Esai

Sastra Rendra Yang Tak Pernah Tumpul

08 Agustus 2026
Oleh: Yani Andoko


Oleh Yani Andoko 

Ketika Puisi Menjadi Tamparan

Di Yogyakarta, 4 Februari 1978, seorang penyair dengan rambut panjang khasnya menuliskan sesuatu yang akan bergema hingga hampir setengah abad kemudian. W.S. Rendra, yang kelak dijuluki “Si Burung Merak”, tidak sedang merangkai kata-kata indah untuk dinikmati di ruang-ruang sastra yang steril. Ia sedang merakit senjata-senjata sastra yang diarahkan tepat ke hidung para penguasa.

“Jangan kamu bilang negara ini kaya…”

Baris itu bukanlah pertanyaan. Itu adalah pernyataan. Dan pernyataan itu menjadi pukulan pertama dalam rangkaian kritik yang hingga kini masih terasa sengatnya.

Rendra menulis puisi ini di era ketika Orde Baru sedang gencar-gencarnya mempromosikan “Pembangunan Nasional” dengan angka pertumbuhan ekonomi yang menggiurkan. 

Namun di balik angka-angka itu, ada realitas yang jauh berbeda: selokan, kucing yang dimakan, dan mimpi yang diledek. Puisi ini menjadi potret pembangunan dalam puisi sebuah kesaksian bahwa kemakmuran yang dipamerkan tidak dinikmati oleh semua orang.

Antara Dasi, Terompah, Dan Selokan

Ketika Simbol Berbohong

Salah satu tembakan Rendra yang paling langsung adalah kritik terhadap simbol-simbol kekuasaan. Ia menulis:

“Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu. Dan perlu diusulkan agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.” 

Mengapa terompah dan blacu? Terompah adalah sendok kayu sederhana milik rakyat jelata. Blacu adalah kain mori kasar yang menjadi pakaian sehari-hari mereka. Rendra menggugat: simbol negara kita seharusnya merepresentasikan realitas rakyat kebanyakan, bukan kemewahan istana yang diwarisi dari penjajah.

Ini bukan sekadar soal pakaian. Ini soal pandangan dunia. Seorang pemimpin yang masih terjebak dalam protokol kolonial berdasi, berjas, bepergian dengan mobil mewah telah menciptakan jarak simbolik dengan rakyatnya. Ia mungkin secara fisik berada di istana yang sama, tapi secara kultural dan emosional ia berada di dimensi yang sama sekali berbeda.

Rendra dengan tajam menyindir bahwa 33 tahun setelah merdeka, penguasa Indonesia masih terjebak dalam simbol-simbol penjajah: jas, dasi, protokol Eropa, gedung bergaya kolonial. Ada sindiran pahit di sini: “Kau merdeka dari Belanda, tapi kau masih berpakaian dan bertingkah seperti mereka.”

Keterpisahan Elite: Akar Kemunafikan

Rendra memahami bahwa keterpisahan elite dari rakyat bukanlah kecelakaan. Itu adalah sistem. Sebuah penelitian menggunakan pendekatan strukturalisme genetik Lucien Goldmann menemukan bahwa puisi ini mengandung tiga kategori kritik sosial yang saling terkait: kritik moral atas ketidakpedulian, kritik terhadap ketidakadilan sosial sistemik, dan kritik terhadap kemunafikan identitas keagamaan dan kebangsaan. 

Bayangkan: pada 1978, Rendra sudah menyindir dengan baris:

“Jangan kamu bilang dirimu kaya bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.” 

Ini adalah pembongkaran ukuran kemakmuran. Di saat pemerintah bangga dengan angka pertumbuhan ekonomi, Rendra mengingatkan: semua angka itu bohong jika di sebelah istana masih ada yang kelaparan.

Dasi dan jas, dalam puisi ini, bukan sekadar pakaian. Mereka adalah tembok yang memisahkan istana dari gubuk. Rendra menuntut secara halus: “Jika presiden benar-benar pemimpin rakyat, kenapa ia harus tampil seperti bangsawan Eropa, bukan seperti rakyatnya yang pakai blacu dan trompah?”

Peringatan Yang Nyaris Nubuat

Bagian paling mencekam dari puisi ini adalah peringatan Rendra:

“Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau tertuju ke dada kita, atau ke dada mereka sendiri.” 

