Eros dan Peradaban

#ResensiBuku(5):
Oleh Reiner Emyot Ointoe
Dalam resensi seri lima, saya mencoba melompat ke pustaka sejarah dan filsafat kontemporer peradaban.
Dengan merujuk pada gurunya, Sigmund Freud yang menulis Civilization & Its Discontents terbitan 2000, Herbert Marcuse mengaktualkan topik itu dalam bukunya, Eros and Civilization(1955).
Sebelum membahasnya, berikut biografi ringkas Herbert Marcuse.
Herbert Marcuse(1898–1979) adalah filsuf Jerman-Amerika yang dikenal sebagai tokoh Frankfurt School dan “Bapak New Left.”
Karya-karyanya seperti Eros and Civilization(1955) dan One-Dimensional Man(1964) merupakan kritik terhadap kapitalisme, teknologi modern, dan budaya populer sebagai bentuk baru kontrol sosial.
Marcuse lahir di Berlin pada 19 Juli 1898 dari keluarga terpelajar. Ia menempuh pendidikan di Universitas Berlin dan Universitas Freiburg, meraih gelar doktor pada 1922 dalam bidang sastra Jerman.
Lalu, ia melanjutkan habilitasi di bawah bimbingan Martin Heidegger dengan kajian tentang Hegel pada 1932.
Pengalaman politik awalnya di Partai Sosial Demokrat Jerman dan kekecewaannya atas pembunuhan Rosa Luxemburg serta Karl Liebknecht membentuk pandangan kritisnya terhadap demokrasi Weimar.
Setelah Nazi berkuasa pada 1933, Marcuse bergabung dengan Institut für Sozialforschung(Institut Penelitian Sosial) yang kemudian dikenal sebagai Frankfurt School atau mahzab kritis.
Ia pindah ke Amerika Serikat pada 1934, menjadi warga negara AS pada 1940, dan bekerja sebagai analis intelijen di Office of Strategic Services selama Perang Dunia II.
Pasca perang, ia kembali ke dunia akademik, mengajar di Columbia, Harvard, Brandeis, dan akhirnya di University of California, San Diego, di mana ia menjadi profesor emeritus hingga wafat.
Karya-karyanya menekankan kritik terhadap masyarakat industri maju.
Buku Eros and Civilization(Cinta dan Peradaban, terjemahan Pustaka Pelajari, Yogyakarta, 2004) yang akan diresensi, misalnya, menggabungkan teori Freud dengan kritik Marx untuk membayangkan masyarakat non-represif yang memberi ruang bagi kebebasan instingtual.
Sementara, One-Dimensional Man(Manusia Satu- Dimensi, terjemahan Bentang Yogyakarta, 2000), menjadi teks penting bagi gerakan mahasiswa 1960-an.
Buku ini juga menyoroti bagaimana kapitalisme modern dan teknologi menciptakan kesadaran tunggal yang menekan oposisi.
Konsep-konsep seperti “repressive tolerance” dan “great refusal” menjadi inspirasi bagi aktivisme radikal.
Marcuse meninggal di Starnberg, Jerman Barat, pada 29 Juli 1979.
Warisannya tetap hidup sebagai pemikir yang menghubungkan filsafat kritis dengan gerakan sosial.
Ia ikut berkontribusi pada filsafat bahasa bagi generasi yang menolak keterasingan dan kontrol sistemik.
Untuk keperluan meninjau ulang mahzab kritisnya yang berpengaruh pada filsafat kritis posmodernisme, buku Marcuse berikut, Eros and Civilization, pantas diulas.
Selain pemarkah awal filsafat kritisnya, buku ini perlu diresensi untuk menangani kembali krisi-krisis peradaban mutakhir yang terus mendera sejak Covid-19 pada 2020 silam.
Eros and Civilization(1955), karya awal Herbert Marcuse ini berupaya menyajikan paduan dan panduan teori psikoanalisis Freud dengan kritik sosial Marx.
Dalam buku ini, Marcuse hendak menyoroti bagaimana sejarah peradaban manusia dibangun di atas represi naluri, terutama eros, demi mempertahankan tatanan sosial dan ekonomi.
Ia membaca Freud secara radikal bersamaan dengan mengedepankan tesis berikut:
Jika Freud melihat peradaban sebagai hasil represi yang tak terhindarkan, Marcuse justru membayangkan kemungkinan masyarakat non-represif di mana eros dapat berkembang bebas tanpa harus tunduk pada prinsip kerja yang menindas.
Marcuse menekankan bahwa peradaban kontemporer, dengan teknologi dan kapitalisme industrinya, telah memperkuat represi hingga ke dalam kesadaran individu.
Ia mengutip gagasan Freud tentang konflik antara eros(naluri kehidupan, cinta, kreativitas) dan thanatos(naluri kematian, destruksi).
Akan tetapi, Marcuse menambahkan lagi dimensi historis bahwa represi bukanlah kodrat, melainkan produk dari struktur sosial tertentu.
Dengan demikian, ia membuka ruang bagi utopia di mana eros dapat menjadi kekuatan pembebasan.
Salah satu kutipan relevan dari buku ini adalah: “The history of man is the history of his repression.”
Atau, Marcuse juga mengutip Freud bahwa kebahagian bukan tujuan peradaban(Happiness is no cultural value).
Sejatinya, peradaban bertujuan menghasilkan disiplin kerja dan keteraturan sosial.
Kutipan-kutipan ringkas ini merangkum tesis utama Marcuse bahwa peradaban modern dibangun di atas pengekangan hasrat, dan bahwa pembebasan sejati menuntut transformasi sosial yang memungkinkan eros(cinta) melawan thanatos(kematian).
Karena itu, buku ini menjadi inspirasi bagi gerakan radikal 1960-an, terutama ketika buku berikutnya, Manusua Satu-Dimensi, ikut memicu gerakan “new left” di Amerika.
Lebih lanjut, Marcuse juga menawarkan visi bahwa kebebasan bukan hanya politik atau ekonomi, melainkan juga erotis dan eksistensial.
Marcuse menegaskan bahwa jika represi historis dapat dikurangi, maka eros dapat menjadi energi kreatif yang membentuk masyarakat baru, melampaui keterasingan dan dominasi.
Manado, 27 Agustus 2026, ReO Bibliothek Kokima Hill.












