Artikel · Potret Online

Negeri Dongeng

Penulis  Redaksi
Agustus 17, 2026
3 menit baca 4
IMG_2573
Foto / IlustrasiNegeri Dongeng

Oleh Reza Fahlevi

Satu tanah berguncang

Bencana melahap harapan

Tetesan Air mata yang memohon

Bukan untuk merengek

Tapi agar didengar

Bahwa mereka adalah manusia

Yang layak hidup seperti lainnya

Saat kekuatan menjadi ketakutan

Saat kepercayaan berubah menjadi kekecewaan

Ada bukti yang menjadi saksi

Mereka berteriak bukan karna lemah

Mataku

Melihat keseluruhan

Ada yang berlutut

Ada yang mencoba menghapus air mata

Ada yang mencaci

Juga ada yang anarkis

Kau pikir mereka melakukannya karna suka?

Aku… melihatnya dari sisi yang berbeda

Kekacauan yang melanda negeri

Bertahun-tahun hari berganti

Setiap janji hanya sebatas cerita dongeng

Untuk menciptakan kebahagian

Yang berlandaskan derita tak bersebab

Kisah masa lalu masih menghantui

Berubah wujudnya menjadi trauma yang mengusik ketenangan jiwa

Ketika masa depan masih juga membekas ingatan berdarah

Luka yang seharusnya tertambal itu

Malah terbuka semakin parah

Memberi sengatan perih di relung nadi

Kau bilang

Kita adalah bangsa yang kuat

Coba katakan

Bagaimana mereka bisa menjadi kuat

Jika perut masih kelaparan?

Kau bilang bangsa kita sudah cukup cerah

Coba katakan

Bagaimana mereka bisa menerangi negeri ini

Jika pendidikan masih saja kau abaikan?

Dan

Kau bilang

Budaya bangsa kita adalah bergotong royong

Saling membantu yang membutuhkan

Saling membahu untuk mencapai tujuan

Tapi, ke mana engkau saat mereka butuh?

Katamu

Kejujuran adalah nilai 

yang terlahir alami dari bangsa ini

Tapi, kenapa kau masih juga melakukan korupsi?

Hutan yang kau megah-megahkan itu

Alam yang kau suruh jaga

Binatang-binatang yang kau perintahkan untuk dilindungi

Lantas

Kenapa banyak hutan yang gundul?

Sampai-sampai air hujan mengamuk dan menghabisi mereka

Tanpa ampun

Kau mengajari tata Krama kepada mereka

Tapi, kau sendiri tak beradab

Kau berterus terang

Agar pendapat disalurkan melalui aspirasi nyata

Malahan… Kau mengabaikan suara-suara mereka

Aku bingung

Sebab, kau merasa diri mampu memimpin sebuah negeri

Tapi saat ada satu perkara yang harus diselesaikan

Kau malah lenyap

Membatu

Dan tidak peduli

Tidakkah kau ingat

Hari-hari saat kau mengemis

Agar mereka mengizinkanmu

Menjadi seorang pemimpin?

Tidakkah kau ingat

Terhadap janji-janji

Yang kau lontarkan

Tepat di wajah mereka?

Dan saat masa kau berada di atas

Kau meludahi mereka

Mencampak mereka

Dan meninggalkan mereka

Sengsara

Tanpa ada secuil harapan

Kecuali

Omongan-omongan sampah

Yang keluar membusuk dari mulutmu

Lalu

Datang hari sakral

Di mana engkau menyebutnya sebagai titik kemerdekaan negeri

Menurutmu, apakah mereka sudah merdeka?

Atau kau malah membuatnya semakin terpuruk?

Kau hancurkan mimpi anak-anak

Kau lumpuhkan harapan orang tua yang mencari nafkah

Kau khianati semua jerih usaha para pemuda-pemudi

Lalu, coba katakan

Di mana letak kemerdekaan itu?

Kau telah merampas

Semua yang menjadi hak untuk mereka

Tak ada yang tersisa

Kecuali khayalan-khayalan

Yang kau narasikan

Seolah-olah negeri ini baik-baik saja

Padahal

Kau menghancurkannya dari dalam

Untuk membuatmu semakin perkasa tak terbatas

Kuucapkan selamat datang

Di sebuah negeri

Yang alam indahnya dihancurkan

Masyarakatnya dikhianati

Kekayaan dari hasil bumi dirampas

Dan kebohongan tersebar di sudut mana pun

Inilah yang kusebut negeri dongeng

Indah dalam khayalan

Menderita dalam wujud kenyataan

Nikmati saja

Selama kau masih ada waktu

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...