Namaku Aina

Oleh Redaksi
03 Juni 2026
3 menit baca
IMG_1439
Namaku Aina

Oleh Drs. Yulsafli, M.A.

Di kampus, banyak orang mengenalku sebagai mahasiswi yang cantik, pintar berbicara, dan selalu tampil mewah. Tas bermerek menggantung di pundakku, parfum mahal melekat di tubuhku, dan telepon genggam terbaru selalu ada di tanganku. Orang-orang mengira aku berasal dari keluarga kaya.

Padahal tidak.

Ayahku hanyalah seorang pensiunan buruh pelabuhan di sebuah kampung kecil. Ibuku menjual kue untuk menyambung hidup. Ketika aku diterima di universitas di kota besar, mereka menjual sebidang tanah agar aku bisa kuliah.

Namun kota mengubahku.

Awalnya aku hanya iri melihat teman-teman yang hidup serba ada. Mereka nongkrong di kafe mahal, membeli pakaian baru setiap minggu, dan berlibur tanpa memikirkan uang. Aku mulai merasa malu dengan diriku sendiri.

Suatu malam, seorang lelaki bernama Riko mengajakku makan malam. Dia bukan mahasiswa. Umurnya jauh lebih tua. Setelah makan, ia memberiku uang dengan alasan “uang transport.”

Jumlahnya lebih besar daripada uang belanja ibuku selama seminggu.

Sejak malam itu, aku mulai terbiasa mencari lelaki-lelaki yang mudah dipermainkan. Aku pandai merayu. Dengan senyum dan kata-kata manis, aku membuat mereka percaya bahwa aku mencintai mereka.

Padahal aku hanya menginginkan uang.

Ada lelaki yang kubohongi dengan cerita biaya kuliah menunggak. Ada yang kutipu dengan alasan ibuku sakit. Bahkan ada yang rela menjual motornya demi membantuku.

Aku menikmati semuanya.

Aku merasa hidupku akhirnya mewah. Aku tak peduli pada perasaan orang lain. Bagiku, lelaki hanyalah dompet berjalan.

“Perempuan seperti kamu itu berbahaya, Aina,” kata sahabatku, Mira, suatu hari.

Aku hanya tertawa.

“Semua orang mencari keuntungan, Mir. Aku cuma lebih pintar.”

Tahun demi tahun berlalu. Namaku mulai buruk di kalangan mahasiswa. Banyak yang berbisik di belakangku. Ada yang menyebutku perempuan penipu. Ada pula yang mengatakan hidupku tak ubahnya seorang pelacur terselubung.

Aku marah mendengarnya, tetapi jauh di dalam hati, aku tahu mereka tidak sepenuhnya salah.

Lalu aku hamil.

Saat itu aku bahkan tidak benar-benar tahu siapa ayah dari anak yang kukandung. Ada terlalu banyak lelaki yang datang dan pergi dalam hidupku.

Ketika perutku mulai membesar, semua lelaki yang dulu menghambur-hamburkan uang untukku perlahan menghilang. Tidak ada yang mau bertanggung jawab.

Nomor teleponku diblokir.

Pesanku tidak dibalas.

Aku sendirian.

Aku berhenti kuliah pada semester akhir. Aku pulang ke rumah dengan rasa malu yang tak sanggup kupandang sendiri. Ibuku menangis saat melihat keadaanku. Ayahku lebih banyak diam.

Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki.

Aku menatap wajah kecil itu lama sekali di malam pertama. Ia tidur tenang di sampingku, tanpa tahu bahwa dunia akan menanyakan satu hal yang sulit kujawab:

“Siapa bapaknya?”

Aku menangis malam itu.

Untuk pertama kalinya, aku merasa kalah oleh hidupku sendiri.

Kini aku bekerja di sebuah warung kecil untuk membesarkan anakku. Hidupku jauh dari mewah. Kadang aku harus menahan lapar agar anakku bisa minum susu.

Setiap kali melihat wajahnya, aku teringat pada masa lalu yang penuh kebohongan.

Namaku Aina.

Dan inilah kisah tentang seorang perempuan yang pernah menganggap uang lebih penting daripada harga dirinya, sampai akhirnya hidup mengajarkannya arti penyesalan.

Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W