Cerpen oleh Mustiar Ar
Malam itu hujan turun tipis membasahi jalanan yang lengang. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya kuning yang redup di atas aspal basah. Di sebuah tikungan sepi, seorang pria berdiri di balik semak-semak sambil mengamati kendaraan yang lewat.
Namanya Rian.
Sudah hampir tiga tahun ia menjalani hidup sebagai begal. Awalnya bukan karena keberanian, melainkan karena keadaan. Ia pernah bekerja sebagai buruh bangunan, namun proyek tempatnya bekerja berhenti. Berbulan-bulan ia menganggur. Tabungan habis. Ibunya sakit-sakitan. Utang menumpuk seperti awan hitam yang menggantung di atas kepalanya.
Suatu malam, seorang teman lama mengajaknya mencari uang dengan cara cepat.
“Kalau terus jujur, kau akan mati miskin,” kata temannya waktu itu.
Kalimat itu menancap dalam pikirannya.
Sejak saat itu, Rian masuk ke dunia yang gelap. Awalnya ia gemetar saat merampas motor orang. Namun lama-kelamaan hati nuraninya menjadi tumpul. Ia mulai menganggap korban hanya sebagai angka. Tidak peduli apakah mereka mahasiswa, buruh, atau kepala keluarga.
Yang penting uang.
• •
Malam itu, Rian dan dua rekannya kembali berburu mangsa.
Dari kejauhan terlihat seorang lelaki tua mengendarai sepeda motor tua. Tas hitam tergantung di pundaknya.
“Itu target kita,” bisik salah satu rekannya.
Mereka langsung memepet motor tersebut.
Lelaki tua itu terkejut.
“Apa salah saya, Nak?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Tidak banyak bicara! Serahkan motornya!”
• •
Lelaki itu turun perlahan. Wajahnya tampak letih. Pakaiannya sederhana. Hujan membuat tubuhnya menggigil.
“Tolong jangan ambil motor ini,” katanya lirih.
Rian mulai kesal.
“Cepat!”
Lelaki tua itu menunduk.
“Motor ini saya pakai untuk mengantar obat kepada istri saya yang sakit.”
Kalimat itu membuat Rian terdiam sesaat.
Namun rekannya mendorong lelaki itu hingga jatuh ke tanah.
Motor berhasil mereka bawa kabur.
Di tempat persembunyian, mereka membagi hasil kejahatan seperti biasa. Akan tetapi malam itu Rian tidak bisa tidur.
Wajah lelaki tua itu terus muncul dalam ingatannya.
Tolong jangan ambil motor ini.
Kata-kata itu bergema seperti suara azan di dalam dadanya.
Beberapa hari kemudian, Rian pulang ke rumah ibunya.
Rumah kayu sederhana itu tampak semakin rapuh dimakan usia.
Ibunya sedang duduk di kursi roda sambil membaca Al-Qur’an.
“Kau dari mana, Nak?” tanya sang ibu.
“Kerja, Mak.”
Ibunya tersenyum.
“Kerja yang halal itu berat, tapi berkah.”
Rian menundukkan kepala.
Ia tidak berani menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu.
Malam harinya, ibunya batuk cukup lama. Rian buru-buru mengambil air minum.
Saat itulah ia melihat sajadah tua milik ibunya.
Sajadah yang sudah koyak di beberapa bagian.
Ia ingat betul.
Sajadah itu dibeli almarhum ayahnya puluhan tahun lalu.
Tiba-tiba hatinya terasa sesak.
Ia sadar selama ini dirinya hidup dari uang haram sementara ibunya terus berdoa agar anaknya menjadi manusia yang baik.
Malam itu ia tidak tidur.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis.
Beberapa minggu kemudian, kejadian yang lebih menyakitkan terjadi.
Salah seorang rekannya tewas diamuk massa setelah gagal merampas motor.
Berita itu membuat Rian terguncang.
Ia menghadiri pemakaman secara diam-diam.
• •
Di sana ia melihat seorang perempuan muda menangis histeris.
Perempuan itu adalah istri rekannya.
