Artikel · Potret Online

Sastra, Pendidikan, dan Religiositas: Membaca Manusia melalui Pengalaman Batin

Penulis Heri Isnaini
September 8, 2026
8 menit baca 9
9DBEB76F-9FAD-4D69-88E4-73C1E580BDB1
Foto / IlustrasiSastra, Pendidikan, dan Religiositas: Membaca Manusia melalui Pengalaman Batin

Oleh Heri Isnaini

Karya sastra lahir dari perjumpaan sastrawan dengan pengalaman hidupnya. Apa yang dilihat, dirasakan, dipikirkan, dipercaya, bahkan diragukan, dapat menemukan bentuknya dalam puisi, prosa, maupun drama. Pengalaman tersebut tidak hadir sebagai catatan pribadi yang berdiri sendiri. Ia selalu berkelindan dengan ruang sosial, kebudayaan, sejarah, dan sistem nilai yang membentuk kehidupan pengarang. Dari sinilah hubungan antara pengarang, karya, dan masyarakat menjadi penting dalam memahami sastra.

Karya sastra dapat dibaca dari berbagai sudut pandang sebab teks sastra memiliki kemampuan untuk memantulkan pengalaman manusia dalam banyak dimensi. Satu puisi, misalnya, dapat dibaca sebagai ekspresi estetis, dokumen kebudayaan, artikulasi psikologis, kritik sosial, atau refleksi religius. Dalam tulisan ini, sastra ditempatkan dalam perjumpaannya dengan pendidikan dan religiositas. Ketiganya bukan tiga wilayah yang sepenuhnya terpisah. Ketiganya bertemu dalam satu persoalan mendasar: bagaimana manusia memahami dirinya, membentuk kesadarannya, dan menentukan sikap terhadap kehidupan.

Salah satu dimensi yang sejak lama berkelindan dengan sastra adalah religiositas. Y.B. Mangunwijaya pernah menempatkan religiositas sebagai salah satu akar penting dalam penciptaan sastra. Religiusitas tidak semata-mata menunjuk pada kepatuhan terhadap institusi atau doktrin keagamaan, tetapi lebih jauh menyentuh pengalaman batin manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang melampaui dirinya. Dalam pengertian tersebut, sastra menjadi ruang artikulasi bagi kegelisahan, pencarian, keyakinan, keraguan, dan pengalaman transendental manusia.

Pandangan tersebut berdekatan dengan fungsi sastra yang dikenal melalui ungkapan dulce et utile: sastra menghadirkan kenikmatan estetis sekaligus kegunaan bagi kehidupan. Akan tetapi, “kegunaan” sastra tidak perlu dipahami secara sempit sebagai pemberian nasihat atau pengajaran moral. Sastra bekerja dengan cara yang lebih subtil. Ia mempertemukan pembaca dengan pengalaman manusia yang mungkin tidak pernah dialaminya sendiri. Melalui pengalaman tokoh, suara lirik, konflik, metafora, dan berbagai kemungkinan dunia yang dibangun teks, pembaca diajak mempertimbangkan kembali caramemandang dirinya dan orang lain.

Di sinilah pendidikan menemukan titik perjumpaannya dengan sastra. Pendidikan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan. Pendidikan juga menyangkut pembentukan kepekaan, kemampuan memahami pengalaman, dan kematangan dalam mengambil sikap. Sastra memiliki daya untuk mengembangkan wilayah tersebut sebab ia bekerja melalui pengalaman manusia yang konkret dan kompleks.

Sapardi Djoko Damono, misalnya, dalam puisinya “Dalam Diriku” menulis:

Dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;

Darah dan sukma dalam puisi tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai citraan. Keduanya membuka ruang kontemplasi mengenai manusia sebagai makhluk jasmani sekaligus batiniah. Tubuh dan sukma hadir dalam satu diri, sebagaimana manusia selalu berada dalam ketegangan antara yang tampak dan yang tidak tampak. Pembacaan semacam ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana manusia mengenali dirinya sendiri?

