Potret

Oleh Muhammad Maskur
05 Juli 2026
8 menit baca
0399aa39-ef17-47ab-89f2-7d6be0702211
Potret

Oleh Muhammad Maskur 

Kantong plastik tebal berlogo swalayan Jakarta itu terasa berat di tentengan tangan kanan Danu. Di dalamnya ada kain batik sutra halus untuk Ibu, beberapa bungkus kopi premium kesukaan Bapak, dan sekotak cokelat impor untuk Ratih, adiknya. 

Tahun ini, Danu pulang tanpa beban. Dia baru saja naik jabatan, bonus akhir tahun cair penuh, dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun merantau, ia tidak perlu lagi bolak-balik memeriksa aplikasi Traveloka hanya demi memesan tiket kereta api.

Sepanjang perjalanan, Danu hanya menatap ke luar jendela kereta yang gelap. Pikirannya melayang pada kejadian tahun lalu. Waktu itu, ponselnya bergetar menjelang tengah malam. Suara Ratih di seberang telepon terdengar serak, menangis meminta Danu pulang karena Ibu sakit keras.

Namun, Danu yang saat itu sedang terpuruk justru dikuasai gengsi. Saldo rekeningnya kritis, dan ia terlalu malu jika harus pulang sebagai pecundang yang gagal di ibu kota. Ia takut pada tatapan kasihan tetangga, juga takut tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu biaya pengobatan Ibu.

“Tahun ini Mas belum bisa pulang, Ratih. Kerjaan lagi padat-padatnya, lagi pula uang Mas juga pas-pasan. Tolong sampaikan maaf ke Ibu, ya? Doakan Mas di sini,” bohong Danu malam itu. Padahal, ia hanya sedang meratapi nasib di kamar kosnya yang pengap dan sempit.

Ibu tidak pernah marah. Lewat pesan suara yang dikirim Ratih keesokan harinya, Ibu justru berbisik pelan, “Nggak apa-apa, Le. Yang penting kamu sehat di sana. Ibu selalu doakan biar rezekimu dicukupkan Gusti Allah. Jangan telat makan, ya.”

Dan subuh ini, doa itu mewujud nyata. Danu pulang membawa keberhasilan. Ia sudah membayangkan senyum Ibunya, pelukan hangat yang selalu berbau minyak kayu putih, serta omelan khasnya yang bakal menggerutu karena Danu terlalu banyak menghabiskan uang untuk oleh-oleh. Danu ingin membuktikan bahwa doa Ibunya telah dikabulkan.

Kereta tiba di stasiun tepat saat fajar menyingsing. Udara pagi yang menusuk kulit tidak mengurangi semangat Danu. Ia segera memesan taksi dan menuju rumah masa kecilnya.

“Mudik, Mas? Wah, bawaannya banyak sekali, pasti sudah sukses di perantauan,” ujar sopir taksi membuka obrolan.

Danu hanya tersenyum tipis. Ada rasa bangga yang pelan-pelan merayap di dadanya. “Alhamdulillah, Pak. Mau kasih kejutan buat orang rumah.”

Namun, begitu taksi memasuki gang menuju rumahnya, perasaan Danu mendadak berubah tidak enak. Jalanan kampung terasa terlalu sepi. Ketika mobil berhenti tepat di depan pagar besi yang catnya mulai mengelupas, Danu mengernyitkan dahi. Rumah itu mati. 

Pintu jati di beranda tertutup rapat, begitu pula seluruh gorden jendelanya.

Danu turun setelah membayar ongkos. Langkahnya terasa ragu saat melewati halaman. “Bu? Bapak? Ratih?” panggilnya pelan.

Hening. Sama sekali tidak ada sahutan. Aroma masakan pagi Ibu atau bau kopi Bapak yang biasanya memenuhi teras sama sekali tidak tercium. Yang tersisa hanya bau tanah basah sisa hujan semalam dan tumpukan daun kering yang berserakan di sudut halaman.

