Belajar dari Lomba Bola Pelangi dan Literasi Kemerdekaan di Desa Gampong Baro
Oleh Eramayawati
Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, penulis 24 buku anak, melaporkan dari desa Gampong Baro, Kecamatan Peusangan.
Pagi yang cerah. Bendera merah putih masih berkibar di rumah-rumah warga. Bendera merah putih dan umbul-umbul juga masih berkibar di pekarangan meunasah desa Gampong Baro. Seorang ibu beserta anak laki-lakinya yang masih balita sudah berada di meunasah sebelum waktu kegiatan yang direncanakan tiba.
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, desa Gampong Baro, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, mengadakan serangkaian kegiatan lomba untuk memeriahkan peringatan hari kemerdekaan tahun ini.
Melengkapi berbagai lomba yang telah diselenggarakan tepat pada tanggal 17 Agustus, lomba bola pelangi dan literasi kemerdekaan pun dilaksanakan pada hari Minggu, 23 Agustus 2026. Kegiatan lomba bola pelangi dan literasi kemerdekaan ini diinisiasi oleh Era Pelangi Literasi, sebuah program literasi untuk anak.
Sambil menunggu peserta Lomba Bola Pelangi yang lain datang, anak-anak bermain di kolam karet yang terisi bola warna-warni. Sementara itu, peserta Lomba Literasi Kemerdekaan datang bersamaan ke lokasi lebih dari setengah jam sebelum lomba dimulai. Mereka bahkan datang lebih awal daripada peserta Lomba Bola Pelangi yang dijadwalkan berlangsung terlebih dahulu.
Hal ini menunjukkan antusiasme mereka untuk mengikuti kegiatan. Untuk mengisi waktu, saya juga menyediakan buku bacaan untuk anak balita dan anak usia sekolah. Anak-anak terlihat tertarik membaca buku-buku yang disediakan.
Lomba Bola Pelangi dirancang sebagai permainan edukatif bagi anak usia 3–5 tahun. Anak diminta mencari bola sesuai warna yang disebutkan, lalu memasukkannya ke dalam plastik dengan warna yang sama. Karena lomba ini bertema hari kemerdekaan, maka bola yang dipilih adalah bola merah dan dilanjutkan dengan bola putih. Selain bergerak dan mengenal warna, anak belajar mendengarkan instruksi, mengikuti aturan sederhana, dan berinteraksi dengan orang lain. Udah pulang Bola pelangi ini bisa menjadi permainan edukatif yang mendukung stimulasi dan kesiapan literasi anak.
Anak-anak terlihat antusias bermain. Anak-anak berusaha memilah bola sesuai instruksi di antara berbagai warna bola yang disediakan di dalam kolam karet. Ada anak yang langsung bergerak cepat, ada yang kebingungan, ada yang mengambil bola yang salah, ada yang cepat sekali mengumpulkan bola tanpa memilih warna sesuai instruksi, ada orang tua yang memberi semangat, dan ada anak yang tiba-tiba freeze (terdiam/membeku).
Orang tua yang mengisi evaluasi seluruhnya menilai kegiatan bermanfaat. Namun, sebagai penggagas kegiatan, saya menemukan titik lemah sebagai pelajaran berharga dari kegiatan ini. Ini tentang anak yang mengalami freeze saat acara sedang berlangsung, padahal sebenarnya ia punya kemampuan mengenali banyak warna.
Saya berpikir, mengapa anak yang sebenarnya mampu mengenali warna justru tidak bisa melakukannya ketika lomba?
Ketika saya menanyakan kepada anak tiga tahun itu, mengapa tadi ia tidak mengambil bola, anak itu menjawab, “Bingung adek tadi. Besok-besok adek nggak bingung lagi. Adek ambil bola banyak-banyak.” Nada suaranya terdengar penuh semangat.
“Kenapa adek bingung?” tanya saya lagi.
“Rame kali orang,” jawabnya polos.
Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa kemampuan anak tidak selalu tampak ketika ia berada dalam situasi kompetitif. Ini membuat saya berpikir bahwa mungkin anak-anak membutuhkan lebih banyak ruang untuk bertumbuh daripada sekadar ruang untuk berkompetisi.
