Artikel · Potret Online

Lebih dari Sekadar Siapa yang Harus Memasak

Penulis  Nurul Hikmah
Agustus 7, 2026
5 menit baca 5
IMG_2484
Foto / IlustrasiLebih dari Sekadar Siapa yang Harus Memasak

Oleh: Nurul Hikmah

Suatu sore, anak gadis saya yang sebentar lagi memasuki semester tiga kuliah datang dengan sebuah pertanyaan.

“Umi, kata teman kakak, suami itu harus memasak untuk keluarga ya? Katanya ada hadisnya.”

Saya tersenyum. Rupanya obrolan seperti ini memang sedang ramai di kalangan anak-anak muda. Video pendek di media sosial, potongan ceramah, hingga cuplikan podcast membuat isi rumah tangga semakin sering diperbincangkan. 

Sayangnya, banyak pembahasan yang berhenti pada kesimpulan-kesimpulan singkat, padahal persoalannya jauh lebih luas.

Saya menjawab santai, “Tidak ada hadis sahih yang secara khusus mewajibkan suami memasak. Namun para ulama fikih menjelaskan bahwa memberi nafkah adalah kewajiban suami. Nafkah itu tidak hanya berupa uang, tetapi seluruh kebutuhan pokok keluarga, termasuk makanan. 

Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa jika memang diperlukan, penyediaan makanan yang siap disantap pun termasuk bagian dari tanggungjawab nafkah.”

“Artinya, memasak bukanlah kewajiban mutlak istri. Ketika seorang istri memasak, ia sedang berbuat ihsan kepada keluarganya. Sebaliknya, ketika seorang suami membantu pekerjaan rumah, itu pun merupakan akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW. 

Rumah tangga bukan arena untuk menghitung siapa yang bekerja lebih banyak, tetapi tempat saling meringankan beban.” Imbuh saya lagi.

Setelah menjawab pertanyaan itu, saya berucap lagi, “Kak, menurut Umi ada pembahasan yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang memasak dan membereskan urusan rumah tangga.”

Allah menciptakan laki-laki bukan hanya untuk menjadi suami.Allah mengutus mereka sebagai khalifah di bumi. Sebagai suami, mereka wajib mencari nafkah, melindungi keluarga, mendidik istri dan anak-anak, menjadi teladan akhlak, sekaligus sumber ilmu di dalam rumah. 

Akan tetapi, tugas itu hanyalah lingkaran pertama dari amanah yang jauh lebih besar.

Seorang khalifah tidak berhenti di depan pintu rumahnya. Ia juga bertanggung jawab menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Paling kecil di lingkungan tempat tinggalnya, lebih luas lagi bagi umat jika Allah memberinya kemampuan.

Karena itulah kita mengenal begitu banyak ulama, ilmuwan, pemimpin, panglima, guru, dan tokoh-tokoh besar Islam yang menghabiskan hidupnya bukan hanya untuk keluarganya sendiri, tetapi juga untuk membangun peradaban.

Di sinilah saya merasa ada sesuatu yang perlahan bergeser. Hari ini, ukuran keberhasilan seorang laki-laki sering kali dipersempit. Seolah-olah tugas utamanya hanyalah menjadi pencari nafkah lalu ikut menyelesaikan seluruh pekerjaan domestik. Seolah semakin banyak waktunya habis di dalam rumah, semakin sempurnalah kepemimpinannya. 

Padahal kepemimpinan dalam Islam tidak pernah sesempit itu. Lihatlah Rasulullah SAW. Beliau memang membantu pekerjaan rumah. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah SAW membantu keluarganya ketika berada di rumah. Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya, dan membantu pekerjaan yang diperlukan.

Namun jika kita membaca keseluruhan sirah beliau, kita akan menemukan bahwa sebagian besar umur Rasulullah SAW dihabiskan membangun umat. Mendidik para sahabat, menerima tamu dari berbagai negeri, memimpin peperangan, menyelesaikan konflik, membangun sistem masyarakat, hingga melahirkan generasi yang kemudian menyebarkan Islam keberbagai penjuru dunia.

Beliau membantu pekerjaan rumah, tetapi hidup beliau tidak dihabiskan untuk urusan rumah. Beliau sedang membangun peradaban.

Lalu lihatlah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Beliau adalah perempuan yang sukses, cerdas, dan terpandang. Namun yang membuat namanya abadi bukan semata karena kekayaannya.

Ketika Rasulullah SAW pulang dalam keadaan menggigil setelah menerima wahyu pertama, Khadijah tidak meminta beliau berhenti berdakwah demi kenyamanan keluarga. Beliau justru menjadi orang pertama yang menguatkan hati suaminya.Ketika dakwah membutuhkan biaya, Khadijah menginfakkan hartanya. Ketika kaum Muslimin diboikot, Khadijah ikut merasakan lapar bersama Rasulullah SAW.

Beliau memahami bahwa amanah yang dipikul suaminya jauh lebih besar daripada sekadar mengurus rumah tangga. Maka ia memilih menjadi jembatan yang menopang perjuangan dakwah, bukan penghalang yang mempersempit langkah suaminya.

Mungkin di situlah letak kebesaran seorang istri. Bukan karena ia mengambil seluruh peran suaminya, tetapi karena ia membantu agar suaminya mampu menjalankan amanah besar yang Allah titipkan kepadanya.

Di zaman media sosial, cara pandang seperti ini mulai jarang terdengar. Algoritma lebih menyukai potongan video satu menit daripada penjelasan yang utuh. Akibatnya, pembahasan keluarga sering direduksi menjadi persoalan siapa yang memasak, siapa yang mencuci piring, siapa yang menyapu, atau siapa yang mengganti popok.

Ukuran suami yang baik perlahan berubah menjadi seberapa sering ia mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara ukuran istri yang baik perlahan bergeser menjadi seberapa sedikit ia membutuhkan suaminya. 

Padahal Islam tidak pernah membangun keluarga dengan logika kompetisi.

Sebagian kalangan menyebut pergeseran cara berpikir seperti ini sebagai bagian dari ghazwul fikri, yaitu ketika umat perlahan mengadopsi cara pandang yang lebih banyak dibentuk oleh arus pemikiran dan budaya populer daripada oleh nilai-nilai yang bersumber dari agama. 

Terlepas dari istilah yang digunakan, kita memang perlu berhati-hati agar standar dalam membangun keluarga tidak semata-mata mengikuti tren yang sedang viral.

Tanpa disadari, laki-laki mulai didorong agar menjadi seperti perempuan dalam segala hal, sementara perempuan juga didorong agar mengukur keberhasilannya dengan ukuran yang sama persis dengan laki-laki.

Padahal Islam tidak mengajarkan bahwa kemuliaan lahir dari keseragaman peran. Islam mengajarkan keadilan, bukan penyeragaman. Laki-laki dan perempuan sama-sama mulia di sisi Allah. Sama-sama memiliki peluang menjadi penghuni surga. Sama-sama dapat beramal sebesar-besarnya.

Namun Allah juga memberikan amanah, tanggung jawab, serta beberapa peran yang berbeda sesuai hikmah-Nya.

Perbedaan bukanlah bentuk diskriminasi. Perbedaan adalah pembagian amanah.

Karena itulah saya berkata kepada anak gadis saya, “Kalau suatu hari nanti Allah berikan kakak seorang jodoh, jangan cari laki-laki yang hanya pandai membantu urusan rumah tangga. Carilah laki-laki yang memiliki cita-cita menjadi pemimpin umat. Yang keluarganya terurus, tetapi masyarakat juga merasakan manfaat kehadirannya.”

Di sinilah pentingnya pendidikan aqil baligh.

Anak laki-laki perlu dibesarkan dengan kesadaran bahwa mereka sedang dipersiapkan menjadi pemimpin. Mereka harus mandiri, mampu mengurus dirinya sendiri, bertanggung jawab kepada keluarganya, dan siap memberi manfaat bagi masyarakat.

Sementara anak perempuan perlu dibesarkan dengan kesadaran bahwa mereka sedang dipersiapkan menjadi madrasah pertama. Dari rahim, doa, ilmu, dan keteguhan merekalah akan lahir generasi yang kelak memimpin umat.

Mungkin itulah yang perlu lebih sering kita bicarakan kepada anak-anak kita. Bukan sekadar siapa yang memasak. Tetapi siapa yang sedang dipersiapkan untuk menjaga sebuah keluarga, membangun masyarakat, dan menunaikan amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Guru SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...