Oleh Riefqy Akmal
Kota ini tidak pernah punya waktu untuk sekadar bertanya siapa namaku. Di sini, di rimba beton yang angkuh ini, aku hanyalah sebutir debu di antara jutaan pasang kaki yang berjalan. Langitnya tidak pernah benar-benar hitam, melainkan abu-abu tembaga karena pantulan lampu merkuri dan polusi yang mencekik napas.
AW Tidak ada suara muazin yang meliuk merdu dari pengeras suara masjid seperti di kampungku, yang ada hanyalah bunyi klakson berjamaah yang saling memaki dan deru mesin yang tak pernah mengenal kata jeda. Itulah gambaran kota yang sedang memaksaku untuk dewasa.
Aku, Zidan. Seorang remaja yang nekat merantau jauh ke kota besar dua tahun yang lalu, demi meraih impian menjadi seorang pemimpin yang dapat menyejahterakan rakyat kecil di pelosok pulau Simeulue. Tanah kelahiranku.
Di bawah lampu-lampu kota yang tak pernah tidur, ingatanku sering kali terbang kembali ke dermaga itu. Aku masih bisa mendengar bisikan Mak, yang begitu lirih dengan segala harapannya.
“Pergilah Nak, Taklukkan kota itu. Jangan pulang jika kau belum menjadi orang yang berguna untuk tanah tempat lahirmu ini”. Bisik Mak di dermaga, dengan harapan yang kini terasa begitu jauh. “Ayah dan Mak, akan selalu menjadi tempat pulang bagimu, jangan pernah lupakan kami”. Tutur Ayah dengan suara lembutnya.
Kini, aku hanya bisa berdiri sebatang kara di balkon rumah kos yang sempit dan berbau lembab ini. Di bawah sana, manusia terlihat berlalu lalang seperti segerombolan semut yang kehilangan kompas. Mereka berpakaian rapi, membawa tas jinjing mahal, dan bicara dengan gaya yang tegas dan nada cepat yang sulit ku kejar.
Aku datang ke kota ini untuk menjadi bagian dari mereka, untuk duduk di bangku Universitas yang gedungnya menjulang tinggi ke atas langit. Namun, kota ini punya cara yang sangat jahat untuk menjatuhkan semua impianku sebagai seorang anak rantau dari daerah terpencil.
*****
Kuliahku berantakan. Awalnya hanya satu mata kuliah yang kutinggalkan karena aku merasa terlalu lelah bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi hingga dini hari. Lalu, satu mata kuliah tertinggal, menjadi dua, dan dua menjadi seluruh semester. Saat itulah aku mulai merasa asing dengan diriku di dalam kelas.
Teman-temanku berbicara tentang trend baru, tentang tempat-tempat estetik, sementara aku hanya sibuk menghitung sisa koin untuk makan esok hari. Rasa rendah diri itu perlahan berubah menjadi sebuah lubang hitam yang siap menghisapku kapan saja.
Aku mulai mencari pelarian. Aku mulai berteman dengan asap dan miras oplosan di sudut kota yang gelap tanpa mengenal cahaya. Di sana aku mencoba meluapkan segala keresahanku.
Rasanya ingin sekali mengakhiri semua ini, aku ingin hidup lebih tenang tanpa memikul beban, karena dunia begitu kejam menuntutku. Akan tetapi, setiap kali aku mencobanya. Tuhan selalu berkata tidak. Seluruh memori kepingan masa lalu selalu saja mengusik hatiku untuk tetap bertahan dengan semua ini.
Aku telah menjadi orang yang asing bagi diriku sendiri. Zidan yang di kenal dulu rajin mengaji, suka membantu orang, senantiasa menjadi pahlawan bagi Mak. Namun, sekarang tidak demikian. Ya, Zidan yang dulu sudah benar-benar mati, terkubur dibawah tumpukan rasa malas dan putus asa yang menyamar menjadi gaya hidup.
Hingga sore itu, sebuah paket asing datang. Kurir paket itu tampak terburu-buru, sama seperti orang lain di kota ini. Ia menyerahkan sebuah kardus yang dibalut lakban coklat rapat, sedikit bagiannya telah penyot akibat benturan. Aku mengambilnya dengan pikiran yang penuh dengan pertanyaan. Siapa pengirimnya?.
Akan tetapi tiba-tiba saat tanganku menyentuh permukaan kardus tersebut, ada sesuatu yang bergetar di dalam dadaku. Nama pengirim itu tertulis jelas dengan tulisan khasnya.
Pada akhirnya aku sadar, jika kardus itu tidak hanya membawa barang tapi, ia juga membawa jiwa yang sangat dirindukan.
Aku membawanya masuk ke dalam kamar. Lalu, membuka lakban kardus itu dengan pisau lipat sedikit karatan. Begitu kardus itu terbuka, tiba-tiba udara di dalam kamarku berubah, aroma yang sangat kuat itu mengikis hati kecilku, seketika semua ingatan tentang masa lalu kembali menghantuiku.
Ya, itu bau yang sangat spesifik, bau yang tidak diproduksi oleh restoran bintang lima di mana pun. Bau rempah Oen Teumuru, serat lengkuas, ketumbuar yang disangrai sempurna, dan lemak sapi yang lumer dalam bumbu merah yang pekat.
Daging Meugang. Seketika, ingatanku melesat ingin pulang ke Aceh, menembus ribuan kilometer jarak dan waktu. Di sana, aku melihat Ayah, dengan sarung legendrarisnya yang diikat kencang di pinggang, membelah kayu bakar di belakang rumah. Aku melihat Mak, dengan wajahnya yang memerah karena uap kuali besar, tangannya yang mulai keriput tak henti mengaduk bumbu.
Meugang adalah hari yang sakral bagi kami. Kami makan bersama, tertawa bersama, dan merasa menjadi orang paling kaya di dunia ini hanya dengan ada sepotong daging di atas nasi hangat.
Di dalam kardus itu, ada botol plastik bekas air mineral yang di isi dengan daging yang sudah dimasak kering agar tahan lama. Di bawahnya, ada sepucuk surat, kertasnya agak berminyak, mungkin terkena noda bumbu saat Mak menulisnya dengan tergesa-gesa. Aku mulai membuka lipatan surat itu, tulisannya tidak begitu panjang, tapi isinya cukup membuat tanganku bergetar hebat.
“Zidan, anakku sayang!
Baru saja membaca satu baris, mataku sudah mulai memanas dan seluruh badanku bergetar hebat hingga terjatuh tersungkur di sudut dinding kamar kosku.
“Apa kabar di kota besar, Anakku? Mak, harap kau selalu sehat, Mak harap kau selalu kuat, Mak harap kau tidak meneteskan air mata saat membaca ini. Mak, hanya ingin menyapamu”.
“Semoga, kamu suka dengan daging Meugang ini. Ayahmu sengaja menabung dari hasil panen jagung bulan lalu hanya untuk membeli sepotong paha sapi terbaik untukmu. Ayah bilang, Zidan harus makan daging Meugang ini supaya dia selalu ingat kalau dia masih punya rumah untuk pulang”.
Saat itu aku merasa hatiku seperti cermin yang dihantam keras hingga pecah tak lagi berbentuk. Air mataku sudah mengalir deras membasahi pipi. Seakan-akan hidupku sudah gagal untuk melakukan semua ini. Ayah rela menabung hanya untuk membelikan sepotong daging ini untukku tapi mengapa sekarang aku memilih untuk bermalas-malasan dan menyia-nyiakan kesempatan ini? Dimana letak hatiku sebagai seorang anak.
“Di sini, setiap habis magrib. Mak, selalu duduk di depan pintu dan melihat ke arah jalan. Mak selalu bayangkan kamu yang sedang belajar dengan tekun di bawah lampu yang terang. Mak, bangga sekali Zidan, Mak bangga. Tetangga-tetangga selalu bertanya kapan kamu pulang, dan Mak selalu bilang, Anakku sedang menimba ilmu untuk membangun Aceh ini bebas dari kata kemiskinan”.
