Artikel

Petro-Euro dan Filsafat Eksistensialisme

Oleh Redaksi
December 7, 2025
0

Oleh ReO Fiksiwan “Absurditas lahir dari konfrontasi antara kebutuhan manusia dan kesunyian dunia yang tidak masuk akal.” — Albert Camus(1913-1960),...

Baca SelengkapnyaDetails
Artikel

Melihat di Balik Layar: Perang Komentar yang Mengungkap Krisis HIV/AIDS di Indonesia dan Filipina

Oleh Novita Sari Yahya
December 7, 2025
0

Oleh: Novita Sari Yahya  Beberapa waktu lalu, saya menelusuri sebuah grup Facebook pecinta pageant yang biasanya ramai dengan unggahan seputar...

Baca SelengkapnyaDetails
Menggores Asa Pemimpin Politik Baru Aceh
#Natural Disaster

Tontonan Konyol Menolak Bantuan Internasional

Oleh Taufiq Abdul Rahim
December 7, 2025
0

Oleh Dr. Taufiq Abdul Rahim, SE Suatu tindakan dan kebijakan pernyataan belum dan atau tidak menerima bantuan internasional, sebagai bantuan...

Baca SelengkapnyaDetails
Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia
Aceh

Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia

Oleh Hanif Arsyad
December 6, 2025
0

Oleh: Hanif Kamis dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB, saat sebagian warga Aceh masih terlelap dalam tidur, air bah tiba-tiba...

Baca SelengkapnyaDetails
  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    164 shares
    Share 66 Tweet 41
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    155 shares
    Share 62 Tweet 39
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    145 shares
    Share 58 Tweet 36
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    51 shares
    Share 20 Tweet 13
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kuda-Tunggangan dan Macan-Sirkus

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
June 28, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Sore ini saya ketemu kopi. Dia mengajak saya ke era di mana kekuasaan dikendalikan para raja. Ada kesejahteraan dan ada keadilan, namun di era itu ada pula sebaliknya. Lalu kami bercerita soal Aesop, berdiskusi sedikit.

Dalam kisah Aesop, kuda yang merasa tersaingi dengan rusa mendatangi pemburu. “Wahai pemburu, maukah engkau membantuku dan engkau pun aku bantu”, tanya kuda pada pemburu. “Apa keinginanmu”, tanya pemburu.

Perjanjian keduanya menghasilkan kesepakatan, kuda harus bersedia dipasang bit (besi kendali)-logam yang masuk ke mulut kuda, tempat tali kekang terhubung, kemudian kendali (atau ikat kepala)-bagian yang melingkari kepala kuda dan menopang bagian lainnya, dan terakhir tali kekang-tali pengendali kuda yang dipegang penunggang. Terakhir, pelana untuk duduk penunggang atau dalam kisah Aesop, pemburu.

Konsesus membunuh rusa dengan konsekuensi kuda harus dipasang alat-alat tadi, kerap terjadi di dunia realitas. Entah itu dalam skala besar, seperti keterikatan beberapa negara terhadap negara lainnya, maupun skala personal. Jika kita kuda itu, maka kita akan ditunggangi oleh pemburu atau penunggang kita. Baik itu tahta, harta maupun wanita/laki.

Di Indonesia, kelompok penunggang biasanya mengendalikan Presiden hingga kepala daerah. Para penunggang itu, menganggap politisi sebagai kuda untuk mendapatkan buruan, entah itu emas, migas, nikel, regulasi, dan hal lain yang menguntungkan mereka.

Kawanan kuda liar semakin sedikit, kalaupun ada, akan diburu dengan bantuan kuda yang sudah jinak. Meski kuda jinak teman dari kuda liar, namun demi kepentingan dia dan pemburu, kuda liar pun disingkirkan.

Pertanyaan reflektif sore itu, “apakah kita kuda merdeka (liar) atau kuda yang sedang ditunggangi pemburu?”. Tidak harus di dunia politik, di dunia realitas harian pun demikian. Apakah kita dikendalikan orang yang kita cintai, apakah kita dikendalikan orang yang kita benci, hingga kita hidup sesuai keinginan penunggang. Meski sama kepentingan, tetap saja kita ditunggangi.

Sebelum menulis artikel ini, saya sempat membaca buku yang memberikan beberapa hipotesis. Terlepas fakta empirisnya ada dan nyata, namun pikiran saya tak mau ditunggangi pikiran penulis buku itu. Dia mengatakan begini; “calon otoriter biasanya dibantu penguasa sebelumnya”. Dia beri contoh Benito Mussolini, Adolf Hitler, Hugo Chavez, Alberto Fujimori, barangkali jika buku ditulis di tahun 2024 ia akan memasukan Prabowo di dalam daftarnya.

📚 Artikel Terkait

Budayakan Literasi, SLB YBSM Banda Aceh Kunjungi Perpustakaan Wilayah Aceh

Kampung- Kampung Menelan Maut

Romo Sindhunata: Menyelami Puisi, Orasi, dan Jiwa Sastra Anak Indonesia

Jambatan Sastera Kelantan – Aceh Segera Luncur

Ini agak paradoks dengan cerita Aesop, namun saya menangkap hal yang belum dia teliti. Kelompok berkuasa di belakang layar yang kita kenal dengan oligarki, para pengusaha kaya, maupun negara lain pendukung calon otoriter. Sebuah suksesi presiden tampak mustahil tidak melibatkan mereka, apalagi di era demokrasi.

