Oleh: Syarifudin Brutu
Konon, pagi adalah pertanda harapan. Begitulah orang-orang yang rumahnya berpintu kokoh dan mejanya selalu menyediakan sarapan berkata. Mereka memotret matahari yang baru lahir, mengunggahnya ke media sosial, lalu menulis, “Selamat pagi, semoga hari ini penuh berkah.”
Namun, bagi sebagian orang, pagi hanyalah petugas kebersihan yang paling setia. Ia menyapu jejak kaki di trotoar, mengeringkan darah di selokan, menghapus nama-nama yang semalam masih memanggil kehidupan, lalu meninggalkan kota serapi pidato para pemimpin.
Siti mengenal pagi dengan cara seperti itu.
Ia lahir di sebuah kampung yang bahkan peta pun tampak ragu mengakuinya. Ayahnya meninggal ketika ia masih belajar mengeja dunia, dan ibunya menyusul beberapa tahun kemudian setelah penyakit yang sederhana berubah menjadi mahal karena kemiskinan. Orang-orang datang melayat membawa doa, gula, beras, dan kalimat-kalimat yang sudah terlalu sering diwariskan kepada orang miskin: “Yang sabar, ya,” “Ini sudah takdir,” atau “Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan hamba-Nya.”
Setelah tujuh hari, semua pulang. Yang tertinggal hanyalah rumah reyot, tungku yang dingin, dan seorang anak perempuan yang harus belajar bahwa belas kasihan memiliki masa kedaluwarsa.
Sejak saat itu, Siti bekerja kepada siapa saja yang membutuhkan tenaganya—mencuci pakaian, menyapu halaman, hingga menjaga anak tetangga—sampai akhirnya ia diterima di sebuah warung makan kecil di pinggir jalan. Ia bekerja sejak matahari belum terbit hingga suara azan Isya tenggelam oleh deru knalpot kendaraan.
Upahnya cukup untuk membeli beras, tetapi tidak cukup untuk membeli masa depan. Namun, Siti jarang mengeluh. Ia percaya, mungkin kebahagiaan memang berjalan kaki; karena itu, ia selalu datang terlambat kepada orang-orang miskin.
Pemilik warung dikenal sebagai orang yang dermawan. Ia rajin bersedekah, menyumbang pembangunan musala, dan duduk di barisan depan setiap pengajian. Namanya selalu disebut ketika panitia mencari donatur. Masyarakat menyebutnya orang baik. Mungkin memang begitu, sebab di negeri ini, kebaikan sering kali lebih mudah diukur dari tebal-tipisnya amplop daripada bersih-kotornya hati.
Suatu malam, ketika warung hampir tutup, lelaki itu meminta Siti membereskan gudang penyimpanan. Lampunya redup, pintunya dikunci, dan malam itu menjadi malam yang tidak pernah benar-benar selesai bagi Siti.
Tidak ada teriakan. Bukan karena ia tidak ingin, melainkan karena ia tahu, suara perempuan miskin selalu kalah nyaring dibanding nama baik laki-laki yang memiliki uang.
Esok harinya, warung kembali buka, pelanggan kembali berdatangan, dan Siti kembali bekerja. Hidup memang kejam, tetapi jam kerja tidak pernah mengenal belas kasihan. Beberapa minggu kemudian, ia mencoba bercerita kepada seorang perempuan yang lebih tua.
Perempuan itu mendengarkan hingga selesai, lalu bertanya pelan, “Kamu yakin bukan salah paham?”
Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada malam yang ingin dilupakannya.
Sejak saat itu, Siti memilih diam. Ia sadar, luka tertentu tidak membutuhkan perban; ia hanya membutuhkan masyarakat yang mau percaya. Sayangnya, itu jauh lebih mahal.
Di ujung kota terdapat sebuah halte tua yang nyaris roboh. Bus sudah lama tidak berhenti di sana; yang singgah hanya angin, debu, dan orang-orang yang terlalu lelah untuk pulang. Di sanalah Siti pertama kali melihat lelaki itu. Rambutnya acak-acakan, bajunya lusuh, dan di sampingnya ada sebuah tas kain yang warnanya telah kalah oleh matahari.
Anak-anak sering melemparinya dengan kerikil, orang dewasa menyebutnya gila, padahal ia hanya lebih sering berbicara kepada buku daripada kepada manusia.
Siti meletakkan sebungkus nasi di sampingnya. “Bang, makan.”
Lelaki itu mengangkat kepala. Matanya teduh, jarang ada mata setenang itu pada seseorang yang tidak memiliki rumah. “Kalau saya makan sendiri, nasinya habis,” katanya pelan. “Kalau kita makan berdua, kenyangnya memang tidak datang, tapi lapar jadi tidak terlalu merasa sendirian.”
Siti tersenyum kecil. Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Tidak setiap hari, tetapi cukup sering untuk saling merindukan tanpa pernah mengakuinya.
Lelaki itu tidak pernah memperkenalkan nama, dan Siti pun tidak pernah bertanya. Sebab orang miskin mempunyai kebiasaan yang sama: mereka tidak suka menanyakan masa lalu. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu banyak luka yang belum selesai dibereskan.
Mereka lebih sering berbicara tentang hujan, tentang burung yang hinggap di kabel listrik, atau tentang mengapa langit selalu tampak lebih luas bagi orang yang tidak memiliki rumah.
Suatu sore, Siti bertanya, “Bang, kalau suatu hari Abang punya uang banyak, Abang mau beli apa?”
Lelaki itu tertawa lirih. “Waktu.”
“Waktu?”
“Iya. Biar orang miskin punya kesempatan gagal lebih dari sekali.”
Jawaban itu terus tinggal di kepala Siti.
Malamnya ia menangis, bukan karena sedih, melainkan karena baru kali itu ada seseorang yang mengerti bagaimana rasanya menjadi miskin tanpa menganggap kemiskinan sebagai dosa.
Musim berganti. Tubuh Siti mulai sering demam, batuknya tak kunjung sembuh, dan berat badannya turun perlahan. Dokter di puskesmas berkata ia harus dirujuk ke rumah sakit, tetapi setiap surat rujukan selalu bertemu persoalan yang sama: biaya, administrasi, antrean, stempel, dan fotokopi. Seolah-olah penyakit harus lebih dulu lulus ujian birokrasi sebelum boleh disembuhkan.
Ketika akhirnya ia tiba di rumah sakit, penyakit itu sudah terlalu jauh berjalan di dalam tubuhnya. Dokter berkata pelan, “Kita terlambat.”
Lucu. Di negeri ini, yang selalu datang tepat waktu hanyalah tagihan.
Lelaki dari halte itu datang setiap sore. Ia membawa bunga liar, buku, atau kadang hanya duduk di lorong rumah sakit sambil memandangi pintu ruang perawatan.
Satpam beberapa kali mengusirnya, perawat mengira ia pengemis. Ia tidak membantah, barangkali menjelaskan diri kepada dunia memang melelahkan.
Sementara itu, Siti mulai mengerti bahwa hidupnya tidak akan panjang. Yang tidak sempat ia mengerti hanyalah mengapa ia begitu takut meninggalkan lelaki yang bahkan belum pernah menggenggam tangannya.
Malam terakhir sebelum napasnya habis, ia meminta selembar kertas. Tangannya gemetar saat menulis: “Kalau umur bisa dipinjam, aku ingin meminjam satu hari saja. Bukan untuk hidup lebih lama, tetapi untuk mengatakan bahwa selama ini ada seseorang yang diam-diam kucintai.”
Ia melipat kertas itu, menyelipkannya di bawah bantal, lalu memejamkan mata. Pagi datang, dan seperti biasa… pagi menghapus seseorang lagi.
Lelaki itu tiba ketika ranjang telah kosong. Perawat hanya berkata singkat, “Pasiennya sudah meninggal.” Ia mengangguk, tidak menangis. Kesedihan tertentu memang terlalu dalam untuk berubah menjadi air mata. Ia keluar dari rumah sakit, berjalan tanpa tujuan, lalu kembali ke halte tua tempat pertama kali mereka bertemu.
Beberapa hari kemudian, warga menemukan tubuhnya di sana. Ia meninggal dalam posisi memeluk tas lusuh. Ketika polisi membuka tas itu, mereka tidak menemukan pakaian ganti. Yang ada hanyalah map cokelat berisi ijazah sarjana, transkrip nilai dengan predikat nyaris sempurna, sertifikat seminar, puluhan surat lamaran kerja yang telah menguning, dan sebuah foto wisuda.
Di belakang foto itu tertulis kalimat dengan tinta yang mulai pudar: “Untuk Ibu. Tenang saja. Setelah lulus, hidup kita pasti lebih baik.”
Tak seorang pun tahu siapa ibunya. Tak seorang pun tahu sejak kapan lelaki itu berhenti berharap. Masyarakat hanya berkerumun sebentar, lalu pulang. Besok pagi mereka kembali bekerja seperti biasa.
Beberapa bulan kemudian, halte tua itu dibongkar. Pemerintah membangun sebuah taman kecil, menanam rumput, memasang lampu, dan mengecat bangku dengan warna hijau. Di pintu masuk berdiri papan besar bertuliskan: “Ruang Publik Ramah Kemanusiaan.”
Anak-anak bermain, pasangan muda berfoto, dan pejabat tersenyum saat peresmian. Tak seorang pun lagi mengingat bahwa di tempat itu pernah ada seorang perempuan yatim piatu yang membawa sebungkus nasi untuk lelaki yang dianggap sampah kota. Tak seorang pun mengingat lelaki itu ternyata seorang sarjana yang kalah bukan oleh kebodohan, melainkan oleh dunia yang lebih menghargai hubungan daripada kemampuan.
Yang lebih menyedihkan, tak seorang pun sadar bahwa mereka saling mencintai. Cinta itu tidak gagal; ia hanya tidak sempat diucapkan. Dan barangkali, itulah nasib paling sunyi bagi orang-orang kecil. Mereka tidak mati karena lapar semata, tidak pula karena penyakit; mereka mati perlahan karena dunia terlalu sibuk menghitung pembangunan, hingga lupa menghitung manusia.
Lalu pagi datang lagi. Matahari terbit dengan sangat indah. Orang-orang kembali mengucapkan, “Selamat pagi,” seolah-olah tidak ada siapa pun yang telah dihapusnya semalam.





Diskusi