Oleh Muhammad Maskur
Bagi Alana, koridor gedung FKIP rasanya jauh lebih panjang di semester dua ini. Bukan karena jadwal kuliahnya yang makin padat, tapi karena di ujung lorong dekat mading, ia sering kali berpapasan dengan cowok yang beberapa bulan terakhir ini memenuhi pikirannya.
Zikri, mahasiswa semester empat yang juga kepala divisi di himpunan.
Siang itu kampus lagi panas-panasnya, tapi senyum Zikri langsung bikin adem. Cowok itu melambaikan tangan begitu melihat Alana jalan sendirian sambil memeluk tumpukan buku kuliah.
“Capek, Alana? Sini, aku bawain,” kata Zikri. Tanpa nunggu jawaban, ia langsung mengambil alih buku-buku di tangan Alana, lalu mengacak rambut gadis itu pelan.
Perlakuan manis kayak gini yang selalu sukses bikin Alana baper. Sebagai mahasiswi semester dua yang masih polos, Alana merasa jadi cewek paling beruntung. Tiga bulan ini, Zikri selalu ada buat dia. Zikri yang mengantarnya pulang pas hujan badai, menemaninya nugas sampai kafe kampus mau tutup, dan Zikri juga yang selalu menyemangatinya tiap kali Alana minder.
Tapi, ada satu hal yang mengganjal. Di antara semua perhatian itu, Zikri gak pernah memberi kepastian.
“Kita jalani aja dulu ya, Alana. Aku gak suka hubungan yang harus pakai status atau label. Yang penting kan tindakan,” begitu alasan Zikri setiap kali Alana memberanikan diri bertanya. Karena kepentok rasa sayang, Alana cuma bisa mengangguk pasrah.
Sampai akhirnya, sore itu di Hari Kamis, semuanya pecah.
Alana niatnya mau mengantarkan kotak bekal berisi brownies panggang buatannya ke ruang himpunan. Tapi langkahnya mendadak berhenti begitu melihat pintu ruangan sedikit terbuka. Di dalam, Zikri gak sendirian.
Ada Kak Vanya, mahasiswi semester enam sekaligus mantan sekretaris BEM U. Kak Vanya itu tipe kating yang anggun, pintar, dan jadi idola banyak orang.
“Zikri, sampai kapan kamu mau gantung aku?” suara Kak Vanya terdengar bergetar, kedengaran capek sekaligus nahan tangis. “Aku tahu kamu lagi dekat sama anak baru semester dua itu. Alana, kan?”
Jantung Alana rasanya mau copot. Ia refleks menahan napas di balik pintu.
Zikri menghela napas panjang, lalu meraih tangan Kak Vanya. “Van, dengerin aku dulu. Aku sama Alana itu gak ada apa-apa. Dia cuma maba yang butuh bimbingan di himpunan, aku kasihan aja sama dia.”
“Kasihan, tapi tiap hari bareng? Kamu pikir aku buta?”
“Gak gitu, Vanya. Kamu kan tahu, jauh sebelum Alana ada, aku udah sayang sama kamu dari semester lalu. Aku gak mau kehilangan kamu,” ucap Zikri lembut.
Nada suaranya persis banget dengan nada yang biasa ia pakai buat menenangkan Alana. “Tapi aku juga gak bisa langsung menjauh dari dia sekarang. Aku cuma butuh waktu. Tolong mengerti, Van. Aku sayang kamu, tapi aku juga gak mau kehilangan kenyamanan yang ada sekarang.”
Di luar ruangan, tangan Alana lemas seketika. Dadanya sesak sampai susah napas.
Zikri ternyata gak mau kehilangan dua-duanya. Cowok itu mau mempertahankan Kak Vanya yang sudah ditaksirnya sejak lama, tapi di saat yang sama, dia juga mau menjadikan Alana sebagai tempat singgah yang bisa dimanfaatkan perhatiannya.
Alana akhirnya sadar dia bukan prioritas, cuma cadangan saat Zikri bosan.
Tanpa suara, Alana mundur perlahan. Ia gak mendobrak pintu atau menangis histeris di sana. Sambil menahan tangis yang sudah di ujung mata, ia jalan cepat meninggalkan gedung himpunan. Kotak brownies tadi langsung dibuangnya ke tempat sampah.
Malamnya, ponsel Alana bergetar. Nama Zikri muncul di layar.
“Alana, besok sarapan bareng yuk sebelum kelas pagi? Aku jemput ya.”
Alana menatap pesan itu dengan mata sembap. Di semester dua ini, ia baru sadar kalau pelajaran paling berharga di kampus bukanlah teori kuliah yang ribet, melainkan tahu kapan harus berhenti menurunkan harga diri demi orang yang salah.
Ia membalas singkat. “Gak usah, Kak. Aku berangkat bareng temen sekelas.”
Besoknya, Zikri langsung mencegat Alana di taman kampus. Wajahnya kelihatan bingung, mungkin heran karena biasanya Alana gak pernah menolak kalau dijemput.
“Alana, kamu kenapa sih? Kok chat semalam dingin banget? Aku ada salah ya?” tanya Zikri sambil mau memegang pergelangan tangan Alana.
Alana langsung melangkah mundur. Zikri mengerutkan dahidan kelihatan heran.
“Aku udah tahu soal Kak Vanya, Kak,” kata Alana langsung, malas berbasa-basi. Suaranya datar tapi tegas.
Muka Zikri langsung berubah panik. “Alana, kamu salah paham. Aku sama Vanya itu cuma”
“Cuma apa? Cuma kating yang udah Kakak sayang dari semester lalu?” potong Alana, mengulang kalimat Zikri kemarin. “Aku dengar semua obrolan kalian kemarin sore di ruang himpunan, Kak.”
Zikri langsung bungkam. Rahasianya terbongkar total.
Tapi karena dasarnya egois, dia masih mencoba membela diri.
“Alana, dengerin aku dulu,” Zikri merendahkan suaranya, memasang muka sedih yang biasanya selalu berhasil melunakkan hati Alana. “Memang aku punya perasaan yang belum selesai sama Vanya. Tapi perasaan aku ke kamu itu beneran, Alana. Aku nyaman banget sama kamu. Aku… aku gak mau kehilangan kamu. Tolong jangan kayak gini.”
Alana menatap cowok di depannya. Semester lalu, cowok ini adalah dunianya. Tapi sekarang, Alana cuma melihat sosok egois yang serakah, yang mau menjaga dua hati sekaligus tanpa peduli betapa hancurnya perasaan orang lain.
“Kak Zikri tahu gak bedanya aku sama Kak Vanya?” tanya aku pelan.
Zikri cuma menggeleng.
“Kak Vanya mungkin bertahan karena udah telanjur sayang sama Kakak dari semester lalu. Tapi aku? Aku baru semester dua, Kak. Perjalanan kuliahku masih panjang, dan aku mau mulai perjalanan itu dengan menghargai diriku sendiri.”
Alana menghela napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya.
“Kakak bilang gak mau kehilangan aku karena nyaman? Itu bukan sayang, Kak, tapi maruk. Kakak mau mempertahankan Kak Vanya demi gengsi, tapi tetap mau ada aku buat nemenin Kakak pas lagi bosan.”
“Alana, aku bisa berubah. Kita omongin baik-baik ya,” potong Zikri panik. Dia mau meraih tangan Alana lagi, tapi Alana langsung menjauhkan tangannya.
“Gak ada yang perlu diomongin lagi, Kak. Dari awal hubungan kita emang udah salah. Kakak cuma menyia-nyiakan ketulusan aku demi mempertahankan orang lain.
Alana memeluk tas ranselnya lebih erat. Gak ada air mata yang tumpah di depan Zikri. Alana menolak kelihatan lemah di depan orang yang sudah mempermainkannya.
“Mulai hari ini, jangan cari aku lagi. Anggap kita gak kenal kalau di luar urusan himpunan. Aku pergi bukan karena benci, tapi karena aku lebih sayang sama diriku sendiri.”
“Alana, please…”
“Permisi, Kak Zikri kelas aku udah mau mulai,” ucap Alana.
Alana langsung balik badan dan berjalan pergi. Tanpa sama sekali ia gak menengok ke belakang lagi. Rasanya lega, seolah beban berat yang menghimpit dadanya sejak kemarin mendadak hilang.
Sementara itu, Zikri cuma bisa melongo di tengah taman, melihat Alana yang perlahan menjauh lalu menghilang di balik koridor. Untuk pertama kalinya, Zikri sadar kalau sifat serakahnya justru bikin dia kehilangan orang yang tulus menyayanginya.
Satu bulan berlalu.
Ujian Tengah Semester akhirnya selesai. Alana lagi duduk di bangku taman kampus sambil makan es cream. Dari jauh, dia melihat Zikri jalan sendirian dengan muka kusut. Kabar tentang dia di kampus bilang kalau Kak Vanya akhirnya tahu kelakuan Zikri yang suka mendekati maba, dan memilih buat mutusin Zikri total sebelum dia lulus. Zikri akhirnya malah kehilangan dua-duanya.
Alana cuma tersenyum tipis, lalu kembali fokus membaca rangkuman materi di pangkuannya.
Gak ada penyesalan sama sekali. Semester dua ini emang diwarnai patah hati yang lumayan hebat. Tapi di semester ini juga Alana belajar hal paling penting, kalau harga diri seorang perempuan gak boleh ditukar hanya untuk jadi pilihan kedua di hidup orang lain.
Alana sudah lulus dari ujian itu, dan sekarang dia siap menghadapi semester-semester berikutnya dengan kepala tegak.
Pesan moral dari cerita ini adalah tentang pentingnya menghargai diri sendiri. Alana memilih mundur bukan karena perasaannya sudah hilang, tapi karena dia tahu harga dirinya jauh lebih berharga daripada mempertahankan cowok yang egois.
Saat kita bisa menghargai diri sendiri, kita tidak akan membiarkan orang lain memperlakukan kita sebagai pilihan kedua atau sekadar ban serep.
Diskusi