Ketika Rakyat Beltim Sudah Marah, Dua Gedung PT Timah Ikut Terbakar
Oleh Rosadi Jamani
Hari ini mood saya lagi kesal. Akibat Timnas tersingkir. Bawaannya marah. Begitulah kira-kira perasaan warga Belitung Timur (Beltim). Mereka marah sampai harus membakar dua gedung milik PT Timah. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Beltim, 7 Agustus 2026. Jumat biasanya hari adem. Orang bersiap salat, hati ditenangkan, kepala didinginkan. Tetapi di Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, yang panas bukan cuma matahari. Emosi ribuan penambang juga mendidih.
Sejak pukul 08.30 WIB, mereka berkumpul di Bumi Perkemahan Poin Satu. Suasananya bukan lagi seperti rapat warga. Lebih mirip reuni besar orang-orang yang sudah terlalu lama disuruh sabar sampai sabarnya pensiun.
Puluhan truk terbuka, ratusan sepeda motor, dan berbagai kendaraan kemudian bergerak menuju Kantor Unit Produksi PT Timah Tbk Area Gantung. Sekitar pukul 10.00 WIB, halaman kantor penuh manusia.
Teriakan menggema, “Mana PT Timah!” “Ini urusan makan!” “Tidak ada yang beli timah kami!”
Seorang warga yang akrab disapa Mak Da naik ke bak truk sambil membawa pengeras suara. Ia bicara soal antrean panjang berujung pada jawaban klasik, “Dana sudah habis.”
Kalimat itu tampaknya sudah terlalu sering didengar. Sebab kalau rakyat terus disuruh antre sementara jawabannya selalu dana habis, yang akhirnya habis bukan cuma dana. Kesabaran juga ikut bangkrut.
Kemudian seseorang mengaku sebagai Wakil Kepala Divisi Pengamanan PT Timah menawarkan kabar manis. Delapan stasiun pembelian akan dibuka sore itu, dengan harga Rp170 ribu per kilogram untuk kadar OC 72.
Masalahnya, massa sudah terlalu sering mendengar janji manis. Dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) disebut belum resmi terbit. RKAB pun terasa seperti makhluk mitologi. Disebut-sebut ada, tetapi belum juga menunjukkan batang hidung.
Situasi akhirnya meledak. Massa menerobos barikade, melempari batu, menghancurkan kaca dan mengeluarkan barang dari kantor. Sekitar pukul 11.00 WIB, api membakar Kantor Unit Produksi. Api kemudian merambat ke Gudang Bijih Timah (GBT 5). Dua gedung pun terbakar.
Yang lebih absurd, di tengah kekacauan muncul seorang pria berkostum Spider-Man ikut menyampaikan aspirasi. Entah datang dari Marvel atau dari tetangga sebelah, yang jelas manusia laba-laba pun turun tangan. Mungkin superhero lokal sedang kehabisan jaring untuk menangkap janji-janji.
Polres Beltim bersama personel Sat Brimob Tanjungpandan melakukan pengamanan secara humanis, profesional, dan sesuai prosedur. Dalam bahasa sederhana, polisi berusaha menenangkan keadaan agar yang terbakar cukup gedung, bukan semuanya.
Upaya penjarahan oleh sejumlah oknum di area gudang sempat terjadi, tetapi berhasil dicegah. Barang yang sempat berpindah diamankan kembali. Tidak ada bijih timah yang berhasil keluar.
Polisi memasang garis polisi, memeriksa CCTV, mencocokkan stok, serta menyelidiki dugaan pembakaran, perusakan, kekerasan, dan percobaan penjarahan.
Hingga Sabtu, 8 Agustus 2026, belum ada korban jiwa dilaporkan dan belum ada penangkapan yang diumumkan. Situasi dinyatakan sudah terkendali dan kondusif. Tetapi ada satu yang belum kondusif, kepercayaan.
Di balik asap dua bangunan itu, sebenarnya ada sesuatu sudah lebih dulu terbakar, kesabaran ribuan penambang. Mereka hidup dari timah. Harga Rp170 ribu per kilogram terdengar seperti harapan. Tetapi biaya operasional tidak mau menerima pembayaran dalam bentuk janji.
Bensin harus dibayar. Makan harus dibayar. Utang harus dibayar. Anak sekolah tidak bisa diberi makan dengan kata “nanti”.
Membakar dan merusak tentu bukan solusi. Gedung bisa dibangun lagi. Kaca bisa diganti. Barang bisa dihitung ulang. Tetapi kepercayaan jauh lebih sulit dipulihkan. Sebab ketika rakyat sudah marah sampai dua gedung ikut menjadi panggang, pertanyaannya bukan cuma siapa yang menyalakan api.
Pertanyaan yang lebih panas adalah, berapa lama lagi janji harus menunggu sebelum berubah menjadi uang yang benar-benar masuk ke kantong, bukan sekadar asap yang terbang ke langit Belitung Timur?
Maaf kalau merusak mood malam minggu kalian, wak. Happy Malming semua, peluk cium dari jauh, eeumah.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM












