Artikel · Potret Online

Bayang-Bayang Kekuasaan

Agustus 14, 2026
6 menit baca 5
IMG_2557
Foto / IlustrasiBayang-Bayang Kekuasaan
Disunting Oleh

SKEMA

(Sketsa Masyarakat)

Oleh Akmal Nasery Basral

1/

Ada singgasana yang dibangun dari kejujuran, ada singgasana yang perlahan menjelma jerat. Mengurung penghuninya sendiri dalam gemerlap yang ia kira kemuliaan bermartabat. 

Sejarawan Inggris Lord Acton pernah menorehkan kalimat yang kini bergema melintasi zaman. Terlalu sering diucapkan hingga nyaris kehilangan getarnya, namun tak pernah benar-benar tumpul taringnya: “ _Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely._”

Kekuasaan cenderung membusukkan jiwa, dan kekuasaan yang mutlak membusukkan hingga ke akar-akarnya.

Kalimat ini adalah cermin retak yang berada di tengah riuh rendah arus sejarah. Cermin tak pernah berdusta kepada siapa saja yang berani menatap pantulannya. Termasuk kita, yang mungkin sedang menggenggam kuasa sekecil apa pun tanpa menyadarinya.

Betapa banyak catatan sejarah yang menuliskan kisah serupa dengan tinta yang berbeda: kekuasaan yang mula-mula dipanggul dengan niat menegakkan keadilan, perlahan luruh menjadi belati yang balik mengoyak  pemegangnya sendiri.

2/

Fir’aun tidak terlahir sebagai orang jahat.  Ia manusia biasa yang menapaki anak tangga kekuasaan Mesir kuno satu demi satu. Namun begitu sampai di puncak kuasa, udara menjadi terlalu tipis untuk kerendahan hatinya. 

Di pucuk kekuasaan itulah lisan pongahnya berkata kepada kaumnya, “Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku?” (QS. Az-Zukhruf: 51). Nuraninya membatu. Mata batinnya membuta. 

Ia tak rela dikoreksi. Kalbunya mengingkari kesadaran bahwa dirinya hanyalah sebutir debu yang meminjam napas. Bukan tuhan yang berhak disembah.

Dunia menyimpan gaung pesan yang berulang seperti ombak menghantam karang. Louis XIV dari Prancis pernah mendesiskan kalimat yang arogan tak kepalang, “ _L’état, c’est moi_”— negara adalah aku. 

Kalimat itu bukan muncul dari niat jahat yang direncanakan sejak fajar, melainkan dari proses panjang pembiaran syahwat jabatan. 

Ketika kekuasaan yang tak ingin dikoreksi perlahan mengaburkan garis batas antara jabatan yang dipanggul dan jiwa yang memanggulnya. Sampai keduanya melebur, menyatu, menyisakan ilusi keabadian.

Ini bukan kisah tentang segelintir manusia jahat yang ditakdirkan busuk sejak lahir. Ini adalah kisah kita semua yang ketika menempati ketinggian jabatan tertentu, mendapati suara-suara kebenaran kian sayup.  Sementara bisikan pembenaran diri kian mengeras menjadi genderang. Mengiringi tsunami para penjilat yang bertubi-tubi tanpa henti. 

Namun di lorong sejarah peradaban, ada jejak kaki lain yang menempuh jalan berlainan. Bukan karena mereka sempurna tanpa cela, melainkan karena mereka memilih untuk terus gemetar dan waspada. Tak ingin terlelap dalam buai racun kekuasaan yang memabukkan. 

Umar bin Khattab _radhiyallahu ‘anhu_ umpamanya. Sosok yang ketegasannya menggetarkan benteng-benteng imperium besar pada zamannya itu memiliki hati yang senantiasa luluh di hadapan kebenaran. 

Dalam sebuah khutbah–bisa juga disebut pidato kenegaraan dalam kapasitasnya sebagai Khalifah–di masa _’am al-ramadah_ (tahun paceklik), ia berkata: “Sungguh aku telah diuji dengan kalian dan kalian telah diuji denganku. Aku tidak tahu apakah kemurkaan itu menimpaku tanpa kalian, atau menimpa kalian tanpa diriku, atau telah meliputi aku dan kalian semuanya. Maka marilah kita berdoa kepada Allah agar Dia memperbaiki hati kita…”

Di waktu lain, di tengah khutbahnya tentang pembatasan mahar perkawinan, seorang wanita biasa yang tekun mendengar tiba-tiba berdiri dan menginterupsi. 

Tanpa sungkan, wanita itu membacakan QS An Nisa ayat 20 untuk mengingatkan Umar Sang Amirul Mukminin (Pemimpin Orang-Orang Beriman). 

Reaksi Umar? Tidak ada sedikit pun rasa tersinggung. Sebagai Khalifah, Umar bisa menyuruh orang lain berhenti bicara. Namun ia tak lakukan itu. Al Faruq—julukan bagi Umar yang berarti “Orang yang Mampu Membedakan Hak dan Batil”—justru membiarkan wanita itu menyelesaikan kata-katanya sebelum menanggapi dengan hati lapang. “Perempuan ini benar. Umar yang keliru,” katanya legawa. 

