Esai · Potret Online

Ketika Saya Kembali ke Kebun Pala

Juli 17, 2026
5 menit baca 8
f5daba60-b6ae-4798-8a3a-d6dfa5eeb571
Foto / IlustrasiKetika Saya Kembali ke Kebun Pala

Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA.

Catok itu sudah tua.
Gagang kayunya mulai menghitam dimakan usia. Mata parangnya tidak lagi mengilap. Di beberapa bagian tampak bekas asahan yang tak terhitung jumlahnya. Ujungnya melengkung, sebagaimana bentuk parang khas petani pala di Aceh Selatan.

Ayah mengambilnya perlahan dari sudut rumah, lalu menyerahkannya kepada saya.
“Tolong bawa ini.”
Hanya itu yang beliau ucapkan.

Saya menerima catok itu dengan kedua tangan. Entah mengapa, saya merasa yang beliau serahkan bukan sekadar parang. Ada sejarah panjang yang ikut berpindah bersama besi tua itu. Ada peluh yang mengering di gagangnya. Ada harapan yang selama puluhan tahun tumbuh di setiap ayunan mata parangnya.

Pagi itu saya berpamitan untuk mendaki kebun pala.

Sudah hampir enam tahun saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke sana.
Sejak malam sebelumnya, ayah tampak gelisah. Wajahnya menyimpan dua perasaan yang sulit dipisahkan. Ada senyum tipis karena akhirnya salah seorang anaknya ingin kembali melihat kebun. Namun, ada pula kegelisahan yang tidak mampu beliau sembunyikan.

“Naik sama siapa besok?” tanyanya.
“Sendiri, Yah.”
Beliau diam.

Beberapa menit kemudian bertanya lagi.
“Sudah ada kawan di atas?”
Saya menjelaskan bahwa kerabat yang kebunnya berdampingan dengan kebun kami juga akan datang.

Beliau mengangguk, tetapi belum benar-benar tenang.

Tidak lama kemudian beliau bertanya lagi, “Bekal sudah siap? Air minum jangan lupa.”
Saya tahu, pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah bahasa cinta seorang ayah.
Sebenarnya beliau ingin ikut.
Saya bisa merasakannya.

Selama puluhan tahun, lereng-lereng itu adalah bagian dari hidupnya. Di sanalah beliau bekerja, berkeringat, dan membesarkan keluarganya. Namun kini usianya hampir delapan puluh tahun. Kakinya tak lagi sanggup menaklukkan tanjakan yang dulu terasa ringan. Hanya semangatnya yang masih tetap muda. Setiap kali berbicara tentang pala, saya seperti sedang berbicara dengan seorang petani berusia empat puluh tahun. Matanya berbinar. Ia masih hafal letak batu besar di tengah kebun. Ia masih ingat pohon mana yang paling dahulu berbuah.

Saya berangkat membawa catok itu.

Perjalanan menuju kebun memakan waktu hampir tiga puluh menit. Dulu perjalanan itu terasa singkat. Kini, setiap tanjakan menguras napas. Jalan setapak yang dahulu ramai dilalui petani hampir hilang ditelan semak. Di beberapa titik saya harus berhenti untuk membabat ranting yang menutup jalan.

Sesampainya di atas, saya terdiam.

Saya seperti sedang berdiri di tempat yang saya kenal, tetapi sekaligus terasa asing.
Semak belukar tumbuh setinggi dada. Pohon-pohon hutan menjulang, mengambil alih ruang yang dahulu dipenuhi pala. Batu-batu besar yang dulu menjadi tempat kami beristirahat kini nyaris tak terlihat.

Saya tidak segera mengayunkan parang.
Saya hanya memandang lama.
Di sinilah dahulu ayah mencari nafkah.
Di sinilah kami belajar bahwa rezeki tidak jatuh dari langit, tetapi tumbuh dari tanah yang dirawat dengan sabar.

