Minggu, April 19, 2026

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db
Ilustrasi: Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

Oleh Rosadi Jamani

Kalian kalau tengok videonya, bikin sakit hati. Kok, ada akhlak siswa satu kelas, ngolok-ngolok gurunya, menjulurkan lidah, lalu acungkan jari tengah. Gurunya tidak sadar digitukan. Luar biasa parah adab siswa. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di sebuah ruang kelas di Purwakarta, seorang ibu guru berhijab duduk di kursinya, tenang, menjalankan tugasnya. Ia duduk di kursinya, sementara siswa satu kelas berdiri mengililingi sang guru. Entah sedang menjelaskan pelajaran apa, sehingga para siswa berdiri. Raut wajah guru serius. Tanpa ia sadari, para siswa berdiri bukan sebagai murid, melainkan seperti sekumpulan penonton yang sedang menikmati pertunjukan penghinaan. Ada siswi tanpa hijab menjulurkan lidah, ada yang mengacungkan jari tengah, ada yang tertawa, semua bersatu dalam simfoni kebiadaban yang begitu ringan bagi mereka, tapi begitu berat bagi akal sehat.

Bu guru itu tidak tahu. Ia tetap mengajar. Justru di situlah tragedinya mencapai puncak. Sebuah penghinaan yang dilakukan tanpa sepengetahuan korban. Ini seperti luka yang ditanam diam-diam di dalam tubuh yang masih percaya, semuanya baik-baik saja. Lalu ia berdiri dan keluar kelas. Mungkin ia merasa hari itu biasa saja. Mungkin ia tidak tahu, di detik yang sama, di belakangnya, satu kelas itu meledak dalam ejekan massal. Jari tengah terangkat serempak, lidah menjulur liar, tawa pecah seperti perayaan atas runtuhnya sesuatu yang dulu kita sebut adab.

Video itu viral sejagat maya. Publik gempar. Orang-orang bertanya dengan nada getir, ada apa dengan adab siswa sekarang? Pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi jeritan kolektif dari masyarakat yang mulai kehilangan pegangan. Karena yang terlihat di layar bukan hanya kenakalan remaja, ini seperti potret generasi yang perlahan kehilangan rasa hormat, kehilangan batas, kehilangan rasa malu.

Lebih menyayat lagi, setelah semuanya tersebar, satu kelas itu kompak meminta maaf. Maaf yang datang terlambat, seperti payung yang dibuka setelah badai menghancurkan rumah. Maaf yang terdengar ringan, tapi tidak mampu mengangkat beban luka yang sudah terlanjur jatuh. Sebab bagaimana mungkin satu kata bisa mengembalikan martabat yang telah diinjak-injak di depan mata dunia?

Nuan bayangkan jika sang guru itu akhirnya melihat video tersebut. Bayangkan detik ketika ia menyadari, selama ini ia berdiri di depan kelas, berbicara tentang harapan, sementara di belakangnya harapan itu ditertawakan. Tidak ada darah, tidak ada teriakan, tapi ada sesuatu yang pecah, sesuatu yang lebih sunyi, lebih dalam, kepercayaan. Ia mungkin bertanya dalam diam, dengan hati yang remuk, “Di mana aku salah mendidik mereka?”

Dedi Mulyadi, Gubernur Jabar mengaku prihatin atas kejadian ini. Ia menyampaikan, berdasarkan informasi dari dinas pendidikan setempat, orang tua siswa sudah dipanggil ke sekolah. Mereka menangis. Mereka menyesal. Sebuah penyesalan yang datang setelah segalanya terlambat, setelah luka itu terlanjur menyebar ke mana-mana tanpa bisa ditarik kembali.

Sekolah pun menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada para pelajar yang mengacungkan jari tengah kepada gurunya. Tapi Dedi menawarkan pendekatan lain. Bukan sekadar menjauhkan mereka dari sekolah, melainkan mendekatkan mereka pada realitas. Ia mengusulkan agar para siswa itu membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari, dan menggosok toilet selama satu, dua, bahkan tiga bulan, tergantung perkembangan mereka. Sebuah hukuman yang bukan hanya menghukum, tapi membentuk karakter, mengikis ego, memaksa mereka belajar menghargai sesuatu yang selama ini mereka anggap remeh.

“Prinsip dasar setiap hukuman harus bermanfaat bagi pembentukan karakter,” ujarnya. Karena bagaimanapun juga, mereka masih anak-anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan guru.

Di titik ini, kita semua seperti dipaksa bercermin. Ini bukan sekadar cerita tentang satu kelas di Purwakarta. Ini adalah luka kolektif. Ketika guru, sosok yang seharusnya dihormati, dipermalukan sedemikian rupa, maka yang runtuh bukan hanya martabat individu, tapi fondasi pendidikan itu sendiri. Sebuah kesedihan yang tidak bisa ditertawakan. Sebuah pilu yang membuat dada sesak. Sebuah kemarahan yang diam-diam tumbuh, menunggu jawaban yang entah datang dari mana.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist