Esai · Potret Online

Jangan Jadi Berlian, Jadilah Garam yang Dibutuhkan 

Penulis Saiful Bahri
Juni 23, 2026
3 menit baca 59
IMG_1758
Foto / IlustrasiJangan Jadi Berlian, Jadilah Garam yang Dibutuhkan 
Disunting Oleh

_Oleh: Saiful Bahri

Penulis Buku “Terapi Bermental Sukses”

Saudaraku… tidak perlu seperti berlian untuk disukai banyak orang. Tapi jadilah seperti garam yang dibutuhkan banyak orang 

Walau pun berlian itu indah, tapi hanya dipuja dari kejauhan. Disimpan di lemari kaca, disentuh pun takut pudar. Indah memang, tapi jauh. 

Sedangkan garam, meski sederhana, tapi selalu hadir di setiap hidangan. Aku ada di setiap masakan, ia memberi rasa dan makna. Seperti kehadiran kita di tengah-tengah masyarakat, kehadiran yang tulus dalam kehidupan orang lain. “Tanpa kamu, tidak ramai” begitulah istilah anak muda sekarang

BERLIAN VS GARAM: PELAJARAN HIDUP

Berlian berkilau, semua mata memandang. Tapi coba tanya: “Berlian bisa buat sayur jadi sedap tidak?” Tidak bisa kan?  

Garam tidak bersinar, ia terlihat keruh, bahkan suka disembunyikan di dapur. Tapi coba masak tanpa garam. Semua jadi hambar. Apakah itu masakan soto, sambal, sop dan lain-lain. Apa pun masakannya… tetap butuh “garam” sebagai penguat rasa

Begitulah manusia. Ada yang mau “bersinar biar dipuji”. Ada yang mau “larut biar berguna”.

3 SIFAT GARAM YANG HARUS KITA TELADANI:

1. GARAM IKHLAS LARUT UNTUK ORANG LAIN

Garam tidak pernah protes pas dimasukan ke kuah panas. Dia rela hilang wujud aslinya, demi rasa masakan jadi sempurna dan lezat.  

Begitu juga kita. Jangan hanya bercahaya untuk dilihat. Tapi jadilah penerang mereka yang tersesat. Ikhlas “larut” bantu tetangga, ikhlas “larut” mendengarkan curhat orang lain, lalu memberikan solusi untuknya. Bisakah? Boleh jadi nama kita tidak sering disebut-sebut orang, tapi rasa syukur mereka menyebut nama kita kepada Allah 

2. GARAM KEKUATAN YANG TAK TERLIHAT

Seperti garam yang tersembunyi dalam rasa, jadilah kekuatan yang tak terlihat, namun selalu dirasakan.  

Berlian dipajang biar orang bilang “wah, keren”. Garam disembunyikan, tapi orang tetap bilang “nikmat banget masakannya”.  

Jadilah orang yang kalau tidak ada, semua orang  merasa  “kok hidup jadi hambar ya?” Seperti ada sesuatu yang kurang tanpa kehadiranmu.

3. KEIKHLASAN = BUMBU KEHIDUPAN SEJATI

Garam tak bersinar, namun tanpa dia semuanya terasa hambar. Seperti halnya garam, adalah keikhlasanmu sebagai bumbu kehidupan yang sejati.  

Tak perlu mewah untuk menjadi yang berharga. Cukup menjadi berguna. Tak perlu menjadi sempurna, tapi cukup menjadi bermakna di kehidupan orang lain 

PENUTUP BUAT “GARAM-GARAM” SE-INDONESIA:

Jadi Saudaraku… stop capek jadi berlian. Menguras tenaga, menguras dompet, ujung-ujungnya cuma hanya jadi pajangan belaka. 

Mending kita jadi garam. Sederhana, murah, tapi semua orang butuh.  

Apakah ia seorang pejabat? Butuh garam buat stabilkan tensi.  

Apakah seorang artis, orang kaya raya, atau orang biasa? Mereka semua pasti butuh garam buat masak.  

Pak ustadz juga butuh garam buat ceramah “garam dunia dan akhirat”, garam penyejuk hati umat 

Ingat pesan Nabi besar Muhammad SAW: “Kalian adalah garam dunia”. Artinya kita harus memberi rasa, bukan cuma jadi pajangan 

*”Tak perlu cari panggung biar dipuja. Tapi carilah peran yang berguna bagi orang banyak”*  

*”Tak perlu sempurna, cukup bermakna”*

Wallahu a’lam bish-shawabi.  

TTD: Saiful Bahri – Penulis Buku “Terapi Bermental Sukses”

Dear p Tab

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...