Artikel · Potret Online

Menjadi Badut Di Zaman Hiperrealitas

Penulis  Rosadi Jamani
Agustus 3, 2026
16 menit baca 12
IMG_2430
Foto / IlustrasiMenjadi Badut Di Zaman Hiperrealitas


Oleh Yani Andoko

Ketika Kita Tertawa pada Badut, Padahal Kitalah Dia

Pernahkah Anda berdiri di depan cermin setelah seharian beraktivitas, lalu bertanya: “Siapa sebenarnya aku di balik semua peran ini?”

Di kantor, Anda adalah karyawan teladan yang disiplin dan bertanggung jawab. Di rumah, Anda orang tua yang bijaksana atau anak yang berbakti. Di media sosial, Anda pribadi yang bahagia, sukses, dan selalu bepergian ke tempat-tempat indah. 

Tapi saat malam larut, ketika semua topeng itu dilepas dan Anda hanya sendiri di kamar yang gelap adakah yang tersisa? Atau yang tersisa hanyalah kehampaan yang selama ini Anda hindari dengan terus memakai topeng baru?

Tahun 1989, hampir empat dekade lalu, Iwan Fals merilis lagu yang terdengar seperti guyonan sederhana, tapi menyimpan kegelisahan eksistensial yang makin relevan di 2026. Lagu itu berjudul “Badut.” Dengan lirik yang tampak ringan dan mudah diingat, ia menyatakan: “Rasanya aku jadi badut, kau jadi badut, kita semua badut.”

Bukan sekadar sindiran ke penguasa yang korup. Bukan pula sekadar kritik pada media massa yang manipulatif. Ini adalah pengakuan kolektif yang lebih dalam: bahwa kita semua tanpa kecuali telah menjadi badut di atas panggung kehidupan, tertawa dan menari di tengah kepalsuan yang kita ciptakan sendiri.

Tapi apa artinya menjadi badut? Dan jika kita semua adalah badut, siapakah penontonnya? Jawabannya mungkin lebih mengerikan dari yang kita bayangkan: kita adalah badut yang saling menonton, saling menghibur, dan saling menipu, tanpa ada penonton sejati yang benar-benar melihat siapa kita di balik topeng.

Dunia bukan lagi sekadar panggung ia telah menjadi rumah bagi para badut yang lupa bahwa mereka hanya sedang berakting.

Anatomi Kepalsuan di Era Hiperreaharapka

Badut Jalanan Dan Badut Kita Sendiri: Refleksi dari Pinggir Jalan

Setiap hari, di persimpangan lampu merah kota-kota besar, kita melihat badut jalanan dengan kostum tebal dan cat wajah mencolok. Mereka menari di antara mobil yang mengantre, meminta receh dari pengendara yang kadang kesal, kadang iba. Kita menatap mereka dengan berbagai perasaan: kasihan, jengkel, atau sekadar acuh tak acuh. 

Kita menganggap mereka menyedihkan karena harus menjual tawa dengan harga yang murah.

Tapi coba tanya pada diri sendiri: bukankah kita juga “badut jalanan” versi lain? Kita menari di panggung kehidupan, menampilkan senyum terbaik di depan rekan kerja, meminta “receh” berupa pengakuan dan validasi dari atasan dan kolega. 

Perbedaannya hanya pada kostum: mereka memakai kostum badut warna-warni, kita memakai setelan rapi dan sepatu pantofel tapi sama-sama berakting untuk bertahan hidup.

Seorang pengemudi ojek online yang harus tersenyum pada pelanggan meski hujan mengguyur dan ia kelelahan bukankah ia juga badut? Seorang pegawai bank yang harus sabar melayani nasabah meski kepalanya pusing dan hatinya kesal bukankah ia juga badut? 

Seorang pengusaha yang harus bersikap optimis di depan investor meski perusahaannya sedang di ambang kebangkrutan bukankah ia juga badut?

Kita semua, dalam berbagai cara, menjual tawa dan senyum demi receh kehidupan. Bedanya, badut jalanan jujur tentang kepalsuannya. Mereka memakai topeng dan mengakuinya mereka sadar bahwa mereka sedang menghibur. 

