Artikel · Potret Online

Youngpreneur Berbasis Kebermanfaatan: Sukses yang Menghidupkan Banyak Orang

Penulis  Redaksi
September 7, 2026
10 menit baca 5


Oleh: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
KUA Tapaktuan Aceh Selatan

Sukses Tidak Berhenti pada Diri Sendiri

Kesuksesan dalam kewirausahaan sering kali diukur dari besarnya omzet, banyaknya cabang usaha, jumlah aset, atau tingginya keuntungan. Ukuran tersebut tentu penting dalam dunia bisnis. Namun, ada ukuran yang jauh lebih bernilai, yaitu seberapa besar keberadaan sebuah usaha mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Usaha yang baik bukan hanya membuat pemiliknya hidup berkecukupan, tetapi juga membuat karyawan memperoleh penghasilan, keluarga terbantu, masyarakat mendapatkan pelayanan, produk lokal memiliki nilai tambah, serta terbukanya lapangan pekerjaan baru.
Semangat inilah yang terasa kuat dalam kegiatan Studium Generale STAI Tapaktuan pada Selasa, 1 September 2026, di Aula STAI Tapaktuan. Kegiatan yang dihadiri mahasiswa, dosen, dan civitas akademika tersebut menghadirkan Novi Rosmita, S.E., M.Kes. sebagai pembicara dengan tema “Youngpreneur Revolution: Saatnya Mahasiswa Menciptakan Peluang, Bukan Hanya Mencari Pekerjaan.”


Tema tersebut menyampaikan pesan penting kepada mahasiswa bahwa pendidikan tinggi semestinya tidak hanya mempersiapkan seseorang untuk memasuki dunia kerja. Kampus juga harus melahirkan manusia yang mampu menciptakan pekerjaan, membaca peluang, mengembangkan potensi daerah, serta memberikan manfaat kepada masyarakat. Inilah yang dapat disebut sebagai youngpreneur berbasis kebermanfaatan: kewirausahaan yang tidak berhenti pada keuntungan pribadi, tetapi berkembang menjadi jalan untuk menghidupkan banyak orang.

Keberhasilan Hari Ini Memiliki Cerita Panjang di Belakangnya
Salah satu pelajaran berharga dari pengalaman yang disampaikan dalam Studium Generale tersebut adalah bahwa masyarakat biasanya melihat seseorang ketika sudah berhasil. Orang melihat usaha yang sudah berkembang, jumlah pekerja yang banyak, fasilitas yang semakin baik, dan berbagai pencapaian yang terlihat hari ini. Namun, tidak semua orang melihat bagaimana usaha itu dimulai.


Orang melihat hasil hari ini, tetapi sering kali tidak melihat perjuangan pada hari pertama.
Perjalanan kewirausahaan justru dibentuk oleh proses tersebut. Ada masa ketika seseorang harus menawarkan produk sendiri, mencari pelanggan, menghadapi penolakan, belajar membaca kebutuhan pasar, mengalami keuntungan yang kecil, bahkan menghadapi kegagalan. Semua pengalaman tersebut merupakan sekolah kehidupan yang tidak selalu diperoleh di ruang kuliah.

Pengalaman Novi Rosmita menjadi gambaran menarik. Semangat usaha telah tumbuh sejak masa muda, usaha dijalankan melalui berbagai produk seperti roti, kue, tas, aksesori, dan barang lainnya. Pada masa itu, media komunikasi seperti BlackBerry juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan dan menawarkan produk.
Pelajaran yang dapat diambil bukan semata-mata jenis barang yang dijual, melainkan keberanian untuk memulai dari apa yang ada.
Banyak anak muda mempunyai gagasan besar, tetapi menunggu modal besar. Ada pula yang menunggu tempat usaha yang bagus, peralatan lengkap, atau kondisi yang dianggap sempurna. Akibatnya, rencana tidak pernah menjadi tindakan. Padahal, pengalaman banyak pengusaha menunjukkan bahwa usaha besar sering kali bermula dari aktivitas yang sangat sederhana.

Dari Usaha Kecil Menuju Usaha yang Membuka Lapangan Kerja
Perjalanan kewirausahaan kemudian berkembang ke berbagai bidang. Sekitar tahun 2017, misalnya, hadir Quality Fried Chicken di Tapaktuan. Dalam perjalanan usaha tentu muncul kompetitor atau usaha sejenis, seperti King Fried Chicken dan Kuta Raja. Kehadiran pesaing sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam dunia bisnis.


Persaingan bahkan dapat menjadi energi untuk melakukan evaluasi. Pengusaha dipaksa bertanya: apakah kualitas produk sudah baik? Apakah harga sesuai? Apakah pelayanan memuaskan? Apa yang membedakan produk kita dengan pesaing? Apakah pelanggan mempunyai alasan untuk kembali?
Karena itu, rival dalam bisnis tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Kompetitor dapat menjadi cermin untuk memperbaiki kualitas.
Perjalanan lain yang sangat menarik adalah pengembangan usaha di bidang kesehatan. Dari Klinik Cahaya Sehat yang dirintis sebelumnya, kemudian berkembang hingga menjadi Rumah Sakit Cahaya Sehat (RSCS). Perjalanan dari sebuah klinik menuju rumah sakit tentu membutuhkan proses yang panjang: peningkatan fasilitas, pelayanan, sumber daya manusia, manajemen, perizinan, kepercayaan masyarakat, dan berbagai aspek lainnya.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pemilik usaha. Ketika sebuah institusi berkembang dan mampu mempekerjakan sekitar 250 orang, keberadaannya telah berhubungan dengan kehidupan ratusan keluarga.


Begitu pula dengan unit usaha lainnya. Ada yang melibatkan sekitar 10 pekerja, 15 pekerja, 20 pekerja, dan seterusnya. Jika seorang pengusaha mampu membuka beberapa unit usaha, maka manfaat ekonominya menjadi semakin luas.
Di sinilah makna “sukses yang menghidupkan banyak orang” menjadi nyata.
Satu usaha yang berkembang dapat menjadi sumber penghidupan bagi puluhan bahkan ratusan keluarga.


Wirausaha dan Keberanian Keluar dari Zona Nyaman


Pengalaman hidup juga memperlihatkan bahwa kewirausahaan membutuhkan keberanian mengambil keputusan. Perjalanan sebagai PNS sejak tahun 1993, pengalaman bekerja di Puskesmas, bertugas di berbagai tempat, bekerja di rumah sakit hingga mengemban tanggung jawab sebagai sekretaris pada bidang pemberdayaan perempuan memberikan pengalaman organisasi dan pelayanan yang panjang.

Kemudian pada tahun 2023 muncul pilihan untuk mengambil pensiun dini.
Pesannya bukan bahwa menjadi PNS merupakan sesuatu yang membatasi. ASN mempunyai peran penting dan mulia dalam pelayanan publik. Namun, setiap manusia memiliki jalan pengabdian dan potensi yang berbeda. Bagi seseorang yang mempunyai visi usaha dan sosial yang besar, terkadang diperlukan keberanian untuk mengambil keputusan dan keluar dari rutinitas yang dianggap membatasi pengembangan potensinya.
Keluar dari zona nyaman juga bukan berarti bertindak tanpa perhitungan. Keberanian harus berjalan bersama perencanaan.


Jangan Berusaha Hanya karena Ikut-ikutan


Fenomena usaha kekinian mudah ditemukan. Ketika satu jenis minuman laris, muncul banyak usaha serupa. Ketika kopi menjadi tren, bermunculan kedai kopi. Begitu pula boba, matcha, makanan cepat saji, dan berbagai produk lainnya.

Mengikuti perkembangan pasar tidak salah. Tetapi membuka usaha semata-mata karena orang lain sedang sukses merupakan tindakan berisiko.
Sebelum memulai usaha, seseorang harus mampu menjawab beberapa pertanyaan mendasar: Apa tujuan usaha ini? Siapa target konsumennya? Apa kebutuhan pasar? Berapa modal yang diperlukan? Berapa biaya operasional? Berapa target penjualan setiap hari atau bulan? Apa keunggulan produk? Siapa pesaingnya? Bagaimana laporan keuangannya? Dan kapan usaha dapat mencapai titik impas?
Dengan demikian, kewirausahaan bukan sekadar keberanian menjual. Kewirausahaan membutuhkan analisis kebutuhan pasar, perencanaan, target capaian, pengelolaan keuangan, evaluasi, dan inovasi.


Potensi Lokal Aceh Selatan adalah Peluang Besar
Studium Generale tersebut juga mengingatkan bahwa peluang bisnis tidak harus dicari jauh-jauh. Aceh Selatan mempunyai kekayaan alam, pertanian, perkebunan, kuliner, dan pariwisata yang sangat potensial.