Rendra tidak sedang menggambarkan orang miskin sebagai korban pasif yang membutuhkan belas kasihan. Ia memberi mereka daya ancam. Jika kemiskinan terus diabaikan, ada dua kemungkinan: ledakan (pisau ke dada elite) atau bunuh diri massal (pisau ke dada sendiri). Ini bukan hiperbola puitis. Ini adalah analisis sosial yang tajam.

Rendra juga mengingatkan:

“Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol. Mereka akan menjadi pertanyaan yang mencegat ideologimu.” 

Ini adalah peringatan bahwa kemiskinan tidak bisa dihilangkan dengan sekadar retorika pembangunan atau diabaikan dengan dalih ideologi. Orang miskin akan terus menjadi gugatan bagi setiap rezim yang mengklaim diri berhasil.

Agama Yang Digugat

Puncak kritik Rendra adalah ketika ia menyentuh ranah yang paling “sakral”:

“Gigi mereka yang kuning akan meringis di muka agamamu.” 

Dan di akhir, ia menutup dengan pengingat universal:

“orang-orang miskin juga berasal dari kemah Ibrahim.” 

Ini adalah gugatan teologis: agama kehilangan esensinya jika tidak berpihak pada yang lemah. Rendra mengingatkan bahwa dalam silsilah iman, orang miskin adalah saudara, bukan “orang lain” yang bisa diabaikan.

Rendra menulis di bait sebelumnya: “Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa. Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya. Tak bisa kamu abaikan.”  Ada dua lapis makna di sini: pertama, orang miskin dianggap “berdosa” oleh masyarakat yang munafik; kedua, mereka diposisikan sebagai “bayi gelap” yang membutuhkan perhatian, bukan penghakiman.

Realitas Hari Ini: 23,36 Juta Orang Masih Di Selokan

Mari kita lihat angka. Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa pada September 2025, jumlah penduduk miskin di Indonesia masih mencapai 23,36 juta orang. Angka ini turun 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 23,85 juta. 

Secara persentase, tingkat kemiskinan tercatat sebesar 8,25 persen, turun dari 8,47 persen pada Maret 2025.  Namun, kita perlu melihat lebih dalam.

Garis kemiskinan nasional pada September 2025 tercatat sebesar Rp641.443 per kapita per bulan, naik dari Rp609.160 pada Maret 2025. Sementara itu, garis kemiskinan per rumah tangga miskin (dengan rata-rata 4,76 anggota) mencapai Rp3.053.269 per bulan. 

Bayangkan: sebuah keluarga harus hidup dengan sekitar Rp3 juta sebulan. Itu berarti rata-rata sekitar Rp640 ribu per orang per bulan untuk memenuhi semua kebutuhan makanan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan. Jumlah ini bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan yang layak di sebagian besar wilayah Indonesia.

Konsentrasi kemiskinan juga masih timpang. Sebanyak 12,32 juta orang miskin atau sekitar 52,75 persen dari total penduduk miskin nasional terkonsentrasi di Pulau Jawa.  Sementara itu, kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi (10,72 persen) dibandingkan di perkotaan (6,6 persen). 

Trennya memang menunjukkan penurunan bahkan sejak Maret 2023, jumlah penduduk miskin terus menurun dari 25,9 juta orang.  Tapi pertanyaannya: apakah penurunan angka ini cukup untuk menjawab gugatan Rendra?

Ketika Rendra menulis “orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah, bagai udara panas yang selalu ada”, ia sepertinya tahu bahwa kemiskinan bukanlah musuh yang bisa dikalahkan dengan satu atau dua program. Ia adalah realitas struktural yang membutuhkan perubahan sistemik, bukan sekadar angka di atas kertas.

Warisan Rendra Dalam Sastra Kontemporer

Pengaruh Rendra tidak berhenti pada puisi “Orang-Orang Miskin”. Semangat kesaksian sosial yang ia bawa terus hidup dalam tradisi sastra Indonesia. Salah satu bentuk penerusannya adalah munculnya genre puisi esai yang dipelopori oleh Denny JA pada 2012 melalui buku Atas Nama Cinta. 

Puisi esai hadir sebagai kritik terhadap puisi modern yang dianggap terlalu kompleks dan sulit dipahami oleh publik. Berdasarkan riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI), sebagian besar masyarakat kesulitan memahami puisi modern, sementara puisi lama seperti karya Chairil Anwar dan W.S. Rendra lebih mudah dipahami karena bahasanya yang sederhana namun tetap bermakna dalam. 

