Hongkong: Rumah Kedua di Antara Kedisiplinan, Kerja Keras, dan Kenangan

Oleh Titi Sudarningsih
Bekerja dan berdomisili di Hongkong
Bagi sebagian orang, sebuah tempat mungkin hanya sekadar titik di atas peta. Namun bagi saya, Hongkong adalah sebuah tempat yang memiliki daya tarik luar biasa. Rasa cinta pada negara kepulauan ini membuat saya tidak ragu untuk menginjakkan kaki di sini untuk kedua kalinya.
Dulu, saya pernah menghabiskan waktu selama empat tahun hidup dan bekerja di Hongkong sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia. Lalu, rasa rindu dan kesempatan membawa saya kembali ke Hongkong, dan tak terasa sudah satu setengah tahun saya menjalani kehidupan periode kedua saya di sini.
Hongkong memang negara yang kecil secara wilayah, tetapi keteraturan dan kebersihannya patut diacungi jempol. Salah satu hal yang paling menonjol dari kehidupan di sini adalah ketatnya aturan. Hampir di setiap sudut kota dipasangi kamera CCTV untuk menjaga ketertiban.
Peraturannya tidak main-main: membuang sampah sembarangan, merokok di sembarang tempat, hingga meludah di jalanan bisa membuat seseorang terkena denda yang lumayan besar. Tidak heran jika lingkungan di sini selalu tampak bersih dan terjaga.
Budaya mengantre pun sangat dijunjung tinggi. Tidak ada orang yang saling menyerobot; semua orang dengan sabar menunggu giliran one by one.
Kedisiplinan warga lokal juga sangat mengagumkan. Bagi masyarakat Hongkong, waktu adalah uang (time is money). Ritme kehidupan di sini sangat cepat dan seolah tidak ada tempat untuk orang yang bermalas-malasan.
Namun di balik kesibukan yang padat tersebut, keramahan dan kesopanan warganya tetap terasa. Sapaan hangat seperti selamat pagi, selamat siang, selamat malam, hingga ucapan selamat tidur sudah menjadi kebiasaan sehari-hari yang selalu terdengar.
Ada satu ungkapan populer dalam bahasa Kantonis yang sangat menggambarkan etos kerja di sini: “Mou jin, mo young a”—yang artinya jika kita tidak punya uang, kita seolah tidak ada gunanya. Pepatah inilah yang memacu masyarakat Hongkong untuk terus bekerja keras.
Budaya kerja keras ini bahkan memengaruhi pola makan harian mereka. Warga Hongkong biasanya hanya makan nasi satu kali sehari, yaitu saat makan malam bersama keluarga. Pada pagi hari, mereka lebih memilih menu yang praktis seperti roti dan kopi, siang hari menyantap mi, dan barulah di malam hari mereka makan nasi.
negara Hongkong sangat-sangat indah ,dikelilingi laut. Transportasi di sini pun sangat mudah. Ada MRT, bis, namun di Hongkong, orang kebanyakan jalan kaki daripada naik mobil, atau sepeda motor. Bahkan kebanyakan orang Hongkong naik MRT, kereta bawah tanah tidak seperti Indonesia banyak motor dan mobil.
Nah, meskipun jauh dari tanah air, rasa rindu terhadap kampung halaman kerap terobati melalui kuliner. Kuliner di Hongkong sangat beragam dan lezat. Menariknya, tidak sulit menemukan masakan khas Indonesia di sini. Mulai dari Nasi Padang hingga bakso khas Nusantara cukup mudah dijumpai, meskipun harganya jauh lebih mahal dibandingkan di Indonesia.
Kehidupan di Hongkong juga memberikan pengalaman iklim yang unik bagi saya yang terbiasa dengan cuaca tropis. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah saat musim dingin tiba, yang biasanya mulai menyapa pada bulan November. Udara sejuk dan dingin memberikan suasana baru yang selalu menenangkan.
Kembali hidup di Hongkong untuk kedua kalinya memberikan banyak pelajaran berharga tentang arti kedisiplinan, kerja keras, dan menghargai waktu. Negara kecil ini bukan sekadar tempat mencari rezeki, melainkan rumah kedua yang selalu memiliki tempat istimewa di hati saya.












