Meugang Sekian

Oleh Redaksi
26 Mei 2026
6 menit baca
IMG_1310
Meugang Sekian

oleh, Syamsiah Ismail

(Pengawas TK/SD DISDIKBUD Lhokseumawe, Author, Traveler)

Meugang itu datang lagi. Bagi rakyat Aceh, makan daging waktu meugang bukan untuk memenuhi gizi, tetapi menyelamatkan tradisi sejak keurajeun Sultan Iskandar Muda. Sejauh mana orang Aceh pergi, jika meugang tiba ingin segera pulang berkumpul. 

Punya sejarah selera yang ingin diulang pada momen meugang. Terutama masakan khas gampong bikinan ibunya. Kebersamaan utuh dalam keluarga, jauh lebih bermakna.

Miyah salah seorang penikmat tradisi, seringkali membuat korneanya basah. Betapa tidak? Ketika masa kecil, hilang perhatian dan kasih sayang seorang bapak. Justru ia belum pernah tidak menikmati masakan uminya di hari meugang. 

Miyah masih ingat ketika tiga hari sebelum meugang.Uminya yang sudah bongkok, sibuk menyiapkan bumbu dapur. Ia mengemban tugas mengupas dan mengukur kelapa dengan alat kukur tradisional; glungku. Tangan kecilnya dengan lihai bekerja. Kadang efek corobohnya, tangan tergores dan berdarah oleh mata kukur. Jika kerja selesai, Umi memberi ketumbar dalam kelapa dan menjemurnya di bawah panas matahari. 

Ketika malam meugang, Umi dengan sabar menggiling semua bambu di batu giling. Belum dikenal  blender. Paling lama menggiling kelapa gongseng yang disebut u- seuneuleu

Terbangun tengah malam. Miyah menjumpai Uminya dengan mata mengantuk, masih terus memaksa diri menggiling rempah.

” Mi, untuk apa Umi giling bumbu sampe larut malam? Bapak tak tentu bawa pulang daging meugang, ” celoteh kecil Miyah. 

” Entahlah,  Nak. Mungkin besok ada yang teringat pada kita. Dibawanya lemak ke rumah, biarpun tanpa daging,”ujarnya.

Miyah gadis kecil tak begitu paham hati seorang ibu. Saya dan Abang tak minta daging meugang.Untuk apa Umi mengharap ada yang bawa pulang?” 

Miyah masih keras.Tangan ibunya yang telah keriput terus menggiling. 

Di bawah temaram lampu teplok Miyah menangkap raut kesedihan di muka ibunya. Ia duduk  memeluk lutut mengamati. Miyah minta bantu giling, tetapi Umi menolak. Tangan kecilnya belum kuat menghaluskan bumbu. 

Sesekali tangan kecil menepuk nyamuk yang menghisap darah di betis.

“Mengapa harus ada meugang dalam hidup kami? Mengapa meugang wajib beli daging harganya sangat mahal?” pertanyaan bertubi-tubi muncul dalam hatinya.

Tanpa daging meugang menjadi satu kesedihan buat keluarga miskin sepertinya. Miyah dan abangnya pun tidak boleh keluar rumah, walau ke rumah nenek jarak hanya beberapa langkah. 

Kedua saudara itu memahami aturan ibunya. Betahkan diri seharian di rumah. Bermain som-som mie di bawah rumah panggung. Cukup bermain di serambi depan rumah. Berangin-anginan sambil membaca majalah kesukaan Majalah Anak Cerdas. Pohon angsana di halaman rumah menghembuskan angin segar. Hingga mereka ketiduran menunggu hari meugang usai.

Aroma masakan khas Umi asam keueung membangunkan Miyah. Gadis kecil itu kegirangan. Segera membangunkan abangnya yang pulas di lantai bambu. 

Daging Bapak bawa pulang ya, Mi?” tanya Miyah nyelidik. 

“Dari abang Matang!” jawab Umi singkat. Tangannya mengaduk kuah dengan centong tempurung di belanga tanah. Bang Maun anak sulung umi tinggal jauh dengan mereka. Diam-diam membawa pulang daging meugang

 Bapak tidak mengirim daging meugang?” gadis kecil ceriwis. Masih saja bertanya. Sudahlah! Jangan tanya yang tidak ada. Makan saja yang sudah masak. Bang Maun bawa pulang,” ibunya sedikit emosi. Kedua bocah menikmati masakan terlezat bikinan ibunya.

