Muzzah, Sang Penggerak Literasi
Oleh Rivaldo Artaga
Mahasiswa Pendidikan Sejarah,Universitas Syiah Kuala
Perserta KKN Literasi 2026 USK, Banda Aceh

Literasi adalah hal yang penting di dalam seluruh aspek kehidupan. Karena literasi mengenalkan kita dengan berbagai macam ilmu pengetahuan di dunia ini. Dari literasi kita belajar bahwasannya seluruh perkara di dunia di mulai dari membaca dan belajar. Dengan tingkat literasi yang tinggi seseorang dapat berpikir secara kritis serta memiliki pengetahuan yang sangat luas.
Di zaman sekarang orang-orang lebih memilih menggunakan handphone dari pada meningkatkan kemampuan literasi. Temasuk anak-anak muda di Indonesia dan di Aceh khususnya. Karena keseruan menggunakan gadgets. Sehingga membuat mereka lala. Kelalaian ini pula menyebabkan minat membaca masyarakat mereka dan bahkan masyarakat luas menjadi berkurang. Apalagi di kalangan anak muda yang seharian melakukan doom scrolling di layar HP.
Ketika minat membaca mereka lemah, maka daya baca ikut lemah, sehingga tidak mampu berpikir kritis. Hal ini juga telah menyebabkan tingkat literasi di Indonesia masih tergolong rendah. Bayangkan saja ya, hasil suvey PISA (Programme for International Student Assessment) 2022, menempatkan Indonesia berada pada peringkat atau posisi yang ke 70 dari 80 negara dengan poin 359. Peringkat yang sangat memprihatinkan dan riskan. Hal ini tidak boleh dibiarkan. Harus ada upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi generasi muda saat ini.
Nah, untuk meningkatkan literasi di Indonesia tentu saja tidak langsung secara instan, harus dimulai dari skala kecil; dimulai dari rumah atau keluarga, kelompok bermain, hingga ke tingkat yang lebih tinggi, seperti masyarakat.
Tentu saja hal seperti ini memerlukan sosok atau tokoh penggerak literasi. Seorang tokoh yang sangat concern dengan masalah literasi ini.
Nah, di sebuah Desa bernama Rapana, Kec. Mutiara, Kab. Pidie, Aceh ada seorang atau sosok perempuan yang bisa kita katakan inspiratif. Menurut saya perlu dicontoh oleh banyak orang untuk bisa meningkatkan literasi di Indonesia.
Beliau adalah Ibu Muazzah,S.Si, M.A, yang merupakan seorang guru di sekolah Sukma Bangsa Pidie. Berawal dari hobi membaca, kemudian menulis, dan mendirikan Taman Baca Mandiri untuk anak-anak. Beliau menghidupkan suasana literasi di Desa Rapana, karena memang kondisi desa Rapana untuk saat ini belum memiliki perpustakaan resmi.
Awalnya Ibu Muazzah memberikan buku untuk dibaca kepada anak-anak yang datang ke rumahnya untuk mengajak bermain anak beliau. Membaca buku menjadi syarat diberikannya izin untuk bermain.
Ini merupakan langkah kecil untuk membuat anak-anak berkenalan dengan literasi. Beliau juga memiliki banyak koleksi buku baik itu novel, buku anak, dan berbagai buku lainnya. Hal ini yang mendorong beliau untuk mencetuskan Taman Baca Mandiri yang beliau beri nama Rumah Baca Qalam.
Menumbuhkan Budaya Membaca
Sebagai penggerak literasi untuk anak-anak, Ibu Muazzah juga mengizinkan anak-anak meminjam buku pribadinya untuk dibawa pulang supaya bisa dibaca di rumah. Hal ini agar anak-anak bisa membaca di rumah. Hal ini dikuatkan juga melalui pendapat beliau yang mengatakan jauh sebelum membangun perpustakaan, ada hal penting lainnya yang harus terlebih dahulu dibenahi, yaitu budaya membaca. Hal ini juga merupakan suatu pendekatan yang sangat baik untuk anak-anak menumbuhkan budaya membaca dengan perlahan tanpa paksaan.
Menurut saya, sosok Ibu Muazzah ini perlu di contoh oleh orang-orang di daerah lain di Indonesia terutama di Aceh ini sendiri. Beliau menjadi inspirasi juga karena berani menggerakkan anak-anak untuk mulai membaca, dan beliau konsisten dengan niatnya.
Beliau pernah mengalami musibah kebakaran rumah, tepatnya ruang baca dan perpustakaan pribadi di tahun 2024 silam. Hal ini tidak membuat niat beliau untuk menumbuhkan literasi hilang. Dengan beberapa koneksi dan relasi beliau diberi bantuan oleh Perpustakaan Nasional berupa 1000 buku bacaan anak sekaligus raknya.
Berbekal buku bantuan dan sisa buku koleksi pribadi, beliau kini mengelola TBM Rumah Baca Qalam. Menjadi penggerak literasi bukan hal yang mudah, namun selama niat kita ada pasti selalu ada jalan. Ibu Muazzah sangat patut dicontoh terutama bagi anak-anak muda.
Untuk menjadi penggerak literasi seperti beliau tidak harus membeli dan mengoleksi banyak buku terlebih dahulu, tetapi mulai dari diri sendiri untuk membiasakan membaca. Dari pembiasaan akan menjadi budaya yang dapat kita sebarluaskankan. Semoga kedepanya akan terus ada Muazzah-Muazzah lainnya di Indonesia untuk terus meningkatkan literasi di Aceh dan Indonesia.











