Yang Lupa Menjaga Harga Diri

Oleh Mustiar Ar
05 Juli 2026
4 menit baca
IMG_1966
Yang Lupa Menjaga Harga Diri

Oleh: Mustiar Ar

Hujan baru saja berhenti ketika Arga memarkir sepeda tuanya di depan balai desa. Jalanan masih basah. Bau tanah yang bercampur air hujan biasanya membuat dadanya lapang, tetapi sore itu yang tercium justru aroma cat baru dari sebuah gapura bertuliskan “Melayani dengan Hati.”

Arga tersenyum tipis.

Tulisan itu indah. Sayangnya, ia lebih sering membaca kenyataan daripada slogan.

Di serambi balai desa, beberapa orang sudah duduk menunggu pembagian bantuan. Seorang nenek memeluk map lusuh berisi fotokopi kartu identitas yang sudut-sudutnya mulai robek. Di sampingnya, seorang lelaki bertubuh kurus menggenggam nomor antrean sambil sesekali melirik jam dinding.

“Waktunya sudah lewat dua jam,” gumam lelaki itu.

“Kalau orang penting belum datang, waktu juga ikut menunggu,” jawab Arga pelan.

Beberapa orang tertawa kecil. Tawa yang tidak benar-benar lahir dari rasa lucu, melainkan dari kebiasaan menerima keadaan.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di halaman. Semua orang spontan berdiri.

Seorang pria berjas turun. Senyumnya lebar. Kamera ponsel langsung terangkat dari berbagai arah.

“Bapak datang!” seru seseorang.

Arga memperhatikan dari kejauhan.

Yang datang bukan orang paling rajin bekerja. Bukan pula orang yang paling sering mendengar keluhan warga. Namun setiap kali kamera menyala, ia selalu berada di barisan paling depan.

Acara dimulai.

Pidato demi pidato memenuhi ruangan.

Tentang kemajuan.

Tentang kesejahteraan.

Tentang kebanggaan.

Tentang harga diri bangsa.

Arga menunduk.

Di sudut ruangan, ia melihat nenek tadi masih memegang map lusuhnya. Tak seorang pun memintanya maju. Seolah-olah keberadaannya hanya pelengkap agar foto kegiatan tampak lebih menyentuh.

Usai acara, para tamu penting pulang membawa senyum yang sama seperti ketika datang.

Nenek itu mendekati meja panitia.

“Nak… nama saya tidak ada?”

Petugas membuka berkas sebentar.

“Tidak masuk.”

“Tapi bulan lalu katanya sudah lengkap.”

“Kalau tidak masuk, ya tidak masuk.”

Nenek itu mengangguk pelan. Tak marah. Tak membantah.

Ia hanya membalikkan badan.

Langkahnya jauh lebih berat daripada usianya.

Arga mengejarnya.

“Nek…”

Nenek itu tersenyum.

“Tak apa, Nak. Mungkin rezeki saya sedang tersesat.”

Kalimat itu menghantam dada Arga lebih keras daripada suara petir.

Malamnya, warung kopi di ujung jalan dipenuhi obrolan.

Seperti biasa.

Politik.

Janji.

Proyek.

Lalu saling menyalahkan.

“Aneh ya,” kata pemilik warung sambil menuang kopi.

“Apa?”

“Kita semua tahu apa yang salah. Tapi begitu bertemu orang yang salah, kita malah berebut bersalaman.”

Semua mendadak diam.

Tak ada yang ingin menjawab.

Karena jawaban itu terlalu dekat dengan wajah mereka sendiri.

Arga menyeruput kopinya.

Di dinding warung tergantung cermin kecil yang mulai kusam.

Ia memandangi pantulan wajahnya.

Lalu bertanya dalam hati, kapan terakhir kali manusia lebih suka bercermin daripada menunjuk?

Beberapa hari kemudian, kota kecil itu mengadakan perayaan besar.

Umbul-umbul berwarna-warni memenuhi jalan.

Panggung megah berdiri di alun-alun.

Musik diputar keras sejak pagi.

Semua tampak meriah.

Di belakang panggung, seorang petugas kebersihan menyapu sampah yang belum sempat dilihat siapa pun.

Tak ada yang memotretnya.

Tak ada yang memberi tepuk tangan.

Namun jalan tetap bersih karena tangannya.

Arga menghampirinya.

“Bapak tidak capek?”

Petugas itu tersenyum.

“Capek itu biasa. Yang berat kalau orang lupa menghargai pekerjaan yang membuat mereka nyaman.”

Jawaban sederhana itu kembali membuat Arga terdiam.

Hari itu ia menyadari sesuatu.

Harga diri ternyata tidak selalu berdiri di atas panggung.

Sering kali ia justru berjalan tanpa alas kaki di jalan-jalan yang sepi.

Seminggu kemudian, sebuah kabar menggemparkan kota.

Dana pembangunan yang selama ini dipuji-puji ternyata menyisakan banyak tanda tanya.

Orang-orang marah.

Media ramai.

Mereka yang dulu paling keras bertepuk tangan kini paling keras berteriak.

Arga hanya tersenyum getir.

“Kita mudah marah setelah semuanya terlambat.”

Seorang teman menatapnya.

“Kau tidak ikut berteriak?”

“Aku lebih takut kehilangan nurani daripada kehilangan suara.”

Suatu sore, Arga kembali bertemu nenek yang dulu gagal menerima bantuan.

Nenek itu sedang menjual pisang rebus di pinggir jalan.

Pembelinya tidak banyak.

Namun wajahnya tetap teduh.

“Nek, kenapa masih tersenyum?”

Nenek itu tertawa kecil.

“Kalau harga diri ikut dijual karena kecewa, nanti saya tinggal punya apa?”

Kalimat itu membuat langit senja terasa lebih sunyi.

Arga membeli semua dagangannya.

Bukan karena kasihan.

Melainkan karena hormat.

Malam itu, ia membuka buku tua yang sudah lama kosong.

Tangannya mulai menulis.

Bukan laporan.

Bukan puisi.

Bukan pidato.

Melainkan kisah tentang sebuah negeri yang perlahan lupa menjaga harga dirinya.

Tentang orang-orang yang mengira martabat bisa diganti dengan jabatan.

Tentang senyum yang disewa kamera.

Tentang tepuk tangan yang lebih nyaring daripada hati nurani.

Namun ia juga menulis tentang seorang nenek yang tetap tersenyum meski diperlakukan tidak adil.

Tentang petugas kebersihan yang bekerja tanpa menunggu pujian.

Tentang orang-orang kecil yang diam-diam menjaga kehormatan negeri ketika sebagian orang sibuk menjualnya.

Sebelum menutup bukunya, Arga menuliskan satu kalimat terakhir.

“Negeri ini belum benar-benar kehilangan harga diri. Yang hilang hanyalah keberanian sebagian manusia untuk menjaganya.”

Ia menutup buku itu perlahan.

Di luar jendela, angin malam meniup bendera yang berkibar di halaman.

Arga memandangnya lama.

Lalu berbisik pelan,

“Semoga suatu hari nanti, yang berkibar bukan hanya kainnya… tetapi juga martabat orang-orang yang hidup di bawahnya.”

Meulaboh,05 Juli 2026

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Mustiar Ar
Media Perempuan Kritis dan Cerdas

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W