Kawasan seperti Lhok Rukam, Pasie Setumpuk, Pulau Dua, dan berbagai destinasi lainnya memiliki peluang ekonomi yang dapat dikembangkan generasi muda. Di sekitar objek wisata dapat tumbuh usaha kuliner, minuman, fotografi, jasa pemandu, transportasi, produk oleh-oleh, kerajinan, homestay, hingga konten digital.
Fasilitas yang terbatas bukan selalu alasan untuk tidak memulai. Bahkan dari penjualan mi, kelapa muda, makanan ringan, atau produk sederhana lainnya, aktivitas ekonomi dapat tumbuh.


Potensi pertanian juga demikian. Pisang, misalnya, jangan hanya dipandang sebagai buah yang dijual dalam keadaan mentah atau matang. Melalui kreativitas, pisang dapat dikembangkan menjadi tepung pisang, brownies pisang, keripik, kue, dan berbagai produk turunannya. Tentu setiap jenis pisang mempunyai karakter berbeda sehingga diperlukan pengetahuan tentang bahan baku dan produk yang paling sesuai.

Pala juga merupakan kekayaan daerah. Produk seperti selai pala Lhok Rukam yang dahulu dikenal dapat menjadi bahan refleksi. Mengapa produk lokal tertentu pernah berkembang kemudian semakin sulit ditemukan? Apakah persoalannya regenerasi produsen, pemasaran, kemasan, bahan baku, atau kontinuitas produksi?
Di sinilah mahasiswa dapat masuk membawa inovasi.
Produk tradisional tidak harus kehilangan identitasnya untuk menjadi modern. Yang diperlukan adalah peningkatan kualitas, desain kemasan, branding, legalitas, pemasaran digital, dan kesinambungan produksi.

Ekonomi Kreatif: Peluang Besar bagi Gen Z

Generasi muda memiliki modal yang tidak dimiliki generasi sebelumnya dalam skala yang sama, yaitu kedekatan dengan teknologi digital. Hampir seluruh aktivitas pemasaran kini dapat dilakukan melalui telepon genggam.
Karena itu, ekonomi kreatif memberikan ruang yang sangat luas. Mahasiswa dapat mengembangkan jasa desain grafis, fotografi, pembuatan konten, video promosi, stiker, kemasan, kotak makanan, cup minuman, branding UMKM, pengelolaan media sosial, dan berbagai usaha kreatif lainnya.
Dalam diskusi juga muncul gagasan tentang rumah kemasan. Gagasan ini sangat strategis. Banyak produk UMKM sebenarnya memiliki rasa dan kualitas yang baik, tetapi kalah dalam penampilan. Kemasan merupakan bagian dari komunikasi produk kepada konsumen.

Bawang goreng yang biasa, misalnya, dapat memiliki nilai jual berbeda setelah diberi merek, kemasan higienis, informasi produk yang jelas, dan promosi digital yang menarik.
Artinya, anak muda tidak harus selalu menciptakan produk baru. Mereka juga dapat meningkatkan nilai produk yang sudah dimiliki masyarakat.

Kampus Harus Menjadi Laboratorium Kewirausahaan
STAI Tapaktuan telah memiliki mata kuliah kewirausahaan. Ini merupakan modal penting. Namun, pembelajaran kewirausahaan akan lebih kuat apabila teori di kelas dihubungkan dengan praktik nyata.
Mahasiswa tidak cukup hanya memahami definisi wirausaha, modal, pemasaran, dan manajemen. Mereka perlu mengalami sendiri proses tersebut.

Misalnya, mahasiswa dibagi ke dalam kelompok usaha. Setiap kelompok melakukan analisis pasar, menentukan produk, menghitung biaya produksi, membuat produk, mendesain kemasan, menentukan harga, melakukan promosi digital, menjualnya, kemudian membuat laporan laba-rugi sederhana.
Apalagi kampus telah mempunyai fasilitas seperti mesin pembuat keripik.

Fasilitas tersebut dapat dikembangkan sebagai bagian dari laboratorium kewirausahaan.
Dari sinilah penulis dalam kesempatan diskusi menyampaikan gagasan mengenai pentingnya kerja sama antara STAI Tapaktuan, narasumber/pelaku usaha, dan mahasiswa. Pertanyaannya sederhana tetapi penting: mungkinkah pembelajaran kewirausahaan tidak hanya selesai di ruang kuliah, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan praktik usaha?


