Artikel · Potret Online

Malam Jumat; Kisah Penyalin Naskah

Agustus 27, 2026
9 menit baca 11
097c07b6-c16e-4ddb-ae26-6823d23713a6
Foto / IlustrasiMalam Jumat; Kisah Penyalin Naskah

SKEMA

(Sketsa Masyarakat)

Solilokui

Oleh Akmal Nasery Basral*

1/

Matahari baru saja tenggelam di kaki langit. Kamis berlalu. Rembulan bersiap menuju puncak purnama–bukan malam biasa. Ada getar halus yang tak bisa dijelaskan kalender. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang merindu hening. 

Orang-orang tua dahulu menyebutnya _Sayyidul Ayyam_, penghulu segala hari. Dan malamnya adalah malam yang dijanjikan penuh rahmat. 

Malam bukan sekadar pergantian waktu, melainkan panggung bagi ruh yang rindu. Jalaluddin Rumi berbisik bahwa malam adalah penutup cacat dan celah.  Ruang rahasia antara Kekasih dan para pencinta. Seperti kisah Fudhayl bin ‘Iyadh, seorang lelaki yang mengukir reputasi dalam keremangan malam. 

Sebelum dikenal sebagai salah seorang tokoh sufi, ia penyamun yang ditakuti di sepanjang jalan antara Marw dan Bukhara. 

Pada suatu malam Jumat, ketika ia memanjat tembok untuk menemui perempuan yang dicintainya. Hasratnya menggelegak lebih hebat dari air yang sedang mencapai titik didih. 

Namun, sayup-sayup terdengar olehnya lantunan ayat suci dari jendela perempuan yang ditujunya: 

” _Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah_…” (QS. Al-Hadid: 16)

Hanya satu larik kalimat, potongan singkat dari sebuah ayat. Namun malam itu, firman suci menerobos telak ke dalam jiwa Fudhayl. 

Di keremangan cahaya bulan, ia terpana. Perampok kejam itu terbata-bata dalam deras air mata, “Ya Tuhanku, sungguh telah datang waktunya… bagiku… Ampuni aku…” Meluncur begitu saja dari lisannya—karena dorongan hati yang mendamba. 

Malam Jumat itu menjadi demarkasi bagi Fudhayl. Garis batas antara masa lalunya yang gelap gulita dan masa depannya yang terang cahaya. Ia tak pernah menoleh lagi ke belakang. 

2/

Aku bertanya pada diriku sendiri malam ini: Berapa banyak larik peringatan, kalimat bijak, bahkan ayat suci seperti didengar Fudhayl, yang juga pernah terdengar oleh telingaku namun lewat begitu saja tanpa pernah benar-benar mengetuk pintu hati?

Malam Jumat bukan sekadar waktu dalam pekan, melainkan sebuah _maqam_—sebuah kedudukan batin. Ia adalah jeda yang disediakan semesta bagi jiwa yang lelah berlari mengejar dunia, untuk berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. 

Para arif bijaksana mengajarkan bahwa zikir, salawat, dan tadarus, yang dilantunkan pada malam ini bukan sekadar ritual pengulangan kata, melainkan ikhtiar membasuh karat yang menempel di celah-celah hati. Karat yang terbentuk dari dusta-dusta kecil, dari kesombongan yang disembunyikan rapi di balik kesopanan, dari kelalaian yang dianggap remeh karena tak terlihat orang lain.

Namun aku bertanya kepada diriku sendiri: apakah kemuliaan malam ini terletak hanya pada banyaknya bacaan yang keluar dari bibir, ataukah juga pada kesediaan hati untuk berhenti berbohong kepada diri sendiri?

Sebab aku bisa membaca banyak halaman buku, tetapi belum tentu membaca luka yang kubuat pada orang lain. Aku bisa mengucapkan selawat dengan suara merdu, tetapi belum tentu mampu menahan lidah dari menggibah keburukan saudaraku. 

Aku bisa menulis tentang cinta, keadilan, dan kebijaksanaan, tetapi masih menyimpan iri dengki saat orang lain menerima cahaya yang kuinginkan.

Pada malam-malam lain, aku terlalu sibuk ingin menjadi Seseorang (dengan “S” besar). Menjadi orang yang kuat dan mandiri. Menjadi orang yang serbatahu. Menjadi orang yang berhasil. Menjadi orang yang tampak baik di mata banyak orang. 

Tetapi di malam seperti ini, semua peran terasa tanggal satu demi satu. Yang tersisa hanyalah aku dan diri-Mu. 

Aku dengan dosa-dosa yang kusimpan rapi di depan senyum-Mu yang Maha Mengetahui. Aku dengan kesalahan yang kusebut sebagai “kekhilafan”, meski sering kulakukan berulang kali. Lagi dan lagi. Dan Engkau pahami. 

