Oleh Muhammad Maskur
Hujan turun sejak sore. Atap rumah kecil kami bocor di beberapa bagian, membuat ibu harus memindahkan ember kesana-sini sebelum air memenuhi lantai. Aku duduk di meja makan yang sudah kusam sambil memandangi punggung ibu yang mulai membungkuk dimakan usia dan lelah.
Tangannya kasar. Tidak seperti tangan ibu-ibu lain yang sering kulihat mengantar anaknya ke sekolah dengan pakaian rapi dan wajah segar. Tangan ibu penuh luka kecil dan kulit menghitam karena terlalu sering terkena panas matahari.
“Ari, makan dulu,” katanya pelan.
Aku mengangguk, walau sebenarnya tidak lapar. Di meja hanya ada nasi, telur dadar tipis, dan sambal terasi. Ibu selalu bilang ia sudah makan di luar, tapi aku tahu itu bohong. Ia hanya ingin aku dan adikku bisa makan lebih banyak.
Sejak kecil, aku terbiasa hidup dengan kebohongan-kebohongan kecil dari ibu.
“Aku sudah makan.”
“Ibu tidak capek.”
“Uangnya masih ada.”
“Ibu baik-baik saja.”
Padahal kenyataannya tidak pernah begitu.
Ayah pergi saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku bahkan tidak terlalu ingat wajahnya. Yang kuingat hanya suara pintu dibanting keras malam itu, lalu ibu menangis sampai pagi sambil memelukku dan adikku yang masih bayi.
Sejak hari itu, rumah kami berubah.
Ibu berubah.
Ia menjadi seseorang yang tidak pernah punya waktu untuk sakit.
Pagi hari ia berjualan nasi di depan sekolah dasar. Siang bekerja mencuci pakaian tetangga. Malamnya kadang membuat kue titipan warung sampai larut. Tidurnya hanya beberapa jam, tapi setiap subuh ia selalu bangun paling awal.
Aku sering terbangun tengah malam dan melihat ibu masih duduk di ruang tamu yang sempit sambil menjahit baju orang.
Matanya merah.
Punggungnya bersandar ke dinding.
Kadang ia tertidur sambil memegang jarum.
Aku pernah bertanya kenapa ibu bekerja sebanyak itu.
Ia hanya tersenyum kecil.
“Karena kalian harus sekolah.”
Sesederhana itu jawabannya.
Waktu SMP, aku mulai sadar kalau hidup kami berbeda dari keluarga lain.
Teman-temanku sering bercerita tentang ayah mereka.
“Ayahku janji mau beliin motor kalau naik kelas.”
“Kemarin ayah ngajak liburan.”
“Ayahku baru pulang dari luar kota.”
Aku hanya diam mendengarkan.
Bukan karena iri.
Aku cuma tidak tahu harus ikut bercerita apa.
Sebab di rumahku, tidak ada ayah yang pulang kerja membawa oleh-oleh.
Yang ada hanya ibu yang pulang malam dengan wajah lelah dan kaki bengkak.
Suatu hari, guru meminta kami menulis karangan tentang pahlawan dalam hidup.
Teman-temanku menulis tentang ayah mereka.
Tentang laki-laki hebat yang bekerja keras demi keluarga.
Aku menulis tentang ibu.
Tentang perempuan yang menjadi ayah sekaligus ibu dalam hidupku.
Saat itu aku menangis diam-diam ketika menulis kalimatterakhir.
Ibuku tidak pernah memakai jas atau sepatu mahal. Tapi setiap hari, ia melawan hidup sendirian demi kami.
Aku tidak pernah menunjukkan tulisan itu pada ibu.
Aku malu kalau sampai menangis di depannya.
Namun semakin besar, aku semakin mengerti satu hal.
Orang yang paling kuat bukanlah orang yang tidak pernah menangis.
Melainkan orang yang tetap bangun dan bekerja meski hatinya sudah hancur berkali-kali.
Dan itu adalah ibu.
Ketika SMA, keadaan semakin sulit.
Biaya sekolahku dan adik semakin banyak. Harga kebutuhan naik. Sedangkan tenaga ibu semakin berkurang.
Rambutnya mulai dipenuhi uban.
Batuknya semakin sering.
Kadang aku melihat ibu memegangi pinggangnya saat berdiri terlalu lama.
Tapi lagi-lagi, ia selalu bilang baik-baik saja.
Suatu malam aku mendengar ibu menangis di dapur.
Pelan sekali.
Seperti orang yang takut tangisnya terdengar.
Aku mengintip dari balik pintu.
Ibu duduk sendirian sambil menghitung uang receh di atas meja.
Uangnya tidak banyak.
Bahkan mungkin tidak cukup untuk membayar uang sekolahku yang jatuh tempo besok.
Dadaku terasa sesak.
Untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasa menjadi anak yang gagal.
Karena di usia segitu, aku belum bisa membantu apa-apa selain terus meminta biaya hidup.
Besok paginya aku bilang ingin berhenti sekolah.
Ibu langsung menatapku tajam.
“Jangan pernah ngomong begitu lagi.”
“Tapi Bu…”
“Selama ibu masih hidup, kamu sekolah.”
Matanya berkaca-kaca.
“Ari… hidup ibu sudah capek. Jangan sampai hidup kamu juga hancur karena keadaan.”
Aku diam.
Hari itu aku melihat sesuatu di mata ibu.
Ketakutan.
Ia takut anak-anaknya bernasib sama seperti dirinya.
