Esai · Potret Online

Ketika Anak Bertumbuh, Doa Orang Tua Tak Pernah Usai

Penulis Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
Juni 5, 2026
5 menit baca 14
4c17a869-7b87-48b7-9402-87e0d7b7fe77
Foto / IlustrasiKetika Anak Bertumbuh, Doa Orang Tua Tak Pernah Usai

Oleh: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.

Memiliki anak adalah anugerah yang tak ternilai. Sejak tangisan pertamanya terdengar, sejak langkah kecilnya mulai menapaki lantai rumah, sejak kata “Abi” dan “Ummi” pertama kali terucap, saat itu pula doa orang tua dimulai. Doa itu tidak pernah berhenti, bahkan semakin panjang seiring bertambahnya usia anak.

Hanif Fazra Al Azka, anak pertama kami, kini telah menginjak usia sembilan tahun. Sebuah perjalanan yang terasa begitu cepat, namun menyimpan banyak cerita, pelajaran, tawa, dan harapan. Dalam setiap pertumbuhannya, kami menyadari bahwa mendidik anak bukan sekadar membesarkan tubuhnya, tetapi juga menumbuhkan iman, akhlak, dan cinta kepada Allah SWT.

  1. Ketika Seorang Anak Hadir Membawa Harapan

Kelahiran seorang anak selalu membawa kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Begitu pula saat Hanif hadir dalam kehidupan kami. Ia bukan hanya pelengkap keluarga, tetapi juga amanah yang Allah titipkan untuk dijaga dan dididik dengan penuh tanggung jawab.

Allah SWT berfirman:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Ayat ini mengingatkan bahwa anak merupakan karunia sekaligus amanah. Karena itu, orang tua tidak hanya dituntut mencintai anak, tetapi juga membimbingnya agar menjadi hamba Allah yang saleh.

Di awal menjadi orang tua, kami sering merasa seperti mahasiswa baru yang langsung diberi tugas skripsi tanpa bimbingan. Ketika Hanif menangis tengah malam, kami bergantian menebak-nebak penyebabnya. Kadang setelah susu dibuat, popok diganti, dan digendong berkeliling rumah, ternyata yang ia inginkan hanya tidur sambil memegang jari ayahnya.

Dari situlah kami belajar bahwa menjadi orang tua bukan soal menjadi sempurna, tetapi terus belajar memberikan yang terbaik bagi anak yang Allah titipkan.

  1. Pertumbuhan Anak, Bertambah Pula Doa Orang Tua

Semakin bertambah usia anak, semakin besar pula harapan yang disematkan orang tua. Dulu kami berdoa agar Hanif sehat dan kuat. Kini doa itu bertambah agar ia tumbuh menjadi anak yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa anak saleh merupakan investasi akhirat yang sangat berharga bagi orang tuanya.

Kadang kami tersenyum melihat perkembangan Hanif. Dulu ia bertanya mengapa bulan mengikuti mobil saat perjalanan malam. Sekarang pertanyaannya mulai sulit dijawab, bahkan terkadang membuat ayahnya diam sambil berpikir, “Ini yang sekolah siapa sebenarnya?”

Setiap pertumbuhan anak membawa tantangan baru. Namun pada saat yang sama, pertumbuhan itu juga mengajarkan orang tua untuk terus memperbaiki diri dan memperbanyak doa.

  1. Hanif dan Keunikan yang Menjadi Warna Keluarga

Setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Begitu pula Hanif. Ada banyak hal unik dalam dirinya yang sering membuat suasana rumah menjadi lebih hidup dan penuh cerita.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fitrah itu perlu diarahkan dengan pendidikan, keteladanan, dan kasih sayang agar berkembang menjadi pribadi yang baik.

Keunikan Hanif sering kali menghadirkan cerita lucu di rumah. Terkadang ia memiliki logika yang sederhana tetapi sulit dibantah. Pernah suatu hari ia bertanya, “Kalau orang tua menyuruh anak rajin belajar supaya pintar, berarti Abi dan Ummi masih harus belajar juga supaya lebih pintar lagi?” Kami hanya bisa tertawa sambil mengangguk.

Dari berbagai tingkah dan pertanyaannya, kami memahami bahwa setiap anak memiliki cara sendiri untuk belajar dan tumbuh. Tugas orang tua adalah mendampingi, bukan membandingkan.

  1. Saat Anak Mulai Mengingatkan Orang Tuanya

Salah satu kebahagiaan terbesar bagi orang tua adalah ketika melihat hasil pendidikan mulai tumbuh dalam diri anak. Bukan dalam bentuk nilai rapor semata, tetapi dalam sikap dan kebiasaan baik yang mulai ia lakukan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud)

Membiasakan ibadah sejak dini adalah bagian penting dalam membangun karakter anak.

Suatu pagi yang masih gelap, Hanif membangunkan ayahnya untuk pergi shalat Subuh berjamaah ke masjid. Dengan mata yang masih berat terbuka, ayahnya sempat berpikir bahwa alarm ponsel berbunyi. Ternyata alarm itu bernama Hanif Fazra Al Azka.

Saat itulah kami menyadari bahwa pendidikan yang diberikan kepada anak sesungguhnya juga sedang mendidik orang tuanya. Kadang-kadang Allah menegur kita melalui lisan anak-anak yang kita cintai.

  1. Sembilan Tahun Bertumbuh, Doa Tak Pernah Berhenti

Kini Hanif telah berusia sembilan tahun. Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin belajar berjalan, kini sudah mulai memiliki pendapat sendiri tentang banyak hal. Namun satu hal yang tidak berubah: doa orang tua yang terus menyertainya.

Allah SWT mengabadikan doa orang-orang beriman:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Ayat ini menjadi doa yang selalu kami panjatkan untuk Hanif dan seluruh anak-anak muslim.

Kadang kami bercanda, usia Hanif memang baru sembilan tahun, tetapi kemampuan menghabiskan camilan di rumah sudah seperti tim khusus yang bekerja tanpa jadwal libur. Begitu makanan diletakkan di meja, beberapa menit kemudian hanya tersisa kenangan.

Selamat ulang tahun yang ke-9, Hanif Fazra Al Azka. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, serta menjadikanmu anak yang taat kepada Allah, berbakti kepada kedua orang tua, dan menjadi kebanggaan keluarga. Karena ketika anak bertumbuh, doa orang tua memang tidak pernah usai. Ia akan terus mengalir, mengiringi setiap langkah hingga akhir hayat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
KUA Tapaktuan, Aceh Selatan
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...