Jika kolaborasi dapat diwujudkan, mahasiswa dapat belajar langsung dari pelaku usaha tentang produksi, pelayanan, pemasaran, pengelolaan karyawan, pencatatan keuangan, pengembangan jaringan, menghadapi kompetitor, hingga menyelesaikan masalah bisnis.

Kewirausahaan dalam Perspektif Al-Qur’an: Ibadah dan Produktivitas

Semangat bekerja dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat mempunyai landasan kuat dalam Islam. Allah SWT berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin….’”
(QS. At-Taubah [9]: 105)
Ayat tersebut memberikan spirit bahwa seorang Muslim adalah manusia yang bekerja dan beramal. Keimanan tidak melahirkan kepasifan, melainkan produktivitas yang dibingkai dengan nilai kebaikan.


Allah SWT juga berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah….”
(QS. Al-Jumu’ah [62]: 10)
Ayat ini memberikan keseimbangan yang sangat indah. Ada waktunya manusia berdiri menghadap Allah dalam ibadah, dan ada waktunya ia bertebaran di muka bumi mencari rezeki serta karunia-Nya.

Karena itu, kewirausahaan yang dijalankan secara halal, jujur, profesional, dan membawa manfaat dapat menjadi bagian dari aktualisasi nilai keislaman.
Ilmu Usaha yang Dibagikan Dapat Menjadi Amal Jariyah
Salah satu dimensi menarik dari youngpreneur berbasis kebermanfaatan adalah kesediaan berbagi ilmu.

Dalam pengalaman usaha pembuatan kue, misalnya, pekerja dapat memperoleh keterampilan. Bahkan di kemudian hari ada yang mampu mengembangkan usaha sendiri. Dalam cara pandang sempit, lahirnya usaha baru mungkin dianggap sebagai pesaing. Namun dalam perspektif kebermanfaatan, kemampuan seseorang untuk mandiri setelah belajar dari kita justru merupakan keberhasilan.


Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ … أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga perkara … di antaranya ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim)

Mengajarkan cara membuat produk, mengelola usaha, melayani konsumen, membuat kemasan, memasarkan barang, atau mengatur keuangan merupakan ilmu praktis yang dapat memberikan manfaat kepada kehidupan orang lain.
Bayangkan jika seseorang mengajarkan keterampilan kepada sepuluh orang, lalu sepuluh orang tersebut menjadi mandiri dan masing-masing mempekerjakan beberapa orang. Manfaatnya akan terus berkembang.

Mau Bermanfaat atau Tidak?

Studium Generale STAI Tapaktuan memberikan pelajaran bahwa kewirausahaan bukan cerita tentang keberhasilan instan. Di balik usaha yang hari ini terlihat besar terdapat perjalanan panjang: belajar, mencoba, menjual, menghadapi persaingan, membangun jaringan, mengambil keputusan, melakukan inovasi, dan menjaga konsistensi.

Pengalaman tersebut perlu diterjemahkan menjadi gerakan nyata di lingkungan perguruan tinggi. Mata kuliah kewirausahaan perlu semakin diarahkan pada praktik. Fasilitas kampus perlu dioptimalkan. Mahasiswa perlu dipertemukan dengan praktisi. Produk lokal perlu dikembangkan. Inkubasi bisnis mahasiswa perlu didorong. Teknologi digital perlu dimanfaatkan.

STAI Tapaktuan memiliki peluang untuk tidak hanya menghasilkan sarjana yang berilmu agama dan akademik, tetapi juga melahirkan sarjana yang produktif, kreatif, mandiri, berkarakter, serta mampu memberdayakan masyarakat.

Pada akhirnya, setelah berbicara tentang modal, keuntungan, omzet, jabatan, bisnis, dan kesuksesan, terdapat satu pertanyaan sederhana yang memiliki makna sangat dalam:
“Mau bermanfaat atau tidak?”
Sebab keberhasilan tertinggi bukan sekadar ketika seseorang mampu menghidupi dirinya sendiri. Keberhasilan memperoleh makna yang lebih besar ketika keberadaan kita ikut menghidupkan harapan, pekerjaan, ekonomi, dan masa depan banyak orang.
Slogan
“Youngpreneur Berbasis Kebermanfaatan: Berani Memulai, Cerdas Membaca Peluang, Konsisten Bertumbuh, dan Sukses Menghidupkan Banyak Orang.”

Atau sebagai kalimat penguat:
“Jangan hanya bercita-cita menjadi orang sukses. Jadilah orang yang kesuksesannya membuat orang lain ikut hidup, tumbuh, mandiri, dan bermanfaat.”

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...