Kritik Sosial dan Kegagalan Kemanusiaan dalam Cerpen Sebelum Pagi Menghapus Mereka
Oleh: Siti Khumairoh
Cerpen Sebelum Pagi Menghapus Mereka karya Syarifudin Brutu dibuka melalui dekonstruksi makna “pagi”. Selama ini pagi identik dengan harapan, awal kehidupan, dan kesempatan baru. Akan tetapi, dalam cerpen ini pagi justru tampil sebagai “petugas kebersihan” yang menghapus jejak orang-orang pinggiran dari ruang kota.
Metafora tersebut segera menempatkan pembaca pada sudut pandang mereka yang selama ini tidak pernah masuk ke dalam narasi besar pembangunan. Dengan demikian, sejak halaman pertama penulis telah memperlihatkan arah kritik sosial yang akan dibangun hingga cerita berakhir.
Strategi naratif semacam ini bukan sekadar permainan bahasa. Melainkan, ia menjadi sebuah pernyataan sikap terhadap cara kota bekerja. Penulis seolah ingin mengatakan bahwa kota, dengan segala kemegahan pembangunan dan modernitasnya, beroperasi menggunakan logika penghapusan.
Siapa pun yang tidak tercatat dalam sistem administrasi maupun ekonomi perlahan akan hilang tanpa bekas ketika pagi datang. Selain itu, pemilihan halte bus sebagai latar utama juga terasa sangat simbolis. Halte merupakan ruang singgah, ruang menunggu, sekaligus ruang perpindahan, sehingga menjadi metafora yang tepat bagi orang-orang yang hidupnya berada dalam kondisi transisi tanpa pernah benar-benar tiba pada kehidupan yang dijanjikan negara.
Siti: Tubuh Perempuan Miskin yang Dibungkam Kenyataan
Siti tidak hanya dihadirkan sebagai korban kemiskinan. Lebih dari itu, ia menjadi representasi bertumpuknya berbagai bentuk kerentanan yang dialami perempuan miskin. Ia kehilangan keluarga, kehilangan akses terhadap layanan kesehatan, dan akhirnya kehilangan suara ketika mengalami pelecehan oleh pemilik warung.
Penulis membangun karakter ini secara perlahan sehingga pembaca dapat melihat bahwa satu bentuk ketidakberdayaan melahirkan ketidakberdayaan berikutnya. Tempo cerita yang relatif lambat justru memperkuat rasa getir karena setiap kehilangan tidak disajikan sebagai kejutan dramatis, melainkan sebagai sesuatu yang tampak biasa dalam kehidupan perempuan seperti Siti.
Salah satu adegan yang paling membekas muncul ketika Siti mencoba bercerita kepada seorang perempuan yang lebih tua, tetapi justru dibalas dengan pertanyaan, “Kamu yakin bukan salah paham?” Kalimat sederhana itu menjadi pukulan yang sangat kuat.
Sebab, penulis memperlihatkan bahwa budaya victim blaming sering kali tidak hanya datang dari pelaku, melainkan juga dari lingkungan terdekat korban. Dengan satu dialog singkat, persoalan sosial yang begitu kompleks berhasil dirangkum tanpa penjelasan yang berlebihan.
Fenomena bungkamnya korban kekerasan seksual akibat relasi kuasa maupun ketergantungan ekonomi telah lama didokumentasikan dalam laporan tahunan Komnas Perempuan. Laporan tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan ekonomi merupakan salah satu alasan utama korban memilih diam.
Cerpen ini berhasil menerjemahkan data yang selama ini hadir dalam bentuk angka menjadi pengalaman yang sangat personal. Oleh karena itu, pembaca tidak sekadar memahami persoalan secara intelektual, tetapi juga merasakan luka yang dialami tokohnya.
Lelaki Halte: Sarjana yang Dikalahkan oleh “Orang Dalam”
Tokoh lelaki halte menjadi simbol runtuhnya mimpi mobilitas sosial melalui pendidikan. Ijazah dengan predikat nyaris sempurna yang ditemukan di dalam tas lusuhnya bukan lagi menjadi tiket menuju kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, ijazah itu justru berubah menjadi ironi yang baru diketahui setelah ia meninggal dunia.
Penulis menyimpan informasi mengenai latar belakang pendidikan tokoh hingga bagian akhir cerita. Strategi tersebut membuat pembaca mengalami kejutan yang sama pahitnya dengan kegagalan yang dialami lelaki halte selama hidupnya.
Akibatnya, kematiannya tidak hanya terasa menyedihkan, tetapi juga menyisakan pertanyaan mengenai makna pendidikan dalam masyarakat yang masih dipenuhi praktik ketimpangan.
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional yang dirilis Badan Pusat Statistik, tingkat pengangguran terbuka pada lulusan diploma maupun sarjana dalam berbagai periode memang masih relatif tinggi. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan ketimpangan akses jaringan sosial serta praktik nepotisme dalam dunia kerja.
Selain itu, Transparency International Indonesia juga menyoroti bahwa kemampuan akademik sering kali belum cukup apabila tidak disertai koneksi sosial yang kuat. Dengan demikian, lelaki halte bukan sekadar tokoh fiksi, melainkan representasi dari kegelisahan banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia.
Pemilik Warung: Kedermawanan sebagai Topeng
Karakter pemilik warung tidak dibangun sebagai sosok antagonis yang kasar atau kejam secara terbuka. Sebaliknya, ia dikenal sebagai orang yang dermawan dan dihormati masyarakat. Pilihan ini membuat kritik penulis terasa jauh lebih tajam. Sebab, pembaca diajak mempertanyakan kembali anggapan bahwa kebaikan seseorang dapat diukur hanya dari citra sosial dan amal yang tampak di permukaan.