Pertanyaan tersebut memiliki resonansi kuat dalam tradisi spiritual. Ungkapan yang sering dinisbahkan kepada Yahya bin Mu’adz ar-Razi, man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, menghubungkan pengenalan terhadap diri dengan pengenalan terhadap Tuhan. Terlepas dari perdebatan mengenai sumber dan status ungkapan tersebut, gagasan yang dikandungnya menarik untuk ditempatkan dalam konteks pembacaan sastra: pencarian terhadap Yang Transenden dapat bermula dari keberanian manusia membaca kedalaman dirinya sendiri.

Sastra bekerja di wilayah tersebut. Ia tidak selalu berbicara tentang Tuhan secara langsung. Kadang-kadang pengalaman religius justru hadir melalui kegelisahan seorang tokoh, kesunyian seorang penyair, pengalaman kehilangan, perjumpaan dengan kematian, atau pertanyaan tentang asal-usul kehidupan.Religiositas dalam sastra tidak selalu hadir sebagai khotbah. Iadapat muncul sebagai pertanyaan yang tidak segera memperoleh jawaban.

Dimensi personal inilah yang membuat religiositas berbeda dari sekadar pengetahuan mengenai agama. Religiositas berkaitan dengan bagaimana seseorang menghayati nilai, mengalami kehadiran Yang Transenden, dan mengolah pengalaman tersebut menjadi kesadaran. Swami Ramdas pernah menekankan pentingnya pencarian ke dalam diri dan pengenalan terhadap diri sendiri. Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman spiritual tidak selalu bergerak dari luar menuju ke dalam. Ia dapat pula berangkat dari pengalaman batin, lalu menemukan artikulasinya dalam cara seseorang memandang dunia.

Dalam konteks pendidikan, kekayaan batin semacam itu memiliki arti penting. Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses yang tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan, tetapi juga pertumbuhan manusia secara menyeluruh. Pengetahuan yang memperkaya batin manusia memiliki tempat dalam proses pendidikan sebab manusia bukan sekadar makhluk yang mengumpulkan informasi. Ia adalah makhluk yang menafsirkan pengalaman, memberi nilai pada kehidupannya, dan menentukan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.

Sastra dapat mengambil bagian dalam proses tersebut. Ketika seorang siswa membaca puisi tentang kematian, ia tidak hanya berhadapan dengan diksi dan majas. Ia dapat berhadapan dengan pertanyaan tentang kehilangan. Ketika membaca cerita tentang kemiskinan, ia tidak hanya mempelajari alur dan penokohan, tetapi juga berjumpa dengan pengalaman manusia yang mungkin berbeda dari kehidupannya. Ketika membaca karya yang berbicara tentang Tuhan, ia tidak hanya menemukan istilah keagamaan, tetapi juga dapat melihat bagaimana keyakinan, keraguan, dan pencarian spiritual bekerja dalam kehidupan manusia.

Persinggungan sastra dan religiositas juga dapat dilacak melalui sejarah perkembangan kebudayaan manusia. E.B. Tylor, melalui teori evolusi religi, menjelaskan perkembangan kepercayaan manusia yang berawal dari kesadaran mengenai jiwa atau soul, berkembang menuju kepercayaan terhadap berbagai kekuatan dan dewa, hingga gagasan mengenai satu kekuatan yang lebih tinggi. Terlepas dari keterbatasan perspektif evolusionis Tylor jika dibaca dari antropologi kontemporer, gagasan tersebut penting untuk melihat bagaimana manusia sejak awal berusaha menjembatani pengalaman empiris dengan sesuatu yang diyakini melampaui dirinya.

Dalam kebudayaan lisan, salah satu bentuk artikulasi hubungan tersebut adalah mantra. Mantra memperlihatkan bagaimana bahasa tidak selalu diperlakukan sebagai alat komunikasi biasa. Kata-kata tertentu dipercaya memiliki daya, ritme, pengulangan, dan struktur bunyi yang berkaitan dengan kekuatan tertentu. Dalam konteks folklor Indonesia, James Danandjaja menempatkan mantra sebagai bagian dari folklor lisan yang diwariskan dalam kehidupan masyarakat.