“Jangan telat makan ya, Anakku. Doa, Mak dan Ayah akan selalu melindungi di mana pun kamu berada. Ingat, jangan pernah berkecil hati dengan kehidupan di dunia ini, karena pada dasarnya kita semua layak hidup dengan caranya masing-masing. Tuhan tidak pernah membedakan makhluk ciptaanya dengan kedudukan ekonomi, mau dia kaya atau miskin di mata Tuhan kita hanya makhluk biasa yang saling membutuhkan satu sama lain”.
“Mak harap, setelah kamu makan daging ini. Tolong berikan senyuman yang paling indah yang pernah kamu perlihatkan”.
Assalamualaikum, Anakku.
Aku terisak. Suara tangis yang selama ini kupendam di balik musik keras dan tawa di tongkrongan, kini pecah berkeping-keping. Aku merasa seperti pencuri. Aku merasa telah mencuri keringat Ayah yang kepanasan di ladang jagung. Aku telah merampok harapan Mak yang tulus di setiap sujudnya.
Aku mengambil sepotong daging itu dengan tangan yang gemetar. Rasanya masih sama. Rasa cinta yang tak bersyarat. Setiap kunyahannya terasa seperti sembilu yang begitu menyayat hati. Bagaimana mungkin aku setega ini?. Di sini aku menghamburkan banyak waktu dengan rasa kecemasan yang belum pasti, sementara mereka di sana mengharapkan seluruh sisa hidup mereka pada namaku.
Seketika, pandanganku melihat ke arah meja belajarku yang dipenuhi dengan tumpukan kertas tagihan dan buku-buku yang tak pernah kusentuh lagi. Debunya tebal, setebal dosa-dosa kecil yang kukumpulkan setiap harinya.
Aku teringat Zidan versi SMA, yang dengan beraninya berpidato di depan kelas tentang mimpinya yang ingin memajukan pendidikan di daerah. Mana dia? Di mana Zidan yang matanya menyala itu? Hah? Dimana?.
Aku menyadari satu hal yang menyakitkan. Bahwa perjalananku di kota ini bukan hanya sekadar tentang meraih gelar. Tetapi ini adalah tentang menembus pengkhianatan. Aku tidak bisa membiarkan daging Meugang ini menjadi makanan terakhir yang kudapat dari keringat Ayah tanpa memberikan hasil apapun.
Aku berdiri, langkahku perlahan berjalan menuju wastafel, dan mencuci mukaku dengan air yang sedingin es. Aku menatap pantulan diriku di cermin. Rambutku berantakan, mataku merah karena kurang tidur dan nangis. Tapi dibalik itu semua, aku melihat sepintas rumah panggung tua, di sana ada Mak dan Ayah yang sedang menungguku pulang di depan pintu dengan senyuman yang paling indah.
Aku mengambil lap basah, mulai membersihkan debu-debu yang menempel di meja belajarku. Aku membuang semua botol-botol kosong yang tak berguna ke tempat sampah. Aku membuka laptopku perlahan yang sudah mati berbulan-bulan.
“Mak, Ayah. Zidan akan pulang suatu saat nanti. Bukan sebagai pecundang. Zidan akan pulang dengan membawa semua kebahagian dan segala harapan yang pernah kalian titipkan dalam doa-doa itu”. Sekilas bisikanku pada kesunyian kamar.
Di luar sana, kota besar ini saja tetap bising, manusia tetap berlalu lalang tanpa peduli. Tapi bagiku, kebisingan sekarang itu tak begitu menakutkan lagi. Aku punya aroma Meugang yang akan terus menjagaku untuk bertumbuh. Aku punya kompas baru yang terbuat dari rindu dan rasa bersalah yang berubah menjadi tekad besar.
Meugang kali ini mungkin terasa paling menyedihkan karena aku menikmatinya sendirian di kamar sempit ini. Namun,Meugang kali ini jugalah yang telah menyelamatkan asaku dari penyesalan akhir yang nyaris terjadi. Aku mulai membuka halaman pertama bukuku kembali. Bismillah…