Pintu rumah tiba-tiba berderit terbuka. Bukan Ibu yang keluar, melainkan Ratih. Wajah adiknya pucat, matanya sembab, dan rambutnya kusut. Ratih menatap Danu dengan pandangan kosong, seolah kedatangan kakaknya bukanlah sesuatu yang harus dirayakan.

“Mas Danu baru sampai?” tanya Ratih, suaranya parau hampir hilang.

“Ratih, Ibu mana? Bapak mana? Kok sepi banget? Ini Mas bawa oleh-oleh banyak, kain sutra yang dulu Ibu pengen banget juga ada…”

“Mas…” Ratih memotong kalimat Danu. Air matanya langsung luruh begitu saja membasahi pipi. “Ibu sudah nggak ada. Kemarin malam… Ibu sudah dikubur.”

Napas Danu tercekat seketika. Kantong belanjaan di tangan kanannya terlepas, jatuh menghantam lantai semen teras dengan suara berdebuk yang getir. Kain batik sutra mahal itu kini tergeletak begitu saja di lantai.

“Kamu jangan bercanda, Ratih! Kemarin lusa Mas telepon, katanya Ibu cuma pusing biasa!” Danu mencengkeram kedua bahu adiknya, menuntut kepastian.

“Ibu yang melarangku cerita, Mas,” isak Ratih di sela tangisnya. “Ibu tahu Mas Danu lagi senang karena dapat promosi. 

Ibu nggak mau membebani kamu lagi seperti tahun lalu. Ibu bilang, Ibu ingin Mas pulang dengan senyuman, bukan tangisan. Tapi kemarin malam kondisi Ibu drop total. Ibu pergi sebelum taksi medis sempat datang…”

Danu terduduk lemas di lantai teras. Pikirannya mendadak kosong. Uang, pangkat, dan semua barang di dalam tasnya mendadak berubah menjadi benda tak berguna yang justru terasa seperti sedang mengejeknya.

Siang itu, Danu melangkah dengan kaki yang terasa begitu berat. Ia berjalan di belakang Bapak dan Ratih menuju tempat yang sama sekali belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Langkah kaki mereka berhenti bukan di depan rumah beratap genteng, melainkan di sebuah gundukan tanah merah yang masih basah. Di atasnya berserakan bunga mawar dan melati yang mulai layu, menyebarkan aroma wangi yang terasa menyiksa dada.

Danu kini bertamu ke rumah baru Ibunya.

Di sini tidak ada pelukan hangat. Tidak ada wajah teduh yang menyambutnya di ambang pintu setelah perjalanan jauh. Yang ada hanyalah sepotong papan nisan kayu yang tertancap di bagian kepala. Di sana, nama Ibunya terukir jelas.

Danu bersimpuh di atas tanah makam yang dingin. Ia mengusap papan nisan itu dengan tangan yang gemetar.

“Ibu… Danu pulang,” bisiknya lirih. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah, membasahi tanah gembur di bawahnya. “Danu sudah punya uang sekarang, Bu. Danu sudah bisa belikan Ibu apa saja. Tapi kenapa Ibu malah pindah ke sini? Kenapa Ibu nggak nunggu Danu sebentar saja?”

Keheningan makam menjadi satu-satunya jawaban. Angin bertiup pelan, menggoyahkan daun-daun kamboja di sekitar mereka. Danu mendadak rindu omelan cerewet Ibunya saat melihat kamarnya berantakan. Ia rindu aroma minyak angin yang selalu menempel di daster Ibunya. 

Namun sekarang, jarak di antara mereka sudah terbentang terlalu jauh, jarak yang tidak akan pernah bisa ditempuh oleh kereta tercepat sekalipun.

Danu memeluk papan nisan itu erat-erat. Rasa sesal mulai menggerogoti dadanya hingga terasa sesak.

Bapak yang berdiri di belakangnya perlahan meletakkan tangan di bahu Danu. “Sudah, Le. Ikhlaskan Ibumu. Kasihan kalau kamu tangisi terus,” bisik Bapak, suaranya sendiri bergetar menahan perih.

