Rindu Pada Teman Sekolahku Dulu

Oleh Aqila Azalea Tabrani Yunis
Kini saya sudah kelas 3 SMP. Saya bersekolah di sebuah SMP Swasta di kota Banda Aceh. Namun, pikiran saya sering mengingat tentang sekolah dasar ( SDIC) Anak Bangsa.
Entah mengapa rasa rindu muncul dalam ingatan. Kerinduan pada teman teman lama saya. Walau saya tahu kalau mereka tidak bisa selamanya bisa bersama saya dan mereka juga punya cita cita tersendiri.
Saya mengenang begitu banyak kenangan bersama mereka. Namun sejalan dengan waktu yang berjalan sangat cepat dan kami harus berpisah karena tamat sekolah. Mereka memilih sekolah yang berbeda dengan saya. Padahal mereka adalah teman-teman baik atau bestie saya.
Kini setelah tiga tahun lamanya, saya sangat merindukan mereka. Ingin sekali bisa bertemu dan berkumpul serta bercengkerama. Ada yang berbeda saya rasakan setelah tidak lagi bersama mereka. Mungkin karena dahulu,
saya orangnya pemalu dan saya merasa sangat susah untuk bergaul dengan orang lain.
Saya pernah bertanya kepada ayah saya, bagaimana cara saya bisa bergaul dan punya banyak temen di sekolah. Ayah saya berkata, “Aqila kamu perlu berusaha untuk bergaul dengan banyak kawan atau teman.
Saya setuju dengan ayah. Awalnya saya merasa sedikit takut karena saya kurang bisa berbahasa Indonesia, karena ayah saya mengajarkan saya berbahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari di rumah, kapan saja dan juga saat berada di tempat lain. Saya sulit berbahasa Indonesia.
Jadi saya takut mereka bakal tidak paham dan saya takut saya tidak punya teman. Lalu, saya mencoba apa yang ayah saya bilang kepada saya dan saya mencoba untuk berinteraksi dengan salah satu orang di kelas saya dan akhirnya saya berhasil mempunyai teman. Saya bertemu dengan salah satu siswa yang bisa berbahasa Inggris. Saya sangat senang karena ia bisa berbahasa Inggris seperti saya.
Ini mengingatkan saya tentang pengalaman saat di SD dahulu. Saya dahulu mencoba mencari teman yang bisa berbahasa Inggris. Alhamdulillah saya berhasil mendapat 5 orang lagi, walaupun ada beberapa teman saya yang tidak bisa berbahasa Inggris, tapi mereka mau belajar berbahasa Inggris . Lama kelamaan, mereka paham berbahasa Inggris dan saya berhasil mendapatkan teman dan saya pun bisa mengajarkan mereka berbahasa Inggris , seperti ayah saya dan saya ingin mempunyai belih banyak teman.
Ini penting agar saya bisa melancarkan bahasa Inggris. Namun, saat itu kita sudah harus berpisah karena sudah lulus SD. Perpisahan ini terasa sangat sedih. Tak ingin rasanya berpisah dengan teman dekat saya.
Namun, Saya sadar bahwa mereka punya pilihan sendiri termasuk saya. Saya juga pernah mencoba ikut jejak mereka mendaftar di sekolah yang sama. Kala itu, saya merasa sedikit gugup, tapi saya berusaha untuk tenang. Saya gagal masuk ke sekolah itu.
Ayah lalu mencoba membawa saya ke SMP Negeri 2 Banda Aceh. Tapi ketika melihat bangunan sekolah yang berlantai 3 tersebut, muncul rasa takut saya. Sehingga ayah saya mencoba memasukan saya ke SMP Negeri 10 yang letaknya tidak jauh dari POTRET Gallery.
Ketika pergi ke SMP Negeri 10 Banda Aceh , saya merasa kurang nyaman dan saya katakan pada ayah. Mungkin karena saya terbiasa di sekolah yang bangunannya tidak seperti sekolah biasa. Sekolah ini punya beberapa gedung dan halaman sekolah yang sangat luas. Saya suka dengan suasana itu, namun masih merasa takut juga.
Akhirnya ayah dan mama memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMPIC Anak Bangsa. Mereka merasa sekolah ini cocok dengan sekolah itu dan saya pun didaftarkan ayah ke sekolah SMPIC Anak Bangsa. Di sekolah ini saya bertemu lagi dengan guru-guru yang sudah sangat mengenal saya.
Saya senang, karena di sekolah ini bertemu dengan dua teman yang berasal dari SDIC. Saya jadi lega dan saya masih bisa bermain dengan mereka. Tapi untuk teman-teman lain tetap selalu rindu.












