Oleh Eriza M.Dahlan
Pagi itu, langkahku terasa berbeda. Bukan karena jalannya yang berubah, tapi karena akhirnya aku sampai di titik yang selama ini hanya bisa kubayangkan—menjadi guru Seni Budaya di sebuah SMA.
Namun, sejak pertama melangkah ke lingkungan sekolah, aku sudah merasakan sesuatu yang tak nyaman.Tatapan-tatapan sinis. Bisikan-bisikan kecil yang tak jelas, tapi cukup terasa. Aku bahkan belum mengenal mereka para guru di sana, tapi sudah seperti orang asing di tempat sendiri.
Aku menahan diri. Mungkin, batinku, tidak semua awal harus terasa hangat. Kadang, kita memang harus belajar kuat sejak langkah pertama.
Saat masuk ke kelas, suasananya pun tak jauh berbeda.Sebagian siswa acuh, sebagian lagi menatap tanpa minat. Aku berdiri di depan, menarik napas panjang.
“Hari ini kita belajar Seni Budaya,” kataku,
“Tapi bukan dari buku.”
Aku menulis di papan tulis:
“SENI = RASA + CERITA”
“Menurut kalian… seni itu apa?”
Tak banyak yang menjawab.Tapi aku tidak berhenti. Aku membagikan kertas.
“Coba gambar atau tulis… apa yang paling kalian rasakan hari ini.”
Awalnya ragu. Namun perlahan, tangan-tangan itu mulai bergerak. Ada yang menggambar rumah. Ada yang menulis tentang rindu. Ada yang hanya mencoret—tapi penuh emosi.
Seorang siswa bertanya pelan,
“Bu… kalau jelek nggak apa-apa?”
Aku tersenyum.
“Dalam seni, tidak ada yang jelek… yang ada hanya jujur atau tidak.”
Dan saat itu, aku menyadari sesuatu, bahwa menjadi guru bukan tentang diterima semua orang, tapi tentang tetap memberi, bahkan saat kita sendiri belum sepenuhnya diterima.
Kelas yang tadinya dingin perlahan hidup. Bukan karena aku hebat, tapi karena mereka mulai berani menjadi diri sendiri.
Saat bel pulang berbunyi, aku berkata,
“Besok kita lanjut ya… cerita kalian belum selesai.”
Aku percaya akan ada hari berikutnya.
Karena dalam hati, aku sudah mulai merasa, ini baru awal.
Namun siang itu… segalanya berubah. Dalam perjalanan pulang, musibah datang tanpa peringatan. Sebuah kecelakaan membuat tulang bahuku patah—clavicula, kata dokter.
Rasa sakitnya menjalar. Tapi aku tetap bisa tersenyum karena ini semua adalah sebuah ujian yang harus dilalui. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan yang perlahan harus kuterima, aku tidak bisa kembali mengajar di SMA itu.
Hari pertama itu…ternyata juga yang terakhir.
Hari-hari setelahnya terasa sunyi. Aku kehilangan ruang kelas. Kehilangan papan tulis. Kehilangan suara siswa yang bahkan baru sehari kukenal.
Aku sempat bertanya dalam diam,
“Untuk apa semua ini… kalau hanya satu hari?”
Namun semakin lama, aku mulai memahami, bahwa hidup tidak selalu memberi kita waktu panjang, tapi selalu memberi kita kesempatan untuk bermakna, meski hanya sebentar.
Hari itu mungkin singkat, tapi kejujuran yang lahir di kelas itu… nyata. Dan mungkin, itu sudah cukup untuk disebut berarti.
Waktu berjalan, perlahan menyembuhkan. Hingga akhirnya, aku kembali berdiri. Bukan di SMA yang dulu kuimpikan, melainkan di sebuah taman kanak-kanak.
Anak-anak kecil berlarian, tertawa tanpa beban.Tak ada tatapan sinis.Tak ada suara sumbing. Aku menatap mereka lama.
Dan tanpa sadar, aku mengulang hal yang sama.
“Mari kita menggambar… apa yang kalian rasakan hari ini.”
Mereka tertawa, mencoret, mewarnai dengan bebas. Tak ada takut salah. Tak ada takut dinilai.
Di saat itu, aku mengerti sesuatu yang sebelumnya tak kupahami, bahwa mungkin aku tidak kehilangan jalan, aku hanya dipindahkan ke tempat yang lebih membutuhkan.
Bahwa musibah bukan selalu akhir, kadang ia adalah cara hidup mengarahkan kita ke makna yang lebih dalam. Dan bahwa aku tidak harus kembali ke tempat lama untuk melanjutkan mimpiku.
Karena selama aku masih bisa bertahan, masih bisa terus melangkah, mesti bukan di SMA, selama aku masih bisa mengajar, meski dengan cara berbeda, aku belum benar-benar berhenti.
Aku tersenyum. Hari pertamaku memang menjadi yang terakhir di sana, tapi bukan akhir dari perjalananku. Karena seperti seni yang selalu kuajarkan, yang penting bukan sempurna atau tidak, tapi jujur dan terus hidup.
Dan aku… memilih untuk tetap melanjutkannya. Karena yang patah itu tulang bahuku, bukan mimpiku. Yang berubah itu tempat, bukan tujuanku.”
“Aku mungkin kehilangan satu ruang kelas… tapi tidak kehilangan alasan untuk mengajar, sebab hidup boleh menjatuhkan aku hari itu, tapi tidak pernah berhasil menghentikan langkahku.”
Kini aku mengerti, hidup tidak selalu membawa kita ke tempat yang kita inginkan, tapi selalu ke tempat yang kita butuhkan untuk menjadi lebih kuat. Dan selama masih ada hati yang ingin belajar, di mana pun itu, di sanalah aku akan terus bermakna. ◾Eriza M.Dahlan
Eriza, S.Sos.I, adalah seorang ibu rumah tangga yang mengajar di sebuah TK di Banda Aceh. Lahir di Aceh Besar dan memiliki dua orang putri. Di sela-sela kegiatan mengajar dan berkegiatan sosial, ia terus belajar untuk menulis. Ia juga bergabung menjadi wartawan di Gema Masjid Raya Baiturrahman.









Diskusi