Oleh: Syarifudin Brutu
Di ketiak peta Aceh, tepat di mana rawa-rawa Singkil menguapkan aroma lumpur dan air mata, berdirilah sebuah kerajaan tanpa mahkota bernama PT. Inti Sawit Sejahtera. Di sini, matahari tidak terbit dari ufuk timur, melainkan dari sela-sela pelepah sawit yang berbaris angkuh seperti nisan raksasa bagi masa depan penduduknya. Bagi Mamat, menjadi warga di sini adalah sebuah kutukan yang dilegalisasi oleh negara.
Mamat adalah potret kemiskinan yang paripurna—jenis kemiskinan yang saking akutnya, sampai-sampai ia merasa perlu meminta maaf karena telah lahir dan menghirup oksigen yang sebenarnya sudah dipesan oleh perusahaan untuk proses fotosintesis kelapa sawit mereka. Di negeri ini, miskin adalah aib yang lebih menjijikkan daripada korupsi. Jika kau miskin dan berani bermimpi ingin kaya, kau akan dicap sebagai pengacau stabilitas ekonomi. Jika kau miskin dan berani bersuara meminta hak, kau dianggap sebagai hama yang perlu disemprot pestisida.
Sudah dua dekade PT itu berkuasa. Pemiliknya bukan orang lokal, bukan orang Aceh, bahkan bukan orang yang tahu bagaimana rasanya gatal digigit nyamuk rawa Singkil. Sang Tuan Besar bertahta di sebuah gedung kaca setinggi langit di Singapura. Di sana, di antara aroma kopi mahal dan udara AC yang steril, sang pemilik memantau Singkil hanya lewat grafik digital di layar tabletnya. Bagi sang Tuan di Singapura, Singkil bukanlah sebuah daerah dengan sejarah dan peradaban, melainkan hanya koordinat HGU yang harus diperas habis yield-nya demi menjaga grafik saham tetap hijau di bursa efek.
Setiap hari, rumah Mamat dikepung oleh “kabut kehormatan”—debu jalanan yang diterbangkan oleh puluhan truk pengangkut CPO yang tak pernah berhenti melintas. Truk-truk itu mengangkut emas cair menuju pelabuhan, yang nantinya akan dikirim ke luar negeri untuk dijadikan kosmetik atau minyak goreng premium bagi orang-orang di negara maju. Sementara Mamat? Ia hanya mendapatkan residu karbonnya. Debu itu hinggap di jemuran, masuk ke lubang hidung, dan perlahan menyemen hati rakyat agar tidak lagi bisa merasakan kemarahan. Inilah penjajahan gaya baru; sebuah okupasi yang memiliki izin resmi, lengkap dengan stempel basah dan tanda tangan pejabat tinggi yang mungkin sedang bermain golf di Jakarta bersama utusan dari Singapura itu.
Tanah adat yang dulu rimbun dengan pohon-pohon peninggalan leluhur, kini telah botak dan seragam. Monokultur sawit adalah wajah dari fasisme botani: tidak boleh ada tanaman lain yang tumbuh kecuali yang menghasilkan dollar bagi perusahaan. Masyarakat diperbudak di tanahnya sendiri, digaji dengan angka yang hanya cukup untuk menunda kematian hingga hari gajian berikutnya, dan dilarang keras untuk “brisik”. Di sini, sujud kepada tuan pemilik kebun adalah syarat mutlak agar napasmu tidak diputus secara administratif.
Namun, perut yang keroncongan tidak mengerti soal regulasi investasi asing.
Sore itu, di blok 17 yang pengap, Mamat tertangkap. Ia seperti tikus kecil yang terhimpit di bawah kaki gajah. Di pundaknya, tiga karung brondolan sawit—buah-buah yang rontok dan dianggap sampah oleh manajemen perusahaan—terasa seperti beban seluruh dunia.
”Berhenti di situ, Maling!” Teriak seorang satpam berbalut seragam cokelat yang kaku.
Mamat diseret ke sebuah pos jaga yang berdiri angkuh di gerbang konsesi. Satpam itu, yang namanya tertera “Udin” di dadanya, menatap Mamat dengan kebencian yang dibuat-buat. Udin memukul meja, suaranya menggelegar mengalahkan suara mesin pabrik di kejauhan.
”Kau tahu berapa harga tiga karung ini di mata hukum, Mat? Ini pencurian properti strategis milik korporasi internasional! Kau bisa membusuk di penjara!” bentak Udin.
Mamat menunduk. Ia menatap kakinya yang pecah-pecah karena terlalu sering terendam air rawa. “Saya hanya mengambil sisa yang busuk di tanah, Bang. Tanah yang dulu kebun kakek saya sebelum orang Singapura itu membelinya lewat tangan-tangan penguasa di sini.”
”Kakekmu sudah mati, dan tanah ini sudah punya sertifikat atas nama Tuan besar! Jangan bawa-bawa sejarah di sini, sejarah tidak laku di pasar modal!” Udin mendesis.
Namun, saat suasana memuncak, Udin tiba-tiba merendahkan suaranya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada CCTV atau mandor yang lewat. Wajah garangnya luruh, digantikan oleh raut wajah penuh siasat yang busuk.
”Begini, Mat. Aku ini juga manusia. Aku malas bikin laporan panjang-panjang ke polisi. Tapi kau tahu sendiri, penjara itu dingin,” bisik Udin. “Tinggalkan dua karung brondolan itu di sudut pos ini. Anggap saja sebagai ‘biaya administrasi’ pembebasanmu. Satu karung sisanya, silakan kau bawa lari sebelum aku berubah pikiran.”
Mamat terbelalak. Kata-kata itu menghantam ulu hatinya lebih keras daripada bogem mentah. Ia menatap Udin lekat-lekat. Udin adalah putra asli suku Boang yang tanah keluarganya dulu juga “ditelan” oleh PT ini. Kini, Udin memakai seragam gagah untuk menjaga harta milik orang Singapura, dan ironisnya, ia harus memeras sesama warga miskin di tanahnya sendiri hanya untuk bisa menyambung hidup.
Inilah puncak dari komedi yang dimainkan oleh imperialisme modern: Perusahaan di Negara Asing cukup duduk manis menerima dividen, sementara di lapangan, sesama orang yang terpinggirkan dipaksa saling cakar dan saling peras demi sisa-sisa brondolan yang jatuh ke tanah.
Mamat tertawa. Sebuah tawa kering yang lebih mirip suara gagak di tengah hutan sawit yang sunyi. Ia menghempaskan dua karung itu ke lantai pos dengan kasar.
”Silakan, Bang Udin. Ambil semuanya juga boleh. Ternyata seragam dari orang Negara Asing itu tidak membuat perutmu kenyang ya?” ujar Mamat dengan diksi yang nyelekit. “Kita berdua ini sama, Bang. Sama-sama kuli. Bedanya, aku maling yang jujur karena aku lapar. Sedangkan Abang adalah maling yang berseragam karena Abang takut lapar.”
Udin terdiam seribu bahasa. Ia hanya bisa menatap punggung Mamat yang menjauh, memanggul satu karung sisa harapan di tengah debu yang kembali mengepul dari truk CPO.
Di tanah Singkil yang kaya, kemiskinan telah bermutasi menjadi sebuah kejahatan. Kekayaan mengalir deras ke Negeri Singa, sementara di sini, masyarakatnya dipaksa merangkak di atas tanah leluhur mereka sendiri, saling berebut remah-remah emas hijau yang jatuh dari meja makan para pemodal asing.









Diskusi