Esai · Potret Online

Tertawa Di Ujung Senjata: Ketika Rakyat Merayakan Pretensi Kekuasaan

Penulis  Yani Andoko
Juli 28, 2026
10 menit baca 9
IMG_2343
Foto / IlustrasiTertawa Di Ujung Senjata: Ketika Rakyat Merayakan Pretensi Kekuasaan
Disunting Oleh

Oleh Yani Andoko 

Ketika Tawa Lebih Tajam Dari Pedang

Pernahkah kamu melihat seorang petani tertawa getir saat pupuk tak kunjung turun, sementara pejabat kampanye di atas panggung megah? Atau mungkin kamu sendiri ikut menyimak unggahan-unggahan satire di media sosial yang membuatmu tersenyum miris lalu tiba-tiba sadar bahwa yang ditertawakan sebenarnya adalah realitas pahit yang kau alami setiap hari? Itulah yang disebut “senjata orang lemah” tawa yang menjadi perisai sekaligus pedang.

Kisah ini bukan baru. Dalam dua buku teranyar Sindhunata, Ilmu Ngglethek dan Opo Jare Tekek, kita diajak menyelami bagaimana rakyat kecil menggunakan humor sebagai cara bertahan dan melawan. Bukan dengan amarah yang membabi buta karena amarah mudah padam dan berisiko tinggi melainkan dengan tawa yang menusuk balik. Tawa yang justru lebih ditakuti oleh kekuasaan karena ia sulit diberangus, mudah menyebar, dan tak pernah bisa sepenuhnya dikendalikan.

Sindhunata menulis bahwa ludruk bukan sekadar teater romantis, tetapi “teater yang mengolah emosi, pergulatan, penderitaan, dan perlawanan wong cilik, rakyat biasa, pada zaman dan situasinya.” Di tengah kekerasan struktural dan kesewenang-wenangan, rakyat masih bisa bertahan dengan tertawa. 

Bukan karena mereka bodoh atau tak merasakan sakit, tetapi karena tawa adalah bentuk paling cerdas untuk mengatakan: “Kau bisa menindasku, tapi kau tak bisa menghancurkanku.”

Merayakan Pretensi, Menjaga Martabat

1. Tawa Sebagai “Ilmu” Menghadapi Kekuasaan

Apa itu “ngglethek”? Sindhunata menjelaskan bahwa ngglethek adalah kondisi di mana “apa yang kita bayangkan ternyata lain dengan kenyataan yang terjadi.” Hidup seringkali absurd kita bekerja keras, tapi hasilnya tak sebanding; kita berharap keadilan, tapi yang datang justru kesewenangan; kita berjuang untuk masa depan, tapi masa depan malah terasa semakin suram. Di sinilah ilmu tertawa menjadi penting.

Ilmu Ngglethek mengajarkan bahwa kesombongan kekuasaan hanyalah ilusi yang pada akhirnya akan “ngglethek” tak berarti, bahkan menggelikan. Ini bukan ajaran pesimis, melainkan filosofi pembebasan: ketika kau menyadari bahwa segala pretensi penguasa pada akhirnya hanya omong kosong, kau tak perlu lagi takut.

Buku Opo Jare Tekek menambahkan dimensi lain: ludruk dan seni rakyat lainnya adalah ruang di mana kritik sosial disampaikan dengan selimut humor. Di masa Orde Baru yang represif, kritik terbuka berisiko tinggi. Tetapi sindiran halus dalam pertunjukan ludruk atau wayang bisa menembus tembok kekuasaan tanpa memicu represi langsung. Para pelawak dan seniman rakyat menjadi “juru bicara diam” bagi mereka yang tak bersuara.

James C. Scott dalam bukunya yang monumental, Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (1985), menyebut fenomena ini sebagai “perlawanan sehari-hari” teknik-teknik penghindaran dan perlawanan yang dilakukan oleh kaum tertindas secara ideologis dan material. Perlawanan tidak selalu tentang demonstrasi besar atau senjata api; seringkali ia muncul dalam gosip, sindiran, gosip, dan tawa yang pecah di warung kopi. 

Scott menulis bahwa teknik-teknik ini, dalam jangka panjang, mungkin merupakan bentuk perjuangan kelas yang paling signifikan dan efektif justru karena ia tak pernah benar-benar terlihat.

Lebih dalam lagi, filsuf Perancis Henri Bergson dalam bukunya Laughter: An Essay on the Meaning of the Comic (1900) menjelaskan bahwa tawa adalah “sanksi sosial” yang merendahkan sesuatu yang dianggap kaku, berlebihan, dan tidak manusiawi. Ketika rakyat tertawa pada penguasa yang semena-mena, ia sedang menghukum kesombongan itu dengan cara yang paling halus namun efektif.

2. Tragedi Yang Ditertawakan: Antara Ludruk Dan Media Sosial

Fenomena ini tak lekang oleh zaman. Hari ini, kita menyaksikan bentuk serupa di media sosial dengan kemasan yang berbeda. Ambil contoh fenomena “Nenengisme” yang viral di Facebook dan TikTok. Akun Neneng Rosdiyana muncul dengan gaya humor absurd yang menyoroti kehidupan petani perempuan dengan caption-caption satire yang tajam.

Salah satu unggahannya yang sempat viral berbunyi: “Petani nanam, lintah darat senyum. Petani panen, tengkulak tepuk tangan. Pas petani ngeluh? Pemerintah bilang ‘sabar ini ujian hidup’.”

Di unggahan lain, Neneng menulis tentang sulitnya pupuk: “Bersyukur jerite petani didengar, tapi yang didengar sama siapa? Ternyata sama kentang di belakang rumah!” Humor absurd ini sebenarnya membungkus realitas pahit: Indonesia dikenal sebagai negara agraris, tetapi petani justru menjadi kelompok yang paling terpinggirkan. 

Data BPS menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan petani masih di bawah garis kemiskinan, sementara subsidi pupuk kerap tak tepat sasaran. Nenengisme hadir sebagai parodi yang menggambarkan petani sebagai tokoh utama dalam narasi konyol sekaligus pedih.

Yang menarik dari Nenengisme adalah ia menggunakan media kekinian untuk menyuarakan keresahan klasik. Ini menunjukkan bahwa pola perlawanan kultural tetap hidup dan beradaptasi dengan perubahan teknologi. Hal serupa terjadi di berbagai platform: konten-konten satire tentang harga cabai, BBM, atau kebijakan pemerintah yang absurd kerap mendapat sambutan luas bukan karena orang suka mengeluh, tetapi karena humor menjadi katarsis kolektif di tengah tekanan ekonomi dan politik.

Hal serupa terjadi dalam tradisi bobodoran Sunda, di mana tokoh Cepot berhadapan dengan sosok Buta dalam adegan absurd yang viral kembali di TikTok dan Lemon8. Generasi muda kini menikmati pertunjukan tradisional ini bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa budaya lokal sarat dengan kritik sosial yang tak lekang dimakan waktu. 

Dalam salah satu adegan populer, Cepot berkata kepada Buta: “Eta mah jang, panggungna teu kudu alus, anu penting eusina bener” (Itu mah, panggungnya tak harus bagus, yang penting isinya benar). Pesan sederhana ini menembus zaman: kemasan tak penting, substansi yang utama.

Di ranah keagamaan pun humor menjadi medium perlawanan. Gerakan “NU Garis Lucu” dan “Islam Santuy” di dunia maya menggunakan lelucon untuk melakukan resistensi dan kontestasi melawan gerakan Islamisme ekstrem. Pendekatan humor terbukti efektif menjangkau generasi milenial dan melawan narasi ekstremis yang kaku dan menakutkan. Ini menunjukkan bahwa tawa mampu menembus ruang-ruang sakral sekalipun dan justru di situlah kekuatannya.

Tradisi ini bahkan melampaui kepulauan Nusantara. Dalam sejarah perlawanan rakyat Eropa, kita mengenal “carnival” pesta rakyat di mana hirarki dibalik, raja jadi badut, dan badut jadi raja. Teori Mikhail Bakhtin tentang carnivalesque menjelaskan bahwa dalam karnaval, semua yang sakral dan hierarkis diparodikan, didudukkan, dan ditertawakan. 

Tawa karnaval adalah tawa “semua orang” ia bersifat universal, menular, dan membebaskan. Dalam karnaval, rakyat untuk sementara waktu terbebas dari ketakutan dan penghormatan yang dipaksakan oleh kekuasaan.

Analoginya di Indonesia: panggung ludruk, pertunjukan ketoprak, hingga kolom komentar media sosial adalah karnaval modern tempat di mana rakyat bisa merayakan pretensi penguasa dan untuk sesaat menjadi “raja” atas narasi mereka sendiri.

3. Mengapa Tawa Adalah Kekuasaan Alternatif

Ada tiga alasan mengapa tawa menjadi “kekuasaan alternatif” yang efektif:

Pertama, tawa meratakan hierarki. Kekuasaan otoriter membangun jarak penguasa di atas, rakyat di bawah. Ia membangun kesakralan, kemegahan, dan ketakutan. Tawa, terutama yang menyindir, menyejajarkan semua pretensi. 

Ketika rakyat tertawa melihat tingkah absurd pejabat, ia sedang mengatakan: “Kau dan aku sama saja. Bahkan, kau lebih konyol.” Ini adalah desakralisasi kekuasaan proses panjang di mana penguasa kehilangan auranya, dan rakyat sadar bahwa mereka tak perlu takut pada manusia biasa yang memakai jabatan.

Kedua, tawa tak memerlukan izin. Demonstrasi butuh surat pemberitahuan, koran butuh izin terbit, media butuh sensor tetapi tawa di warung kopi atau di kolom komentar media sosial tak bisa dibredel. Seperti yang terjadi pada Warkop DKI legenda komedi yang masuk “map kuning” (daftar pengawasan) Orde Baru karena sindiran politik mereka yang tajam. Meski masuk daftar hitam dan disensor, rekaman-rekaman mereka tetap beredar dan ditonton hingga hari ini. 

Kekuasaan takut pada tawa karena ia menyebar tanpa kendali; ia tak membutuhkan saluran resmi, hanya butuh mulut-mulut yang berbisik dan tawa-tawa yang meledak.

Ketiga, tawa menjaga harapan. Kekerasan struktural ingin membuat rakyat putus asa karena orang yang putus asa tak akan melawan. Ia akan menyerah, diam, dan menerima nasib. Orang yang masih bisa tertawa di tengah penindasan, pada dasarnya, masih percaya pada masa depan. Ia belum menyerah. 

Dalam analisis tindak tutur humor, para peneliti menemukan bahwa humor yang membangun seringkali melanggar norma-norma kesakralan dan justru di situlah ia menjadi segar dan membebaskan. Tawa adalah oksigen bagi jiwa yang tertekan.

4. Belajar Dari Neneng, Cepot, Dan Mereka Yang Tak Pernah Berhenti Tertawa

Dalam fenomena Nenengisme, karakter “Neneng” bukanlah sosok perempuan lemah. Ia justru tampil sebagai figur yang unpredictable, mampu membalas keadaan dengan caranya sendiri. Dalam salah satu unggahannya, ia menulis: “Ladang ini bukan sekadar tempat menanam, tapi juga tempat kami membuktikan: perempuan juga bisa, perempuan juga kuat!” Ini bukan sekadar kalimat motivasi; ini adalah deklarasi identitas dari kelompok yang selama ini diabaikan dan dilecehkan.

Inilah yang disebut Simone de Beauvoir dalam The Second Sex (1949) sebagai perlawanan terhadap konstruksi gender perempuan “dijadikan” perempuan oleh norma sosial, dan humor adalah cara membongkar konstruksi itu. Dengan menjadi lucu dan absurd, Neneng menunjukkan bahwa ia tak terikat pada standar “perempuan yang baik” ia bebas, dan justru kebebasan itulah yang membuatnya kuat.

Begitu pula Cepot dalam bobodoran 

Sunda: ia adalah punakawan cerdik yang menggunakan keluguan dan kelucuan untuk mengkritik kekuasaan tanpa harus berhadapan langsung dengan kekerasan. Dalam setiap adegannya, Cepot mengajarkan bahwa kekuasaan bisa dikalahkan dengan kelicikan dan kecerdasan bukan dengan kekuatan fisik. 

Pesan ini sangat relevan di era di mana kekerasan negara masih terjadi dalam berbagai bentuk: dari perampasan lahan, kriminalisasi aktivis, hingga pembungkaman suara kritis.

Dari sini kita belajar bahwa perlawanan kultural adalah perlawanan akal budi, bahasa, dan seni. Ia tidak selalu heroik dalam arti konvensional tidak ada bendera berkibar, tidak ada pidato membara, tidak ada darah di jalanan. Tetapi justru karena itulah ia bertahan meresap dalam keseharian, diwariskan turun-temurun, dan tak pernah bisa sepenuhnya diberangus.

Dalam perspektif antropologis, ini adalah yang disebut Clifford Geertz sebagai “perlawanan dalam kesunyian” perlawanan yang tak terdengar oleh kekuasaan karena ia terjadi di dapur, di sawah, di panggung-panggung kecil. Tapi perlahan-lahan, tawa-tawa itu merayap masuk, menggerogoti fondasi kekuasaan dari dalam.

5. Menimbang Lagi: Apakah Tawa Cukup?

Tentu ada kritik terhadap pendekatan ini: bukankah tawa membuat orang puas dengan sekadar mengeluh tanpa bertindak? Bukankah tawa bisa menjadi opium bagi rakyat yang menenangkan tanpa menyelesaikan masalah?

Ini adalah pertanyaan penting. Sejarawan dan budayawan Hilmar Farid pernah mengingatkan bahwa humor bisa menjadi “katarsis semu” yang meredam energi perlawanan yang lebih konkret. Ada risiko bahwa tawa membuat orang merasa telah “melawan” padahal sebenarnya hanya menguap di udara.

Namun, jawaban atas kritik ini terletak pada konteks. Ketika ruang publik tertutup, ketika demonstrasi dibubarkan paksa, ketika pers dibredel tawa adalah satu-satunya ruang yang tersisa. Di situasi seperti itu, tawa bukan pengganti aksi, melainkan pengawal kesadaran agar orang tetap sadar dan tidak lupa bahwa ada yang salah di negeri ini.

Tawa yang kritis adalah tawa yang tidak membuat kita puas, tetapi justru membuat kita terus bertanya: “Mengapa kita harus tertawa getir? Mengapa hidup ini begitu ngaco? Dan apa yang bisa kita lakukan?”

Tawa yang sehat tidak menghentikan perlawanan; ia memeliharanya. Ia menjaga agar perlawanan tak berubah menjadi kebencian yang membabi buta, dan menjaga agar para pejuang tetap waras di tengah kegilaan sistem.

Tawa Yang Tak Pernah Usai

Hidup ini memang “ngglethek” apa yang kita bayangkan seringkali berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Tetapi di situlah kekuatan tawa. Ia mengingatkan bahwa kesombongan kekuasaan pada akhirnya akan terlihat konyol di hadapan realitas.

Ketika rakyat tertawa, ia sedang merayakan pretensi segala kepura-puraan, kemegahan palsu, dan klaim keagungan penguasa. Tawa adalah pesta kebenaran yang terbongkar. Dan dalam pesta itu, rakyat meski dalam kondisi tertekan kembali menemukan martabatnya. Tawa adalah deklarasi bahwa mereka masih ada, masih sadar, dan masih bernyawa.

Seperti kata Peter Ustinov, “Comedy is simply a funny way of being serious.” Tertawa di ujung senjata adalah cara paling serius untuk mengatakan: “Kau bisa menindas tubuhku, tapi kau tak pernah bisa membunuh jiwaku.”

Seperti kata Sindhunata dalam Opo Jare Tekek, ludruk dan segala bentuk seni rakyat adalah “perlawanan yang merayakan” merayakan hidup di tengah kematian, merayakan harapan di tengah keputusasaan, merayakan tawa di tengah air mata.

Maka, selama masih ada rakyat yang tertawa di warung kopi, di panggung ludruk, di kolom komentar media sosial, di sawah-sawah yang kekeringan selama itu pula kekuasaan tak pernah sepenuhnya menang. Tawa rakyat adalah bukti bahwa kekuasaan sejati, pada akhirnya, ada di tangan mereka yang masih mampu memaknai hidup dengan ringan di tengah beban berat.

Mereka mungkin tak pernah menang dalam pertempuran besar, tetapi mereka tak pernah kalah dalam perang jiwa. Dan dalam jangka panjang, itulah satu-satunya perang yang berarti.

                  Batu, 3 Juni 2026

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...