Mantra menarik dibicarakan dalam kajian sastra sebab bentuknya memiliki kedekatan dengan puisi. Ia mengandalkan pilihan kata, pengulangan, bunyi, ritme, dan intensitas pengucapan. Yang membedakannya bukan hanya bentuk bahasa, tetapi juga horizon kepercayaan yang menyertainya. Mantra tidak semata-mata dimaksudkan untuk menghasilkan pengalaman estetis; ia memiliki fungsi tertentu dalam sistem kepercayaan masyarakat.

Jejak mantra kemudian dapat ditemukan kembali dalam perkembangan puisi modern. Sutardji Calzoum Bachri, dalam “Kredo Puisi”, menyatakan bahwa menulis puisi baginya adalah “mengembalikan kata kepada mantera”. Pernyataan tersebut penting sebab memperlihatkan adanya upaya untuk membebaskan kata dari fungsi komunikatif yang terlalu langsung. Kata dikembalikan kepada bunyi, energi, repetisi, dan kemungkinan makna yang lebih luas.

Dalam konteks tersebut, pengalaman religius dapat mengalami transformasi menjadi pengalaman puitik. Yang berpindah dari mantra ke puisi bukan semata-mata kepercayaan terhadap kekuatan gaib sebuah kata, melainkan juga kesadaran bahwa bahasa memiliki daya yang melampaui fungsi informatifnya. Kata dapat membangun suasana, menggugah ingatan, menggerakkan emosi, bahkan membawa pembaca menuju wilayah refleksi yang tidak dapat diringkas dalam proposisi sederhana.

Sastra dengan demikian memiliki posisi yang menarik dalam pendidikan religiositas. Ia tidak perlu dijadikan perangkat indoktrinasi. Justru kekuatan sastra terletak pada kemampuannya menghadirkan pengalaman yang memungkinkan pembaca menemukan pertanyaan dan menegosiasikan jawabannya sendiri. Pendidikan religiositas melalui sastra bukan terutama tentang membuat peserta didik menghafal nilai, melainkan membantu mereka mengalami bagaimana nilai bekerja dalam kehidupan manusia.

Di titik inilah sastra, pendidikan, dan religiositas bertemu.Sastra menyediakan pengalaman simbolik; pendidikan mengolah pengalaman tersebut menjadi pengetahuan dan kesadaran; religiositas memberi ruang bagi manusia untuk mempertanyakan hubungan dirinya dengan sesuatu yang melampaui dirinya. Ketiganya membentuk kelindan yang memungkinkan manusia tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga memahami mengapa pengetahuan itu penting bagi kehidupannya.

Membaca sastra, dengan demikian, bukan sekadar membaca teks. Kita sedang membaca manusia melalui bahasa yang dipilihnya, pengalaman yang dihadirkannya, konflik yang dibangunnya, dan nilai yang dinegosiasikannya. Di dalam proses tersebut, pendidikan menemukan dimensi batinnya, sementara religiositas menemukan salah satu bentuk artikulasinya melalui pengalaman estetis.

Barangkali di sanalah sastra memperoleh daya hidupnya. Iatidak selalu memberi jawaban, tetapi mampu membuat manusia bersedia tinggal lebih lama bersama sebuah pertanyaan. Dalam ruang itulah kesadaran tumbuh: perlahan, personal, dan sering kali tidak selesai dalam satu pembacaan.

Sapardi pernah menulis, “karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya.” Kalimat tersebut memperlihatkan paradoks yang khas dalam sastra: keindahan tidak selalu menghadirkan kegembiraan; ia dapat pula membawa manusia kepada kesadaran yang lebih dalam tentang kefanaan, kehilangan, dan keberadaan. Sastra mengajarkan bahwa kehidupan tidak harus selalu dijelaskan untuk dapat dihayati.

Mungkin itulah titik temu terdalam antara sastra, pendidikan, dan religiositas: ketiganya mengajak manusia bergerak dari sekadar mengetahui menuju mengalami, dari mengalami menuju memahami, dan dari memahami menuju kesadaran tentang bagaimana seharusnya ia hidup.

Bandung, 7  September 2026

Penulis:

Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Heri Isnaini
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...