Temuan ini memberikan ide untuk menyempurnakan mekanisme kegiatan, yaitu dari kompetisi kecepatan gerak menjadi memberikan kesempatan bergiliran untuk semua peserta.Semua anak mendapat giliran. Ketika semua anak mendapat giliran, maka semua anak mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan. Kita bisa memberikan ruang agar setiap anak punya kesempatan bertumbuh.
Sementara itu, dalam lomba literasi kemerdekaan, anak usia 10-12 tahun menulis cerita bertema “kemerdekaan dan keluargaku” pada worksheet yang telah disediakan. Anak-anak menulis secara serempak selama 30 menit. Ada yang tidak perlu waktu lama untuk menulis, ada yang lama berpikir, dan ada yang bertanya tentang tema.
Anak-anak menulis tentang perayaan kemerdekaan yang mereka lihat dan alami. Bagi sebagian anak, pengalaman itu mungkin sederhana: mengikuti lomba, melihat bendera merah putih, berkumpul bersama teman, atau menyaksikan berbagai kegiatan di desa. Namun, melalui tulisan, pengalaman sederhana itu diubah menjadi cerita dengan kata-kata mereka sendiri.
“Segini aja boleh?” tanya seorang anak yang baru menulis beberapa kalimat saja.
Saya menyarankan agar ia menulis lebih banyak lagi. Hasilnya, ia beserta seorang teman di sampingnya bisa menulis jauh lebih banyak di saat-saat terakhir menjelang waktu habis.
Saya kembali teringat bahwa ide kadang datang pada saat yang tidak kita duga.
Ketika karya-karya mereka dikumpulkan, saya menemukan bahwa tulisan anak-anak lebih banyak bercerita tentang perayaan Hari Kemerdekaan. Unsur keluarga belum banyak muncul dalam cerita mereka.
Temuan sederhana ini membuat saya kembali berpikir tentang cara anak memahami sebuah tema. Bagi orang dewasa, tema tersebut mungkin jelas terdiri dari dua bagian: kemerdekaan dan keluarga. Namun, bagi anak, perhatian mereka bisa saja lebih kuat tertuju pada pengalaman yang paling mereka ingat dari perayaan kemerdekaan.
Orang dewasa dapat merancang kegiatan dengan tujuan tertentu, tetapi anak akan mengalami dan memaknainya dengan cara mereka sendiri. Anak bukan sekadar penerima rancangan kegiatan orang dewasa. Mereka membawa pengalaman, pemahaman, dan responsnya sendiri.
Pada sesi pembagian hadiah, selain hadiah bagi juara pertama, kedua, dan ketiga, seluruh peserta juga mendapatkan hadiah hiburan sebagai bentuk apresiasi atas keberanian mereka mengikuti lomba. Dari lembar evaluasi yang diisi sembilan peserta, enam anak menyatakan sangat senang mengikuti lomba, sedangkan tiga lainnya menyatakan senang.
Saya datang dengan keyakinan bahwa lomba dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk belajar. Namun, setelah melihat anak-anak yang mengikuti lomba, saya pulang membawa pertanyaan yang berbeda.
Bagi saya, dua lomba itu bukan hanya tentang siapa yang menang. Keduanya menjadi ruang belajar—bagi anak-anak, dan juga bagi saya sebagai orang yang merancang kegiatan.Kegiatan yang menyenangkan belum tentu merupakan kegiatan pendidikan yang efektif.
Barangkali, gerakan kecil literasi dari desa memang tidak selalu dimulai dari kegiatan yang sempurna. Ia bisa dimulai dari anak-anak yang bermain, menulis, bertanya, mencoba, dan dari orang dewasa yang bersedia belajar kembali dari mereka.
Sebab, dalam mendampingi anak-anak, mungkin bukan hanya mereka yang perlu diberi ruang untuk bertumbuh. Kita sebagai orang dewasa pun perlu belajar bertumbuh bersama mereka.












