Esai · Potret Online

Menjalin Kembali Jejak Persaudaraan dalam Silaturrahmi IKAPDA Asel dan Abdya

Penulis Muhammad Ali Akbar, M.Pd I
Juni 3, 2026
7 menit baca 13
9b6699f0-d0a3-4a5a-befe-3e40cd9ac3e2
Foto / IlustrasiMenjalin Kembali Jejak Persaudaraan dalam Silaturrahmi IKAPDA Asel dan Abdya
Disunting Oleh

Oleh Muhammad Ali Akbar, M.Pd I

Persaudaraan adalah salah satu warisan terindah yang dibawa pulang oleh setiap santri setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Waktu boleh berlalu, usia boleh bertambah, bahkan rambut yang dahulu hitam legam perlahan mulai dihiasi warna putih, tetapi kenangan dan ikatan persaudaraan sesama alumni sering kali tetap hidup di dalam hati. 

Itulah yang tergambar dalam pertemuan sederhana antara perwakilan Ikatan Alumni Pesantren Darul Arafah (IKAPDA) Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya pada akhir Mei 2026 lalu.

Pertemuan yang diwakili oleh Akbar dari Aceh Selatan dan Fathir dari Aceh Barat Daya tersebut mungkin tidak dihadiri ratusan orang, tidak pula berlangsung di hotel berbintang. Namun justru dalam kesederhanaan itulah lahir kehangatan yang sulit diukur dengan angka. 

Sebab yang dipertemukan bukan hanya dua orang alumni, melainkan dua daerah yang memiliki semangat yang sama dalam menjaga ukhuwah dan membangun kebermanfaatan.

Dalam Islam, persaudaraan bukan sekadar hubungan sosial, melainkan bagian dari ajaran agama yang memiliki nilai ibadah. Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

 “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini mengingatkan bahwa hubungan sesama muslim harus dibangun di atas rasa saling menghargai, saling membantu, dan saling menguatkan. 

Karena itu, silaturrahmi alumni bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi upaya merawat amanah persaudaraan yang telah dibangun sejak berada di bangku pesantren.

1. Awal Pertemuan yang Menguatkan Ukhuwah Alumni

Silaturrahmi merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang memiliki nilai besar dalam membangun persaudaraan dan mempererat hubungan antarsesama. 

Pada akhir bulan Mei 2026 yang lalu, perwakilan alumni dari Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya mengadakan pertemuan sederhana namun penuh makna. Dari Aceh Selatan diwakili oleh Akbar, sedangkan dari Aceh Barat Daya diwakili oleh Fathir. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal yang baik dalam mempererat hubungan antaralumni Pondok Pesantren Darul Arafah.

Ikatan Alumni Pesantren Darul Arafah (IKAPDA) merupakan wadah yang menghimpun para alumni yang tersebar di berbagai daerah. Melalui organisasi ini, para alumni dapat saling mengenal, bertukar informasi, serta menjalin kerja sama dalam berbagai bidang kehidupan. 

Kehadiran IKAPDA bukan sekadar organisasi formal, melainkan sarana memperkuat ikatan emosional yang telah terjalin sejak masa menuntut ilmu di pesantren.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Tidak ada yang sibuk memperkenalkan jabatan atau pencapaian. Yang lebih banyak terdengar justru pertanyaan seperti, “Masih ingat si fulan?” atau “Masih ada yang kontak dengan teman kamar sebelah dulu?” Dari pertanyaan sederhana itulah bermunculan cerita-cerita lama yang membuat suasana semakin cair dan penuh tawa.

Sesekali pembicaraan mengarah pada kenangan masa mondok. Ada yang mengenang jadwal piket yang terasa seperti hukuman negara, ada pula yang mengingat bagaimana sulitnya bangun sebelum subuh ketika masih menjadi santri. Anehnya, hal-hal yang dahulu terasa berat kini justru menjadi cerita yang paling sering ditertawakan bersama.

Allah Swt. berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1)

Rasulullah saw. juga bersabda:

 مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

 “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Ruang Berbagi Informasi 

Salah satu pembahasan yang cukup menarik dalam pertemuan tersebut adalah berbagi kabar mengenai kondisi alumni di daerah masing-masing. Suasananya kadang terasa seperti rapat, kadang seperti acara reuni, dan sesekali seperti program berita yang membahas perkembangan teman-teman lama.

Ada alumni yang kini menjadi guru, dosen, penyuluh agama, pengusaha, pegawai negeri, bahkan ada yang dikenal sebagai “kepala sekolah” di rumah sendiri karena setiap hari mengawasi pekerjaan rumah anak-anak. Beragam profesi tersebut menunjukkan bahwa alumni Darul Arafah telah mengambil peran masing-masing di tengah masyarakat.

Yang lebih menarik, beberapa nama yang dahulu terkenal karena sering terlambat ke kelas kini justru menjadi orang yang paling disiplin dalam pekerjaannya. Teman yang dahulu sulit berbicara di depan umum sekarang menjadi penceramah yang sering mengisi berbagai majelis. Kehidupan memang sering memberikan kejutan yang tidak pernah diperkirakan.

Pertemuan semacam ini menjadi penting karena memperkuat jaringan komunikasi antarsesama alumni. Dari obrolan santai sering lahir peluang kerja sama dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, maupun ekonomi. Tidak jarang solusi atas sebuah persoalan ditemukan ketika sesama alumni saling bertukar pengalaman.

Allah Swt. berfirman:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Rasulullah saw. bersabda:

 الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

 “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Diskusi Antar Alumni

Menariknya, pembicaraan dalam silaturrahmi tersebut tidak hanya membahas organisasi dan pekerjaan. Topik keluarga justru menjadi salah satu pembahasan yang paling hangat. Mungkin karena hampir semua alumni kini sudah merasakan bahwa menjadi orang tua ternyata lebih sulit daripada menghafal jadwal pelajaran ketika mondok dulu.

Ada yang bercerita tentang tantangan mendidik anak di era digital. Dulu ketika masih santri, yang dicari adalah cara meminjam radio teman. Sekarang yang dipikirkan adalah bagaimana membatasi penggunaan gawai anak tanpa harus mendengar kalimat, “Ayah, teman-teman yang lain boleh kok.”

Suasana semakin hidup ketika para alumni saling berbagi pengalaman mengurus keluarga. Ada yang mengaku lebih mudah memberikan ceramah satu jam daripada membujuk anak tidur selama lima belas menit. Ada pula yang berseloroh bahwa ujian rumah tangga terkadang datang bukan saat akhir bulan, tetapi ketika anak mulai belajar menawar semua peraturan orang tua.

Meski dibalut canda dan tawa, diskusi keluarga mengandung pelajaran yang sangat berharga. Para alumni menyadari bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari karier dan jabatan, tetapi juga dari kemampuan membina keluarga yang harmonis, santun, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Rasulullah saw. bersabda:

 خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

 “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Allah Swt. juga berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

4. Menata Langkah untuk Pertemuan yang Lebih Bermanfaat

Salah satu hasil penting dari pertemuan tersebut adalah adanya komitmen untuk menjaga silaturrahmi secara berkelanjutan. Para alumni menyadari bahwa persaudaraan yang kuat tidak cukup dibangun melalui grup WhatsApp yang ramai saat Idulfitri lalu sepi sepanjang tahun.

Karena itu, muncul rencana untuk mengadakan pertemuan berikutnya dengan skala yang lebih luas. Bahkan direncanakan akan mengundang perwakilan IKAPDA Aceh agar dapat berbagi pengalaman dan memberikan masukan mengenai pengembangan organisasi alumni yang lebih terarah.

Harapannya, pertemuan berikutnya tidak hanya menjadi ajang bertukar cerita dan mengingat masa lalu, tetapi juga menjadi ruang melahirkan program nyata yang bermanfaat bagi alumni dan masyarakat. Semangat kebersamaan yang lahir dari pesantren perlu diterjemahkan menjadi karya dan pengabdian.

Bagaimanapun, alumni pesantren memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, dan pembinaan generasi muda. Jika potensi tersebut disinergikan, manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas.

Rasulullah saw. bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

 “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Semangat inilah yang menjadi fondasi utama silaturrahmi IKAPDA Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya. Pertemuan yang diawali oleh Akbar dan Fathir pada akhir Mei 2026 tersebut mungkin tampak sederhana, namun dari langkah kecil itulah sering lahir persaudaraan yang semakin kokoh, gagasan yang semakin matang, dan pengabdian yang semakin luas bagi umat dan masyarakat.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Muhammad Ali Akbar, M.Pd I
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...