Ikhlas. Satu kata yang mudah diucapkan, tapi terasa mustahil bagi Danu saat ini. Dalam hal merelakan, Danu sadar dirinya masih sangat amatir. Gengsinya di masa lalu kini berbalik menjadi penyesalan yang menusuk-nusuk dadanya. Manusia sombong ini sekarang benar-benar kehilangan pegangan hidupnya.

Sore harinya, rumah masa kecil Danu mulai didatangi kerabat dan tetangga untuk pengajian hari pertama. Di sudut ruang tamu, sebuah kamera DSLR milik sepupu Danu tergeletak di atas meja. Kamera itu sengaja dibawa karena awalnya mereka mengira kedatangan Danu akan menjadi momen berkumpulnya keluarga yang bahagia.

Bapak tiba-tiba duduk di sofa tua, menatap dinding ruang tamu yang dipenuhi bingkai foto lama. Ada foto wisuda Danu, foto pernikahan kerabat, dan foto keluarga beberapa tahun lalu yang warnanya sudah mulai pudar.

“Danu, Ratih… kemari,” panggil Bapak lirih. “Ayo kita foto bersama. Selagi semua orang lagi berkumpul di sini.”

Danu melangkah mendekat dengan hati yang berat. Sejak kecil, Danu sebenarnya paling malas jika diajak berfoto karena selalu merasa canggung di depan kamera. Namun sore ini, rasa enggan itu berubah menjadi kengerian yang asing.

Danu berdiri di posisi biasanya, di sebelah kanan sofa tempat Bapak duduk. Ratih berdiri di sisi kiri. Mereka bertiga menghadap ke arah kamera yang sudah terpasang di atas tripod.

Rasanya aneh. Sangat asing dan menyakitkan.

Di tengah-tengah mereka, di atas sofa kayu itu, ada satu ruang kosong yang biasanya diisi oleh Ibu dengan daster terbaik dan senyuman paling lebarnya. Barisan mereka tidak lagi sama. Struktur keluarga mereka telah patah, menyisakan celah yang tidak akan pernah bisa ditutupi oleh siapa pun.

“Satu… dua… tiga…” sepupunya memberi aba-aba dari balik lensa.

“Cekrek.”

Lampu kilat menyala, merekam potret tiga manusia yang dipaksa tersenyum dengan mata merah berkaca-kaca. Foto itu seolah menjadi penegasan paling nyata bahwa Ibu memang sudah benar-benar pergi meninggalkan mereka.

Malam harinya, setelah para pelayat pulang dan rumah kembali sepi, Danu duduk sendirian di kamar lamanya. Penyesalan itu datang bertubi-tubi di kegelapan malam.

Ia teringat betapa seringnya ia menunda menelepon Ibu hanya karena alasan sibuk dengan urusan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Ia menyesal tidak ada di samping wanita itu di saat-saat terakhirnya. 

Harusnya ia pulang lebih cepat. Harusnya ia melupakan pekerjaan dan gengsinya demi Ibu. Harusnya, sebelum napas itu benar-benar habis, ia bisa membisikkan kata-kata terakhir ke telinga Ibunya : ucapan terima kasih, permintaan maaf, dan kalimat sayang yang selama ini jarang diucapkannya hanya karena ego seorang anak laki-laki.

Namun, waktu tidak menyediakan jalan untuk kembali.

Danu meraba kain batik sutra di dalam kantong belanjaan yang kini tergeletak di pojok kamar. Air matanya kembali menetes di atas kain tak bernyawa itu. Di bawah langit malam yang sunyi, Danu akhirnya harus menerima kenyataan pahit, bahwa kesuksesan yang ia kejar setengah mati terasa hambar, karena orang pertama yang ingin ia impikan untuk bahagia kini telah beristirahat selamanya di rumah barunya yang tenang.

Jadi, jangan pernah menunda untuk berbakti, meminta maaf, dan menyatakan rasa sayang kepada orang tua. Pulanglah selagi mereka masih bisa menyambutmu, karena sebaik-baiknya tempat kembali adalah pelukan hangat mereka, bukan sebuah papan nisan yang dingin.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Muhammad Maskur
Media Perempuan Kritis dan Cerdas

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W