Esai · Potret Online

Pintu Satu Tertutup, Pintu Lain Terbuka

Penulis Drs. Saiful Bahri, CHRM
Agustus 19, 2026
7 menit baca 4
752287a8-2121-4d8f-b755-ee36bd0919c1
Foto / IlustrasiPintu Satu Tertutup, Pintu Lain Terbuka

Oleh: Drs. Saiful Bahri, CHRM

Alkisah, tahun 1985 saya baru lulus sebagai mahasiswa di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Tepatnya di FKIP Jurusan Bahasa Inggris. Saya lulus tes sispenmaru pada tahun 1985.

Sejak kuliah semester 2 tahun 1986, ada program tes untuk menjadi pramuniaga umum atau _Guide_ yang dipimpin langsung oleh almarhum Bapak Prof. Dr. MBA sebagai Gubernur Aceh pada saat itu.

Di zaman itu, salah satu program yang digalakkan adalah meningkatkan sektor pariwisata. Bagaimana Aceh yang terkenal dengan daerah yang penuh sejarah sejak perang melawan Belanda dulu, oleh pemerintah setempat melatih tenaga terampil untuk mendukung pariwisata. Yaitu dengan mentraining anak muda Aceh untuk belajar tentang sejarah Aceh pada umumnya.

Dan saya, alhamdulillah salah satu dari 12 tenaga terampil yang ikut dalam program tersebut dan lulus dengan bersertifikat. Jadilah saya sebagai _Guide_ bersertifikat di Aceh.

Setelah lulus, kami yang berjumlah 12 orang itu masing-masing berkontribusi mendampingi para turis asing yang datang berkunjung ke Aceh. Saya dan teman-teman lainnya diberikan tugas mendampingi wisatawan asing yang pada umumnya berkunjung ke Kota Banda Aceh melihat tempat-tempat bersejarah. Terutama di Kota Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman jadi sasaran kunjungan mereka karena sejarahnya.

Pada tahun 1873 itu pernah dibakar oleh jajahan Belanda dan rakyat Aceh berjuang mati-matian untuk membela tempat ibadah mereka yang sangat sakral. Banyak tentara Belanda yang tewas dalam peperangan itu dan mereka dikuburkan di Kuburan Kerkof di Banda Aceh.

Ketika wisatawan asing terutama dari Belanda datang, pasti mereka minta ditemani ke dua tempat bersejarah itu. Dan kamilah sebagai tenaga _Guide_ Aceh yang menyambut dan menjelaskan sejarah aslinya kepada setiap wisatawan asing.

Kesempatan itu kami lakukan di sela-sela waktu kuliah kami sebagai mahasiswa yang sedang belajar di fakultas.

Menjelang lulus kuliah, tepatnya tahun 1990, ada peristiwa _International Congress on Islam and its Policies_ yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan besar ternama di Aceh Utara yaitu PT. Arun. Tentu mereka butuh _guide-guide_ profesional terlatih untuk menjadi penerjemah di sana selama kurang lebih 2 minggu lamanya. Dan saya pun berangkat ke sana untuk menjalankan tugas yang ditugaskan oleh pemerintah daerah.

Setelah lulus kuliah, bahkan sebelum selesai kuliah saya sudah menjadi asisten dosen di bawah bimbingan almarhum Dr. Bakhrum Yunus, MA.

Saya kadang ditugaskan untuk mengajar di FKIP USK, Universitas Jabal Ghafur Sigli, dan Universitas Abulyatama Banda Aceh.

Almarhum Dr. Bakhrum Yunus memang aktif sebagai dosen senior untuk mata kuliah _Translation_. Beliau juga sering diundang ke Jakarta pada Kongres Bahasa Indonesia di Jakarta. Setiap tahun beliau dapat undangan ke Jakarta.

Suatu ketika tahun 1993 beliau membawa saya ke Jakarta untuk ikut serta pada acara kongres di Jakarta saat itu. Tentu saya belum kompeten untuk ikut acara kongres itu. Saya hanya dibawa untuk sekadar jalan-jalan melihat kota besar yang memang saya belum pernah ke Jakarta sebelumnya.

Maka pergilah saya bersama beliau dan menginap di Hotel Indonesia, saya ingat pada saat itu.

Saat itu sebenarnya saya sedang libur dari sekolah SMA tempat saya mengajar di SMA Swasta Putra Pupuk Iskandar Muda sebagai guru honorer.

Melihat megahnya kota Jakarta, terbersit dalam hati saya: _“Saya akan kembali lagi ke sini suatu saat”_. Begitu kata hati saya membatin. Ini benaran kata hati saya.

Akhirnya pucuk dicinta ulam tiba. Benar-benar pergi lagi ke Jakarta tapi untuk mencari pekerjaan di sana. Saat itu saya ikut paman saya. Beliau membawa saya dan mengantar saya untuk tinggal di daerah Kalibata, kompleks DPR RI, di rumah salah satu rekannya yang berada di satu partai politik. Tentu saya tidak ikut program politik mereka. Saya hanya numpang tinggal di sana selama beberapa bulan.

Setiap hari saya baca koran mencari info lowongan kerja di koran-koran ibu kota. Ada yang lowongannya hanya tertulis: “Silahkan kirim lamaran Anda jika merasa memenuhi syarat dan kirim ke PO BOX”. Saya tidak peduli. Walau banyak yang saya kirim lamaran tapi tidak ada balasannya.