Puisi esai mencoba menjembatani fakta dan imajinasi. Sebuah puisi esai menyajikan isu sosial konkret dalam balutan estetika, bahkan dilengkapi dengan catatan kaki yang memuat data. Semangat ini sejalan dengan warisan Rendra: sastra tidak boleh steril dari realitas sosial. 

Dalam pandangan puisi esai, penyair adalah “seorang yang terlibat dengan masyarakatnya, yang mau menyatakan sesuatu yang dianggap penting.”  Ini adalah amanat yang sama dengan yang ditinggalkan Rendra: penyair adalah juru bicara kaum tertindas.

Pelajaran Dan Nilai Dari Puisi Rendra

Apa yang bisa kita petik dari puisi ini, hampir setengah abad kemudian?

Pertama, puisi ini mengajarkan bahwa kritik adalah bentuk cinta. Rendra tidak membenci negerinya; justru karena ia mencintai Indonesia, ia berani menyuarakan kebenaran yang pahit. 

Kritiknya kepada penguasa adalah bentuk kepedulian agar negeri ini tidak hancur oleh kemunafikan.

Kedua, puisi ini mengingatkan bahwa simbol-simbol tidak boleh berbohong. Ketika lambang negara dan protokol kepemimpinan menjadi jauh dari realitas rakyat, maka di situlah kemunafikan bersarang. Keterpisahan elite dari rakyat bukan sekadar masalah jarak fisik, tapi jarak moral.

Ketiga, puisi ini menegaskan bahwa agama harus berpihak pada yang lemah. Rendra dengan berani menggugat mereka yang mengklaim diri saleh tapi tega melihat orang lain kelaparan. Ini adalah kritik yang masih relevan di tengah derasnya arus politik identitas yang sering melupakan esensi keadilan sosial.

Keempat, puisi ini memberikan peringatan sejarah: kemiskinan yang diabaikan akan melahirkan ledakan. Rendra tidak sedang mengancam; ia sedang membaca sejarah. Ketika kesenjangan terlalu lebar dan penderitaan terlalu lama, maka selalu ada titik di mana orang-orang miskin “mengangkat pisau-pisau”.

Warisan Yang Tak Tumpul

Hampir setengah abad setelah Rendra menulis puisi ini, pertanyaan yang ia ajukan masih bergema: “Jangan kamu bilang negara ini kaya…”

23,36 juta orang miskin di Indonesia hari ini mungkin tidak semuanya tidur di selokan seperti yang digambarkan Rendra. Tapi mereka masih berjuang untuk bertahan hidup dengan Rp3 juta sebulan untuk satu keluarga. Mereka adalah wajah-wajah di balik angka statistik yang sering kita lihat tanpa benar-benar melihat.

Rendra menutup puisinya dengan seruan:

“O, kenangkanlah…” 

Kata “kenangkan” di sini bukan sekadar mengingat. Dalam bahasa Indonesia, mengingat adalah tindakan yang melibatkan hati dan nurani. Rendra meminta kita untuk mengingat dengan penuh kesadaran, bahwa di balik angka-angka statistik, ada wajah-wajah yang masih berjuang untuk hidup layak.

Warisan Rendra tidak tumpul karena tugasnya belum selesai. Puisi ini akan tetap menjadi senjata selama masih ada orang yang tidur tanpa atap, selama masih ada anak yang lapar, selama masih ada penguasa yang lebih peduli pada simbol daripada substansi.

Rendra mengajarkan bahwa penyair adalah “pengingat yang tak bisa disuap”. Dan selama kemiskinan masih ada, suara-suara seperti Rendra akan terus diperlukan baik dalam bentuk puisi, esai, atau kritik sosial lainnya. Karena tanpa suara-suara itu, kita berisiko kehilangan hati nurani kita sebagai bangsa.

“orang-orang miskin juga berasal dari kemah Ibrahim.” 

Mereka bukan “orang lain”. Mereka adalah saudara. Dan selama masih ada saudara yang kelaparan, kita semua baik penguasa maupun rakyat memiliki tanggung jawab untuk tidak berpaling.

                  Batu, 25 Mei 2026

                       Yani Andoko

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir