Artikel · Potret Online

Entropi Kata-Kata: Ketika Ucapan Pemimpin Menjadi Gelombang

Penulis Istiqomah,S.Si
Agustus 11, 2026
4 menit baca 29
65808817-c394-4e61-af5b-99c0e897467c
Foto / IlustrasiEntropi Kata-Kata: Ketika Ucapan Pemimpin Menjadi Gelombang
Disunting Oleh

Oleh Istiqomah,S.Si 

Fisikawan-Demokrasi/Alumnus Fisika Universitas Airlangga

Sebuah bangsa dapat terluka bukan hanya oleh senjata, tetapi juga oleh kata-kata. Luka fisik mungkin meninggalkan bekas di tubuh, sedangkan luka akibat ucapan dapat menetap lebih lama dalam ingatan, harga diri, bahkan cara seseorang memandang dirinya sendiri. 

Karena itu, kata-kata seorang pemimpin tidak pernah sekadar rangkaian bunyi. Di baliknya terdapat otoritas, pengaruh, dan legitimasi yang mampu membentuk cara berpikir masyarakat.

Ketika masyarakat biasa berbicara, dampaknya mungkin terbatas. Namun ketika seorang pemimpin berbicara, setiap kalimat dapat menjadi perintah, pembenaran, stigma, bahkan luka kolektif. Dalam ruang publik yang serba digital, satu pernyataan dapat menyebar dalam hitungan detik, dikutip, diulang, dan akhirnya diterima sebagai sesuatu yang lumrah.

Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep energi dalam fisika. Energi tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya berubah bentuk dan berpindah dari satu sistem ke sistem lain. Demikian pula kata-kata. Setelah terucap, ia tidak berhenti ketika suara menghilang di udara. Ia berpindah ke pikiran, memengaruhi emosi, lalu menjelma menjadi sikap dan tindakan.

Satu kalimat yang meremehkan kemampuan seseorang mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi dapat hidup bertahun-tahun dalam diri orang yang mendengarnya. Anak yang terus disebut bodoh bisa kehilangan keberanian untuk mencoba. Warga yang terus diposisikan tidak penting, bisa kehilangan kepercayaan terhadap negara. 

Kelompok yang terus distigma dapat tumbuh dalam keterasingan. Kekejaman kata-kata bekerja perlahan, tetapi dampaknya sering kali lebih dalam daripada yang tampak.

Dalam fisika, gelombang merambat membawa energi. Kita tidak selalu melihat energinya, tetapi kita menyaksikan akibatnya. Begitu pula kata-kata. Satu ucapan dapat dikutip, diulang, ditiru, lalu dinormalisasi hingga akhirnya membentuk budaya. 

Di titik inilah persoalan sesungguhnya muncul. Ketika bahasa yang kasar, merendahkan, atau mempermalukan terus dipertontonkan oleh pemimpin, masyarakat perlahan menganggapnya sebagai hal yang wajar. Penghinaan berubah menjadi hiburan, perundungan menjadi tontonan, dan hilangnya empati dianggap sebagai ketegasan.

Dalam perspektif fisika demokrasi, keadaan tersebut menyerupai meningkatnya entropi. Dalam termodinamika, entropi menggambarkan kecenderungan sistem menuju ketidakteraturan. Dalam kehidupan berbangsa, entropi sosial tampak ketika fakta bercampur dengan kebohongan, kritik disamakan dengan kebencian, perbedaan dipandang sebagai ancaman, dan kekuasaan kehilangan batas antara ketegasan dan kekejaman. 

Ruang publik tidak lagi menjadi tempat berdialog, melainkan arena saling meneriakkan kebenaran masing-masing.

Hukum aksi dan reaksi juga memberi pelajaran penting. Setiap kata melahirkan respons. Penghinaan memancing penghinaan, kemarahan melahirkan kemarahan baru, sementara kebencian berkembang menjadi rantai yang sulit diputus. 

Satu ucapan pemimpin dapat memicu ribuan komentar, memecah kelompok masyarakat, bahkan mengikis kepercayaan yang menjadi fondasi demokrasi. Pada akhirnya, tidak ada pihak yang benar-benar menang; yang hilang adalah energi sosial, kohesi, dan rasa saling percaya.

Kata-kata juga memiliki potensi resonansi. Dalam fisika, resonansi terjadi ketika getaran bertemu frekuensi yang sama sehingga amplitudonya membesar. Dalam kehidupan sosial, kemarahan dapat beresonansi dengan kemarahan lain hingga menciptakan polarisasi yang semakin tajam. 

Namun resonansi juga dapat memperbesar empati, kesantunan, dan keteladanan. Karena itu, setiap pemimpin sesungguhnya sedang menentukan frekuensi sosial apa yang ingin diperkuat: kebencian atau kebijaksanaan, permusuhan atau persaudaraan.

Di sinilah letak kepemimpinan yang sejati. Keberanian bukan hanya kemampuan berbicara lantang, tetapi juga kemampuan menahan diri sebelum berbicara. Tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang melukai. Tidak semua kritik harus dibungkus penghinaan. Kekuasaan semestinya memperbesar tanggung jawab, bukan memperbesar ruang untuk menyakiti.

Kualitas demokrasi pada akhirnya tercermin dari kualitas bahasa publiknya. Jalan raya menghubungkan satu tempat dengan tempat lain, sedangkan bahasa menghubungkan manusia dengan manusia. Jika komunikasi rusak, hubungan sosial ikut rapuh. Bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas ataupun fasih berbicara. Yang semakin langka adalah kemampuan memadukan kecerdasan dengan kebijaksanaan, keberanian dengan empati, serta kebebasan berbicara dengan tanggung jawab.

Karena itu, marilah kita membangun budaya bertutur yang lebih bermartabat. Para pemimpin perlu menyadari bahwa setiap kata yang mereka lepaskan membawa konsekuensi sosial. 

Masyarakat pun tidak perlu membalas kekasaran dengan kekasaran yang lebih besar. Kita selalu memiliki pilihan untuk menghentikan gelombang kebencian, atau bahkan mengubahnya menjadi gelombang kebaikan.

Alam mengajarkan bahwa setiap energi akan berpindah, setiap gelombang akan merambat, dan setiap resonansi akan memperbesar apa yang memiliki frekuensi yang sama. Maka sebelum berbicara, pantaslah kita bertanya: energi apa yang sedang kita lepaskan? 

Sebab pada akhirnya, bangsa yang beradab bukanlah bangsa yang tidak pernah berbeda pendapat, melainkan bangsa yang mampu berbeda tanpa kehilangan kemanusiaan.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Istiqomah,S.Si
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...