Menjadi Tua Dengan Tenang

Tiga Bekal Di Usia 50 +
Oleh: Drs. Saiful Bahri, CHRM_
Ada 2 jenis tua.
*Tua yang gelisah*: sibuk mengatur anak, takut miskin, takut tidak dianggap, takut tidak dihargai lagi karena tidak seproduktif dulu.
*Tua yang tenang*: wajahnya teduh, hatinya lapang, hidupnya berkah, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
*Tua itu pasti. Tapi tua yang tenang, itu pilihan.*
Di usia 50+ ini, kita sudah tidak lagi berlari mengejar dunia. Waktunya berjalan pelan… sambil memanen.
*BEKAL 1: BEKAL HATI – IKHLAS & BANYAK BERSYUKUR*
Bersyukur karena kita masih diberikan waktu untuk bertaubat dan muhasabah diri.
Di usia ini, lepaskan. Lepaskan keinginan mengontrol hidup anak. Tetap harus mandiri, jangan berharap dari siapapun termasuk anak-anak, karena mereka juga sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Tugas kita sudah menanam, sekarang tinggal mendoakan.
Doakan yang baik-baik. Bersihkan hati. Tenangkan jiwa agar pikiran dan badan ikut sehat. Hindari konflik, hindari perdebatan yang tidak produktif dan egosentris.
Bersyukur untuk hal kecil: masih bisa bangun subuh, shalat berjamaah, masih bisa jalan ke masjid, masih bisa menghirup udara tanpa harus bayar.
Allah berjanji dalam kitab suci Al-Qur’an:
*”La in syakartum la aziidannakum”*
_”Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan tambah nikmat kepadamu”_ [QS. Ibrahim: 7]
Orang yang bersyukur tidak punya ruang dan waktu untuk mengeluh. Dan hati yang tidak mengeluh, itulah ketenangan. Ketenangan adanya di pikiran kita sendiri. Oleh karena itu di usia ini, tenangkan pikiran. Itu salah satu jalan terbaik.
*BEKAL 2: BEKAL AMAL JARIYAH*
Ini masa “menanam” terakhir yang pahalanya mengalir terus.
Mau apa?
Mengajar mengaji cucu, membaca Al-Qur’an, bersedekah rutin terutama sedekah subuh walau jumlahnya tidak banyak, membangun masjid, mewakafkan ilmu. Atau melakukan hobi positif yang tidak menguras tenaga: bercocok tanam, pelihara ayam, dan lain-lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
_”Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya”_ [HR. Muslim]
Tua itu bukan pensiun dari amal. Tua itu pensiun dari maksiat, dan fokus untuk akhirat.
*BEKAL 3: BEKAL HUBUNGAN – PERBAIKI SILATURAHMI*
Jangan sampai menyimpan dendam di dada, karena itu sangat tidak baik bagi kesehatan pikiran dan jiwa. Sekali lagi, lepaskan.
Kata orang bijak: _“Tangan yang digenggam terus lebih melelahkan dibandingkan tangan yang dilepas bebas”_. Coba praktek sendiri… 5 menit saja tangan terus digenggam pasti capek. Begitu juga dalam hidup. Menggenggam masalah, menyimpan dendam, iri dan dengki hanya akan merusak diri sendiri.
Di usia senja, yang kita butuhkan bukan jabatan, bukan pangkat. Yang kita butuhkan: anak-anak yang shalih, pasangan yang setia, saudara yang saling mendoakan.
Mumpung masih ada waktu: Telepon ibu. Minta maaf ke saudara yang dulu pernah bertengkar. Ajak pasangan jalan sore tanpa HP.
Karena nanti di ujung usia, kita baru sadar. Yang menemani bukan aset, tapi orang yang kita sayangi dan menyayangi kita.
*PENUTUP*
Tua bukan akhir dari segalanya. Tua adalah musim panen.
Mau panen pahala, atau panen penyesalan? Pilihannya ada di kita hari ini.
Mari menjadi tua dengan tenang.
Tenang karena sudah berikhtiar. Tenang karena sudah berserah.
Dan tenang karena yakin: Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.
Semoga kita semua termasuk dalam golongan itu. Aamiin.
_Wallahu a’lam bishawab._
*












