa yang kita yakini, tetapi bagaimana kita sampai pada keyakinan tersebut.
Sebab akademisi seharusnya memiliki satu kebiasaan yang mungkin terasa sangat tidak nyaman: mengatakan “saya belum tahu.”
Kalimat itu terlihat sederhana, tetapi sebenarnya membutuhkan keberanian intelektual.
“Saya melihat gejalanya, tetapi belum tahu penyebabnya.”
“Saya punya hipotesis, tetapi belum punya data.”
“Saya punya pengalaman lapangan, tetapi pengalaman saya belum cukup untuk digeneralisasikan.”
“Saya percaya secara moral bahwa sesuatu itu salah, tetapi keyakinan moral saya tidak otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat secara empiris.”
Bukankah justru di situlah integritas keilmuan berada?
Saya Tidak Meminta Anda Menyukai Fenomenanya
Ada satu hal yang menurut saya penting dibedakan. Meneliti sebuah fenomena tidak sama dengan menyetujui fenomena tersebut. Membuka ruang diskusi tidak sama dengan mempromosikannya. Mencoba memahami penyebab sebuah fenomena tidak berarti membenarkannya.
Dan mengumpulkan data tentang sesuatu yang secara agama atau moral kita tidak setujui bukan berarti kita kehilangan prinsip. Justru sebaliknya.
Kalau kita benar-benar percaya bahwa sebuah fenomena sosial berbahaya, bukankah kita seharusnya cukup serius untuk mempelajarinya?
Kalau kita percaya ada dampak psikologis terhadap mahasiswa, ukur dampaknya. Kalau kita percaya ada pola tertentu di lingkungan kampus, teliti polanya.
Kalau kita percaya ada hubungan antara perilaku tertentu dengan peningkatan penularan penyakit, uji hubungan tersebut dengan data epidemiologis.
Kalau kita menduga ada faktor keluarga, lingkungan sosial, pengalaman masa kecil, tekanan sosial, segregasi gender, media, atau faktor biologis yang berperan, jadikan itu hipotesis dan uji.
Bukan langsung dijadikan kesimpulan. Sebab hipotesis bukan doktrin. Opini bukan data. Pengalaman pribadi bukan penelitian populasi. Dan gelar akademik bukan sertifikat bahwa pemiliknya selalu benar.
Saya justru ingin mengajak akademisi Aceh untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih berani daripada cuma mengatakan, “Ini salah.”
Telitilah.
Jangan Takut Meneliti Hal yang Tidak Kita Sukai
Saya memahami bahwa ini bukan perkara sederhana. Aceh memiliki sejarah, agama, norma sosial, dan struktur budaya yang sangat kuat. Karena itu, pembicaraan mengenai seksualitas, gender, dan LGBT dengan mudah menyentuh wilayah moral dan religius.
Tetapi justru karena sensitif, kita membutuhkan lebih banyak kecermatan, bukan lebih sedikit. Sebab ketika sebuah fenomena dianggap tabu untuk diteliti, ruang kosong itu tidak pernah benar-benar kosong.
Ia akan diisi oleh rumor. Diisi oleh pengalaman pribadi. Diisi oleh potongan video. Diisi oleh percakapan WhatsApp. Diisi oleh “katanya”.
Dan yang paling berbahaya: diisi oleh kesimpulan yang terdengar ilmiah tetapi sebenarnya belum pernah diuji.
Kita sering lupa bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dibutuhkan untuk mempelajari hal-hal yang kita sukai.
Ilmu justru menjadi sangat penting ketika berhadapan dengan sesuatu yang membuat kita tidak nyaman.
Seorang peneliti tidak seharusnya bertanya terlebih dahulu:
“Apakah saya suka hasil penelitian ini?”
Pertanyaan pertamanya seharusnya:
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Setelah itu baru kita bertanya:
Mengapa terjadi? Seberapa besar skalanya? Pada kelompok mana? Apa faktor yang berkorelasi? Apa yang benar-benar menjadi penyebab? Apa yang hanya kebetulan muncul bersamaan? Apa yang kita ketahui, dan apa yang sebenarnya belum kita ketahui?
Itulah pekerjaan penelitian. Dan ini berlaku bukan hanya untuk LGBT. Berlaku untuk kemiskinan. Untuk korupsi. Untuk pendidikan. Untuk narkoba. Untuk perceraian. Untuk kekerasan dalam rumah tangga. Untuk radikalisme. Untuk kesehatan mental. Untuk pola asuh. Untuk segala persoalan sosial yang sering kita bicarakan dengan penuh keyakinan tetapi minim data.
Bahkan Segregasi Pun Layak Diteliti
Ada satu hal lain yang menurut saya menarik untuk dibicarakan secara akademis. Aceh memiliki norma sosial yang kuat mengenai interaksi laki-laki dan perempuan. Dalam banyak ruang pendidikan dan sosial, segregasi gender menjadi bagian dari sistem yang dianggap menjaga norma.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa segregasi adalah penyebab orientasi seksual tertentu. Itu akan menjadi lompatan kesimpulan yang tidak bertanggung jawab. Tetapi kita bisa mengajukan pertanyaan penelitian yang jauh lebih sehat:
Apa dampak segregasi gender terhadap pola pertemanan anak dan remaja? Bagaimana keterbatasan interaksi lintas gender mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial? Bagaimana remaja membangun identitas dan relasi ketika ruang sosial mereka sangat terpisah berdasarkan gender? Apakah terdapat konsekuensi yang tidak disengaja dari sebuah kebijakan sosial yang sebenarnya dirancang untuk tujuan tertentu?
Pertanyaan seperti ini tidak perlu dijawab dengan kemarahan. Ia membutuhkan data. Dan justru di sinilah akademisi memiliki peran.
Sebuah kebijakan bisa memiliki niat baik sekaligus menghasilkan konsekuensi yang tidak pernah direncanakan.
Mempelajari konsekuensi tersebut bukan berarti menyerang kebijakan. Itu berarti memastikan bahwa kita benar-benar memahami sistem yang kita bangun.
Jangan Mengubah Agama Menjadi Pengganti Metodologi
Ada pula wilayah yang menurut saya perlu dibedakan dengan sangat hati-hati: agama dan ilmu empiris. Agama dapat memberikan kerangka nilai tentang apa yang dianggap benar dan salah. Ilmu empiris mencoba memahami apa yang terjadi di dunia berdasarkan observasi, data, dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.
Keduanya tidak harus dipertentangkan. Tetapi kita juga tidak boleh mencampuradukkan fungsinya. Jika pertanyaannya adalah:
“Apakah perilaku X sesuai atau tidak sesuai dengan keyakinan agama saya?”
Itu pertanyaan normatif dan teologis, yang juga sangat subjektif.
Tetapi jika pertanyaannya: “Apakah X meningkatkan risiko Y?”
maka kita membutuhkan data.
Jika pertanyaannya: “Mengapa fenomena X muncul pada kelompok tertentu?”
kita membutuhkan penelitian.
Jika pertanyaannya: “Apakah benar fenomena X meningkat di Aceh?”
kita membutuhkan statistik.
Bukan sekadar perasaan bahwa kita “semakin sering melihatnya”.
Karena ada fenomena yang sangat manusiawi bernama availability bias: sesuatu yang baru saja kita lihat, dengar, atau bicarakan terasa jauh lebih umum daripada kenyataannya.
Hari ini kita membicarakan LGBT. Besok kita melihat dua kasus. Lusa kita mendengar cerita ketiga. Otak kita kemudian berkata: “Tuh kan. Semakin banyak.”
Padahal belum tentu. Mungkin memang meningkat. Mungkin juga kita menjadi lebih sadar terhadap keberadaannya. Mungkin pelaporannya berubah. Mungkin definisinya berubah. Mungkin ada faktor lain. Tanpa data, kita tidak tahu. Dan mengatakan “kita tidak tahu” bukan kelemahan. Itu adalah titik awal penelitian. Jika niat diinisiasikan.