Tugas saya kirim dan kirim saja bila ada lowongan yang sesuai dengan background saya.

Pada saat itu saya sudah ada kerjaan sebagai tenaga pengajar di salah satu Universitas Swasta di daerah Jakarta Barat.

Beberapa bulan saya mengajar di sana, ada info lisan dari teman dosen yang mengajar di situ, namanya Yudi. Sekarang beliau sudah menjadi Dr. Bahwa ada perusahaan yang butuh tenaga pengajar di sana. Dikasih alamat dan nomor telepon perusahaan di daerah Kawasan Industri Pulogadung.

Beberapa hari kemudian saya coba telepon ke kantor tersebut dengan menggunakan telepon umum. Maklum, pada saat itu saya belum punya HP dan memang belum ada HP. Kebetulan langsung disambung ke nomor ruang Pak Direktur.

Saya sampaikan maksud tujuan saya telepon ke perusahaan beliau dan beliau pun menyambut dengan ramah dan mempersilahkan untuk datang ke perusahaan keesokan harinya.

Pas waktu tiba sesuai janji, saya langsung datang ke perusahaan dengan menumpang mikrolet dan ketemu dengan Pak Direktur. Terjadilah pembicaraan dua arah dengan beliau dan deal kapan mulai datang dengan honor sekian per datang.

Ya alhamdulillah saya sangat senang mendapat tawaran itu. Maklum lah, memang sangat sulit untuk memperoleh kesempatan kerja di Jakarta. Saya bersujud syukur kepada Allah SWT atas rahmat-Nya.

Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Saya yakin itu. Tugas kita sebagai manusia berusaha dan berdoa, sisanya itu urusan Allah.

Setelah saya kerja di perusahaan itu selama 7 tahun lamanya, saya coba buka-buka dan cari lowongan kerja baru. Dan kebetulan saya melihat di http://career.com ada lowongan dibutuhkan satu orang tenaga kerja baru untuk posisi GA – _General Affair_ Dept, satu departemen dengan Human Resource juga.

Saya melamar untuk posisi itu. Alhamdulillah lulus dari tahap pertama sampai tahap terakhir. Dan alhamdulillah saya lah satu-satunya yang lulus untuk posisi itu setelah perusahaan menyaring beberapa kandidat. Ada puluhan kandidat yang melamar.

Pada saat saya sedang kerja di situ, saya juga aktif ikut beberapa program yang diselenggarakan oleh perusahaan termasuk program ISO. Ada seorang trainer dari program ISO butuh dua orang untuk dikirim ke Bali tahun 2006. Dipilih satu dari produksi dan saya dari Office. Berangkatlah kami ke Bali ketika itu.

Di sana kami bertugas untuk membimbing para peserta kongres internasional tentang kerja berbasis ISO. Karena mereka menilai kami telah terlatih dan cocok untuk menjadi bukan speaker utama tentunya, tapi sebagai pengarah meeting/diskusi mereka yang seluruhnya adalah _expatriates_.

Apapun dari situ, eh perusahaan tutup. Maka kami karyawan yang berjumlah sekitar 920 karyawan terpaksa semuanya di-PHK. Tentu dengan imbalan pesangon sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan RI yang berlaku.

Banyak di antara karyawan korban PHK pada saat itu. Walau dapat uang pesangon tapi banyak yang stres juga memikirkan nasib mereka masing-masing. Mereka harus susah payah mencari pekerjaan lain yang tidak mudah untuk didapatkan. Yang tadinya Manager dengan fasilitas tinggi tiba-tiba harus kehilangan gaji tetap serta fasilitas lain seperti fasilitas mobil dinas dan sebagainya. Sementara para operator juga merasakan begitu sulit untuk mendapatkan pekerjaan baru mengingat usianya tidak muda lagi.

Saya juga tentu merasakan hal yang sama seperti mereka. Tapi saya tidak tinggal diam. “Pintu satu tertutup”, masih ada pintu lain yang lain masih terbuka. Kenapa harus menunggu di satu pintu? Mungkin itu salah satu cara Allah mengubah nasib seseorang. Sejauh kita sebagai manusia mau merubah dan terus berusaha, insya Allah pasti Allah akan menggantikannya yang lain yang lebih baik.

Benar sekali dan alhamdulillah saya merasakan itu. Saya tidak tinggal diam. Saya mencoba melamar ke perusahaan lain. Di antara perusahaan yang saya lamar ada perusahaan yang bergerak di bidang otomotif yang membutuhkan seorang HR Manager. Saya melamar ke perusahaan itu. Sama seperti dulu juga, saya ikut beberapa kali tes dan lagi-lagi saya yang lulus. Tepatnya di daerah Karawang Timur Jawa Barat.

Setelah kerja di sana selama 5 tahun lebih, ada waktu info kerja baru masih di kawasan yang sama, bergerak di bidang otomotif juga.

Saya lagi-lagi ikut proses tes dari tahap awal sampai akhir dan saya yang lulus dengan fasilitas lebih baik dari perusahaan lama. Makanya saya melamar ke sana.

Maksud dan tujuan dari tulisan ini adalah: kita tidak boleh diam. Harus terus berjuang. Jangan mudah menyerah dengan apapun alasan. Perusahaan boleh tutup, kita tidak. Tetap membuka diri untuk mencari dan mencari yang lain.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Drs. Saiful Bahri, CHRM
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...