Dengan cara tersebut, penulis menghindari penggambaran tokoh jahat yang terlalu hitam-putih. Kejahatan justru hadir melalui sosok yang dianggap baik oleh masyarakat. Hal inilah yang membuat cerita terasa lebih dekat dengan kenyataan.
Fenomena serupa juga banyak ditemukan dalam berbagai laporan investigatif mengenai kekerasan seksual di lingkungan kerja informal. Tidak sedikit pelaku memiliki modal sosial yang cukup besar untuk membungkam korban selama bertahun-tahun. Menariknya lagi, penulis tidak memberikan hukuman yang jelas kepada pemilik warung.
Pembaca justru dibiarkan membawa sendiri rasa tidak adil itu hingga cerita selesai. Pilihan semacam ini membuat akhir cerita terasa lebih realistis sekaligus lebih menyakitkan.
Birokrasi Rumah Sakit: Maut karena Sulitnya Administrasi
Kematian Siti pada dasarnya bukan disebabkan oleh penyakit semata. Ia meninggal karena lambannya proses birokrasi layanan kesehatan yang harus dilalui masyarakat miskin. Kalimat dokter yang mengatakan, “Kita terlambat,” kemudian disusul sindiran bahwa yang selalu datang tepat waktu hanyalah tagihan, menghadirkan komedi gelap yang sangat efektif sebagai kritik sosial.
Humor getir semacam ini menjadi salah satu kekuatan gaya penulisan Syarifudin Brutu. Dengan bahasa yang sederhana, ia mampu menyampaikan kritik yang keras tanpa terdengar menggurui ataupun berkhotbah.
Persoalan keterlambatan pelayanan akibat sistem rujukan berjenjang dalam Jaminan Kesehatan Nasional juga berulang kali menjadi sorotan Ombudsman Republik Indonesia. Laporan tahun 2023 mencatat bahwa penolakan maupun keterlambatan pelayanan rumah sakit terhadap peserta JKN masih menjadi salah satu pengaduan terbanyak.
Berdasarkan hal tersebut, kematian Siti tidak lagi dipahami sebagai tragedi individual, melainkan sebagai gambaran dari persoalan struktural yang masih dialami banyak masyarakat miskin.
“Ruang Publik Ramah Kemanusiaan”: Ironi Pembangunan
Bagian penutup menjadi puncak kritik sosial dalam cerpen ini. Halte tua yang dahulu menjadi tempat dua manusia saling menemukan kehangatan justru dibongkar dan diubah menjadi taman dengan nama “Ruang Publik Ramah Kemanusiaan”. Peresmian dilakukan secara meriah, lengkap dengan senyum para pejabat.
Ironinya sangat terasa. Tempat yang pernah menyaksikan manusia diabaikan hingga meninggal dunia kini justru diberi nama yang mengandung kata “kemanusiaan”. Pilihan diksi tersebut menghadirkan satir yang halus, tetapi menghantam pembaca dengan sangat kuat.
Kritik terhadap pembangunan yang lebih mengutamakan estetika kota dibanding kebutuhan kelompok marjinal juga banyak disampaikan oleh organisasi masyarakat sipil seperti WALHI dan Konsorsium Pembaruan Agraria. Berbagai laporan menunjukkan bahwa pembangunan ruang publik di sejumlah kota sering kali dibayar dengan penggusuran warga miskin.
Oleh karena itu, cerpen ini turut memperpanjang tradisi sastra Indonesia yang menggunakan cerita sebagai medium kritik terhadap pembangunan yang kehilangan sisi kemanusiaannya.
Penutup
Sebelum Pagi Menghapus Mereka berhasil menjadikan kisah cinta yang sunyi sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang jauh lebih besar, mulai dari kemiskinan, kekerasan berbasis relasi kuasa, ketimpangan layanan kesehatan, hingga pembangunan yang gagal memanusiakan manusia.
Kekuatan utama cerpen ini terletak pada kemampuannya merangkai berbagai isu yang tampak terpisah—gender, pendidikan, kesehatan, dan tata kota—menjadi satu kesatuan cerita yang utuh, koheren, dan menyentuh tanpa terasa dipaksakan.
Pada akhirnya, cerpen ini mengingatkan pembaca bahwa di balik setiap angka kemiskinan, pengangguran, maupun statistik layanan publik, selalu ada manusia yang memiliki nama, mimpi, harapan, dan cinta yang tidak sempat diucapkan.
Sebelum Pagi Menghapus Mereka bukan hanya berkisah tentang dua orang yang kalah oleh sistem, melainkan juga mengajak pembaca bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak “Siti” dan “lelaki halte” lain yang setiap hari dihapus oleh pagi, sebelum negeri ini sempat mengakui keberadaan mereka sebagai manusia?
Referensi:
Badan Pusat Statistik. (2024). Keadaan ketenagakerjaan Indonesia: Februari 2024. Badan Pusat Statistik.
komnasperempuan.go.id
Syarifudin Brutu. (2026, 30 Juni). Sebelum pagi menghapus mereka [Cerpen]. Potret Online.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (2024). Catatan Tahunan tentang Kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2023: Momentum Perubahan—Peluang Penguatan Sistem Penyikapan di Tengah Peningkatan Kompleksitas Kekerasan terhadap Perempuan. Komnas Perempuan.
Ombudsman Republik Indonesia. (2024). Laporan Tahunan Ombudsman Republik Indonesia Tahun 2023. Ombudsman Republik Indonesia.
Transparency International. (2024). Corruption Perceptions Index 2023. Transparency International.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. (2024). Catatan Akhir Tahun 2024. WALHI.
Konsorsium Pembaruan Agraria. (2024). Catatan Akhir Tahun 2024: Reforma Agraria dan Konflik Agraria. Konsorsium Pembaruan Agraria.





Diskusi