Oleh Din Saja
pernah suatu malam
dalam sekamar
kita perbincang nasib bangsa,
kita sepakat perubahan
harus dengan perang
basmi kezaliman
dan kau memilih
dan aku memilih
dan siapa-siapa memilih
berperang
berperang perang
semua berperang
prang berperang prang
semua berperang
prang
melawan sendiri
diri sendiri
nasib sendiri
berperang prang
semua berperang
prang
melawan sendiri
prang
merdeka
malam purnama
kau dan aku
entah tertidur
Banda Aceh, 15 Nopember 2002
Puisi “Ode Buat Otto” ini terasa seperti puisi tentang persimpangan antara perubahan sosial dan perubahan diri.
Menariknya, kata perang yang pada awalnya menunjuk pada perjuangan kolektif perlahan bergeser menjadi perang batin.
Ada kontras antara ruang privat dan persoalan publik.
Kemudian muncul kesepakatan:
“perubahan
harus dengan perang
basmi kezaliman”
Di sini suara penyair berada dalam semangat zaman: perubahan dipahami melalui konfrontasi terhadap kezaliman.
Namun kemudian puisi mulai membalik pengertian “perang”.
“berperang
berperang perang
semua berperang”
Repetisi membuat kata perang kehilangan makna literalnya dan berubah menjadi bunyi, ritme, bahkan kegaduhan sejarah.
Makna mulai berubah menjadi bunyi. Seolah-olah ketika manusia terlalu lama berada dalam konflik, perang akhirnya bukan lagi gagasan, melainkan suara yang memenuhi kehidupan.
Perang yang semula diarahkan kepada “kezaliman” di luar diri akhirnya masuk ke dalam.
Musuh terbesar ternyata bukan hanya rezim, kekuasaan, atau keadaan, tetapi diri sendiri dan nasib yang diterima begitu saja.
Karena itu kata:
“merdeka”
yang muncul setelah “melawan sendiri” menjadi sangat kuat.
Kemerdekaan di sini tidak lagi semata-mata kemerdekaan bangsa. Ia dapat dibaca sebagai kemerdekaan batin—kemampuan manusia membebaskan dirinya dari ketakutan, kepasrahan, kebiasaan, ego, bahkan dari dirinya sendiri.
Setelah bicara tentang bangsa, perubahan, perang, perjuangan, dan kemerdekaan, akhirnya hanya ada dua manusia di sebuah malam purnama—dan mungkin keduanya tertidur.
“Entah tertidur” menyisakan ambiguitas: apakah mereka benar-benar tidur, atau perjuangan itu sendiri sedang memasuki tidur?
Apakah perang telah selesai, atau hanya berhenti sejenak?
Saya membaca puisi ini sebagai puisi transisi: dari politik menuju metafisika, dari perang terhadap dunia menuju perang terhadap diri, dan dari cita-cita kemerdekaan bangsa menuju pertanyaan yang lebih sulit: siapa yang sebenarnya harus dibebaskan?
Menarik pula bahwa tanggalnya 15 November 2002 memberi puisi ini jarak historis: ia lahir ketika pengalaman konflik Aceh masih sangat dekat.
Karena itu “perang” di dalam puisi terasa bukan sebagai metafora yang sepenuhnya abstrak, tetapi sebagai pengalaman zaman yang kemudian direnungkan kembali secara eksistensial.
Diskusi