Kita? Kita memakai topeng dan menyebutnya “profesionalisme,” “kematangan emosi,” “kecerdasan sosial,” atau “personal branding.” Kita menyamarkan kepalsuan dengan istilah-istilah yang terdengar mulia.

Dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959), sosiolog Erving Goffman mengibaratkan dunia sebagai panggung sandiwara. Kita semua aktor yang mengelola kesan (impression management) di depan publik (front stage), kita tampil sempurna sesuai peran yang diharapkan; sementara di belakang panggung (back stage), kita menjadi diri sendiri yang lelah, rapuh, dan sering bertanya-tanya. 

Goffman menunjukkan bahwa kepalsuan ini bukan patologi, melainkan kondisi dasar kehidupan sosial kita harus berakting agar diterima.

Namun, yang terjadi pada zaman kita adalah kaburnya batas antara panggung depan dan belakang. Dengan media sosial, kita membawa panggung depan ke mana-mana, bahkan ke kamar tidur dan toilet. Kita kehilangan ruang pribadi yang aman untuk menjadi diri sendiri. Kita menjadi aktor 24 jam, tanpa istirahat, tanpa jeda. Kita menjadi badut yang tak pernah bisa melepas kostumnya.

Topeng Yang Menjadi Wajah: Proses Meleburnya Palsu 

Dan Nyata

Lirik Iwan Fals yang paling mengganggu mungkin adalah: “Kau tak tahu kau telah menjadi badut.” Ini menggambarkan proses paling halus sekaligus paling berbahaya: kita tidak sadar bahwa kita sedang bertopeng. Topeng itu sudah melekat, menyatu dengan daging, menjadi “wajah kedua” yang kita kenakan sejak bangun tidur hingga terlelap.

Prosesnya bertahap, seperti air yang menghangat hingga mendidih tanpa kita sadari:

Awalnya, kita memakai topeng karena terpaksa demi pekerjaan, demi diterima, demi bertahan hidup.

Lama-lama, topeng itu terasa nyaman. Kita terbiasa dengan senyum palsu, kata-kata diplomatis, dan sikap yang “tepat.”

Lama-lama lagi, kita lupa bahwa itu adalah topeng. Kita mulai menganggapnya sebagai wajah asli.

Akhirnya, saat topeng dilepas, kita merasa kosong, canggung, bahkan tidak mengenali diri sendiri. Kita bertanya: “Siapa aku tanpa jabatan ini? Tanpa status ini? Tanpa peran ini?”

Filsuf Perancis Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation (1981) menyebut fenomena ini sebagai hiperrealitas keadaan di mana salinan menjadi lebih nyata daripada aslinya. 

Simbol dan representasi mengambil alih realitas, hingga kita tak lagi bisa membedakan mana yang asli dan mana yang tiruan.

Di media sosial, hiperrealitas ini bekerja dengan sempurna:

Potret kebahagiaan yang diunggah ke Instagram menjadi lebih “nyata” daripada kesedihan yang kita pendam di hati.

Jumlah like dan followers menjadi ukuran eksistensi semakin banyak yang melihat, semakin “nyata” keberadaan kita.

Kita membangun “diri digital” yang bahkan lebih hidup, lebih menarik, dan lebih sempurna daripada diri fisik kita di dunia nyata.

Baudrillard memperingatkan bahwa kita telah memasuki era di mana peta mendahului wilayah representasi mendahului realitas. Kita tidak lagi hidup di dunia nyata, tapi di dunia simulasi yang kita bangun sendiri. Dan di dunia itu, semua adalah badut.

Maka lirik “Kita semua badut” bukanlah hiperbola atau puisi berlebihan. Ini adalah diagnosis sosiologis yang akurat tentang kondisi manusia modern. Kita hidup di dunia yang membuat topeng menjadi wajah, sementara wajah asli jika masih ada menghilang entah ke mana.

Siapa Penonton Di Era Hiperrealitas?

Jika semua orang adalah badut, lalu siapakah penontonnya? Inilah pertanyaan paling menggangu yang diajukan Iwan Fals secara implisit.

Di dunia hiperrealitas, tidak ada penonton sejati. Yang ada hanyalah badut-badut yang saling menonton, saling menilai, saling memberi aplaus palsu. Kita menjadi penonton bagi satu sama lain:

Kita menonton kehidupan orang lain di media sosial dan membandingkannya dengan kehidupan kita.

Kita menilai penampilan orang lain dan diam-diam berharap kita terlihat lebih baik.

Kita memberi pujian yang tidak sepenuhnya tulus, dan menerima pujian yang juga tidak sepenuhnya tulus.

Ini menciptakan lingkaran setan yang tak berujung:

Aku jadi badut → butuh penonton dan validasi.

Kau juga badut → butuh penonton dan validasi.

Kita saling menjadi penonton satu sama lain.

Tak ada realitas di luar panggung ini karena semua sedang berakting, dan tak ada yang benar-benar hadir.

Jean Baudrillard menyebut ini sebagai “hilangnya realitas” (the loss of the real). Kita tidak lagi mengakses dunia nyata; kita mengakses representasi representasi, salinan salinan, hingga yang asli menjadi tak terjangkau, bahkan mungkin tak pernah ada.

Dalam konteks ini, lagu “Badut” Iwan Fals menjadi dokumen penting tentang kesadaran postmodern. Ia merekam momen ketika masyarakat mulai menyadari bahwa mereka hidup dalam simulasi, tapi tetap tidak bisa atau tidak mau keluar dari simulasi itu.

Ironi Kesadaran Kolektif: Antara Pembebasan Dan Jerat

Salah satu keunikan lagu “Badut” adalah penggunaan kata “rasanya” bukan “kenyataannya.” Iwan Fals tidak menyatakan kebenaran mutlak, melainkan kesadaran subjektif kolektif. 

Kita merasa menjadi badut. Kita merasa hidup dalam kepalsuan.

Kesadaran ini seharusnya membebaskan. Dengan mengetahui bahwa semua adalah badut, kita seharusnya bisa:

Tak perlu lagi membandingkan diri dengan orang lain, karena semua sama-sama berakting.

Tak perlu lagi merasa malu dengan ketidaksempurnaan, karena semua sama-sama punya sisi belakang panggung.

Tak perlu lagi terobsesi dengan citra, karena semua sama-sama sadar itu hanya topeng.

Tapi kenyataannya, kesadaran kolektif ini justru menjadi jerat baru. Mengapa?

Pertama, kesadaran bahwa semua adalah badut dapat menjadi pembenaran untuk terus bertopeng. “Semua orang juga begitu, jadi tidak masalah,” kita berkata. Kesadaran menjadi alasan untuk berhenti berjuang keluar dari kepalsuan.

Kedua, kesadaran kolektif menciptakan tekanan baru untuk tetap memainkan peran. Jika semua orang adalah badut, maka yang tidak mau menjadi badut dianggap “aneh,” “nggak kekinian,” atau “sok autentik.” Kita dipaksa tetap di panggung.

Ketiga, kesadaran ini tanpa tindakan konkret hanya menjadi romantisme penderitaan. Kita merasa pintar karena menyadari kepalsuan, tapi tidak melakukan apa pun untuk mengubahnya. Kita menjadi “badut yang sadar” tapi tetap menjadi badut mungkin bentuk paling tragis dari semua badut.

Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre menyebut fenomena ini sebagai “bad faith” (mauvaise foi) kita menjalani peran yang diberikan masyarakat, lalu menganggapnya sebagai pilihan bebas kita sendiri. 

Kita memilih untuk tetap bertopeng karena takut bertemu wajah asli yang mungkin kosong, tak sempurna, atau bahkan tak dikenal.

Sartre mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk bebas kita harus memilih siapa kita, dan kita bertanggung jawab atas pilihan itu. Tetapi kebanyakan dari kita lari dari kebebasan itu dengan berlindung di balik peran dan topeng. Menjadi badut lebih mudah daripada menjadi diri sendiri, karena menjadi diri sendiri membutuhkan keberanian untuk menghadapi ketiadaan yang mengintai di balik semua peran.

Panggung Sistem: Kapitalisme, Politik, Dan Media

Tapi kita tidak bisa hanya menyalahkan individu. Lagu “Badut” Iwan Fals juga mengingatkan bahwa ada sistem yang mendorong kita menjadi badut. Ada kekuatan yang membangun panggung dan memaksa kita naik ke atasnya.

