Artikel · Potret Online

Algoritma: Jejak Al Khwarizmi yang Mengubah Cara Dunia Berpikir

Penulis  Nyakman Lamjame
Agustus 6, 2026
3 menit baca 54
IMG_2475
Foto / IlustrasiAlgoritma: Jejak Al Khwarizmi yang Mengubah Cara Dunia Berpikir

Oleh Nyakman Lamjame 

Di balik kecanggihan Artificial Intelligence (AI), ada sebuah kata yang menjadi fondasinya: algoritma. Sebuah istilah yang hari ini identik dengan teknologi masa depan, tetapi sesungguhnya membawa jejak sejarah lebih dari seribu tahun.

Banyak orang mengenal algoritma sebagai bagian dari dunia komputer, kecerdasan buatan, dan teknologi digital. Namun tidak banyak yang mengenal sosok ilmuwan yang namanya memiliki hubungan erat dengan perjalanan istilah tersebut: Muhammad ibn Musa Al Khwarizmi.

Al Khwarizmi adalah ilmuwan Muslim abad kesembilan yang hidup ketika Baghdad menjadi salah satu pusat keilmuan dunia pada masa keemasan peradaban Islam. Dalam tradisi ilmu yang menghargai penelitian, penerjemahan, dan pengembangan gagasan, ia melahirkan pemikiran yang pengaruhnya melampaui zamannya.

Salah satu warisan terbesarnya adalah aljabar. Melalui karya Al-Jabr wa al-Muqabalah, ia memberikan dasar penting bagi perkembangan aljabar sebagai ilmu yang sistematis. Dari kata al-jabr kemudian berkembang istilah algebra yang dikenal dalam berbagai bahasa dunia.

Namun warisan Al Khwarizmi bukan hanya tentang rumus. Ia mewariskan cara berpikir: bagaimana persoalan yang rumit dapat dipecahkan melalui langkah yang teratur, logis, dan rasional.

Dari perjalanan penerjemahan karya-karyanya ke bahasa Latin, nama Al Khwarizmi ditulis sebagai Algoritmi. Dari bentuk inilah berkembang istilah algorithm, yang kemudian menjadi algoritma dalam bahasa Indonesia.

Menariknya, perjalanan sebuah nama menjadi istilah dunia memperlihatkan bagaimana ilmu bergerak melintasi bahasa dan budaya.

Dalam bahasa Arab, hubungan dengan nama asal masih terlihat melalui istilah الخوارزمية (al-khwarizmiya). Dalam bahasa Persia di Iran, akar nama Khwarizmi tetap dikenal sebagai bagian dari identitas sejarah ilmuwan tersebut.

Di dunia Barat, istilah itu berkembang menjadi algorithm dalam bahasa Inggris, algorithme dalam bahasa Prancis, dan algoritmo dalam bahasa Spanyol serta Italia.

Ketika masuk ke Asia, istilah ini kembali menyesuaikan diri dengan bunyi bahasa setempat. Dalam bahasa Jepang dikenal sebagai アルゴリズム (arugorizumu), dalam bahasa Korea menjadi 알고리즘(algorijeum), sementara dalam bahasa Mandarin konsep algoritma lebih sering disebut 算法(suànfǎ), yang berarti metode atau aturan perhitungan.

Di India, istilah algoritma hadir dalam berbagai bahasa modern melalui pendidikan matematika dan ilmu komputer, dengan penyesuaian pelafalan sesuai bahasa masing-masing.

Perjalanan istilah tersebut menunjukkan sesuatu yang menarik: sebuah gagasan dapat berubah bunyi ketika melewati batas budaya, tetapi tetap membawa jejak sejarah yang sama.

Hari ini algoritma menjadi salah satu fondasi utama teknologi modern. Ia bekerja dalam pengolahan data, sistem digital, penelitian ilmiah, hingga Artificial Intelligence yang sedang mengubah cara manusia hidup dan bekerja.

Namun sejarah memberi pelajaran penting: terkadang dunia lebih mudah mengingat sebuah istilah daripada manusia yang melahirkan gagasan di baliknya.

Mengenal kembali Al Khwarizmi bukan berarti mengurangi kontribusi ilmuwan lain yang membangun ilmu modern. Justru sejarah menjadi lebih lengkap ketika kita memahami bahwa kemajuan manusia adalah hasil perjalanan panjang berbagai pemikiran dari banyak zaman dan peradaban.

Di era AI, warisan Al Khwarizmi kembali menemukan maknanya. Teknologi membutuhkan kecerdasan manusia, tetapi masa depan membutuhkan kebijaksanaan manusia.

Sebab sebelum mesin belajar mengenali pola, telah ada manusia yang lebih dahulu belajar memahami cara berpikir.

Dan salah satu nama penting dalam perjalanan panjang itu adalah Al Khwarizmi.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...