Esai

Ode Buat Otto

19 Agustus 2026
Oleh: Redaksi

Oleh Din Saja

pernah suatu malam
dalam sekamar
kita perbincang nasib bangsa,

kita sepakat perubahan
harus dengan perang
basmi kezaliman

dan kau memilih
dan aku memilih
dan siapa-siapa memilih

berperang
berperang perang
semua berperang

prang berperang prang
semua berperang
prang

melawan sendiri
diri sendiri
nasib sendiri

berperang prang
semua berperang
prang

melawan sendiri
prang
merdeka

malam purnama
kau dan aku
entah tertidur

Banda Aceh, 15 Nopember 2002

Puisi “Ode Buat Otto” ini terasa seperti puisi tentang persimpangan antara perubahan sosial dan perubahan diri.

Menariknya, kata perang yang pada awalnya menunjuk pada perjuangan kolektif perlahan bergeser menjadi perang batin.

  1. Pembukaan: ruang kecil, persoalan besar
    “pernah suatu malam
    dalam sekamar
    kita perbincang nasib bangsa”
    “Sekamar” memberi kesan sangat intim dan sederhana. Di ruang yang kecil, yang dibicarakan justru nasib bangsa.

Ada kontras antara ruang privat dan persoalan publik.
Kemudian muncul kesepakatan:
“perubahan
harus dengan perang
basmi kezaliman”

Di sini suara penyair berada dalam semangat zaman: perubahan dipahami melalui konfrontasi terhadap kezaliman.

  1. “Kau dan aku” menjadi “siapa-siapa”
    Bagian:
    “dan kau memilih
    dan aku memilih
    dan siapa-siapa memilih”
    sangat penting.
    Ada proses dari individu menuju kolektivitas. “Kau” dan “aku” bukan lagi sekadar dua orang, tetapi menjadi representasi manusia-manusia yang dihadapkan pada pilihan sejarah.

Namun kemudian puisi mulai membalik pengertian “perang”.
“berperang
berperang perang
semua berperang”

Repetisi membuat kata perang kehilangan makna literalnya dan berubah menjadi bunyi, ritme, bahkan kegaduhan sejarah.

  1. “Prang” sebagai bunyi perang
    Eksperimen:
    “prang berperang prang”
    menarik sekali.
    Prang dapat dibaca sebagai onomatope—bunyi benturan, pecah, atau dentangan.
    Tetapi sekaligus ia merupakan permainan kata dari perang.
    Sehingga puisi bergerak:
    perang → prang → perang → prang

Makna mulai berubah menjadi bunyi. Seolah-olah ketika manusia terlalu lama berada dalam konflik, perang akhirnya bukan lagi gagasan, melainkan suara yang memenuhi kehidupan.

  1. Titik balik terpenting: “melawan sendiri”
    Kemudian tiba-tiba:
    “melawan sendiri
    diri sendiri
    nasib sendiri”
    Inilah pusat filosofis puisi.

Perang yang semula diarahkan kepada “kezaliman” di luar diri akhirnya masuk ke dalam.

Musuh terbesar ternyata bukan hanya rezim, kekuasaan, atau keadaan, tetapi diri sendiri dan nasib yang diterima begitu saja.

Karena itu kata:
“merdeka”
yang muncul setelah “melawan sendiri” menjadi sangat kuat.

Kemerdekaan di sini tidak lagi semata-mata kemerdekaan bangsa. Ia dapat dibaca sebagai kemerdekaan batin—kemampuan manusia membebaskan dirinya dari ketakutan, kepasrahan, kebiasaan, ego, bahkan dari dirinya sendiri.

  1. Ending yang sangat manusiawi
    Lalu seluruh gegap-gempita itu tiba-tiba berhenti:
    “malam purnama
    kau dan aku
    entah tertidur”
    Ini ending yang bagus justru karena tidak heroik.

Setelah bicara tentang bangsa, perubahan, perang, perjuangan, dan kemerdekaan, akhirnya hanya ada dua manusia di sebuah malam purnama—dan mungkin keduanya tertidur.

“Entah tertidur” menyisakan ambiguitas: apakah mereka benar-benar tidur, atau perjuangan itu sendiri sedang memasuki tidur?
Apakah perang telah selesai, atau hanya berhenti sejenak?

Saya membaca puisi ini sebagai puisi transisi: dari politik menuju metafisika, dari perang terhadap dunia menuju perang terhadap diri, dan dari cita-cita kemerdekaan bangsa menuju pertanyaan yang lebih sulit: siapa yang sebenarnya harus dibebaskan?

Menarik pula bahwa tanggalnya 15 November 2002 memberi puisi ini jarak historis: ia lahir ketika pengalaman konflik Aceh masih sangat dekat.
Karena itu “perang” di dalam puisi terasa bukan sebagai metafora yang sepenuhnya abstrak, tetapi sebagai pengalaman zaman yang kemudian direnungkan kembali secara eksistensial.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Tentang Penulis
Media Perempuan Kritis dan Cerdas

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir