Artikel · Potret Online

Bank Mandiri Kena Batunya, Ramai Seruan Boikot

Penulis  Rosadi Jamani
Agustus 24, 2026
3 menit baca 7
4cf259bb-2eed-47b8-a353-b3dc94b07de1
Foto / IlustrasiBank Mandiri Kena Batunya, Ramai Seruan Boikot

Oleh Rosadi Jamani

Bank Mandiri tampaknya sedang mendapat pelajaran paling mahal dari dunia perbankan. Kepercayaan itu gampang dititipkan, tetapi susah kalau sudah ditarik. Gara-garanya Rp80,9 juta. Seruput Koptagul dulu, wak!

Bukan uang receh hasil mengumpulkan kembalian warung. Itu rekening milik Supriyono alias Botok, koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), berisi gabungan uang pribadi dan donasi masyarakat untuk operasional, logistik, akomodasi, serta konsumsi massa aksi 27 Agustus 2026 di depan Gedung DPR RI.

Tuntutannya pun bukan minta diskon kopi. Mereka menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor.

Namun Jumat, 21 Agustus, ketika Botok sedang di Jakarta mendampingi warga Pati, rekening Bank Mandirinya mendadak tidak bisa digunakan. Saldo masih nongol. Rp80,9 juta masih ada. Tapi transaksinya tidak jalan. Uangnya seperti sedang masuk ruang tunggu.

Bank Mandiri meminta maaf dan menjelaskan, tindakan tersebut merupakan tindak lanjut permintaan aparat penegak hukum sesuai prosedur dan ketentuan berlaku. Bank juga menegaskan komitmennya terhadap GCG, kepatuhan, dan prinsip kehati-hatian.

Bahasanya memang sangat sopan. Hampir seperti orang meminjam uang lalu berkata, “Mohon maaf, untuk sementara uang Anda kami amankan demi kenyamanan bersama.”

Polda Metro Jaya kemudian meluruskan. Yang diajukan bukan pemblokiran rekening, melainkan penundaan transaksi berdasarkan Pasal 26 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU, maksimal lima hari kerja.

Dana tidak disita. Masih milik pemilik. Kalau tidak ditemukan indikasi pidana, akan dibuka kembali.

PPATK pun ikut memberikan penjelasan. Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menyatakan pihaknya saat ini tidak melakukan penghentian terhadap rekening AMPB. Penyidik memiliki kewenangan sendiri. Publik pun mulai garuk kepala.

Bank bilang ada permintaan aparat.
Polda bilang penundaan.
PPATK bilang bukan mereka.
Uang tetap tidak bisa dipakai.

Yang kemudian bergerak justru netizen. Seruan “boikot Bank Mandiri” ramai di X. Kata “boikot” dan “Bank Mandiri” trending. Kolom Instagram bank diserbu.

Ada yang mengancam menarik seluruh portofolio. Ada bilang pindah bank. Ada menyindir, “Mau boikot, tapi payroll masih Mandiri.”

Ini namanya revolusi modern. Semangat sudah 1945. Payroll masih tanggal 25. Ada pula berkata, “Nanti gw nggak makan.”

Nah, ini baru realitas rakyat. Boikot bank tidak seperti berhenti membeli gorengan. Yang dipertaruhkan bisa gaji, cicilan, bisnis, transfer, tabungan, dan segala keruwetan administrasi.

Karena itu, koalisi masyarakat sipil seperti CELIOS, YLBHI, Amnesty International Indonesia, dan lainnya mengecam keras. Mereka mengingatkan, jika publik merasa bank dapat menahan dana nasabah karena tekanan aparat, yang terancam bukan cuma Rp80,9 juta. Yang terancam adalah kepercayaan terhadap sistem perbankan. Bank hidup dari kepercayaan.

LPPI melalui Trioksa mengingatkan agar ajakan rush money tidak berlebihan. Kasus harus dilihat satu per satu. Apalagi kinerja Bank Mandiri masih bagus. Laba semester I 2026 tumbuh 24,4 persen menjadi Rp30,4 triliun. Namun saham BMRI sempat turun 0,71 persen ke Rp4.190 pada sesi I.

Pimpinan DPR juga membela bank dengan keyakinan Himbara tidak mungkin bertindak sepihak. Masalahnya, publik tidak sedang menghitung laba. Publik sedang menghitung rasa aman.

Sebab pertanyaan paling sederhana justru paling mengganggu, “Kalau hari ini uang orang lain bisa ditunda, besok uang saya bagaimana?”

Itulah kenapa Bank Mandiri sekarang kena batunya. Bukan karena Rp80,9 juta itu besar bagi sebuah bank. Tetapi karena Rp80,9 juta itu menjadi simbol. Simbol tentang uang rakyat, aparat, bank, hukum, dan kepercayaan yang sedang saling tatap.

Uangnya mungkin segera kembali bisa digunakan. Saham mungkin kembali naik. Netizen mungkin kembali sibuk. Tetapi kalau kepercayaan sudah terlanjur packing koper, jangan berharap pulang hanya karena diberi cashback.

Bank Mandiri kena batunya. Kalau rakyat ramai-ramai mulai bilang “boikot”, mungkin yang harus diperiksa bukan cuma rekening. Tetapi juga kenapa kepercayaan sampai ikut dibekukan.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...