“Semua Ada Akarnya”
Dalam percakapan grup tersebut, saya sempat menulis: “Semua ada akarnya.” Saya memang percaya bahwa fenomena sosial tidak muncul dari ruang hampa. Tetapi kalimat “semua ada akarnya” juga harus membuat kita bertanya:
Akar yang mana? Dan bagaimana kita mengetahuinya? Apakah berdasarkan penelitian? Wawancara? Data statistik? Observasi lapangan? Studi longitudinal? Atau hanya berdasarkan beberapa kasus yang pernah kita lihat, kita dengar?
Karena ketika kita mengatakan “semua ada akarnya”, kita sebenarnya sedang membuat hipotesis. Dan hipotesis yang baik tidak berhenti sebagai obrolan. Ia diuji. Mungkin hasil penelitian nanti mendukung dugaan kita. Mungkin sebagian benar dan sebagian salah. Mungkin justru seluruh asumsi kita runtuh. Dan itu tidak masalah.
Kalau sebuah penelitian menghancurkan keyakinan kita tetapi mendekatkan kita kepada kebenaran, penelitian itu tetap berhasil. Bukankah itu semangat ilmu pengetahuan?
Masalahnya, banyak orang ingin menjadi benar lebih dulu daripada ingin mengetahui apa yang benar. Di situlah ilmu berhenti.
Dari Satu Stiker Kita Bisa Belajar Banyak
Pada akhirnya, saya tidak terlalu tertarik lagi pada stikernya. Stiker itu sudah dihapus. Selesai. Yang jauh lebih menarik adalah percakapan yang lahir sesudahnya.
Satu gambar kecil ternyata mampu membuka pintu menuju pertanyaan yang jauh lebih besar tentang Aceh:
Bagaimana kita membicarakan fenomena sosial? Bagaimana kita membedakan moral judgment dengan klaim empiris? Bagaimana akademisi menggunakan pengalaman pribadi? Bagaimana kita menangani sesuatu yang secara moral membuat kita tidak nyaman?
Dan yang paling penting: Apakah kita cukup berani meneliti sesuatu yang sudah terlanjur kita yakini jawabannya?
Saya justru berharap percakapan seperti ini tidak berhenti di grup WhatsApp. Coba bawa ke kampus. Bawa ke ruang seminar. Bawa ke penelitian. Bawa ke jurnal. Bawa ke ruang dialog antara akademisi, ulama, psikolog, dokter, sosiolog, pendidik, orang tua, mahasiswa, dan masyarakat.
Bukan untuk mencari siapa yang paling keras suaranya. Bukan pula untuk menambah kobaran amarah yang sudah berbenih di dalam dada. Tetapi untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi.
Karena kalau kita memang percaya ada persoalan, maka kemarahan saja tidak cukup. Kita membutuhkan pengetahuan.
Dan kalau kita benar-benar percaya bahwa sesuatu sedang “merajalela”, maka seharusnya kita bisa menunjukkan datanya. Kalau kita percaya ada akar masalah, mari cari akarnya. Kalau kita percaya ada dampak, mari ukur dampaknya.
Kalau kita percaya ada hubungan sebab-akibat, mari buktikan hubungan itu. Dan kalau ternyata penelitian menunjukkan bahwa sebagian asumsi kita keliru? Beranilah mengubah pikiran.
Sebab mungkin itulah salah satu tanda bahwa pendidikan benar-benar bekerja. Bukan ketika seseorang menjadi semakin yakin bahwa dirinya benar. Tetapi ketika ia menjadi semakin terlatih membedakan:
apa yang ia percaya, apa yang ia duga, apa yang ia tahu, dan apa yang sebenarnya belum ia ketahui.
Saya mengirim satu stiker. Stiker itu dihapus. Tetapi dari sana lahir seribu asumsi. Mungkin sekarang saatnya kita melakukan sesuatu yang lebih menarik daripada memperdebatkan stikernya:
Mari teliti seribu asumsi itu satu per satu.
Jangan hanya geram di belakang dan membuat hidup penuh amarah, curiga, kecaman, dan ketakutan.
Bawa kegelisahan itu ke meja penelitian!
[Bersambung ke Bagian 2: Semua Ada Akarnya…]