Luar biasa. Umar bin Khattab, murid langsung dan sahabat utama Rasulullah Muhammad , menerima koreksi rakyat jelata yang disampaikan terbuka di tengah keramaian khalayak. Tak ada luapan ego. Tak ada unjuk kuasa seakan ia pemegang mutlak panji-panji kebenaran.  

Di malam-malam yang kelam, saat kota Madinah tertidur pulas, Umar menyusuri lorong-lorong sunyi. Bahunya memikul sendiri karung-karung gandum untuk perut warganya yang kelaparan. Anak-anak yang menangis akibat perut keroncongan. Umar begitu takut kepada Allah jika satu nyawa saja terabaikan di bawah naungan kepemimpinannya. Bantuan demi bantuan ia berikan dalam senyap. Tak ada pengumuman membahana telah memberikan derma. Tak ada _flexing_ dalam balutan kosmetika kata ‘bantuan kemanusiaan’. Tak ada publikasi penuh seremoni. 

3/

Mengapa kekuasaan begitu kerap mengacaukan kejernihan nurani? Ada tiga penyebabnya: kabut sanjungan, ilusi keabadian, dan penjara keangkuhan. 

Seperti halnya di puncak gunung yang sering berkabut, puncak kekuasaan pun memiliki kabutnya sendiri yang bisa menghalangi kejernihan pandangan. 

Di puncak kuasa, bisikan kejujuran kerap kali terhalang oleh riuh rendah puja-puji, jilat-menjilat yang bertambah kronis karena jabatan yang manis. Ketulusan terkikis akibat gendang telinga hanya terbiasa mendengar retorika dramatis.

Berada di titik kuasa bisa membentuk ilusi keabadian. Perasaan subjektif memiliki kemampuan absolut untuk mengatur dan menentukan jalan hidup orang lain. Merasa diri menjadi pusat dari segalanya.  Pemegang kekuasaan acap lupa bahwa sekuat apa pun genggaman, jemari yang fana akan melonggar saat ajal mendekat dan jiwa berada di gerbang sakaratul maut. Kekuasaan akan terlepas. Tak akan bisa dipertahankan dengan cara apa pun. 

Para penikmat kekuasaan menyangka mereka berada di atas singgasana kemuliaan nan anggun. Dalam realita, banyak yang tak menyadari mereka sesungguhnya justru terperangkap dalam penjara keangkuhan. Ketika jabatan tak lagi dipandang sebagai titipan melainkan hak milik yang tak bisa diutak-atik. Bahkan harus terus dipertahankan dengan segala cara yang mungkin. Termasuk merekayasa hukum dan peraturan. 

Peringatan tentang bahaya kekuasaan ini bukan ditujukan kepada sosok yang jauh. Bukan hanya kepada para pemimpin negara, penguasa negeri, pejabat tinggi, atau nama-nama besar yang bertebaran di lembar sejarah. 

Pesan ini ditujukan untuk siapa pun yang tengah memegang kendali kekuasaan:  seorang manajer atas timnya, seorang orang tua atas anaknya, seorang guru di depan kelasnya, seorang senior di hadapan juniornya, seorang ketua terhadap perkumpulannya, seorang pemimpin rumah ibadah atau organisasi sosial nirlaba. Pendeknya: kepada kita semua, diri yang mudah abai dan alpa. 

Efek negatif kekuasaan selalu bisa muncul pada setiap jiwa.  Gejalanya selalu sama: merasa paling benar sendiri, telinga yang mulai alergi terhadap koreksi, hati yang tersinggung karena melihat nasihat sebagai invasi privasi, atau emosi yang berkobar karena menilai koreksi sebagai bentuk intervensi. 

Kekuasaan, dalam bentuknya yang paling jujur, bukanlah hadiah untuk direguk sendirian di ruang megah dan steril. Bukan pula aib yang harus disimpan  rapat-rapat dalam bunker tersembunyi. 

Kekuasaan adalah selalu menyangkut ujian tekad hati dan wujud aksi dalam memperjuangkan keadilan dan pemihakan terhadap nilai-nilai dasar kemanusiaan di tengah gemerlap godaan duniawi yang menyilaukan. 

Semoga di setiap tangga jabatan yang kita tapaki, Allah Ta’ala senantiasa meletakkan cermin kejujuran di hadapan kita. Menghadirkan sahabat-sahabat sejati yang berani menegur kala kita lupa, serta menganugerahkan kelembutan jiwa agar kita selalu siap kembali menuju kesadaran hakiki bahwa tak ada kekuasaan manusia yang lestari. 

Sebab, bahkan para pemegang kekuasaanj terhebat di muka bumi pun tak lebih dari sekumpulan bayang-bayang belaka. Begitu gelap datang, bayang-bayang pun hilang. 

Jakarta, 14 Agustus 2026

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Akmal Nasery Basral adalah mantan redaktur film _Tempo_ (2004 – 2010) dan _Gatra_ (1994 – 1998), penulis 26 buku, termasuk novel _Nagabonar Jadi 2_ (2007) dan _Sang Pencerah_ (2010) Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional, penerima Anugerah Penulis Nasional SATUPENA 2021 kategori fiksi
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...