Aku tidak menulis ini untuk mengaku suci. Aku menulis ini karena malam Jumat mengajariku bahwa pengakuan itu sendiri adalah bentuk keberanian—bahwa mengakui kelemahan di hadapan-Mu Yang Maha Melihat, jauh lebih mulia daripada berpura-pura sempurna di hadapan sesama manusia.

Di malam Jumat ini, aku menghitung dosa-dosaku yang lebih banyak dari hamparan pasir di pantai. Juga melampaui kesombongan seorang penyalin naskah–seorang lelaki yang hidupnya dihabiskan bersama ribuan aksara. 

3/

Nama aslinyanya tidak penting. Dalam beberapa hikayat, ia disebut Hamid. Dalam versi lain, ia hanya dikenal sebagai seorang penyalin naskah. Itu sudah cukup. 

Ia tinggal di sebuah kota tua yang dipenuhi madrasah, pasar, masjid, dan rumah-rumah dengan pintu kayu yang telah dimakan usia. Pekerjaannya menyalin kitab.

Tangannya sangat terampil. Ia mampu menulis huruf demi huruf dengan ketelitian yang mengagumkan. 

Alifnya tegak seperti pohon kurma. Ba-nya lembut seperti perahu yang mengapung. Lengkung mim-nya menyerupai bulan sabit. 

Para saudagar, guru, dan bangsawan datang kepadanya untuk memesan salinan kitab, puisi, doa, dan hikayat.

Orang-orang memuji keindahan tulisannya. “Tidak ada tinta yang lebih indah daripada tinta yang mengalir dari pena di tanganmu,” puji mereka. 

Hamid tersenyum bahagia. Ia merasa telah memberikan sesuatu yang luhur kepada dunia: ia merawat ilmu, menjaga bahasa, dan memperpanjang usia kata-kata agar dapat diwariskan kepada generasi setelahnya.

Hamid memiliki seorang pembantu, seorang anak muda bernama Salim. Ia bertugas menggiling tinta, menyiapkan kertas, membersihkan pena, dan sesekali diizinkan menyalin bagian-bagian pendek dari naskah.

Masalahnya: Salim tidak memiliki tulisan seindah gurunya. Huruf-hurufnya kadang miring. Jarak antarbarisnya tak teratur. Kadang berantakan. Jika membuat kesalahan, ia akan menundukkan kepala dan menggigit bibir, takut dimarahi.

Hamid sering mengingatkan Salim. “Bagaimana mungkin kau berharap menjadi penyalin kitab, jika satu halaman saja tidak mampu kau buat dengan indah?”

Suatu hari, seorang bangsawan memuji sebuah naskah yang baru diberikan Hamid. 

Bangsawan bertanya, “Siapa yang menulis bagian terakhir ini? Gaya hurufnya berbeda, tetapi memiliki kejujuran yang aku sukai. ”

Hamid tahu, bagian itu ditulis Salim. Tetapi ia menjawab, “Aku.” Tegas, tanpa ragu. Salim berdiri di sudut ruangan. Ia tidak membantah. Ia malah menundukkan wajah.

Malam Jumat tiba beberapa jam kemudian. Hamid duduk sendirian di ruang kerjanya. Lampu minyak bergoyang ditiup angin. 

Di hadapannya terbuka sebuah naskah tentang cinta kepada Tuhan. Ia baru saja menuliskan kalimat tentang hati yang bersih, jiwa yang ikhlas, ketika setitik tinta jatuh di atas halaman. Anehnya: noda tinta menyerupai bentuk air mata.

Hamid mencoba menghapusnya, tetapi noda semakin melebar. Ia mengambil lembar baru dan menulis ulang kalimat tersebut. Namun setiap kali sampai pada frasa “jiwa yang ikhlas”, tangannya bergetar. Setitik tinta jatuh lagi, menyerupai bentuk air mata. 

Hamid teringat Salim. Ia teringat wajah anak muda itu ketika pujiannya dirampas. Ia teringat bagaimana dirinya menulis tentang kemuliaan, tetapi berbuat zalim dalam perkara yang dianggap sepele. 

Malam semakin larut. Hamid menutup naskah. Pikirannya rusuh, tak bisa konsentrasi. Ia mengambil lampu, dan pergi keluar rumah untuk mencari Salim.

Anak muda itu sedang duduk di serambi masjid yang temaram. Ketika melihat gurunya datang, ia segera berdiri. “Ada apa, Guru?” katanya. “Ada naskah yang harus kuselesaikan malam ini?”

“Aku datang untuk meminta maaf,” kata Hamid lugas. Salim terdiam. Ia menundukkan kepala. 

“Aku telah mengambil namamu dari karyamu, Salim. Aku telah merendahkanmu ketika seharusnya aku membimbingmu. Maafkan aku. Tolong. Maafkan aku.”

Salim memandang gurunya dan menjawab, “Aku sudah memaafkan Guru sejak tadi siang. Sebelum diminta Guru sekarang.”

