HERTECH WPI Kenalkan AI sebagai Mitra Kerja Penulis, Bukan Pengganti Kreativitas

Oleh: Nuyange Jaimee
Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah cara penulis melakukan riset, menyusun gagasan, hingga mengembangkan naskah. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut memerlukan pemahaman yang memadai agar AI tidak digunakan sekadar untuk menghasilkan teks secara instan, melainkan sebagai instrumen yang mendukung proses berpikir dan meningkatkan produktivitas.
Perspektif tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam Pelatihan HERTECH: Berdaya AI yang diselenggarakan oleh Wanita Penulis Indonesia (WPI) bekerja sama dengan ICT Watch, Bisnis dan Profesional Wanita Indonesia (BPW Indonesia), Perkumpulan Senior Wanita Indonesia (PSWI), dan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) pada 30–31 Juli 2026 di Auditorium Universitas Al Azhar Indonesia.
Dalam acara pembukaan yang diawali dengan sambutan oleh Widuri, Direktur Operasional ICT Watch, yang menjelaskan tujuan dan alur pelaksanaan pelatihan HERTECH. Selanjutnya, Dr. Iin Suyaningsih, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Al Azhar Indonesia, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan program yang menghubungkan dunia akademik dengan pengembangan kompetensi digital masyarakat.
Dari pihak Wanita Penulis Indonesia (WPI), sambutan diwakili oleh Dra. Ariyani Isnamurti, Ketua I WPI, yang menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas penulis dalam menghadapi perubahan teknologi.
Sementara itu, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Presiden Federasi BPW Indonesia, secara resmi membuka pelatihan dan menekankan pentingnya penguasaan teknologi sebagai bagian dari penguatan kapasitas perempuan di era digital.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai bentuk pemanfaatan AI dalam aktivitas kepenulisan. AI dapat digunakan untuk membantu menemukan ide tulisan, menyusun kerangka artikel, merancang alur argumentasi, melakukan pencarian informasi awal, menyusun ringkasan referensi, memperbaiki struktur kalimat, hingga membantu proses penyuntingan bahasa. Meski demikian, narasumber menekankan bahwa kualitas analisis, kedalaman argumentasi, serta orisinalitas gagasan tetap merupakan tanggung jawab penulis.
Materi yang disampaikan Ian Keikai dari ICT Watch pada hari pertama mencakup Empat Pilar Literasi Digital, Dasar-Dasar Kecerdasan Artifisial, AI yang Etis, Inklusif, dan Aman, Internet Sehat di Era AI, serta praktik penggunaan berbagai perangkat AI. Sebelum materi dimulai, peserta mengikuti pre-test, kemudian setelah sesi pembelajaran berakhir dilakukan post-test sebagai bagian dari evaluasi pelatihan.
Hari kedua menghadirkan Indriyatno Banyumurti yang membahas AI dan Inklusivitas, AI dan Peluang Kini, serta AI dan Masa Depan. Ketiga materi tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman mengenai perubahan yang dibawa teknologi AI terhadap berbagai sektor pekerjaan serta pentingnya kesiapan masyarakat dalam mengembangkan kompetensi digital.
Salah satu pesan utama dalam pelatihan ini adalah bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai asisten intelektual, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia. Dalam praktik kepenulisan, AI dapat mempercepat pekerjaan-pekerjaan teknis, seperti menyusun kerangka tulisan, membuat alternatif judul, mengembangkan daftar pertanyaan penelitian, mengelompokkan data, atau merangkum dokumen. Namun, proses analisis, penafsiran data, penyusunan argumen, serta pengambilan sikap tetap memerlukan kapasitas intelektual penulis.
Narasumber juga mengingatkan bahwa hasil yang diberikan AI tidak selalu akurat. Informasi yang dihasilkan perlu diverifikasi kembali melalui sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Di samping itu, penggunaan AI harus memperhatikan etika akademik, hak cipta, perlindungan data pribadi, serta transparansi ketika teknologi tersebut digunakan dalam penyusunan karya ilmiah maupun karya kreatif.
Pelatihan HERTECH diselenggarakan secara terbuka bagi masyarakat umum, baik perempuan maupun laki-laki. Peserta berasal dari berbagai organisasi dan komunitas, antara lain Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ), Keluarga Besar Penyair Seksih (KBPS), Kampung Seni Jakarta (KSJ), HATIPENA, Seniman Jakarta Timur (SEJATI), Perkumpulan Guru se-Jakarta, serta berbagai komunitas lainnya. Keberagaman peserta menunjukkan bahwa literasi AI telah menjadi kebutuhan lintas profesi, tidak hanya bagi pekerja teknologi, tetapi juga bagi penulis, pendidik, seniman, pegiat budaya, dan komunitas kreatif.
Melalui pelatihan ini, WPI bersama para mitranya berupaya membangun pemahaman bahwa penguasaan AI bukan sekadar kemampuan mengoperasikan aplikasi digital. Yang lebih penting adalah kemampuan memanfaatkan teknologi secara kritis, produktif, dan bertanggung jawab sehingga AI menjadi alat yang memperkuat kualitas kerja intelektual, bukan menggantikan kreativitas dan daya pikir manusia.












