Negeri Dongeng

Oleh Reza Fahlevi
Satu tanah berguncang
Bencana melahap harapan
Tetesan Air mata yang memohon
Bukan untuk merengek
Tapi agar didengar
Bahwa mereka adalah manusia
Yang layak hidup seperti lainnya
Saat kekuatan menjadi ketakutan
Saat kepercayaan berubah menjadi kekecewaan
Ada bukti yang menjadi saksi
Mereka berteriak bukan karna lemah
Mataku
Melihat keseluruhan
Ada yang berlutut
Ada yang mencoba menghapus air mata
Ada yang mencaci
Juga ada yang anarkis
Kau pikir mereka melakukannya karna suka?
Aku… melihatnya dari sisi yang berbeda
Kekacauan yang melanda negeri
Bertahun-tahun hari berganti
Setiap janji hanya sebatas cerita dongeng
Untuk menciptakan kebahagian
Yang berlandaskan derita tak bersebab
Kisah masa lalu masih menghantui
Berubah wujudnya menjadi trauma yang mengusik ketenangan jiwa
Ketika masa depan masih juga membekas ingatan berdarah
Luka yang seharusnya tertambal itu
Malah terbuka semakin parah
Memberi sengatan perih di relung nadi
Kau bilang
Kita adalah bangsa yang kuat
Coba katakan
Bagaimana mereka bisa menjadi kuat
Jika perut masih kelaparan?
Kau bilang bangsa kita sudah cukup cerah
Coba katakan
Bagaimana mereka bisa menerangi negeri ini
Jika pendidikan masih saja kau abaikan?
Dan
Kau bilang
Budaya bangsa kita adalah bergotong royong
Saling membantu yang membutuhkan
Saling membahu untuk mencapai tujuan
Tapi, ke mana engkau saat mereka butuh?
Katamu
Kejujuran adalah nilai
yang terlahir alami dari bangsa ini
Tapi, kenapa kau masih juga melakukan korupsi?
Hutan yang kau megah-megahkan itu
Alam yang kau suruh jaga
Binatang-binatang yang kau perintahkan untuk dilindungi
Lantas
Kenapa banyak hutan yang gundul?
Sampai-sampai air hujan mengamuk dan menghabisi mereka
Tanpa ampun
Kau mengajari tata Krama kepada mereka
Tapi, kau sendiri tak beradab
Kau berterus terang
Agar pendapat disalurkan melalui aspirasi nyata
Malahan… Kau mengabaikan suara-suara mereka
Aku bingung
Sebab, kau merasa diri mampu memimpin sebuah negeri
Tapi saat ada satu perkara yang harus diselesaikan
Kau malah lenyap
Membatu
Dan tidak peduli
Tidakkah kau ingat
Hari-hari saat kau mengemis
Agar mereka mengizinkanmu
Menjadi seorang pemimpin?
Tidakkah kau ingat
Terhadap janji-janji
Yang kau lontarkan
Tepat di wajah mereka?
Dan saat masa kau berada di atas
Kau meludahi mereka
Mencampak mereka
Dan meninggalkan mereka
Sengsara
Tanpa ada secuil harapan
Kecuali
Omongan-omongan sampah
Yang keluar membusuk dari mulutmu
Lalu
Datang hari sakral
Di mana engkau menyebutnya sebagai titik kemerdekaan negeri
Menurutmu, apakah mereka sudah merdeka?
Atau kau malah membuatnya semakin terpuruk?
Kau hancurkan mimpi anak-anak
Kau lumpuhkan harapan orang tua yang mencari nafkah
Kau khianati semua jerih usaha para pemuda-pemudi
Lalu, coba katakan
Di mana letak kemerdekaan itu?
Kau telah merampas
Semua yang menjadi hak untuk mereka
Tak ada yang tersisa
Kecuali khayalan-khayalan
Yang kau narasikan
Seolah-olah negeri ini baik-baik saja
Padahal
Kau menghancurkannya dari dalam
Untuk membuatmu semakin perkasa tak terbatas
Kuucapkan selamat datang
Di sebuah negeri
Yang alam indahnya dihancurkan
Masyarakatnya dikhianati
Kekayaan dari hasil bumi dirampas
Dan kebohongan tersebar di sudut mana pun
Inilah yang kusebut negeri dongeng
Indah dalam khayalan
Menderita dalam wujud kenyataan
Nikmati saja
Selama kau masih ada waktu