Bila nantinya Prabowo menjadi Mussolini, Adolf Hitler era digital, pandangan penulis itu ada benarnya. Prabowo dibantu Jokowi masuk dalam lingkar kekuasaan, menjadi Menhan dan kemudian presiden. Pertanyaan kemudian muncul, apakah Prabowo akan membalas jasa Jokowi dengan melindungi si mantan atau malah akan menjadi otoriter baru. Atau ia akan menjadi keduanya maupun tidak keduanya.

Spekulasi apapun boleh, kita sebagai rakyat pasti harus siap dengan segala konsekuensi. Prabowo meraih suara terbanyak dari pemilih yang berhak. Ia dianggap pantas oleh takdir dan mayoritas untuk mengepalai Indonesia. Tapi pertanyaannya kemudian, apakah kepala negara memiliki otak sehat, sampah, atau kosong? Jika kosong siapa otaknya, jika sampah segera buang sampah, jika sehat maka jaga kesehatan otak.

Jika Prabowo menggunakan pikiran Plato, ia akan bijaksana, namun negara ideal belum akan hadir di Indonesia. Mengingat, Machiavellian masih begitu kuat bahkan mengakar di segala arah. Jika Jokowi menggunakan bawahan melakukan korupsi dan kemudian beberapa ditangkap demi citranya sementara yang lain dilindungi demi memuluskan masa pensiun, publik terutama saya wajib bertanya;”apakah Prabowo akan melakukan pola yang sama?”.

Saya tidak akan meminta Prabowo menjawab dengan lisan dan tulisan. Saya pun tidak berharap apapun, biar waktu dan sejarah yang mengetik tindakan dan sikap dia. Saya dan Anda cukup baca ketikan sejarah itu. Boleh dijadikan pelajaran, boleh pula diabaikan. Keduanya punya resiko jangka pendek, menengah dan masa depan.

Prabowo juga tidak perlu mengatakan siapa penunggangnya, tak perlu juga membantah bahwa ia merdeka. Ia kuda maupun macan asia, toh kedua hewan itu kerap.jadi hiburan. Satunya di sirkus, dan satunya lagi di pacuan kuda. Mereka memperkaya pemilik dan menghibur rakyat. Beberapa orang malah bertaruh di pacuan kuda, apakah saat pilpres para oligarki juga taruhan?.

Maaf, agak ngelantur, namun ini hanya tulisan lucu-lucuan. Tidak perlu serius. Tidak perlu marah-marah bagi pendukung fanatik Prabowo maupun Jokowi, saya hanya memaparkan apa adanya, bukan memaparkan yang seharusnya seperti kerja para buzzer politik. Karena, Iblis pun akan saya bela jika dia benar dan malaikat pun akan saya lawan jika ia salah. Namun Prabowo dan Jokowi bukan keduanya, mereka lebih tinggi drajatnya dari Malaikat bila melakukan tugasnya dengan benar dan sebaliknya.

Hal yang sama juga terjadi pada kita. Bila moral kita pada titik nista, kita tak lebih mulia dari binatang. Apalagi bila kita ditunggangi benda-benda mati, semisal harta dan uang maupun hasrat biologis, hasrat sosiologis (pujian eksternal), bahkan ditunggangi alam gaib bernama judi online.

Ini bukan bermakna kita dilarang kritik penguasa, kritik itu bermanfaat bagi mereka dan berguna bagi kita. Bahkan Yang Maha Kuasa dalam ‘proyek’ penciptaan Adam bertanya pada Malaikat dan Iblis. Itulah demokrasi, terlebih lagi kita sesama manusia, sama-sama ciptaanNya, wajar saling bertanya dan kritik, ini formula peradaban yang harus ditradisikan.

Mengakhiri diskusi jarak jauh kita, saya ingin bertanya; “apakah Prabowo dan Jokowi pantas menjadi kepala negara meski takdir dan mayoritas mengatakan pantas?” silakan berinteraksi dengan saya secara tulisan. Saya tunggu tulisan Anda di media ini. Selamat meresapi tulisan ini dan mulailah menulis dengan jujur. AI membantu namun menyerahkan pada AI sepenuhnya apalagi plagiat, itu bermakna engkau telah menjadi kuda tunggangan AI. Paham sayang?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Keriuhan Media Sosial atas Kasus Keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Keriuhan Media Sosial atas Kasus Keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
2 Oct 2025 • 55x dibaca (7 hari)
Harmony with Nature: A Global and Islamic Perspective
Harmony with Nature: A Global and Islamic Perspective
29 Nov 2025 • 52x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 50x dibaca (7 hari)
Hancurnya Sebuah Kemewahan
Hancurnya Sebuah Kemewahan
28 Feb 2025 • 45x dibaca (7 hari)
Hari Ampunan
Hari Ampunan
1 Mar 2025 • 43x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025
#Sumatera Utara

Sengketa Terpelihara

Oleh Tabrani YunisJune 5, 2025
Puisi

Eleği Negeriku  Yang Gelap Gulita

Oleh Tabrani YunisJune 3, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    164 shares
    Share 66 Tweet 41
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    155 shares
    Share 62 Tweet 39
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    145 shares
    Share 58 Tweet 36
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    51 shares
    Share 20 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oleh Redaksi
October 7, 2025
Postingan Selanjutnya

Cerita dari Sebuah Cerita

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Facebook
Sign Up with Google
OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00