Jelang waktu asar. Miyah dan ibunya duduk di bawah pohon angsana. Laki-laki tua berkemeja putih lengan pendek. Bersarung tepas yang sudah pudar coraknya. Berjalan tanpa alas kaki melintas di depan gubuk mereka. Dia tetangga di seberang bukit. Anaknya sekelas dengan Miyah. 

Miyah sampai hafal. Jika lelaki itu melintas, pertanda waktu azan asar akan tiba. Lelaki itu seperti jarum jam penentu waktu Asar. Usai salat, umi Miyah mengisi waktu luang dengan mengayam tikar.Tidak suka bertandang ke rumah tetangga. Bahkan ke rumah nenek kalau tak ada hal penting. 

Ada saja yang dilakukan perempuan itu. Menambal kain koyak dengan jarum tangan atau menjahit kain perca yang ia bawa dari pasar.

Lelaki seberang bukit melintasi pulang.Tangannya menenteng ikan tongkol besar. Gadis kecil itu menatap hingga ia hilang menuruni bukit di belakang rumahnya. 

 Mi, Bapak kemana tak pulang?” pikiran kecilku tak bisa diam.

Berladang ke Seumirah,” jawaban singkat tanpa menoleh. Jawaban yang selalu ia dengar tiap kali bertanya. “Jika berladang pasti saatnya ada uang, tetapi…” dia terdiam. 

Mengapa Bapak tak bawa daging meugang? Kan ada uang hasil ladang?” pikiran kecilnya terlalu jauh menerawang. Perempuan yang jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Hidup sarat beban. Membesarkan delapan anak-anak seorang diri. Bergeming.

 Entahlah,Nak! Hanya Tuhan yang tahu,” ia lepas tangan dari anyaman. Matanya menerawang jauh. Miyah menangkap kesedihan di mata tuanya. Bulir air menjuntai di kelopak matanya yang sudah berkeriput. Miyah terlalu lugu. Rasa ingin tahu yang hebat.

Miyah haru memeluk ibunya. Jiwanya berontak. “Maafkan adek, Mi. Adek tak akan tanya lagi.” Banyak hal yang ingin ia ketahui tentang sosok itu. Sangat jarang ia melihat. Namun, urung. Bulir-bulir air jatuh membasahi kebaya rumah yang dipakai ibunya. Menahan isak sambil mengelus kepala putrinya. 

Di benaknya, “Mengapa Bapak tidak sayang padaku seperti bapak teman-temanku? Mengapa Bapak melupakan kami? Tuhan, mengapa Engkau kirim Bapak seperti itu?” Pikiran kecilnya terus perang hingga senja datang.

Umi beranjak dari anyaman tikarnya. Lalu memapah Miyah ke gerabah berisi air. Tanpa menolak Miyah mengikuti isyarat ibunya. Hingga usai salat magrib, daging meugang dari Bapak tak juga datang. 

Namun, bukan berarti Miyah harus menadahkan tangan pada nenek dan Teh; adik umi di samping rumah.  

Bapak masih hidup, tetapi seperti telah lama mati buat  anaknya. Umi yang telah mengembara ke surga-Nya empat puluh satu tahun, rasa masih hidup hingga kini. 

“Mama, gak beli daging meugang? Buka puasa Arafah dengan apa nanti? Cuma ada satu indo mie dan telur sisa buka puasa kemarin,”  sapaan si bungsu ke kamar membuyarkan lamunan masa kecilku.

Mengapa garis hidup masa kecil nyaris sama pada hidup berikutnya? Hari ini meugang ke delapan belas.Sosok lelaki telah mewariskan tiga anak yang kuasuh sendiri. Kornea tumpah buliran bening yang tak terbendung. Siapapun tak ingin derita itu bersambung. Yah, aku harus sanggup. Kadang tak kuat menghadapi reinkarnasi kecilku buat ketiga mereka. 

Ah, teganya hatimu, Is!

Lhokseumawe, 26 Mei 2026, meugang Adha.

1

Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W