Di sampingnya berdiri dua anak kecil yang belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
“Kenapa Ayah tidak bangun?” tanya salah seorang anak.
Tak ada yang mampu menjawab.
Rian merasa lututnya lemas.
Untuk pertama kalinya ia melihat akibat nyata dari jalan hidup yang dipilihnya.
Bukan hanya korban yang menderita.
Pelaku dan keluarganya pun ikut hancur.
Malam berikutnya, ia kembali bertemu dua rekannya.
“Ada target besar,” kata salah satu dari mereka.
“Kita bisa dapat puluhan juta.”
Rian menggeleng.
“Aku berhenti.”
Kedua rekannya tertawa.
“Mabuk kau?”
“Aku serius.”
Mereka mulai mengejek.
“Kau mau jadi ustaz sekarang?”
Rian berdiri.
“Aku capek hidup seperti ini.”
“Kalau keluar, kau bisa berbahaya buat kami.”
Suasana menjadi tegang.
Namun Rian memilih pergi.
Malam itu ia berjalan tanpa tujuan.
Hujan turun lagi seperti malam ketika ia merampas motor lelaki tua tersebut.
• •
Di sebuah masjid kecil, ia berhenti.
Azan Isya berkumandang.
Entah mengapa, langkahnya masuk ke dalam.
Ia duduk di saf paling belakang.
Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan.
Selesai salat, seorang imam tua mendekatinya.
“Kau terlihat membawa beban yang berat.”
Rian tidak menjawab.
Namun beberapa saat kemudian ia menceritakan semuanya.
Tentang dosa-dosanya.
Tentang motor yang dirampas.
Tentang ketakutan yang selalu menghantuinya.
Imam itu mendengarkan dengan tenang.
“Lautan yang paling kotor pun masih bisa dibersihkan oleh hujan yang terus turun,” katanya.
“Apakah Allah masih menerima orang seperti saya?”
Imam itu tersenyum.
“Selama napas masih ada, pintu tobat belum tertutup.”
Kalimat itu seperti cahaya yang menembus gelap di dalam dirinya.
Keesokan harinya, Rian melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia mencari alamat lelaki tua yang pernah menjadi korbannya.
Setelah beberapa hari bertanya ke sana kemari, akhirnya ia menemukan rumah tersebut.
Rumah kecil yang sangat sederhana.
Ketika lelaki tua itu membuka pintu, wajahnya tampak terkejut.
“Kau…”
Rian langsung berlutut.
“Maafkan saya, Pak.”
Ia menyerahkan sejumlah uang hasil kerja halal yang mulai ia kumpulkan sebagai buruh angkut di pasar.
Tidak banyak.
• •
Namun itu adalah uang yang bersih.
Lelaki tua itu terdiam cukup lama.
Air mata terlihat di sudut matanya.
“Bangunlah, Nak.”
“Saya tidak pantas dimaafkan.”
“Semua manusia pernah salah.”
Rian menangis semakin keras.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan beban besar yang selama ini dipikul mulai berkurang.
Waktu berlalu.
Rian kini bekerja sebagai buruh di pasar tradisional. Penghasilannya tidak besar. Tubuhnya sering pegal. Tangannya kapalan.
Namun setiap kali menerima upah, hatinya terasa jauh lebih tenang dibanding ketika membawa pulang hasil rampasan.
• •
Ibunya pun melihat perubahan itu.
Suatu sore, wanita tua itu tersenyum sambil memegang tangan anaknya.
“Matamu sekarang lebih teduh.”
Rian menunduk haru.
Ia tahu masa lalunya tidak akan pernah hilang.
Namun ia juga percaya bahwa manusia tidak ditentukan oleh seberapa jauh ia tersesat, melainkan oleh keberanian untuk kembali ke jalan yang benar.
• •
Di luar rumah, matahari senja perlahan tenggelam.
Langit memancarkan warna keemasan yang indah.
Rian memandangnya dengan hati yang damai.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan, ia merasakan cahaya.
Cahaya itu bernama tobat.
Tamat
Diskusi