Kapitalisme, misalnya, menuntut kita untuk selalu produktif dan selalu tampil sempurna. Dalam sistem ini:

Identitas adalah komoditas yang harus dikelola dan dipasarkan.

Keaslian adalah “konten” yang bisa dijual.

Kebahagiaan adalah tontonan yang harus terus dipertontonkan, bahkan saat kita sedang tidak bahagia.

Kapitalisme tidak hanya mengeksploitasi tenaga kerja; ia mengeksploitasi jiwa kita. Kita menjual tidak hanya waktu dan tenaga, tapi juga wajah, perasaan, dan kehidupan pribadi. Setiap unggahan di media sosial adalah kerja gratis untuk platform raksasa kita memberi mereka konten, dan sebagai imbalannya kita mendapat validasi yang rapuh.

Media sosial menjadi mesin produksi topeng terbesar dalam sejarah manusia. 

Algoritma tidak memberi hadiah pada keaslian; ia memberi hadiah pada konsistensi, estetika, dan keterlibatan. Semakin konsisten topeng yang kita tampilkan, semakin dihargai. Keaslian yang bervariasi, yang kadang sedih, kadang marah, kadang bingung—justru dihukum.

Politik, yang disindir langsung oleh Iwan Fals, juga turut berperan. Para penguasa di mimbar, yang berbicara dengan “nggut manggut” dan “ya iya iya,” adalah badut utama di panggung nasional. Tapi mereka bukan satu-satunya. Sistem politik yang korup dan oligarkis membutuhkan rakyat yang pasif, yang hanya menjadi penonton, yang tidak bertanya terlalu banyak. Rakyat yang sadar adalah rakyat yang berbahaya bagi status quo.

Michel Foucault dalam Discipline and Punish (1975) menjelaskan bagaimana kekuasaan bekerja melalui disiplin dan pengawasan. Kita tidak perlu polisi atau penjara untuk mengontrol kita; kita mengontrol diri sendiri karena takut dinilai orang lain. Kita menjadi badut yang mendisiplinkan diri sendiri memastikan topeng kita tetap sempurna, takut jika ada yang melihat keretakannya.

Autentisitas Sebagai Perlawanan: Jalan Keluar Dari Panggung

Jika semua ini terasa suram, masih ada secercah harapan. Lagu “Badut” tidak hanya mengeluh; ia juga membuka pintu. Di bait pertama, sebelum semua kritik sosial, Iwan Fals menulis:

“Angin malam di sela jemari”

“Peluh di kening semakin membeku”

Ini adalah sensasi tubuh pengalaman fisik yang otentik, yang tidak bisa dipalsukan. Angin yang terasa di tangan, peluh yang mengering di kening ini adalah momen ketika topeng berhenti, dan tubuh kita berbicara.

Melepas topeng, di zaman di mana topeng adalah wajah, adalah tindakan perlawanan. Ini bukan berarti kita harus menelanjangi diri di publik atau membuang semua peran sosial. Tapi itu berarti:

 Menciptakan ruang aman. Cari satu ruang, satu waktu, satu orang di mana Anda bisa menjadi diri sendiri tanpa topeng. Ini bisa di rumah, di ruang ibadah, di komunitas kecil, di terapi, atau di kedekatan dengan satu orang yang percaya.

 Mengakui kerapuhan. Berani mengatakan, “Aku lelah,” “Aku takut,” atau “Aku tidak tahu,” di depan orang yang tepat. Tidak harus di publik, tapi di ruang yang aman.

 Tidak takut pada kegagalan. Biarkan diri Anda gagal di depan umum tanpa harus segera memasang topeng baru untuk memperbaikinya. Kegagalan adalah bagian dari menjadi manusia.

 Diam. Di era kebisingan digital, diam adalah tindakan revolusioner. Matikan ponsel. Hening. Biarkan pikiran-pikiran datang dan pergi tanpa harus segera diubah menjadi konten.

 Bertanya. Seperti yang sering saya ulang: jangan tanya “apa yang saya lakukan?” tapi “siapa yang saya layani dengan perbuatan ini?”

Martin Heidegger dalam Being and Time (1927) berbicara tentang hidup dalam das Man (ke-hari-hari-an) kita menjalani hidup yang bukan milik kita sendiri, mengikuti kata orang, menjadi “mereka” daripada “aku.” Untuk keluar dari itu, kita harus menghadapi kecemasan (angst) yang muncul saat kita menyadari bahwa semua proyek kita, semua peran kita, semua topeng kita pada akhirnya akan berakhir dalam kematian.

Tapi justru dalam kesadaran akan kematian itulah kita bisa hidup secara autentik. Karena jika kita akan mati, mengapa menghabiskan hidup sebagai badut? Mengapa terus berakting untuk penonton yang juga badut?

Bagi yang religius, pertanyaan ini punya dimensi spiritual. Jika kita percaya ada Yang Maha Melihat, yang melihat tanpa topeng, yang melihat intensi hati bukan sekadar penampilan maka menjadi badut bagi manusia tapi lurus di hadapan Tuhan adalah kompromi yang tragis. Tapi saya tidak akan memaksakan keyakinan. Yang saya tawarkan adalah pertanyaan terbuka: jika tidak ada yang melihat pada akhirnya, di malam hari, saat sendirian siapa kau sebenarnya?

Refleksi Di Zaman Medsos: Badut 2.0

Jika lagu “Badut” lahir di 1989, kita membayangkan bagaimana Iwan Fals akan merevisi liriknya jika melihat dunia 2026.

Tahun 1989, “panggung” utama adalah TV, koran, radio, dan mimbar-mimbar resmi. Media masih terpusat; elite masih mengontrol narasi. Iwan Fals menyindir mereka yang ada di panggung itu.

Tapi di 2026, semua orang punya panggung sendiri. Media sosial telah mendemokratisasikan kepalsuan. Kita semua sekarang bisa menjadi “artis” di panggung masing-masing, dengan pengikut yang beragam, dengan tontonan yang kita rancang sendiri.

Dulu Iwan Fals menyindir “politisi palsu” dan “kaum pencuri tikus.” Sekarang, sindiran itu bisa ditujukan ke:

Influencer yang menjual gaya hidup mewah padahal utang menumpuk.

Content creator yang terus tersenyum di kamera meski depresi berat.

Pejabat publik yang berswafoto di acara amal padahal korupsi di belakang.

Orang biasa seperti kita yang mengunggah kebahagiaan di media, tapi menangis dalam diam.

Dulu, sindiran itu hanya tentang “mereka” yang di panggung. Sekarang, sindiran itu tentang kita semua karena panggung sekarang ada di mana-mana, dan kita semua wajib naik ke atasnya.

Data menunjukkan betapa parah dampaknya. Tingkat kecemasan, depresi, dan kesepian meningkat tajam secara global terutama di kalangan muda yang tumbuh di era media sosial. 

Studi demi studi menghubungkan penggunaan media sosial yang intens dengan:

Perbandingan sosial yang tak sehat.

Distorsi citra tubuh.

Kehilangan kemampuan fokus dan hadir secara fisik.

Krisis identitas siapa aku di dunia nyata vs di dunia digital?

Sherry Turkle dalam Alone Together (2011) menulis dengan tajam:

“Kita berharap banyak dari teknologi, tapi semakin sedikit dari satu sama lain, dan semakin sedikit dari diri kita sendiri.”

Kita menciptakan “diri digital” yang lebih menarik, lalu kita berusaha menjadi dia tapi semakin berusaha, semakin jauh dari diri asli kita. Kita menjadi badut yang mengejar bayangannya sendiri.

Pesan, Idealisme, Dan Nilai Yang Ditawarkan

Dari semua analisis di atas, apa yang bisa kita petik? Apa pesan dan nilai yang ditawarkan lagu “Badut” untuk kehidupan kita?

Pertama: Keberanian untuk Bertanya. Lagu ini mengajarkan satu hal fundamental: beranilah bertanya pada diri sendiri. Bukan tentang “apa yang kau lakukan,” tapi “siapa yang kau layani dengan tingkahmu?” Apakah kau bekerja untuk kehidupan, atau untuk gengsi? Apakah kau bahagia, atau sekadar tampak bahagia? Apakah kau menjadi dirimu, atau menjadi yang orang lain inginkan?

Kedua: Autentisitas sebagai Perlawanan. Di dunia yang memaksa kita semua menjadi badut, melepas topeng adalah tindakan revolusioner. Ini bukan berarti menelanjangi diri di publik atau membuang semua peran sosial. Tapi sisakan ruang di mana kau bisa menjadi asli dengan satu orang yang kau percaya, atau dengan Tuhan, atau dengan dirimu sendiri di saat sunyi. Ini adalah bentuk perlawanan paling personal dan bermakna.

Ketiga: Menyadari Sistem, Melawan Secara Kolektif. Kepalsuan individu tidak muncul dari ruang hampa. Ada sistem kapitalisme, media, dan politik yang mendorong kita menjadi badut. Maka, selain melepas topeng pribadi, kita juga perlu mempertanyakan siapa yang membangun panggung ini dan mengapa kita semua diwajibkan naik ke atasnya. Ini bukan sekadar spiritualitas individual, tapi juga kritik sosial yang kolektif.

Keempat: Pengampunan Diri. Lagu berakhir dengan permohonan: “Ampuni aku yang telah menjadi badut.” Ini bukan hanya permohonan kepada Tuhan atau orang lain. Ini adalah undangan untuk mengampuni diri sendiri karena kita semua telah mengkhianati keaslian kita, menjual muka dan perasaan demi pengakuan orang lain. Pengampunan dimulai dari pengakuan: “Aku lelah, aku salah, aku sedang berusaha.”

Kelima: Menemukan “Aku” di Balik Badut. Di akhir semua topeng, ada dirimu yang asli. Mungkin ia telah lama terlupakan, kusam, dan asing bagimu. Tapi ia layak ditemukan. Proses pencarian itu sendiri melepas topeng perlahan-lahan, menghadapi ketidaknyamanan menjadi diri sendiri adalah perjalanan spiritual yang paling berharga.

Di Luar Panggung, Ada Angin Malam

Di akhir lagu, Iwan Fals mengulang bait tentang “angin malam di sela jemari” dan “peluh di kening semakin membeku.” Ini adalah momen hening di tengah hiruk-pikuk kepalsuan. Saat pertunjukan berakhir, saat topeng mulai terasa berat, saat kita lelah menjadi badut ada sensasi tubuh yang tak bisa dipalsukan.

Angin malam tetap berhembus, peluh tetap mengering. Tubuh kita, dengan segala keterbatasannya, adalah kebenaran terakhir yang tak bisa kita manipulasi. 

Di situlah, mungkin, kita bertemu dengan diri kita yang asli.

Lagu “Badut” tidak memberi solusi praktis. Iwan Fals tidak memberi resep 10 langkah menjadi autentik. Ia hanya memberi cermin. Dan di cermin itu, kita melihat wajah sendiri dengan catnya, topengnya, senyum palsunya. Tapi di balik semua itu, ada mata yang lelah, yang bertanya: “Apa ini aku?”

Dan dari pertanyaan itulah segalanya dimulai.

Dunia memang panggung. Tapi di luar panggung, di sela jemari yang terhembus angin malam, ada dirimu yang asli. Mungkin masih asing. Tapi ia layak ditemukan. Ia layak dihidupi.

Pertanyaan Reflektif Untuk Pembaca

Setelah membaca esai ini, izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan untuk direnungkan bukan untuk dijawab di publik, tapi untuk dijawab dalam hati, di malam hari, saat semua topeng mulai terasa berat:

 Di peran apa Anda memakai topeng paling tebal? Mengapa topeng itu begitu sulit dilepas?

 Adakah satu ruang dalam hidup Anda di mana Anda bisa benar-benar menjadi diri sendiritanpa filter, tanpa pencitraan, tanpa beban peran?

 Jika semua topeng yang Anda kenakan hari ini tiba-tiba terlepas, apakah Anda masih mengenali siapa Anda?

 Pernahkah Anda, dalam beberapa tahun terakhir, benar-benar hadir-hadir secara utuh, tanpa ponsel, tanpa pikiran ke mana-mana, hanya ada di sini dan sekarang?

 Jika Anda bertemu dengan diri Anda yang berusia 10 tahun apa yang akan ia katakan tentang siapa Anda sekarang? Apakah Anda menjadi orang yang ia harapkan?

                  Batu, 13 Juni 2026

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...