Pintu Sukses Tanpa Harus Menyingkirkan Orang lain
Oleh Drs. Saiful Bahri
Seorang guru berdiri di depan kelas. Di papan tulis ia membuat satu garis lurus sepanjang 100 cm.
“Anak-anak,” kata sang guru, “siapa yang bisa membuat garis ini menjadi lebih pendek?”
Murid pertama maju dengan semangat. Ia mengambil penghapus, lalu menghapus ujung garis itu. Kini tersisa 80 cm.
“Bagus,” kata guru. “Berikutnya?”
Murid kedua maju. Ia juga menghapus. Garis itu kini tinggal 60 cm.
Murid ketiga, keempat, juga melakukan hal yang sama. Saling berlomba menghapus. Hingga akhirnya garis itu hanya tersisa 20 cm.
Lalu guru menunjuk satu murid yang dari tadi hanya diam memperhatikan.
“Nak, giliranmu. Buatlah garis ini lebih pendek.”
Anak itu tersenyum. Ia tidak mengambil penghapus. Ia justru mengambil kapur, lalu membuat garis baru di sampingnya. Panjangnya 120 cm.
Seketika kelas hening. Sang guru mengangguk bangga.
“Nah, seperti inilah seharusnya. Untuk menjadi lebih baik, kamu tidak perlu menghapus orang lain. Cukup buat versi dirimu yang lebih panjang.”
—
*Saudaraku…*
Pelajaran sederhana ini sering kita lupakan dalam kehidupan nyata.
Berapa banyak orang yang ingin naik, tapi caranya dengan menjatuhkan?
Ingin terpilih jadi Kepala Desa, Camat, Bupati, Anggota Dewan, atau naik jabatan di kantor… lalu sibuk mencari aib orang lain.
Sibuk menjelek-jelekkan. Sibuk menyebar gosip. Sibuk menunjukkan “aku lebih baik dari dia”.
Padahal, *pintu sukses itu luas*. Tidak perlu menyingkirkan orang lain untuk bisa masuk.
Cukup lakukan yang terbaik versi dirimu.
Bukan “pas menjelang pemilihan” saja rajin. Bukan “pas mau naik gaji” saja manis.
Tapi konsisten. Setiap hari. Di tempat yang tidak dilihat orang.
*Lakukan yang lebih baik dari yang sudah ada. Tanpa harus menyingkirkan siapa-siapa.*
Itu lebih elegan. Lebih terhormat. Dan lebih berkah.
Saudaraku…
Permata akan tetap bersinar, meskipun tertimbun lumpur pekat sekalipun.
Emas tidak akan pernah menjadi besi, hanya karena ditaruh di tempat sampah.
Begitu juga manusia yang berkualitas.
Ia tidak perlu menjatuhkan orang lain agar dirinya terlihat tinggi.
*Naiklah setinggi-tingginya, tanpa harus menjatuhkan orang lain.*
*Terbanglah setinggi-tingginya, tapi bukan untuk membusungkan dada.*
Karena orang hebat yang sesungguhnya adalah mereka yang tawadhu, rendah hati, dan bermanfaat untuk sesama.
Rezeki, jabatan, dan kemuliaan akan datang sendiri… mengejar orang seperti itu.
_”Orang bermental sukses selalu mencari cara agar bisa melakukan sesuatu.
Orang gagal selalu mencari alasan kenapa dia tidak bisa melakukan sesuatu.”_
—
*