Sejak saat itu aku mulai bekerja sambilan sepulang sekolah. Kadang menjadi pelayan warung, kadang membantu mengangkat barang di pasar.
Aku tahu ibu tidak suka.
Tapi setidaknya aku bisa membeli beras tanpa harus melihati ibu menangis lagi di dapur.
Malam-malam kami sering dihabiskan bersama di ruang tamu kecil.
Adikku belajar.
Aku mengerjakan tugas.
Dan ibu menjahit pakaian sambil sesekali tertidur karena terlalu lelah.
Rumah kami memang sempit.
Namun anehnya, di situlah aku merasa paling aman.
Karena selama ibu masih ada, rumah itu terasa utuh.
Suatu sore hujan turun deras sekali.
Ibu belum pulang sampai magrib.
Aku mulai khawatir.
Biasanya jam segitu ibu sudah di rumah.
Aku mencoba menelepon, tapi tidak diangkat.
Entah kenapa perasaanku tidak enak.
Beberapa menit kemudian seorang tetangga datang terburu-buru.
“Ari! Ibumu jatuh di pasar!”
Dunia rasanya berhenti saat itu juga.
Aku berlari di tengah hujan menuju klinik kecil dekat pasar.
Di sana aku melihat ibu terbaring lemah dengan wajah pucat.
Tangannya dipasang infus.
Untuk pertama kali dalam hidupku, aku melihat ibu terlihat sangat rapuh.
Dokter bilang ibu kelelahan.
Tubuhnya sudah terlalu dipaksa bekerja.
Aku duduk di samping ranjang sambil menahan tangis.
Selama ini aku lupa.
Aku terlalu terbiasa melihat ibu kuat sampai lupa bahwa ia juga manusia.
Ia juga bisa sakit.
Ia juga bisa hancur.
Malam itu, saat ibu terbangun, ia malah bertanya hal yang membuat dadaku semakin sesak.
“Kalian sudah makan?”
Bahkan dalam keadaan seperti itu, yang dipikirkannya tetap kami.
Aku menggenggam tangan ibu erat-erat.
Untuk pertama kalinya sejak kecil, aku menangis di depannya.
“Bu… jangan kerja terlalu keras lagi.”
Ibu tersenyum kecil sambil mengusap kepalaku.
“Kalau ibu berhenti, nanti kalian makan apa?”
Kalimat itu menghancurkanku.
Aku sadar selama ini ibu tidak pernah benar-benar hidup untuk dirinya sendiri.
Seluruh hidupnya habis demi anak-anaknya.
Mimpinya,Tenaganya,Waktunya.
Semua diberikan untuk kami.
Dan lucunya, ia tidak pernah meminta balasan apa pun.
Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk bekerja.
Aku ingin ibu berhenti bekerja terlalu keras.
Awalnya ibu menolak ketika kuberikan sebagian gajiku.
Katanya aku harus menabung untuk masa depan.
Namun aku memaksa.
Karena sekarang giliranku.
Giliran aku menjaga orang yang selama ini mati-matian menjagaku.
Hari demi hari berlalu.
Aku mulai melihat ibu lebih sering tersenyum.
Walau wajahnya tetap menyimpan lelah yang tidak bisa hilang begitu saja.
Kadang aku pulang malam dan mendapati ibu tertidur di sofa sambil menungguku.
Persis seperti dulu.
Bedanya sekarang aku yang menyelimuti tubuhnya pelan-pelan.
Aku yang memastikan ia makan tepat waktu.
Aku yang memarahinya kalau terlalu banyak bekerja.
Lucu ya.
Dulu ibu menjadi ayah untuk kami.
Sekarang aku hanya ingin menjadi sandaran kecil untuknya.
Suatu malam listrik mati di seluruh kampung.
Aku dan ibu duduk di teras rumah ditemani cahaya lilin.
Angin malam berembus pelan.
Adikku sudah tidur lebih dulu.
Tiba-tiba ibu berkata pelan, “Maaf ya, ibu belum bisa jadi orang tua yang sempurna.”
Aku langsung menoleh.
“Kenapa ibu ngomong begitu?”
Ibu tersenyum tipis.
“Kalian hidup susah karena ibu.”
Dadaku langsung terasa penuh.
Seumur hidup, baru kali itu aku sadar ibu masih menyimpan rasa bersalah.
Padahal orang yang paling banyak terluka justru dirinya sendiri.
Aku menggenggam tangan ibu.
Hangat. Kasar. Penuh bekas perjuangan.
“Bu… kalau aku lahir lagi seribu kali pun, aku tetap mau jadi anak ibu.”
Mata ibu langsung berkaca-kaca.
Aku melanjutkan dengan suara bergetar.
“Orang-orang mungkin punya ayah hebat. Tapi aku punya ibu yang bisa jadi segalanya.”
Tangis ibu akhirnya pecah malam itu.
Dan untuk pertama kalinya, aku memeluk perempuan yang selama ini terlalu sibuk menguatkan semua orang sampai lupa cara menguatkan dirinya sendiri.
Di pelukan itu aku sadar satu hal.
Tidak semua pahlawan datang dengan seragam atau kekuatan besar.
Kadang, pahlawan itu hanya seorang ibu yang setiap hari bangun pagi, menyembunyikan lelahnya, lalu kembali berjuang agar anak-anaknya tetap bisa hidup.
Dan pahlawan terhebat dalam hidupku…adalah ibuku.





Diskusi