Hamid merasa lega sekaligus malu. Lalu terdengar suara Salim, “Tetapi, maaf, apakah Guru sudah memaafkan diri sendiri?”

Hamid mengangkat wajah, “Apa maksudmu?”

Salim berkata, “Guru terlalu sibuk membenci kesalahan,  sehingga lupa bahwa taubat bukan hanya menangisi apa yang sudah terjadi. Taubat adalah mengembalikan hak kepada pemiliknya, memperbaiki kerusakan, dan berjalan lagi dengan hati yang lebih rendah.”

Hamid tercengang. Ia, sang penyalin naskah-naskah kebajikan, mengapa hanya sampai terpesona pada ide-ide tentang kebajikan tetapi ceroboh dan lalai dalam menjalankan inti pesan?

Keesokan harinya, Hamid menemui sang bangsawan dan mengatakan bahwa bagian terakhir naskah itu adalah tulisan Salim, bukan dirinya.  Hamid pun mengembalikan sebagian upah yang diterimanya kepada sang bangsawan. 

Bertahun-tahun kemudian, orang-orang masih membicarakan keindahan naskah Hamid. 

Tetapi, setelah peristiwa itu, ia selalu meninggalkan satu halaman kosong di akhir setiap kitab yang disalinnya.

Ketika ditanya mengapa, Hamid menjawab, “Agar aku selalu ingat bahwa tidak semua yang penting dapat kutuliskan. Ada ruang yang hanya dapat diisi oleh kejujuran.”

4/

Aku memikirkan dunia sastra malam ini. Dunia literasi. Betapa sastra sering menjadi usaha manusia untuk menyelamatkan sesuatu dari kehancuran: kenangan dari lupa, bahasa dari kematian, pengalaman dari kesunyian, dan manusia dari ketidakmampuannya memahami dirinya sendiri.

Sebuah puisi dapat menjadi rumah bagi kesedihan. Sebuah novel dapat membuat kita tinggal sejenak di dalam kehidupan orang lain. Sebuah tembang dapat membawa suara leluhur melampaui zaman. Sebuah hikayat dapat menyimpan nasihat yang tidak selesai dijelaskan oleh pidato menggebu-gebu penuh retorika dari pemimpin negara. 

Aku dapat menghafal banyak nama pengarang, tetapi tidak mengenali benih-benih kesombongan yang tumbuh di dadaku. Aku dapat berbicara mendalam tentang tradisi, tetapi mencibir orang lain yang tak sepaham denganku. Aku dapat memuja keindahan bahasa, tetapi menggunakan kata-kata sebagai pedang tersembunyi untuk mempermalukan mereka yang berbeda pendapat denganku. 

Malam Jumat mengajariku bahwa kata-kata seharusnya menjadi jembatan, bukan pedang. Ia boleh tajam untuk membelah kebatilan, tetapi tidak boleh tajam untuk menyobek kebenaran. 

Kata-kata boleh menyuarakan luka, tetapi jangan menjadikan luka sebagai alasan pembenaran untuk pembalasan melukai siapa saja.

Mungkin itulah sebabnya orang-orang bijak memperbanyak salawat pada malam ini: agar lidah yang mudah menyimpang diarahkan kembali kepada teladan akhlak yang luhur; agar cinta kepada Nabi  tidak berhenti sebagai bunyi, tetapi menjelma menjadi adab sejati.  

Dan setiap kali malam Jumat datang, aku akan menyisakan satu halaman kosong dalam diriku—halaman yang belum kutulisi dengan kesombongan, agar Tuhan dapat mengisinya dengan petunjuk. Menghindariku dari sikap jemawa yang menghancurkan. 

Sebab, pada akhirnya, manusia hanyalah lembaran naskah yang terus disalin oleh waktu.

Berbahagialah mereka  yang “kitab dirinya” belum selesai ditulis, belum tertutup rapat, karena masih ada kesempatan untuk  memperbaiki kesalahan, mengembalikan satu hak yang kita ambil dari orang lain, menyampaikan permintaan maaf yang tertunda-tunda sebelumnya. 

Seperti Hamid sang penyalin naskah yang akhirnya menjadi pembaca sejati, aku pun ingin pada malam-malam seperti ini, berhenti sejenak menjadi penyalin kesalehan orang lain, dan mulai—meski terseok-seok—menjadi pembaca yang jujur atas diriku sendiri. Atas kesalahanku yang bertubi-tubi. 

Malam Jumat, 27 Agustus 2026/14 Rabiul Awal 1448 H

*Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Akmal Nasery Basral adalah mantan redaktur film _Tempo_ (2004 – 2010) dan _Gatra_ (1994 – 1998), penulis 26 buku, termasuk novel _Nagabonar Jadi 2_ (2007) dan _Sang Pencerah_ (2010) Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional, penerima Anugerah Penulis Nasional SATUPENA 2021 kategori fiksi
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...