Saya lahir di keluarga petani pala. Ayah saya tidak pernah mengenal gaji bulanan. Namun kami tidak pernah merasa miskin. Pala membiayai sekolah kami. Pala membantu membangun rumah-rumah di kampung. Pala menghidupkan warung-warung kecil. Pada musim panen, halaman rumah dipenuhi biji pala yang dijemur. Harumnya menjadi aroma masa kecil kami.

Bagi masyarakat Pasie Raja dan banyak wilayah lain di Aceh Selatan, pala bukan sekadar tanaman. Ia adalah penyangga kehidupan.

Namun waktu mengubah banyak hal.
Ketika harga berfluktuasi, pohon-pohon menua, penyakit datang silih berganti, dan biaya perawatan semakin berat, satu demi satu petani mulai meninggalkan kebunnya. Ada yang menjadi buruh, ada yang berdagang, ada yang merantau. Kebun yang dahulu ramai perlahan kembali menjadi hutan.

Saya mulai membabat semak.

Hari pertama hanya beberapa meter yang berhasil saya bersihkan. Hari kedua sedikit lebih luas. Hari ketiga, cahaya matahari mulai menyentuh tanah yang selama bertahun-tahun tertutup belukar.

Di tengah pekerjaan itu, saya menemukan sesuatu yang membuat langkah saya terhenti.

Pohon-pohon pala yang saya tanam sekitar sepuluh tahun lalu ternyata masih hidup.
Mereka tumbuh tanpa saya rawat.
Batangnya mulai membesar.
Daunnya hijau.

Mereka berdiri di antara semak dan pepohonan liar yang jauh lebih tinggi.
Saat itulah saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Harapan ternyata tidak selalu hilang hanya karena kita terlambat kembali.

Namun harapan itu segera bercampur dengan kesedihan. Pohon-pohon pala induk yang dahulu menjadi kebanggaan ayah mulai menguning. Sebagian batangnya lapuk. Sebagian lagi tinggal menunggu waktu untuk rebah. Di kebun sebelah, seorang kerabat masih setia membersihkan rumput di sekitar pohon-pohon yang tersisa. Hampir separuh kebunnya telah mati. Tetapi ia tetap datang, bukan semata-mata mengejar hasil panen, melainkan karena belum sanggup meninggalkan warisan orang tuanya.

Apa yang saya lihat di lereng itu ternyata bukan kisah satu keluarga.

Data menunjukkan Aceh Selatan masih menjadi sentra pala terbesar di Aceh. Namun ribuan hektare kebun mengalami kerusakan akibat jamur akar putih, penggerek batang, dan pohon-pohon yang telah menua. Banyak petani memilih meninggalkan kebunnya karena hasil tidak lagi sebanding dengan biaya perawatan. Padahal, berabad-abad lalu dunia mengenal Nusantara karena pala. Bangsa-bangsa Eropa mengarungi samudra demi rempah ini. Dari Banda, pala menempuh perjalanan sejarah hingga akhirnya tumbuh subur di Aceh Selatan. Ironisnya, ketika dahulu dunia rela berperang untuk memperebutkan pala, hari ini kita justru berjuang agar ia tidak hilang dari tanah kita sendiri.

Menjelang sore, saya bersiap turun gunung.
Catok milik ayah masih saya genggam.
Saya menoleh sekali lagi ke arah kebun.

Di antara batang-batang tua yang mulai menguning, pohon-pohon pala muda berdiri tegak menerima cahaya matahari yang baru saja kembali setelah semak dibersihkan.

Saat itu saya memahami sesuatu.
Ayah tidak sedang meminjamkan parang catoknya.
Beliau sedang menyerahkan estafet.
Estafet menjaga kebun.
Estafet menjaga pala.
Estafet menjaga warisan yang selama puluhan tahun menghidupi masyarakat Aceh Selatan.

Mungkin benar, pohon-pohon pala itu tidak sedang menunggu hujan.
Mereka sedang menunggu kita pulang.

Penulis Dosen STAI Tapaktuan, Anak Petani Pala Aceh Selatan.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham), Merupakan Dosen STAI Tapaktuan, dan Warga Gampong Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...