Artikel · Potret Online

Menagih Janji Kemerdekaan bagi Perempuan: Refleksi Realitas Ekonomi, Sosial, dan Politik Indonesia

Penulis  Redaksi
Agustus 15, 2026
4 menit baca 4
17fcec15-a2e6-47e8-95d6-6f0db0b26d60
Foto / IlustrasiMenagih Janji Kemerdekaan bagi Perempuan: Refleksi Realitas Ekonomi, Sosial, dan Politik Indonesia

Catatan Webinar Universitas Paramadina

Oleh Team Potretonline.com

Kemerdekaan Indonesia yang telah berusia lebih dari delapan dekade bukan sekadar ruang bebas dari penjajahan fisik, melainkan jaminan kesetaraan hak serta kesempatan bagi seluruh warga negara, tanpa terkecuali kaum perempuan. 

Dalam perayaan merdeka, pertanyaan krusial yang patut diajukan kembali adalah: Sejauh mana ruang publik di Indonesia benar-benar telah merdeka dan inklusif bagi perempuan?

Webinar Universitas Paramadina bertajuk ‘’Refleksi Kemerdekaan oleh Perempuan Paramadina: Bidang Ekonomi dan Sosial Politik’’ yang diselenggarakan pada 14 Agustus 2026, dibuka oleh Rektor Prof. Dr. Didik J. Rachbini yang menghadirkan perspektif mendalam dari para akademisi perempuan. 

Diskusi ini menguraikan bahwa meski partisipasi perempuan terus menunjukkan tren positif, jurang ketimpangan gender (gender gap), khususnya pada posisi strategis dan pengambilan keputusa, masih menjadi tantangan besar bangsa.

1. Realitas Partisipasi vs. Dominasi Posisi Strategis

Secara demografis, jumlah populasi perempuan dan laki-laki di Indonesia terhitung seimbang. Kerja sama antargender merupakan syarat mutlak untuk memajukan bangsa. Dr. Rini Sudarmanti dan Dr. Prima Naomi mencatat bahwa indikator makro pembangunan perempuan Indonesia menunjukkan perbaikan.

Indeks Pembangunan Gender (IPG), Mencapai angka 91,85 (2025), yang mengindikasikan bahwa kualitas hidup perempuan semakin mendekati laki-laki.

Selain itu, tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), meningkat signifikan dari 52,44% menjadi 56,63% pada tahun 2025. Namun, angka partisipasi yang membaik ini tidak berbanding lurus dengan akses menuju kepemimpinan puncak.

Sektor Sains dan Teknologi (STEM), meski lulusannya melimpah, perempuan yang aktif berkarir di bidang sains dan teknologi hanya sekitar 8%.

Sektor Pemerintahan, partisipasi ASN perempuan mencapai 57%, tetapi posisi pimpinan puncak strategis baru terisi 17%.  Dalam

 Peringkat Global, berdasarkan Global Gender Gap Index, Indonesia masih menempati urutan ke-97 dari 148 negara (peringkat ke-7 di ASEAN). Ketimpangan terbesar bersumber dari ranah pemberdayaan politik dan kesempatan ekonomi.

2. Ranah Sosial dan Politik: Mengapa Suara Perempuan Menentukan Kebijakan?

Ruang publik yang sehat ditandai oleh hadirnya perspektif perempuan yang inklusif, humanis, dan berkeadilan. Prof. Dr. Iin Mayasari menggarisbawahi bahwa keterlibatan perempuan di parlemen maupun pemerintahan adalah syarat mutlak bagi demokrasi yang sehat.

Tia Rahmania, M.Psi. menyoroti urgensi keberadaan perempuan di tempat keputusan dibuat. Kebijakan publik berdampak langsung pada kesejahteraan domestik dan sosial, mulai dari program pemenuhan gizi (seperti Makan Bergizi Gratis/MBG) yang memengaruhi harga pangan dasar, hingga kebijakan kesehatan ibu dan akses pendidikan. Ketika perempuan tidak terwakili secara memadai di meja perundingan, pengalaman serta kebutuhan mendasar masyarakat berisiko terabaikan dalam produk hukum dan anggaran negara.

Hambatan serupa juga membayangi dunia diplomasi. Dr. Peni Hanggarini mengingatkan jejak sejarah diplomasi Indonesia yang diwarnai pahlawan perempuan seperti Maria Ulfah Subadio, Laily Roesad, hingga Supeni Pujobuntoro. Meski diplomat modern seperti Retno Marsudi dan rekan-rekannya terus bersinar, statistik internal menunjukkan bahwa proporsi pimpinan puncak diplomatik perempuan masih terbilang minim. 

Posisi Duta Besar perempuan baru menyentuh 13% dan Kepala Perwakilan 15%.

3. Fondasi Psikologi Positif dan Industri Masa Depan

Upaya memperjuangkan peran perempuan di ruang publik tidak lepas dari sokongan di ranah domestik dan transformasi industri.

Keluarga sebagai Pilar Unggul. Dalam perspektif Psikologi Positif),Dr. Fatchiah E. Kertamuda menjelaskan bahwa hakikat kemerdekaan secara psikologis mencakup kebangkitan rasa percaya diri dan well-being masyarakat. Ibu adalah “madrasah” pertama bagi anak. Keberhasilan perempuan menembus ranah sosial selalu ditopang oleh ekosistem keluarga yang sehat. 

Melalui kerangka psikologi positif (PERMA: Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, Accomplishment), dinamika keluarga yang positif membentuk mentalitas generasi penerus yang tangguh.

Sentuhan Manusiawi dalam Manufaktur Masa Depan

Melihat pergeseran lanskap ekonomi, Hendriana Werdhaningsih, Ph.D. menyoroti kembalinya industri craftsmanship berbasis teknologi untuk menggantikan mass productionCraftsmanship adalah kemampuan beradaptasi di antara risiko dan kepastian yang dikerjakan dengan passion serta kolaborasi komunitas. 

Karakternya yang personal dan adaptif membuat nilai-nilai keperempuanan diproyeksikan menjadi “napas” manufaktur masa depan yang lebih beretika dan humanis.

Kesimpulan

Perempuan Indonesia bukan sekadar penyokong ekonomi domestik, melainkan penggerak utama UMKM, pilar ketahanan keluarga, sekaligus aktor kunci ketahanan nasional. Kampus seperti Universitas Paramadina telah membuktikan pentingnya memberikan ruang strategis bagi akademisi dan praktisi perempuan untuk bersuara.

Namun, perjalanan menuju kemerdekaan yang hakiki masih panjang. Bangsa Indonesia masih dihadapkan pada tantangan ketimpangan gender, kekerasan terhadap perempuan, hambatan kultural, serta ketimpangan posisi kepemimpinan. 

Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, negara harus menjamin bahwa kemerdekaan tidak sekadar dinikmati di atas kertas, tetapi hadir dalam bentuk akses yang setara, aman, dan berkeadilan bagi seluruh perempuan Indonesia.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...